Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Gadis yang Menjadi Dunianya


__ADS_3

Pesta teh. Sebuah pesta yang bermanfaat untuk bermacam-macam kepentingan. Baik yang tersirat maupun tersurat. Pesta ini dikhususkan untuk para bangsawan, sebab pesta ini mewajibkan para pesertanya untuk berpakaian mewah, elegan, serta beretiket dan beretika yang benar-benar mencerminkan seseorang yang "derajatnya tinggi".


Seperti yang sudah dikatakan Scarlet sebelumnya, akan ada pesta teh di Southern Flare. Keluarga kerajaan Aurora menerima undangan tersebut, demikian pula keluarga Grand Duke. Untuk benar-benar bisa menuntaskan tujuannya mengungkap identitas Barghest sekaligus menumpas Hollow yang mengancam Gala dan Southern Flare, maka dua minggu sebelum pesta tehnya dilaksanakan, Barghest dilatih untuk berperilaku sebagaimana bangsawan bersikap, bertutur, dan bertata krama.


Bagi seorang Barghest yang seluruh kehidupannya selalu di kedalaman hutan, itu adalah latihan yang sangat membosankan dan bagaikan neraka. Namun, dirinya sama sekali tidak merasa latihannya sia-sia.


Dalam jangka waktu dua minggu itu juga, Raja dan Ratu Aurora Kedelapan Belas telah mengetahui rencana putrinya. Mereka pun telah berkenalan dengan Barghest dan tidak keberatan dengan apa yang hendak dilakukan mereka. Terlebih, jika sesuatu terjadi diluar perkiraan, keduanya percaya bila Scarlet dan sahabatnya, Ashley, yang sudah terkenal bisa melakukan apapun dengan kekuatannya, mampu mengatasi masalah tersebut.


Sedalam itulah rasa percaya keduanya terhadap Scarlet dan Ashley. Mereka pun tidak merasakan bahaya dari Barghest kendati wajahnya "mengerikan".


......................


[Empat hari sebelum pesta teh dilaksanakan, pada malam harinya....]


Barghest, yang sebelumnya hanya melapisi tubuh bagian bawahnya dengan celana panjang, saat ini memakai baju ala bangsawan yang terhormat. Kemeja putih panjang, rompi hitam, dasi hijau permata, dan celana yang sewarna dengan rompi. Ia saat ini sedang menatap bulan hampir penuh, di gazebo halaman belakang istana. Dia sendirian di sana.


Sementara itu Scarlet.... Ia sedang membawa nampan yang diatasnya terdapat sepasang cangkir, teko, dan sepiring camilan ringan. Ia terpatung di depan pintu, memandangi Barghest yang sedang mendongakkan kepala, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan yang memegang pagar gazebo. Angin yang menghembus lembut dan membawa rambut panjang pirangnya, dedaunan yang ikut terbang, serta pantulan bulan pada mata kuningnya, membuat Scarlet yang sedang jatuh cinta itu semakin terpesona.


"Cantik sekali...," batin Scarlet. Pipinya merona. Ia kemudian tersenyum sembari menyelipkan rambutnya yang ikut terbawa angin ke belakang telinganya. Setelah itu ia menghampiri Barghest.


"Kubawakan camilan kalau kau mau," ujar Scarlet sembari meletakkan nampannya. "Sedang apa?" tanyanya pura-pura.


Sambil tersenyum, Barghest menjawab, "Bulannya sangat indah. Membuatku teringat pada dirimu, pantas saja aku tidak bisa berhenti memandanginya."


"A-a-apa-apaan itu...?! Dasar...."


"Ahahaha...."


"Akhirnya besok pagi kita akan berangkat."


Barghest membalik tubuh, bertatapan dengan Scarlet. "Ya, akhirnya. Kuharap tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi."


"Sudah pernah kubilang padamu, Barghest, kalau aku akan melindungimu bila itu terjadi!"


Barghest tersenyum. "Tidak, akulah yang akan melindungimu. Lagi pula, aku sudah sadar tentang sesuatu."


"Hah...? Apa memangnya?"


Barghest melangkah menghampiri Scarlet, kemudian memegang dagu gadis yang lebih muda tiga tahun darinya itu dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah tangan kanannya. Ia mendekatkan wajahnya dan Scarlet hingga beberapa senti saja.


"Aku tidak bisa hidup jika tidak didampingi olehmu."


Wajah Scarlet segera merona, perlahan semakin memerah semerah tomat. Tetapi, ia segera menggertak gigi dan mencengkeram tangannya. "DASAR!"


'DHUAAGG!!'


Scarlet meng-uppercut lawan bicaranya yang lagi-lagi membuat jantungnya nyaris copot.


"APA YANG KAUKATAKAN DISAAT AKU SERIUS BEGINI?!"

__ADS_1


Gadis yang sebenarnya malu-malu kucing itu pergi meninggalkan Barghest yang tanpa sengaja merusak gazebo dan taman di sekitarnya.


"Selamat malaaam!" seru Barghest yang masih tergeletak di tanah sambil melambaikan tangan kirinya.


"BERISIK!"


Scarlet lalu masuk ke istana dengan membanting pintunya kasar.


.


.


.


.


Ashley kemudian datang menghampiri Barghest tak begitu lama setelah Scarlet masuk. Sembari menggeleng kepala, Ashley bertanya, "Aku tak habis pikir denganmu, Barghest." Ia lalu membantu lelaki yang tergeletak di tanah itu untuk bangun.


"Apa maksudmu?" Barghest menerima bantuan tangan Ashley.


"Hanya dua minggu sejak kau berada di sini, kau sudah seberani itu untuk mendaratkan tanganmu pada Tuan Putri kami yang terkenal bengis dan galak itu."


Barghest menatap Ashley heran. "Hmm? Scarlet seperti itu?


"Tidak, kau pasti salah. Gadis itu sangat manis dan cantik. Justru akulah yang lebih pantas disebut bengis."


Ashley terbelalak dengan jawaban itu. "Ahahaha!" ia memukul-mukul bahu besar Barghest. "Begitu, ya, begitu, ya! Tapi kau tidak mengelak jika dia itu galak, lho."


Ashley tersenyum. "Kukira hanya aku yang memahaminya. Ternyata, seseorang yang baru tahu dirinya hanya dalam beberapa hari saja sudah seperti ini.


"Kautahu? Pada awalnya aku mengira kau akan menolak mentah-mentah setelah aku menjelaskan padamu kalau menghadiri pesta teh secara berpasangan, itu berarti menandakan kalian telah bertunangan.


"Aku tak menyangka kau justru semakin agresif padanya!"


"Jujur saja, aku pun tak tahu apa yang harus kulakukan. Oleh sebab itu, apa yang terbesit dalam pikiranku, langsung kulakukan begitu saja. Aku tak tahu apakah langkah yang kuambil itu pantas dilakukan atau tidak, tapi... kurasa lebih baik daripada menyembunyikannya."


"Dari pandanganku, kau hanyalah seekor anabul yang telah menemukan majikan yang ingin memanja-manjakannya. Eits, aku tak bilang itu salah! Dan menurutku ... kau masih dalam batas yang benar. Jika Raja dan Ratu merestui kalian menikah nantinya, tolong jangan ubah sikapmu padanya."


"Aku tahu, Ashley. Setelah kau menceritakan kisah turun-temurun yang diemban oleh Scarlet ... mana mungkin aku akan mengubah sikapku.


"Bahkan jika tanpa adanya sesuatu yang dianggapnya 'kutukan' olehnya itu, aku akan tetap mencintainya setulus hatiku.


"Gadis itu....


"Scarlet adalah duniaku."


Ashley menyeringai lebar, mengikuti pria di sebelahnya. "Dasar!" ia memukul keras bahu Barghest. "Kau benar-benar dimabuk cinta, ya! Hahahaha!"


......................

__ADS_1


Scarlet, Barghest, dan Ashley, berangkat menuju Southern Flare pada pagi buta dengan mobil. Keduanya berangkat dengan mobil dan sopir yang berbeda. Dengan alasan "acara kehormatan", para peserta pesta menghadirinya tanpa bantuan sihir. Sebenarnya, jika mereka berangkat dengan sihir terbang, waktu mereka sampai pun akan terpotong banyak. Namun, subjeknya disini ialah bangsawan. Bangsawan SANGAT memerhatikan keelokan dan "kepantasan" dalam berpakaian. Jika terbang, pakaian dan tata hias mereka yang ada di bagian tubuh lainnya, tentu akan rusak. Memang, ada yang bisa mengembalikan posisi, make-up, atau tata rias lain yang rusak itu dengan sihirnya sendiri, tetapi tanpa perias, siapa yang tahu kalau mereka sudah "pantas" atau belum? Akan lebih praktis dan simpel bila berangkat dengan kendaraan darat.


Jarak dari Aurora menuju Southern Flare adalah tiga hari tiga malam. Ketika tiga orang tamu itu sampai di sana, jadwal mereka adalah istirahat sejenak sebelum "berbasa-basi" dengan para bangsawan yang dimulai pada pukul 19.00.


......................


Tiga orang dari Aurora datang tepat waktu. Pesta yang digelar di dalam lantai pertama istana yang berbentuk tongkat sihir itu ramai oleh banyaknya bangsawan. Tidak hanya bangsawan lokal, tetapi juga dari kerajaan lain. Ada yang membawa pasangan, anak, maupun hadir sendirian. Semuanya tertata dengan mewah. Baik itu hiasan, meja, kursi, makanan dan minuman, serta pakaian para pelayannya.


"Sudah terduga dari kerajaan ini," kata Scarlet, yang melihat sekelilingnya. Ia memakai gaun merah sewarna rambutnya, yang menunjukkan sedikit aset atasnya. Gaunnya memiliki hiasan pada sisi-sisinya yang berwarna hitam. Ia juga menyanggul rambutnya. Tangannya dilapisi oleh sarung tangan hitam, demikian pula dengan sepatu haknya.


"Aku tidak merasakan hawa siapapun yang mirip sepertiku," ucap Barghest, yang terlihat tidak begitu peduli pada hiasannya. Ia melihat satu per satu orang-orang yang hadir di sana, untuk segera melakukan tujuannya ke sini.


Demi menunjukkan bahwa mereka adalah tunangan, Barghest diberikan pakaian yang matching dengan gadis pujaannya. Kemeja, rompi, sepatu yang berwarna merah, kemudian jas single-breasted serta celana yang berwarna hitam. Para pelayan Aurora sengaja tidak memilih tuxedo sebab mereka tahu tubuh besar pria ini takkan cocok dengannya.


Pada jasnya itu terdapat juga pocket square (sapu tangan pada saku di dada kirinya) yang berwarna kuning—seperti warna rambutnya.


Peserta pesta segera saling berbisik untuk menggibah keduanya. Pria besar di samping gadis yang sudah pasti dari kerajaan Aurora sebab anting bulannya, menjadi pusat topik mereka.


Tidak luput juga, seorang gadis yang berdiri di sebelah kiri Scarlet, yang tidak lain tidak bukan adalah Ashley. Ia memakai gaun panjang biru yang memamerkan keindahan kakinya. Tangan kirinya dilapisi oleh sarung tangan putih dengan emblem keluarganya—daun maple. Kulitnya yang putih dan tampak berisi tidak hanya karena otot, namun karena kekenyalannya, membuat para pria terpaku. Apa lagi para pria lajang.


Tidak lama kemudian, seorang pria dan wanita yang sama-sama memakai mahkota menghampiri ketiganya.


"Selamat datang di pesta teh kami, Tuan Putri Scarlet dan Nona Ashley!" sapa Si Pria.


"Maafkan atas keterlambatan kami menyambut kalian," sambung Si Wanita.


"Tidak apa-apa, Paduka Raja, Paduka Ratu. Kami pun baru saja menginjakkan kaki di istana kalian yang sungguh indah, menawan, dan mewah ini." Scarlet memasang wajah full senyumnya.


"Ya ampun, terima kasih atas pujiannya, Tuan Putri," balas Ratu, "kami sudah menyiapkan semuanya sejak jauh-jauh hari. Kami pastikan semuanya akan berjalan dengan lancar." Ia menekuk sepertiga tubuhnya, juga mengangkat roknya.


"Wah, itu sungguh membuat kami tenang!" sahut Scarlet.


"Ngomong-ngomong, Tuan Putri, bisakah kami mengetahui siapa pria di sampingmu yang sejak tadi selalu memandangi kami dengan tajam ini?" tanya Raja.


Scarlet dan Ashley merasa ada yang aneh. Mereka paham.


"Tentu saja," jawab Scarlet, "ia adalah tunanganku."


"Namaku Barghest, Yang Mulia." Ia mengajak Raja bersalaman.


Raja menyambut tangan Barghest. Ketika mereka bersalaman, Barghest semakin menatap tajam dirinya hingga kornea matanya berubah—meruncing seperti seekor serigala.


Raja tersentak. "Ma-mata itu...!?"


Demikian pula dengan Ratu yang memberi reaksi serupa. "Tidak mungkin...."


"Raja, Ratu," panggil Ashley, "kami memohon audiensi pribadi setelah pesta selesai. Apakah boleh?"


Raja dan Ratu saling bertatap. "Tentu! Tentu saja!" jawab Raja.

__ADS_1


Sementara itu, di ujung ruang, ada seorang pria yang menikmati minumannya sambil menyeringai menatapi mereka....


__ADS_2