
Tawa, senyum, kegembiraan rakyat Aurora yang menjalar ke seluruh kerajaan, membuat Zeeta yang telah memasuki gerbang kerajaan segera ikut tersenyum dan menitikkan air mata. Ia jadi mengingat, ketika dirinya pertama kali mengetahui seperti apa kerajaan Aurora di masa takhta ibunya sebelum ia lahir, adalah apa yang saat ini ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Zeeta juga terharu, bahwa setelah semua yang telah mereka alami, mereka masih bisa tersenyum seperti tak terjadi apa-apa. Jika mereka tidak seperti ini, dia tahu istana pun akan kesulitan. Ia sadar bahwa dirinya yang sering mempertaruhkan nyawanya demi kerajaan ini, wujud inilah hasil yang ingin ia lihat sebenarnya, bukan dunia yang hancur karena dirinya sendiri.
Hujan konfeti seakan tak berujung. Kilauan-kilauan cemerlang dari sihir meski ada matahari, menambah kesan festival yang meriah. Terakhir kali ia melihat kerajaan seperti ini adalah ketika dia pertama kali ke ibu kota, bersama Azure dan Arthur, mengunjungi berbagai bazar.
Melihat raut wajah Si Penyihir Harapan, membuat Novalius ikut senang. “Aku bersyukur kau senang dengan festival ini, Nona. Aku akan memandumu kemanapun kauingin pergi, jadi—“
“Hooo....” suara seorang perempuan mengejutkan Novalius setengah mati. Aura mematikan darinya juga mengancam arti hidup seorang Novalius.
“Su-suara ini....” Novalius perlahan-lahan melihat ke sumber suara.
“Kukira kau memiliki masalah karena tak menanggapi komunikasiku. Ternyata, oh ternyata, kau memiliki ‘TAMU’ cantik yang ingin kaupandu tanpa sepengetahuan Wakil Kaptenmu, ya, Novalius...?” sama seperti Novalius, Colette memakai seragam Crescent Void. Ia jadi lebih tinggi enam senti meter dari sebelumnya 164 senti.
“Su-sudah kuduga! Wakil Kapten Colette....” Suara Novalius bergemetar.
“Wah,” kata Zeeta, “wanita yang tinggi sekali!” ia tak memedulikan hubungan antara keduanya.
Mendapatkan celah kesempatan untuk beralasan, Novalius tak menyia-nyiakannya. “Co-Colette, kuperkenalkan padamu, dia adalah bangsawan yang tersesat, Penyihir Harapan!”
Colette mengernyitkan alis. Ia sama sekali tidak paham apa maksudnya.
“A-aku membawanya ke sini karena kupikir dia tertarik dengan festivalnya! Dia tidak memiliki mana, jadi sekalian saja...," sambung Novalius.
Colette melihat Zeeta yang tidak berhenti cengar-cengir. “Dia benar, gadis ini tidak bermana.... Tapi meski begitu, pakaiannya sangat bangsawan sekali, begitu juga dengan aksesorisnya....” Colette melihat anting di kedua telinganya, dan cincin di jari tengah kirinya.
Zeeta mendapati cincin di jari manis kiri Colette. “Wah, Kakak sudah bertunangan, ya? Pasti lelaki yang mendapatkanmu beruntung sekali!” Colette segera merona hanya karena ucapan ini.
“Ka-kau pun merasa begitu?”
“Tentu saja! Wanita kuat sepertimu pasti tidak butuh orang yang mampu melindungimu, karena itu lelaki yang bertunangan denganmu pasti selalu memakai kepalanya, selalu ada untukmu, dan selalu beraksi bersamamu. Kupikir, itu adalah sesuatu yang manis!”
“Hehehe....” Colette memegangi cincin pertunangannya. “Itu benar. Aku beruntung mendapatkan Marcus sebagai tunanganku, tapi aku tak menduga kaubisa—“ Tanpa disadari, Colette kehilangan Zeeta yang telah meninggalkan mereka berdua.
“Kalau kamu mencintainya, kamu juga harus membalas cinta tunanganmu itu dengan sepenuh hati, loh!” Zeeta sudah ada di belakang mereka, di toko aksesoris, sambil melambaikan tangannya.
“Novalius!” seru Colette serius.
“Y-ya!” Novalius langsung tegap.
“Aku. Yang. Akan. Memandunya.
"Aku punya misi yang tidak bisa kutinggalkan secara mendadak!”
“Haaaah.... Kau tidak pernah berubah, ya. Baiklah, Aku akan kembali berpatroli....” Layaknya sudah biasa dengan kelakuan wakil kaptennya, Novaliuspun meninggalkan dua gadis itu.
......................
“Selamat datang!” sapa si wanita pedagang aksesoris pada Colette yang menyusul Zeeta. “Adik Cantik ini tadi sudah memilih aksesoris untukmu, loh, Colette! Apa kaukenal dia?” sambil cengar-cengir, ia melambaikan tangan ala wanita yang sedang bergosip.
“Ti-tidak! Ini baru pertama kalinya kami bertemu. Aku tidak tahu kenapa, dia memakai nama alias. Tolong biarkan, ya, Bu Sienna!” balas Colette, “aku akan membawanya bertemu Nyonya Ashley nanti. Dia sepertinya tidak memiliki mana.”
“Ohoo… begitu, ya, begitu, ya. Pantas saja.... Ah, lebih penting dari itu, lihatlah, batu permata yang dipilihnya!” batu hijau berkilau segera menusuk hati Colette untuk segera membelinya. “Batu permata tidak hanya bagus dipakai sebagai aksesoris untuk Marcus, tapi ini cukup kuat untuk menampung sihir-sihir kuat, loh! Aku tahu Marcus pun kuat, tetapi tidak ada salahnya jika kau menanamkan mana milikmu sendiri ke dalamnya. Dengan begitu, kaubisa tenang kapapanpun dia pergi jauh!
"Singkatnya, batu permata ini bisa berguna sebagai jimat!"
__ADS_1
Colette segera berbinar-binar mendengar seluruh informasi itu.
“Tante, bisakah kaubuatkan ini jadi liontin?” tanya Zeeta.
“Liontin? Kenapa?” tanya Bu Sienna.
“Ini hanya tebakanku saja—" Zeeta membisiki Bu Sienna.
“Ya ampun! Bagaimana bisa—“
“Hmmmm.... Insting seorang gadis?”
“Hei.... Apa yang kaubisikkan pada Bu Sienna?” tanya Colette yang sangat penasaran.
“Ah, hanya bicara tentang seberapa cocoknya dirimu dengan tunanganmu. Itu saja. Iya, ‘kan?” Zeeta mengedipkan mata kirinya.
“Kaaann!” Bu Sienna menjawabnya dengan gembira. “Tunggulah sebentar, aku bisa membuatnya jadi liontin dengan sihirku.” Sambil mengerjakannya, Bu Sienna menyambung bicaranya, “hei, Adik Cantik, pernahkah kita saling mengenal sebelumnya?”
“Hmm? Apa maksudmu?” tanya Zeeta.
“Suaramu, parasmu, caramu berperilaku, juga... hmm... anting di telinga kirimu itu sepertinya pernah kulihat di suatu tempat....”
Zeeta terkejut merespon ucapannya.
“Eh? Benarkah itu, Bu Sienna?” tanya Colette.
“Aku juga tidak yakin, sih....”
“Aha... ahahahah, tidak mungkin. I-ini baru pertama kalinya kukesini, kok! Lebih penting daripada aku, apa Tante punya rekomendasi makanan yang harus kucoba di festival ini?” Zeeta mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Eh? Benarkah?! Hebat sekali!” bagai mimpi yang menjadi nyata, akhirnya Zeeta tahu hubungan antara Hellenia dan Arthur ada kemajuan... yang mungkin saja sangat pesat, berdasarkan raut wajah Bu Sienna.
“Tentu saja! Ngomong-ngomong, Arthur itu juga ayah angkat dari Tuan Putri kerajaan yang kedua puluh satu....”
Selama mereka berbincang, Colette hanyut dalam prasangkanya terhadap “Penyihir Harapan” ini.
“Apa yang salah dengan semua ini? Benar kata Bu Sienna... dia seperti sangat familiar dengan kami... dia juga sepertinya sudah kulihat sebelumnya, sama seperti antingnya, tapi... ada suatu kabut yang menghalangi ingatanku...,” batin Colette yang secara tak sadar terus memandangi Zeeta.
.
.
.
.
“Colette!” pekik Bu Sienna.
“A-ah! I-iya?”
“Ayolah, jangan melamun hanya karena kaukagum dengan Adik Cantik ini! Kaubilang pada Novalius ingin memandunya ke seluruh kerajaan, ‘kan?”
“Ah, uhm. Itu benar.” Colette menerima kotak yang berisi liontin. Setelah membayarnya, “Ayo, aku akan mentraktir semua yang kauinginkan. Ini imbalanku terhadap yang kaulakuk—“
__ADS_1
“Ini adalah bentuk terima kasihku pada, uhh, Cre... creesi…?”
Colette tersenyum. “Crescent Void.”
“Ah itu. Berkat perjuangan kalian, senyuman di kerajaan ini dapat terlindungi! Baiklah, kuterima tawaranmu dan akan berkeliling kerajaan! Sampai jumpa lagi, Tante Pembuat Aksesoris! Kuharap bisnismu lancar!” lambaian Zeeta dibalas dengan ceria oleh Bu Sienna.
“Ah ... entah kenapa senyuman anak itu membuatku sangat bahagia. Apa yang sebenarnya terjadi...? Rasanya… seperti rindu yang terobati....”
......................
Setelah itu, Zeeta dan Colette mengunjungi berbagai kedai dan atraksi yang menarik mata dan penciuman Zeeta. Baik itu kedai makanan, camilan, minuman, aksesoris, dan lain-lain. Jika membahas atraksi, Zeeta baru pertama kali melihat sihir tiga bola api yang dilempar-putar oleh tangan layaknya bola biasa, dan secara konsisten diubah menjadi bola es. Begitu sudah beberapa kali diputar, sang pemain melemparnya ke langit dan mengubahnya jadi gemerlap kembang api.
Melihat tiada hentinya Zeeta bersemangat dan tersenyum membuat Colette ikut bahagia, tanpa mempertanyakan lagi siapa sebenarnya Penyihir Harapan ini. Dia hanya menganggap gadis berusia empat belas tahun ini memanglah bangsawan tanpa mana.
Saat ini, mereka tengah beristirahat di bangku di alun-alun kota, di dekat air mancur megah. “Waaahh, itu tadi seru sekalii!” Zeeta meregangkan tubuhnya.
“Aku senang jika kausenang,” balas Colette.
“Hei, Kak Colette....” Raut wajah Zeeta tiba-tiba jadi sedikit muram. Ini langsung membuat Colette bertanda tanya.
“Kenapa?”
“Apa kausenang dengan kerajaan yang sekarang—maksudku, kau dan anggota Crescent Void yang lain melindungi kerajaan ini dengan mempertaruhkan nyawa, ‘kan?”
“Hahahaha, kukira kauingin bertanya tentang apa.... Tentu saja. Apa yang kurasakan pasti sama dengan yang lain. Sejujurnya, selain dua dari anggota kami, kami tidak mempertaruhkan nyawa kami demi seisi Aurora. Kami bertarung dengan alasan kami sendiri. Apa yang kaulihat sekarang adalah bonus dari kami berhasil melakukannya bersama-sama.
“Meskipun kami tidak melakukan ini demi seluruh kerajaan, tapi melihat rakyat seperti ini, tentu saja membuat kami tambah semangat, dan semakin ingin lebih kuat agar bisa terus melindungi. Kami seperti ini saja, berkat kekuatan Putri Zeeta.”
“Huh? Apa maksudmu?”
“Dia waktu itu berusia delapan tahun. Dia selalu saja melindungi kami apapun yang terjadi meskipun nyawanya dipertaruhkan. Jika anak kecil seperti dia mampu, kami yang lebih tua darinya tidak mampu, itu lucu. Setidaknya, itulah yang kupikirkan.
“Ada kalanya dia tak mampu meraih tangan yang ingin ia lindungi seperti korban di Wilayah Timur, tapi itu bukanlah kesalahannya. Semua yang terjadi saat itu sangatlah tiba-tiba. Tidak ada yang bisa menanggulanginya secara sempurna. Kami mampu bertahan di hari ini, karena saat itu, ancaman yang hendak menghancurkan Aurora, sudah berkali-kali Putri Zeeta hancurkan balik.
“Aku tahu kekuatan itu tidak datang murni dari kekuatannya saja, tetapi dia pasti memiliki sesuatu yang harus dia lindungi. Baik itu janji, orang yang disayangi, atau apapun yang menjadi alasannya.
"Jadi sekarang, setelah melewati enam setengah tahun, aku benar-benar yakin. Putri Zeeta yang masih latihan di suatu tempat, juga semakin kuat baik mental dan kekuatannya.
“Tugas kami bukanlah hanya melindungi Aurora, tetapi juga Tuan Putri itu. Mungkin nanti ada kecanggungan antara perbedaan kekuatan dan cara bicara kami, tapi... melihatmu, bangsawan tanpa mana, mengingatkanku bagaimana rekan-rekanku menceritakan Putri Zeeta berkelakuan. Aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja!” Colette memungkas kalimatnya dengan senyuman yang penuh percaya diri.
Zeeta ikut membalas senyuman itu dengan senyum yang sangat hangat. “Uhm. Pasti akan baik-baik saja.”
Tiba-tiba....
“Seluruh Crescent Void, segera bersiaga. Aku melihat dua ekor Hollow berukuran raksasa sedang menuju Aurora. Persiapkan senjata suci kalian.” Suara Novalius bisa didengar dari alat komunikasi yang di pasang di telinga Colette. Zeeta langsung mengernyitkan mata.
“Apa alasanmu? Tak bisakah kauatasi dengan pedangmu?” tanya Colette.
“Mereka berbahaya. Daripada buang-buang waktu, segeralah ke sini dan lihat sendiri.”
“Sialan. Padahal lagi asyik begini.... Aku akan sampai dua menit lagi.”
“Siap.”
__ADS_1
Colette menekan alat komunikasi itu untuk mematikannya. “Baiklah, seperti yang kaudengar, aku memiliki tugas. Silakan menikmati waktumu, kami pasti bisa menyelesaikannya.” Colette memakai gelang kuning keemasan hasil tempaan Axel, mengubahnya ke sarung tangan hingga ke siku untuk melempar dirinya ke langit setelah beraba-aba jongkok. Ia lalu melesat terbang dengan cepat.
“Tidak. Ini tidak bisa kalian lakukan sendiri.... Baiklah, waktu main-mainnya sampai sini saja. Waktunya bagiku berunjuk gigi sudah tiba!"