Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dua Gadis Berambut Perak


__ADS_3

“Apa kau ini murni bodoh atau apa, Zeeta?!” jerit Tellaura, pada keturunannya sendiri.


“HAH?! Apa yang maksudmu memanggil cucuku dengan bodoh?!” balas Scarlet yang ikut menjerit.


“Kalau kubilang bodoh, maka dia tetaplah bodoh!


“Setelah semua yang kami, juga leluhurmu sendiri lakukan—“ Tellaura menunjuk Scarlet. “Remaja ini bilang kalau dia ingin membiarkan Batu Jiwa diambil oleh pihak musuh?! Kau benar-benar ingin menghancurkan dunia?!”


Zeeta tidak panik atau menanggapi berlebihan amarah Tellaura. Sementara itu, orang-orang lain di sana juga hanya memandang Zeeta diam, menunggunya untuk menjawab.


“Ya,” balas Zeeta, yang direspon terkejut oleh semuanya. “Aku ingin menghancurkan dunia—“


Tellaura segera ingin menampar Zeeta, namun dirinya terhenti saat keturunannya itu melanjutkan ucapannya. “Dengan bantuan Yggdrasil.”


“Apa... maksudmu sebenarnya...?” Tellaura bertanya-tanya.


Zeeta berdiri, kemudian menjelaskan. “Aku selalu bertanya-tanya, kenapa aku yang terpilih untuk mengakhiri semua ini?


“Setelah aku melihat sudut pandangmu, kau melihat berbagai pengalaman-pengalaman buruk para leluhur kita terhadap kekuatan sihir ini. Oleh karenanya, salah seorang leluhur kita, memutuskan untuk mengakhiri Yggdrasil dengan menciptakan peperangan antar Manusia dengan para makhluk sihir, kemudian berakhir dengan memustahilkan sihir kepada Manusia.


“Satu hal yang kupelajari dari leluhur itu, pada dasarnya kita semua ini sama. Kita tidak ingin ada kebencian dalam kehidupan kita. Namun, kehadiran sihir di dunia ini—yang memungkinkan segala sesuatunya terjadi, menjadikan banyak ras, tidak hanya Manusia, menjadi sombong.


“Oleh karena itu, kali ini, tidak dengan tanpa Yggdrasil, aku akan menghancurkan dunia bersamanya.


“Aku akan menghancurkan tatanan dunia sihir ini dan ... mengakhiri siklus kebencian yang sudah berlangsung selama ribuan tahun, apapun bayarannya, meskipun itu adalah nyawaku.”


Scarlet dan teman-temannya marah besar. Terutama neneknya, yang sangat meledak-ledak. “Kau tidak akan melakukan itu dengan taruhan nyawamu, Zeeta!


“Kau dengar aku?!


“Para leluhurmu telah berjuang, bahkan sudah mengabdikan nyawanya untuk keselamatanmu—generasimu!


“Dan kauingin menelantarkan semua perjuangan itu dengan mengorbankan nyawamu juga?!”


Zeeta tersenyum. Hal itu membuat Scarlet jadi tambah ingin marah, namun bingung juga disaat yang sama. “Sebuah nyawa memiliki arti hidup ketika ia sudah mati,” jawab Zeeta, “aku mencintai kalian semua. Aku tidak suka dengan Belle, sih, tapi kupercaya lambat laun kami bisa berteman. Aku sadar dan aku memahami arti dari kehangatan hal tersebut.


“Namun, aku ingin hidupku yang menjadi penentu akhir dari dunia sihir ini memiliki arti. Ini juga tidak berarti aku menelantarkan semua perjuangan leluhurku, termasuk Tellaura yang ada di hadapan kita saat ini.


“Aku sudah sering berbicara dengan leluhur-leluhurku sejak aku kecil. Clarissa dan anak-anaknya, mereka adalah contohnya. Mereka semua memiliki kisah masing-masing dalam hidup mereka, juga dalam menentukan akhir hidupnya.


“Dan aku ingin akhir hidupku tidak akan kusesali. Keputusanku ini juga tidaklah main-main, jadi ... dengarkanlah aku. Kumohon. Ragnarok tetap tak bisa kuhentikan sendirian.”


Tellaura menyentuh lembut bahu Scarlet yang tegang. Ia menyimbolkan bahwa mereka tidak bisa apa-apa, sebab Zeeta sudah membulatkan tekadnya.


Azure dan Mellynda segera memeluk Zeeta setelahnya. “Teman-temanmu takkan senang dengan keputusanmu ini. Apalagi ibumu!” seru Mellynda.

__ADS_1


Kemudian Azure menyusul dengan kata-katanya. “Aku pun juga tidak senang dengan keputusanmu ini, tapi aku akan mendukungmu apapun yang kubisa. Oke?”


Zeeta membalas pelukan mereka, kemudian dengan senyumnya, membalas mereka. “Uhm. Aku akan mengingatnya. Terima kasih, kalian berdua.”


Saat ketiganya melepas pelukan, Zeeta langsung berwajah serius. “Baiklah, inilah yang akan kulakukan dan alasanku kenapa ingin membiarkan Batu Jiwa diambil oleh musuh. Ini pasti akan sulit dilakukan, tapi tidaklah mustahil.”


......................


Di luar desa Rhongomyniad, tempat dimana jasad Mellynda dan Azure berada, sang Grand Duke dan ibu dari Mellynda, Illia, telah sampai di sana sejak satu setengah jam yang lalu. Mereka berdua telah mengamankan remaja-remaja nyaris dewasa tersebut ke dalam tenda. Tenda ini adalah tempat istirahat putri kedua kerajaan dan putri sulung keluarga Ophenlis, sebelum jiwa mereka direbut paksa ke dalam Tanah Kematian.


“Ada residu mana dari mereka yang mengejar putri-putri ini,” kata Albert, “namun ada juga mana dari Feline.


“Lalu, sudah satu setengah jam lamanya mereka tidak kembali, sementara itu mana kedua putri ini terus saja melemah. Aku juga semakin khawatir dengan kondisi kerajaan yang sedang minim kekuatan....”


“Aku percaya mereka akan kembali, Albert,” balas Illia, sambil memegangi tangan keduanya dengan erat dan menjaga suhu tubuh mereka tetap hangat dengan membakar api unggun di dekatnya.


Seakan menjawab harapan seorang ibu, sebuah portal terbentuk di pagar dimana jasad kedua putri itu diamankan. Albert segera pasang badan untuk melindungi tiga wanita tersebut.


“Kau benar-benar gila, Zee. Dan itu tidak pernah berubah sejak dulu.”


Suara putrinya yang terdengar jelas di telinga Illia, segera membuat dirinya tersenyum sumringah dengan tangis yang menetes. “Melly?! Itukah dirimu?!” serunya.


“I-Ibu?”


Membaca suasana yang akan haru, Belle mengajak Zeeta untuk ikut bersamanya, menuju desa di belakang mereka. Desa yang dijuluki sebagai desa Akhir Dunia, Rhongomyniad.


.


.


.


.


Belle memandu Zeeta ke dekat ujung desa yang merupakan tebing tinggi. Mereka duduk di sebuah batu besar yang menyerupai tempurung berlumut di dekat rumah tua yang sudah lapuk dan hancur dengan penuh lubang baik di tembok ataupun atap.


“Bagaimana?” tanya Belle, memulai percakapan.


Zeeta melirik Belle. “Apanya?”


“Kesanmu tentang desa ini. Desa yang orang-orangnya telah kubunuh dengan tangan ini. Wujudku pun begini.”


“Kauingin aku jujur atau bohong?”


“Apa maksud pertanyaanmu itu?”

__ADS_1


“Aku orang yang baru pertama kali kenal denganmu. Aku bisa mengambil jalan bohong untuk menjaga imej-ku darimu.


“Jadi?”


Belle tersenyum kecut. “Tentu saja jujur, dasar bodoh. Sudah terlambat jika kauingin menjaga imej-mu.”


“Jujur saja, terasa mengerikan untukku. Banyak suara-suara... atau seperti mana jahat yang tidak bisa mengampunimu.”


“Apa akan terdengar aneh bila aku tidak menyesalinya?”


Zeeta sekali lagi melirik Belle. “Kau tidak sendirian. Apa yang hendak kulakukan, generasi selanjutnya mungkin akan mengutuk langkah yang kuambil.”


Belle jadi tersenyum lagi karena jawaban Zeeta. “Sekarang... aku masih tidak mengerti kenapa desa ini disebut sebagai desa Akhir Dunia.”


“Tapi sepertinya aku tahu.”


“Eh? Bagaimana?”


Zeeta menunjukkan cincin Catastrophe Seal-nya. “Sejak kita keluar dari Tanah Kematian, cincin ini selalu bergetar. Getarannya semakin menguat saat kuarahkan pada tebing itu. Mungkin cincin ini setuju dengan langkahku.” Zeeta setengah bercanda dalam kalimatnya.


“Bagaimana kaubisa dapatkan cincin itu memangnya?”


Zeeta kemudian bercerita awal mulanya. Setelah mendengar seluruh ceritanya dengan saksama, Belle bertanya. “Cincin ini hanya memilihmu? Apa kau keberatan bila aku mencoba memakainya?”


“Tentu.” Zeeta melepas Catastophe Seal-nya untuk pertama kali dalam tujuh belas tahun.


Kemudian saat Belle memakai cincinnya...


Zeeta seperti diperlihatkan waskita. Dirinya melihat siluet-siluet yang terus bergiliran secara cepat. Siluet itu memperlihatkan dirinya yang dikepung oleh banyak sekali orang dengan masing-masing tangan mereka mengacungkan sihir mereka padanya, di ujung tebing yang sangat familiar baginya itu.


“Aaaaaaahh!”


Secara refleks, Zeeta berteriak kencang. Belle pun ikut terkejut karenanya. “Apa?! Ada apa denganmu?!”


Tidak hanya Belle saja, teriakan Zeeta ikut memancing perhatian mereka yang sedang bersama Azure dan Mellynda.


Zeeta setelah itu memeluk Belle dengan sangat erat. Belle menyadari tubuh Zeeta yang bergemetar. “Apa yang terjadi... Zeeta...?” tanyanya.


“....


“Maaf....


“Tolong biarkan aku begini dulu....”


Belle yang tidak menduga Zeeta seperti ini, kemudian memutuskan untuk mengelus-elus lembut rambut panjangnya sambil membalas dekapannya. Dalam batinnya, Belle menyadari sesuatu. “Persis seperti diriku ... Zeeta juga hanyalah manusia.... Bahkan, sebenarnya usianya lebih pendek dariku....”

__ADS_1


__ADS_2