
Kejadian ini terjadi ketika Luna baru memulai sesi latihan untuk Azure, Gerda, Mellynda, dan Danny untuk menyusul kemampuan Zeeta. Setelah keempatnya mulai bisa terbiasa dengan wilayah ekstrem yang ada di "dunia lain" buatan Luna, dan setelah Gerda mencoba untuk membesarkan sebuah biji langsung jadi pohonnya, seekor klon berbicara pada Gerda. "Kuucapkan selamat untukmu karena sudah berjuang keras," ujarnya, "sebelum kita mulai ke menu latihan berikutnya, aku harus memberitahu dan kau harus beritahu aku tentang suatu hal. Duduklah dulu." Ekspresi Luna yang serius membuat Gerda mengikutinya tanpa pertanyaan. "Apa itu sihir bagimu setelah melihat berbagai macam kejadian di Aurora?"
Pertanyaan itu memaksa Gerda berpikir sejenak agar bisa mendapatkan jawabannya. "Sihir ... kukira adalah suatu kekuatan sederhana yang mampu membantu kehidupan Manusia. Meskipun tidak semuanya mahir bersihir, eksistensi sihir di dunia ada dengan dasar itu. Paman Arthur selalu mengajarkan kami untuk terus berusaha meskipun kami tidak mahir dan hanya bermana kecil....
"Alasannya, ketika kami dewasa nanti, kami pasti akan menjalani jalan yang sangat berbatu jika tidak melatihnya sejak dini. Awalnya, aku tidak terlalu paham, namun sekarang... bersama dengan fakta bahwa Zeeta adalah Tuan Putri bermana jauh lebih besar daripada kami....
"Aku jadi merasa ... sihir itu sangatlah bodoh. Aku pernah berpikir kalau tanpa sihir, kami masih bisa asyik melakukan keseharian kami di desa Lazuli. Sihir ... sudah merenggut kebebasan kami." Gerda mengepalkan tangannya erat-erat.
"Begitu, ya," balas Luna, "kalau begitu, jika kau menganggap sihir seperti itu, mengapa kau tetap bergantung padanya untuk melindungi Zeeta? Tanpa sihir, kau takkan berdaya, bahkan kau hanya akan membuat Zeeta jadi semakin tertekan jika kau mati."
Gerda tidak terpikir sampai sejauh itu. "So-soal itu...." Ia tak mampu menjawabnya dan hanya mengalihkan mata ke bawah.
"Jika kau menyalahkan sihir, berarti kau telah salah mengerti tentang semua yang terjadi di sekitarmu."
"A-apa maksudnya?"
"Sihir adalah kekuatan yang bisa digunakan oleh setiap makhluk, bahkan tumbuhan pun terkadang mampu bersihir. Jika kau menyalahkan sihir, kau berarti menyalahkan semua makhluk hidup yang harus berlindung dari peperangan, baik perang skala besar atau kecil, dengan sihirnya.
"Masalahnya bukan terletak pada sihir, tetapi pada konflik yang ada selalu terikat dengan sihir. Kuberi contoh, masalah yang terjadi pada Azure, adalah dendam pada bangsawan yang membakar hangus desanya.
"Zeeta menjadi Tuan Putri dan melindungi kalian semua karena itu adalah salah satu bagian dari kewajibannya—yang kuat melindungi yang lemah.
"Sihir adalah kekuatan yang ada untuk membangun dunia, bukan untuk menghancurkan dan memberikan konflik ke setiap penjuru dunia.
"Lantas, kenapa ramalan masa depan Feline mengatakan Zeeta justru akan menghancurkan dunia?
"Jawabannya sangat sederhana. Dia telah kehilangan banyak orang, sehingga apa yang terpikirkan olehmu, juga terpikirkan olehnya."
__ADS_1
Gerda mengepalkan tangannya.
"Namun, bayangkan saja jika dirimu menjadi Zeeta. Tanggung jawabnya begitu besar dan sulit untuk diemban sendirian.
"Misalkan ....
"Misalkan apa yang kaupikirkan juga dipikirkan oleh Zeeta, dan membuatnya tersematkan keinginan untuk menghapus eksistensi sihir dari dunia, bahkan jika itu artinya seluruh dunia menjadi musuhnya ... apa yang akan terjadi?"
Gerda terbelalak. Ia segera memahaminya. "Pe-perang...?!"
"Itu benar." Luna mengangguk. "Semakin tua dunia ini, semakin buruk pula isinya. Makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya juga semakin terkontaminasi. Orang polos dan cengeng seperti Zeeta juga bisa menjadi orang yang sangat keji.
"Karena itulah, sebagai seseorang yang telah mengenal Zeeta sejak lama, kau memiliki peran penting untuk ada di sisinya. Kau harus mengingatkannya dengan aksimu bahwa sihir bukanlah untuk menghancurkan, melainkan umtuk menghidupi dunia."
"Memangnya ada caraku bisa melakukannya...? A-aku bahkan tidak sebanding dengannya!"
Gerda melukiskan senyumnya. "Tolong latih aku!"
......................
Kembali ke medan pertarungan, dimana awan gelap masih menyelimuti langit dan menyembunyikan matahari, Gerda yang baru tiba di sana segera terpojok dengan banyaknya Banshee yang tiba-tiba muncul sejak Suzy menjentikkan jemarinya. Banshee-Banshee itu memakai gaun compang-camping berwarna kelabu dengan penampilan sama seperti Banshee awal—seperti perempuan peyot yang sangat kurus dari kepala hingga ujung kaki. Rambut mereka panjang sepunggung yang berantakan bak tidak pernah ditata sama sekali. Dengan penampilan seperti itu ditambah mata merah menyala yang semuanya tertuju pada Gerda yang tengah membawa Ashley yang tak sadarkan diri dengan sihir anginnya.
Jantungnya berdegup sangat kencang. Tiupan angin juga memperburuk situasi hingga membuatnya tak mampu berpikir secara jelas. "A-apa yang harus kulakukan...? Apa aku harus mundur...? Ta-tapi ... bagaimana dengan Danny dan Eclipse? Aku tak bisa bertarung sambil membawa—" Gerda menghentikan pikiran batinnya. Ia langsung menggertakkan gigi dan menajamkan tatapannya.
"Ini adalah giliranku untuk melindungi Kakak!" serunya, "jika aku mundur, aku bukanlah Crescent Void yang melindungi diri, keluarga, kerajaan, dan terutama Zeeta! Jika aku mundur, aku takkan bisa membuktikan pada Zeeta, jika sihir ada untuk menghidupi dunia! Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku takkan mundur!" tongkat sihirnya bercahaya emas. Kemudian, ia melambaikannya ke arah Ashley. "Breeze!" angin yang menyelimuti Ashley segera melaju kencang mundur ke arah Aurora berada. Setelah itu, ia menatap mata Suzy. Meresponnya, Suzy tersenyum.
"Aku suka tatapan itu. Kau memilih untuk menaklukan ketakutanmu. Kapanpun zamannya, Manusia selalu seperti ini. Mereka tiba-tiba mendapatkan secuil keberanian hanya dari secuil ingatan ... dan berakhir mengenaskan," ujar Suzy, "yah, setidaknya aku sangat menghargai keberanianmu. Sebagai gantinya, aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat penting untukku, agar kau memiliki peluang untuk mengalahkanku."
__ADS_1
"Dia jelas-jelas meremehkanku dan percaya diri bahwa dia takkan kalah dariku...," batin Gerda.
"Kau pasti bertanya-tanya tentang pakaianku yang jarang kautemukan ini." Suzy menyibak jubah laboratoriumnya. "Ini ada kaitannya dengan kekuatanku. Kautahu, di kerajaan asalku, Nebula, ada suatu tempat khusus untuk melakukan penelitian terhadap sihir. Tempat itu disebut Laboraturium Demolish.
"Berkat penelitian kami, kerajaan Nebula menjadi sangat maju dan pesat. Tujuanku berada di Nebula adalah membantu calon Benih Yggdrasil di sana untuk bisa berkembang lebih mudah.
"Namun sayang, dia lebih buruk dari yang kukira. Bahkan, Roh Yggdrasil yang berkontrak dengannya pun tidak seperti yang kuharapkan. Lebih buruknya, semua orang di laboratorium itu mengubah tujuan penelitiannya demi kepentingan mereka sendiri. Tidak hanya mereka, bahkan sang raja juga.
"Jadi, mau tak mau kulenyapkan saja mereka semua dengan cara seperti ini." Suzy mengangkat tangan kanannya, dilanjutkan dengan jari telunjuknya. Bola es raksasa terbentuk, lalu ia turunkan telunjuknya. Bola es itu pasti mampu membekukan siapapun yang dihantamnya. Namun, Gerda tidak tinggal diam.
Gerda melempar tongkat sihirnya ke langit, memukul tanah dengan kedua lengan untuk menarik Danny dan Eclipse ke dalamnya dengan bantuan sihir. Suzy senang dengan tanggapan Gerda, tetapi Gerda belum selesai. Ia menghempaskan semua Banshee yang mengitari Suzy dengan gerakan lengannya yang seperti menyibak angin, lalu memunculkan dinding tanah yang mendorong paksa korban-korbannya sejauh mungkin. Kemudian, Gerda menghentakkan kaki kanannya yang memunculkan tebing tanah, menyebabkan terhempasnya Suzy menuju bola esnya sendiri.
Menganggap bisa mengatasi serangan miliknya sendiri dengan serangan lain—yaitu memanaskan dirinya sendiri dengan auranya—ia justru dibuat terkejut ketika ia akan meghantam bolanya, bola itu justru terbelah dua. Suzy melihat ke bawah dan mendapati Gerda tersenyum. "Sialan! Dia membelah bolanya ketika dia melempar tongkatnya, kah?!" batin Suzy menggerutu.
Gerda menepuk kedua tangannya, lalu menangkap tongkatnya yang kembali dengan sendirinya.
'BWOOOMM KRAK KRAKK'
Tetapi, ada yang tidak diduga Gerda terjadi setelah itu. Begitu Suzy terhimpit serangannya sendiri, Banshee-Banshee itu mulai melantangkan jeritan ratapannya.
"Aghk!" erang Gerda, "ke-kenapa?! Padahal sebelumnya tidak terjadi apa-apa!" ia memegangi kepalanya. "A-aku harus melindungi diri dari teriakan ini!" dengan napasnya yang terengah ia membuat sebuah earmuff dan menambah efek untuk mengedapkan suara. Ia segera memakainya dan rasa sakit, lemah, dan sulit bergerak sebelumnya mulai berkurang. "Meski aku belum melihat apa yang mereka bisa selain jeritan itu, mereka sudah cukup mengerikan! Berbeda dengan Phantasmal atau Hollow yang pernah dilawan Zeeta, dengan jeritan yang mampu memberi banyak debuff sekaligus pada mental dan kekuatan lawannya, mereka bisa mengambil nyawa siapapun selain Crescent Void dan Zeeta dengan mudah!
"Untung saja aku sudah menyembunyikan Danny dan Eclipse. Aku juga bersyukur telah diberi senjata ini ... jika tidak...." Gerda memandangi tongkat sihirnya. "Nah, kalau begitu... apa yang harus kulakukan selanjutnya...? Apa jumlah mereka yang banyak itu mempengaruhi efeknya...?
"Tidak! Kesampingkan mereka dulu!
"Suzy pasti tidak mungkin terluka hanya dengan serangan seperti itu—tidak, dia pasti bisa beregenerasi! Ekspresinya yang terkejut sudah cukup untuk membuatku yakin!" Gerda mencengkeram tongkatnya erat-erat.
__ADS_1