
Misteri dibalik kekuatan yang dimiliki keluarga kerajaan Aurora sedikit demi sedikit mulai terungkap. Namun, disaat yang sama, justru menimbulkan pertanyaan.
Poin pertama; untuk saat ini, yang diketahui beberapa bangsawan, terutama para bangsawan utama, adalah keluarga kerajaan memiliki kekuatan mana yang sangat besar. Untuk menghancurkan satu benua saja, itu bukanlah hal yang mustahil. Hal ini juga diketahui oleh rakyat Aurora.
Poin kedua; keluarga kerajaan mampu melihat kejadian di masa lampau dengan kekuatan dari anting bulan yang mereka pakai. Waktu yang mereka kunjungi tidak menentu. Terkadang beberapa, puluhan, atau ribuan tahun yang lalu, seperti yang telah dialami Scarlet.
Poin ketiga; sihir yang diciptakan keluarga kerajaan memiliki tingkat kekuatan dan efek yang sangat tinggi dibandingkan bangsawan lainnya. Misalnya, jika luka fatal seperti rusaknya sebuah organ atau patah tulang serius, keluarga kerajaan mampu menyembuhkannya secara total.
Kemudian poin yang ketiga; pada tahun ini, keluarga kerajaan Aurora memiliki penerus yang jauh berbeda dengan leluhurnya. Tidak hanya memiliki mana luar biasa besar, ia juga dicintai alam sehingga memungkinkannya untuk memakai mana dari alam. Ia juga menemui makhluk-makhluk yang tidak pernah ditemui oleh kebanyakan rakyat Aurora, seperti Peri, Elf, Dryad, dan Raksasa. Apalagi, penerus ini berteman dengan seorang Elf. Dia adalah Zeeta Aurora XXI.
Lalu yang terakhir; ramalan Ratu Peri yang mengatakan Zeeta akan menghancurkan dunia, membuat banyak orang berspekulasi alasan Zeeta ingin melakukannya. Apakah itu karena kebencian? Atau mungkin karena merasa stress disaat ia harus menjalani kewajiban Tuan Putri yang segala sesuatunya baru untuk ia jalani? Ataukah mungkin Zeeta hanya merasa muak dengan dunia ini?
Yang pasti, dari semua poin tersebut, kini Zeeta sedang duduk di tengah-tengah Hutan Sihir Agung, tempat dimana Roh Yggdrasil banyak berkumpul, sekaligus rumah bagi para Elf. Lantas, apa yang akan ia ungkap pada Tetua Elf, Hugo, saat dirinya bertemu dengan leluhur kesembilannya, Clarissa?
......................
Zeeta tampak benar-benar marah ketika mendengar apa yang dikatakan leluhurnya—Clarissa Aurora IX—tentang Ratu Peri dan alasan Hollow menyerang kerajaan mereka.
"Manusia hanyalah bidak bagi Feline untuk mewujudkan keinginannya. Selama tiga ratus tahun ini, keturunanku, termasuk aku sendiri, dipermainkan olehnya. Sejauh yang kuingat dan bisa kuamati selama ini, yang mencium bau amis dari segala tindakan Feline hanyalah Scarlet," ujar Clarissa.
"Dipermainkan? Nenek? A-apa maksudnya...?" Zeeta mulai terlihat bergemetar.
"Awalnya, aku tidak menyadari jika anting bulan yang selama ini kita pakai merupakan pecahan dari bulan. Setidaknya kau menyadari, bukan, bahwa dalam periode tertentu, mana-mu terasalebih besar dari yang kausadari. Periode itu mengikuti fase bulan. Bulan baru, sabit, perbasi, hingga menjadi bulan baru kembali.
"Bulan adalah sumber kekuatan kita. Sumber kekuatan Aurora. Memang, bangsawan adalah Manusia-Manusia yang memiliki mana besar. Tetapi, pengecualian untuk kita, dengan anting ini, mana kita jadi berlipat-lipat ganda lebih kuat. Aku mengetahui ini ketika anak keduaku, Velvet, memberitahu hasil penelitiannya. Apakah kautahu darimana anting-anting ini berasal?"
"Mereka bilang ini adalah harta keluarga kerajaan yang diwariskan turun temurun...," balas Zeeta.
"Tidak. Sebenarnya tidak begitu." Clarissa menggelengkan kepala.
"Jadi ... anting ini ... benar-benar dari bulan?" tanya Zeeta. Ia mengambil antingnya yang memperlihatkan fase perbasinya.
"Kau benar. Alasan mengapa bulan itu bisa menjatuhkan pecahannya tepat kepada Aurora, kau akan mengetahuinya jika waktunya sudah tepat. Kini, setelah mengetahui rahasia kekuatan kita, kuingin kau tenang dengan apa yang akan kukatakan atas alasan mengapa Hollow menyerang kerajaan."
"Tenang? Kenapa?"
Clarissa menjelaskan makhluk seperti apakah Hollow itu. Dari keberadaan Yggdrasil, hingga kebutuhan mereka untuk mewujudkan diri adalah keinginan kuat dari seseorang.
"Lalu, siapa orang yang menginginkan kehancuran itu?!" tanya Zeeta. Matanya seperti ingin melompat keluar. Urat kepalanya pun tampak terlihat di keningnya. Zeeta mengingat lagi apa yang sebelumnya Clarissa katakan tentang Ratu Peri. "Jangan bilang ... pelakunya adalah ... Ratu Peri?!"
Dengan berat hati, Clarissa menganggukkan kepalanya.
"Ha... hah?! Kenapa?! Kenapa Ratu Peri menginginkannya?! Padahal dia menyuruh Sylva untuk membantuku!"
Clarissa segera menjawab pertanyaan Zeeta. "Kemungkinan terbesarnya adalah kebangkitan Yggdrasil....
"Zeeta, kau adalah Benih Yggdrasil." Clarissa mengatakannya dengan wajah serius.
"Benih ... Yggdrasil?" Zeeta mengerutkan dahinya.
"Ya. Itu adalah julukan bagi orang—makhluk-makhluk yang telah dipilih oleh Roh Yggdrasil, bermana luar biasa besar, dan dicintai alam."
"Dipilih oleh Roh Yggdrasil? Apa maksudnya? Aku bahkan belum pernah tahu seperti apa bentuknya! Jika Ratu Peri tidak bisa dipercaya, tidak mungkin kubisa percaya Roh Yggdrasil itu!"
Bantahan Zeeta segera dipatahkan Clarissa. "Tidak, seharusnya kau sudah bertemu dengan mereka."
"Eh?"
"Kauingat apa kataku ketika kubilang yang membuat Catastrophe Seal bukan musuhmu? Zeeta, sosok itu adalah mereka. Jika kau tidak dipilih oleh Roh Yggdrasil, tidak mungkin kaubisa memakai senjata suci itu."
Zeeta jadi mengingat apa kata Hell Hydra yang terkejut saat ia berhasil mengaktifkan Catastrophe Seal dan mengubahnya menjadi sabit besar.
"Karena kau dipilih itulah, kau hanya merasa sakit dan lemas di sekujur tubuhmu. Jika tidak, kau akan lenyap dari dunia ini sesaat setelah kau merapalnya."
Zeeta tampak bergemetar. "A-a-aku memakai senjata seberbahaya itu?!"
"Maafkan aku karena sudah membuat nyawamu dalam bahaya, Nak. Tapi ... suatu saat dengan kekuatan Aurora, kau akan tahu mengapa aku yakin bahwa kau telah dipilih Roh Yggdrasil."
Zeeta mengalihkan pandangannya dari Clarissa. Meringkukkan kakinya, kemudian mengacak-acak rambutnya. "Sudahlah.... Leluhur sepertimu tidak perlu meminta maaf. Aku sudah mulai terbiasa dengan keadaanku yang seperti ini sampai-sampai aku tidak tahu mana lagi yang sangat penting untukku. Apakah itu kekuatanku, keluargaku, rakyatku, ataukah diriku sendiri. Rasanya kepalaku ingin meledak, hehehe." Zeeta memaksakan untuk tersenyum.
__ADS_1
Clarissa menatap Zeeta sedikit lama, menutup matanya sesaat, lalu menjawabnya, "Nak, suatu hari kau akan mendapat semua jawaban itu. Aku adalah leluhurmu dan aku hanya bisa memberikanmu pengetahuanku serta saranku kepadamu. Hidupmu adalah dirimu yang menentukan, ingin jadi sosok yang seperti apa Zeeta Aurora ini.
"Apakah dia menjadi Penguasa Kekelaman seperti ramalan Feline?"
"Apakah dia menjadi sosok yang melindungi dunia?"
"Mungkin ... dia menjadi sosok yang hanya mementingkan dirinya sendiri?"
"Atau, bisa saja ... dia mengakhiri dunia ini dengan menghapus keberadaan sihir selamanya."
Zeeta menoleh ke arah Clarissa ketika mendengar kalimat akhirnya.
"Semuanya kaulah yang menentukan, Zeeta. Tapi, perlu kauingat. Semua pilihan yang akan kaupilih nanti, jalannya tidak akan pernah mulus. Kau harus menguatkan ...." Clarissa menjulurkan tangan untuk memegang dada kiri Zeeta. "Hati...." Kemudian mengangkat tangannya menuju kepala. "Dan pikiranmu."
"Apa ... apa kau juga seperti itu? Kau berasal dari rakyat jelata juga bukan?" tanya Zeeta lirih.
"Uhm. Tentu saja. Semuanya sangat sulit untukku. Jika kakakku tidak ada bersamaku saat itu, aku tidak akan hadir di sisimu saat ini."
"Begitu, ya...." Zeeta memukul pelan pipinya beberapa kali. "Bisakah kauberitahu aku lebih banyak tentang alasan Ratu Peri ingin membangkitkan Yggdrasil?" tanyanya.
"Baiklah."
Clarissa kemudian menceritakan dengan detail alasan Ratu Peri ingin membangkitkan Yggdrasil. Katanya, Ratu Peri menganggap dunia ini sudah terlalu kotor dengan peradaban manusia yang semakin lama semakin maju. Alam yang dihancurkan untuk tempat tinggal serta prasarana manusia, membuat keseimbangan mana semakin lama semakin hancur.
Ratu Peri tahu bahwa jika keseimbangan mana benar-benar hancur, bencana dahsyat akan menyelimuti seisi Bumi. Gunung yang memuntahkan lahar amarahnya, tanah yang muak atas hilangnya hutan dengan membelah bumi, serta lautan yang menelan seluruh makhluk dalam sekejap, bisa terjadi kapan saja. Dengan adanya Yggdrasil, keseimbangan mana akan kembali utuh dan semua makhluk akan kembali tenteram.
Mendengar alasan Ratu Peri, membuat Zeeta kembali dibuat gundah akan pilihan mana yang harus ia tetapkan. Jika Yggdrasil memang benar-benar dibutuhkan untuk keseimbangan mana, lalu apakah ia harus meragukan Ratu Peri? Mana pihak yang harus ia sekutui?
"Aku ... aku ... aku harus apa...?" tanya Zeeta.
"Nak, Benih Yggdrasil tidaklah hanya dirimu seorang," kata Clarissa.
"Eh?"
"Anting bulan ini memiliki kemampuan untuk membawa pemiliknya melihat kejadian di masa lampau. Nenekmu pernah melihatnya dan masa yang ia lihat adalah masa ketika Yggdrasil masih eksis. Sedangkan aku, aku melihatnya lebih lama dari dia. Jadi, kau akan mengetahui hal-hal berkaitan dengan Yggdrasil suatu hari nanti. Tapi, yang ingin kusampaikan untukmu adalah....
"Jadi ... maksudmu aku harus mengesampingkan tentang Benih Yggdrasil itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kaupunya prioritas lain yang ada di dekatmu. Mereka pasti bisa membantumu."
"Ah! Ibu dan ayahku?!"
Clarissa tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Aku akan mencari cara agar bisa membebaskan ... ibuku dari ... akar ... raksasa...." Zeeta berwajah masam lagi.
"Ada apa?" tanya Clarissa.
"Ratu Peri, 'kan yang mengurung ibu dan ayahku?" tanya Zeeta.
Clarissa terdiam.
Zeeta menggertakkan giginya, juga mencengkeram tangannya. "Padahal dia bilang ini karena cara alam melindungiku. Jadi selama ini ... semua perbuatannya hanyalah muslihat?!"
Zeeta berdiri dan bermandikan gairah semangat baru. "Aaaah! Aku tak peduli lagi dengan Peri! Tujuanku saat ini hanyalah membebaskan ayah dan ibuku!"
Melihat antusias Zeeta telah pulih, membuat Clarissa tersenyum. "Uhm. Berjuanglah!"
Ketika Zeeta menoleh ke arah Clarissa, ia mendapati tubuh leluhurnya mulai pudar. Zeeta duduk di hadapan Clarissa kemudian memeluknya dengan erat.
"Terima kasih, Ratu Clarissa. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu," ujar Zeeta. Clarissa dibuat terkejut karenanya.
Clarissa pun membalas pelukan Zeeta, lalu mengelus rambutnya. "Uhm. Sama-sama, Putri Zeeta. Aku juga senang dapat melihat keturunanku yang kedua puluh satu. Berjuanglah, ini adalah masa tersulit untuk kerajaan Aurora. Tak perlu kau emban sendiri, karena kau memiliki rekan yang percaya denganmu."
Zeeta semakin mengeratkan pelukannya. "Aku akan berjuang!" tak lama kemudian, Clarissa hilang dari dekapan eratnya....
__ADS_1
......................
Hugo menggerakkan kelima jarinya bergiliran. Ia tampak tidak tenang setelah mendengar cerita Zeeta.
"Feline sialan itu ... apa aku harus memberinya ancaman dengan menghancurkan sebagian hutannya?!" gumam Hugo. "Zeeta!" teriaknya.
"Y-ya?!" Zeeta berdiri karena terkejut.
"Semua yang dikatakan leluhurmu adalah benar! Yang perlu kau utamakan adalah ayah dan ibumu! Aku tak bisa membantumu secara total karena diriku adalah Dark Elf, tapi jika kau butuh bantuan, mintalah pada Aria!"
"Ah, ba-baik!"
"Lalu!"
"Y-ya?!"
"Jika Peri-Peri itu mendatangimu lagi, waspadalah! Peri itu makhluk ternakal, terusil, menyebalkan, dan paling menganggu di sepanjang hidupku! Aku bersyukur atas leluhurmu yang sudah membuat kami, para Elf!"
"Y-ya... baiklah." Zeeta merasa terganggu dengan sifat Hugo yang mendadak berubah.
Hugo mendekati Zeeta kemudian memegang bahu kanannya. "Aku akan mengantarmu pulang. Waktu sudah larut, lain kali aku akan memanggilmu ke sini jika ada keperluan. Apa kau keberatan?" tanyanya.
"Tidak. Tapi, aku perlu waktu banyak untuk membebaskan ayah dan ibuku. Jadi ...."
"Baiklah. Jika kau perlu bantuan langsung dari Hutan Sihir Agung, pakailah ini." Hugo memberikan anting berwarna biru berbentuk tear drop. "Anting itu terhubung langsung dengan mana-ku. Saat kau ingin memakainya, bicaralah padaku atau batinkanlah aku."
Zeeta menatap jijik serta aneh Hugo. Bicara atau batinkan? Eh? Mengapa ia harus membatin pria yang tampaknya ribuan tahun lebih tua darinya? Begitu pikir Zeeta.
"A-apa-apaan tatapan itu!? Kau belum tahu banyak tentang Hutan Sihir Agung, bukan? Karena itu aku memberimu ini!" Hugo mencari-cari alasan.
"Tapi ... Aria sudah cukup untuk membantuku ...." Zeeta masih belum mengubah tatapannya.
"Tidak, ini tidak hanya berguna untuk bicara padaku saja! Percayalah padaku!"
"Contohnya?"
"Ka-kalau kau memakai anting ini, semua Elf akan tahu jika kau berteman dengan tetua mereka!"
"Berteman...? Aku hanya datang karena Aria membawaku ke sini. Sejak kapan ...?" Zeeta melihat wajah Hugo seketika sedih. Begitu sedih. "Bwahahaha. Baiklah baiklah. Akan kupakai." Zeeta mengambil anting itu dan segera memakainya.
Tiba-tiba....
Beberapa Roh Yggdrasil di sekitar mereka—yang tampak tak terhitung jumlahnya, berkumpul menjadi satu dan membentuk diri. Seekor rubah berwarna perak, berekor dua yang bagian ujungnya adalah api hijau kebiruan. Ia bermata kuning dan berukuran setelapak tangan orang dewasa.
"Gaoo!" rubah kecil itu meraung. Wajahnya tampak mengantuk.
"I-imut sekali...!" batin Zeeta. Ia merona merah, matanya tampak memantulkan tanda hati.
Rubah perak itu melompat ke kepala Zeeta dan memosisikan dirinya agar bisa tidur dengan nyaman.
"Eh...?" Zeeta terdiam seribu bahasa. Apa yang ingin dilakukan makhluk satu ini? Zeeta menatap Hugo, namun yang ia dapat adalah gelengan kepala. Zeeta langsung menatapnya kecewa.
"A-anu...," kata Zeeta.
"Aku tahu, aku tahu. Hehe, karena aku sangat penasaran denganmu, aku kelepasan." Rubah itu berbicara.
"Su-sudah kuduga dia pasti bisa berbicara...," batin Zeeta.
"Hei! Tidak sopan! Kaupikir Roh Yggdrasil itu apa, kauanggap tak bisa bicara?!" rubah itu menarik rambutnya.
"E-eh? Kenapa bisa tahu?!" Zeeta melirik ke kepalanya.
"Leluhurmu sudah memberitahumu, 'kan? Kau sudah kupilih. Ah, lanjutkan bicaranya esok saja. Kau akan membuat Arthur dan yang lain khawatir."
"Hmm? Kenapa daritadi kalian selalu bicara seolah hari sudah gelap? Bukankah kita bicara hanya beberapa menit?" tanya Zeeta.
"Ah. Aku lupa bilang.... Waktu Hutan Sihir Agung tidak berjalan seperti dunia luar. Artinya, di dunia luar, kau sudah di sini selama tujuh jam," tukas Hugo.
"Eh?!" Zeeta menganga. "APA?!"
__ADS_1