
Labirin Cremlyn yang masih dalam keadaan runtuh, seharusnya tidak akan mengalami nasib seperti ini apabila sang penanggungjawab-slash-penjaga, Porte Ophenlis, bersiaga seperti saat kejadian Hollow yang menyerang beberapa waktu yang lalu.
Pertanyaannya, di mana sebenarnya keberadaan Porte setelah insiden tersebut? Hal ini juga ditanyakan langsung oleh beberapa bangsawan yang ada di labirin pada Mellynda. Namun, bahkan putrinya sendiri pun tidak tahu di mana ayahnya, sebab sejak insiden Hollow itu, ia dan ibunya TIDAK BISA pulang ke rumah.
Sambil menunggu kepastian dari bangsawan utama tentang keamanan di atas mereka, rakyat hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja. Tetapi, di antara banyaknya orang yang mengungsi, ada seorang anak laki-laki yang menggeser orang yang menghalanginya demi bertemu dengan Mellynda.
Anak laki-laki itu memiliki rambut hitam lurus sepanjang tengkuk dan poni yang dibelah kiri, serta memiliki mata berwarna merah gelap. Ia memakai baju ala bangsawan dengan model turtleneck warna putih dilengkapi mantel tebal panjang berwarna cokelat kemerahan. Kakinya dilapisi oleh celana hitam dan sepatu boots. Di pinggang sebelah kirinya juga terdapat pedang lengkap dengan sarungnya. Anak laki-laki tersebut ditemani pria tua berpakaian model "Kepala Pelayan" dengan setelan jas hitam, serta kacamata bundar kecil di hidungnya.
"Permisi, Nona cantik berambut pirang dan tubuh tinggi," panggil anak lelaki itu seraya menekuk lututnya. Mellynda yang merasa terpanggil menolehkan kepala. "Bolehkah kuminta waktumu sebentar?" sambung si anak lelaki.
Melly mengerenyitkan mata. "Siapa kau?"
"Aku sadar jika aku bersikap tidak sopan, tapi aku juga memiliki situasiku sendiri. Jadi, inilah identitasku." Anak lelaki itu memberi secarik kertas yang berisi tulisan panjang.
Usai Mellynda membacanya, ia menggulung kertas itu kembali, kemudian menjawab lawan bicaranya, "Baiklah, tapi aku harus membawa pihak ketiga. Aku pun punya situasiku sendiri."
Anak lelaki itulah yang sekarang mengernyit. Pria tua yang selalu ada di sebelahnya pun bertanya, "Bagaimana, Tuan Muda?"
"Mau bagaimana lagi. Baiklah," jawab si Tuan Muda.
"Kak Azure, kemarilah," panggil Mellynda. Azure yang ada tak jauh dari tempatnya berdiripun menghampirinya. Kemudian calon penerus keluarga Ophenlis yang kesembilan itu memberikan secarik kertas yang sudah ia baca.
Setelah Azure membacanya, Azure lantas meremasnya sampai benar-benar tak berbentuk. "Hooo...? Berani sekali kalian.... Baiklah, akan kudengar apa keinginan kalian!"
Si Tuan Muda dan Pelayannya merasakan ancaman yang luar biasa sementara Mellynda hanya bisa terkekeh.
......................
Mellynda, Azure, Tuan Muda dan Pelayannya, berpindah tempat ke hamparan rerumputan luas—agak jauh dari kerajaan—dengan sihir teleportasi. Kini, mereka bisa berbicara sepuasnya tentang sesuatu yang kelihatannya tidak boleh didengar oleh rakyat biasa atau bangsawan lainnya tersebut.
"Senang bertemu dengan kalian, Nona-Nona sekalian. Maafkan atas kelancanganku sebelumnya, tapi mohon izinkan aku untuk memperkenalkan diri dengan benar.
"Namaku adalah Klutzie Nebula II, Pangeran Pertama dari kerajaan Nebula." Klutzie memutar tangan kanannya dua kali lalu memberi hormat sambil menarik kaki kanan ke belakang.
"Langsung pada intinya saja, mau apa orang dari kerajaan lain ada di pengungsian Aurora?!" seru Azure, "jangan-jangan kalian menunggu kesempatan ini untuk menyerang kami?!"
__ADS_1
Klutzie mengedipkan mata dua kali seolah tak percaya apa yang baru ia dengar. "Ahahahaha, tidak tidak!" ia melambai-lambaikan kedua tangannya. "Kautahu? Karena aku tidak suka berbasa-basi, aku juga ingin langsung ke intinya. Syukurlah kalian bukan tipe yang harus berbasa-basi!" Klutzie menatap lurus Mellynda.
"Atas suatu ras yang memihakku—tidak, mungkin lebih pantas jika disebut 'kekuatan'—aku jadi tahu beberapa hal yang sudah kaulakukan dengan bangsawan utama. Jadi, aku ingin kauberitahu Tuan Putrimu, Wahai Rivalnya, bahwa Nebula ingin beraliansi dengan Aurora.
"Sudah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri jika Aurora butuh banyak dana, tenaga, dan bahan bangunan demi membangun kembali kerajaan ini.
"Nebula bisa memberi kalian semua hal itu dengan satu syarat sederhana. Kuingin Zeeta jadi tunanganku."
Tanah tiba-tiba retak dan bergemuruh, awan gelap pun mulai mengelilingi sekitar mereka.
"Kak Azure...? Te-tenangkan dirimu! Ini hanya diskusi biasa!" teriak Mellynda, ketika melihat tingkah Azure.
Azure berdiri sambil mencengkeram tangan kuat-kuat, bahkan aura ungu gelap telah menyelimutinya. Rambut hitam-birunya juga melawan gravitasi dan tiga orang yang ada di sana pun benar-benar merasa diancam hanya dengan auranya.
"Apa-apaan mana anak ini? Dia tidak wajar!" sebuah suara terdengar dari Klutzie. "Lutz, sebaiknya kaupergi sekarang juga atau kau tidak akan keluar dari kerajaan ini dengan baik!"
"Serius...?" balas Klutzie.
Azure yang dalam kondisi terpancing emosi sejak ia membaca secarik kertas tadi, saat ini sedang diujung kesabarannya. "Seenaknya.... Bangsawan itu SELALU seenaknya saja. Kukira hanya bangsawan di Aurora saja yang seperti itu... tapi ternyata tidak.
"Sembilan. Kenapa?" tanya Klutzie tanpa merasa beban.
"AKU TIDAK SUDIIII!" pekik Azure, yang disaat bersamaan meledakkan aura ungunya sampai membutakan mata ketiganya karena silau.
......................
Saat mata terbuka untuk melihat apa yang sudah terjadi, tanah yang sebelumnya dipenuhi hamparan rerumputan, kini menjadi tandus. Untungnya, sejauh mata memandang, tak ada yang terluka.
"Tidak terjadi apa-apa...?" gumam Klutzie, memandangi kedua tangannya untuk memastikan keselamatannya sendiri.
"Tentu saja, dasar bodoh!" jawab Azure memekik, "apa kau ini menganggapku tidak bisa menyadari posisi dengan siapa aku bicara?! Tidak sopan!
"Asal kautahu, Zeeta itu tidak butuh bantuan kerajaan lain. Dia sudah punya kami semua!"
Klutzie tersenyum kecit. "Fufu. Apa yang membuatmu begitu yakin? Kau bukanlah saudaranya, 'kan?"
__ADS_1
"Kau menanyakan hal sederhana itu, tetapi kau berani melamar Putri dari kerajaan lain?
"Bodoh. Sangat bodoh.
"Zeeta seribu persen lebih baik darimu! Kau bahkan tidak pantas ada di hadapannya!"
Urat kepala si Pelayan muncul. "Tarik kembali!" serunya, "tak bisa kubiarkan seorangpun yang menghina Tuan Muda selamat!"
"Ho?! Tarung, kah? Maju sini!" Azure merobek rok panjangnya agar bisa bergerak lebih leluasa, lalu bersiap dengan sihirnya.
"Sudah sudah. Tenanglah, Sebas. Kau juga, Nona." Klutzie menengahi situasi nyaris tegang ini. "Aku akan membenahi cara berpikir dan akan datang lagi secara langsung menemui Zeeta ketika semua masalah kerajaan ini sudah u—"
"Tidak perlu! Angkat kakimu sekarang juga!" tukas Azure.
"Hahah.... Baiklah, tapi izinkan aku beri pesan pada Nona itu." Klutzie menatap Mellynda.
"Apa?" tanya Mellynda.
"Sebaiknya kaucepat lihat kondisi ayahmu. Tidakkah kaupikir ini sangat mengkhawatirkan? Aku tidak akan menyelam lebih jauh, tapi aku sudah ada di sini sejak Hollow menyerang. Kebisuan akan kehadirannya sangat mencurigakan.
"Ayo pulang, Sebas."
Klutzie memegang tangan Sebas, lalu ia bersama Pelayannya menghilang dengan teleportasi.
"Ayah...?" gumam Mellynda seraya berwajah lesu.
......................
Sementara itu, di langit, di mana ibu kota berada, para bangsawan utama termasuk Orchid, telah bergegas untuk melaksanakan tugas masing-masing usai berdiskusi panjang dengan Aria, Ozy, dan Eclipse tentang rencana pembangunan baru.
"Segera laksanakan semuanya esok," perintah Zeeta, "kita harus lekas melihat kondisi Tuan Porte. Aku sangat mengkhawatirkannya."
"Tuan Putri—" Hellenia tampak ragu ingin bicara dengan Zeeta.
"Ada apa, Nona Hellen?"
__ADS_1
"Sebenarnya, Porte...."