Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Jatuh dalam Kegelapan


__ADS_3

Naga adalah makhluk yang sombong.


Mereka sombong terhadap kekuatan yang dimiliki, merasa paling berada di puncak dari segala ras yang ada di Bumi, serta merasa bahwa merekalah satu-satunya ras yang berhak untuk melayani Yggdrasil. Bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai ras yang dipercaya.


Sekilas, semuanya terasa sangat rumit, namun Naga sebenarnya adalah makhluk yang sederhana.


Mereka sangatlah loyal terhadap apa yang mereka janji atau ucapkan. Loyalitas itu sangatlah tinggi—bahkan sampai tidak ingin ada yang melebihi mereka. Mereka akan menganggap itu adalah sebuah penghinaan—memalukan diri sendiri, atau bahkan seluruh rasnya.


Oleh sebab itu, Naga ditakuti.


Oleh sebab itu, Naga disegani.


Seiring perubahan zaman, pola pikir mereka berubah. Tidak begitu berubah hingga mengubah jati diri mereka yang sangat loyal, tetapi mereka mulai menerima bahwa mereka bukanlah satu-satunya ras yang kuat. Setidaknya, untuk sebagian kecil dari mereka.


Ada Manusia yang kuat dari segi tekad dan kenaifan mereka dalam mempertahankan hidup, ada Peri yang kukuh terhadap prinsip jalan hidupnya, ada pula Raksasa yang selalu berbangga diri terhadap apapun yang telah dituntaskannya.


Ketiganya hanyalah contoh dari ras yang menjadi puncak populasi pada suatu masa. Masih ada ras lain yang menjadi minoritas, yang memiliki sisi-sisi kuatnya sendiri.


......................


Perang.


Suatu rentetan riwayat yang memiliki kepentingan tersirat dari masing-masing pihak yang terlibat. Demi kepentingan tersebut, segalanya dikorbankan, direnggut, merenggut, ataupun saling balas-membalas.


Ada yang menikmati perang, ada yang tersiksa, ada pula yang membencinya.


Ironisnya, dari riwayat tersebut, selalu ada bunga yang tumbuh tak peduli jika ia berada di tengah-tengah kekejaman.


Seperti itulah kehidupan, seperti itulah ungkapan "sejarah akan terulang dengan sendirinya".


Sama seperti yang terjadi saat ini, meskipun sudah ada banyak sekali korban jatuh dari semua ras yang ada di Bumi, juga dari tumbuhan maupun hewan, masih ada secercah harapan yang bisa menerangi kegelapan.


Mungkin tidak ada yang peduli dengan bagaimana secercah harapan itu bisa muncul menerangi kegelapan, namun cahaya takkan ada bila tak ada unsur yang mendukungnya—misalnya api, lampu, atau cahaya lain yang sejenisnya.


Demikianlah yang dilakukan dua ras yang ribuan tahun silam saling beradu kekuatan, Naga dan Raksasa—Elbrecht dan Ozy. Mereka memantik cahaya harapan agar bisa menyinari kembali Galdurheim yang telah tertelan keputus-asaan ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Tetapi ... setelah semuanya disebutkan, sebenarnya, si pemegang kunci dari mengapa semua ini terjadi, entah dia suka atau tidak, yaitu Zeeta Aurora XXI, sedang melakukan apa?


Apakah dia tetap dalam kondisi tubuh yang diambil alih—atau yang dapat juga disebut dipinjam oleh Ifrit?


......................


Selagi Azure masih bertarung satu lawan satu melawan Zeeta Alter dan menyebabkan kehancuran yang lebih besar lagi, Zeeta kini dilindungi oleh rivalnya, Mellynda, dan salah satu leluhurnya, Tellaura. Rivalnya itu tetap membiarkan senjata suci di tangannya untuk berjaga-jaga andaikata monster yang tercipta dari kumpulan jiwa-jiwa mati yang telah berganti giliran dengan tuannya untuk menyerang dia dan Zeeta.


Dalam kondisi seperti itu, Zeeta tetap melayang sedikit di atas tanah dengan keadaan mata yang terus membuka dan membarakan aura api di sekujur tubuh.


Di balik alam bawah sadarnya, seperti yang sudah sering ia alami sebelumnya, ia bertatapan mata dengan Ifrit. Di sana, mereka diterangi oleh bara-bara api yang didominasi oleh warna merah kejinggaan, tetapi ada pula api yang berwarna hijau dan biru.


Mata Roh Kuno Api itu menyala terang. Ia tidak menggeram, mengaum, ataupun menunjukkan emosi seperti pertama kali ia bertemu dengannya, namun sekarang ia justru menatap Zeeta dalam diam.


Lantas, Zeeta bertanya, "Ada apa ... dengan tatapanmu itu...?" dengan wajahnya yang masam.


"Aku akan menemui dan membantumu lagi ketika kau sudah benar-benar siap," jawab Ifrit, "kukira, karena kau adalah keturunan dari wanita itu, kaubisa segera menyelesaikan ini dengan cepat, tapi sepertinya aku harus lebih lama lagi menyimpannya.


"Setelah ini, jagalah dirimu baik-baik."


"Ifrit...? Apa maksudmu...?"


Saat masih memroses kata-kata terakhir dari makhluk yang pernah membangkitkannya dari kematian itu, ia berkedip lagi. Waktu membuka mata, ia sadar bahwa ia ada di tengah medan pertempuran.


Sekelilingnya terdapat kabut berwarna ungu gelap. "Ughuk ughukk!" secara refleks ia batuk karenanya.


"Zeeta?!" jerit Mellynda, "kausudah sadar?!" ia lalu menghampiri Zeeta.


Tellaura melirik ke arah Zeeta dan segera sadar ada yang berbeda darinya. Ia mengernyit.


"Apa saja yang kaulakukan dengan Ifrit?! Kau terus saja tak bergerak!"


"Yang lebih penting dari itu, apa-apaan ini, Melly? Apa yang terjadi saat tubuhku...."


Mellynda kemudian menjelaskan. Saat itu, meskipun di tengah-tengah pertarungannya, Zeeta Alter menyadari situasi Zeeta itu, kemudian menyeringai.


.


.

__ADS_1


.


.


"Gerda, Danny, bahkan Luna juga...?!" Zeeta langsung bergemetar. Matanya terbelalak.


"AKU...," sambung Zeeta, yang mencengkeram tangannya erat-erat. "SUDAH MUAK!"


"Eh?" Mellynda berkeringat. Ia bingung kenapa Zeeta tiba-tiba seperti ini.


Pertarungan Zeeta Alter dan Azure juga terhenti. Mereka terpancing oleh jeritannya.


"Semuanya berakhir menyedihkan karena sesuatu yang disebut SIHIR itu merenggut banyak hal yang berharga!


"Untukku...!


"Dan untuk semua orang...!


"Meskipun aku akan menjadi penjahat, meskipun aku akan dimusuhi banyak orang, bahkan meskipun aku harus mati, aku akan mengakhiri dunia ini!!"


Zeeta Alter semakin melebarkan seringainya, sementara Azure yang dipenuhi luka segera meluncur di udara untuk menghalangi Zeeta melakukan hal bodoh.


Disaat yang sama, anting bulan Zeeta bersinar biru, menyilaukan semua yang ada di tempat. Dunia mendadak bergetar. Tanah menunjukkan keretakan kecil yang lama kelamaan membesar dan membelah Bumi.


"Hentikan, Zeeta!" jerit mereka yang ada di sana, kecuali Zeeta Alter. Mereka bersama-sama menghalau tubuh Zeeta dengan segenap kekuatan mereka.


"Tak adakah sihir yang bisa menahannya?!" tanya Tellaura panik.


"Jika ada, itu hanyalah Rune!" balas Mellynda.


"Cih...! Kalau begitu, hanya kita yang bisa melakukannya! Azure, bersiaplah!"


"Tidak usah diingatkan!" balas Azure.


Ketiganya berusaha menekan mana dari Zeeta yang mengakibatkan Bumi bergetar. Getaran itu begitu kuat yang tidak hanya mampu meretakkan tanah saja, namun juga mengamukkan lautan. Sang penguasa lautan pun juga terkejut bahwa arus air tunduk pada seseorang dari daratan.


Tidak hanya lada lautan, demikian pula pada gunung. Beberapa diantaranya meletus, semakin mengacaukan Galdurheim.


Zeeta Alter yang terus saja menyeringai, menikmati semua itu seperti tontonan hiburan yang sangat menarik. Ia lalu duduk di salah satu monster ciptaannya dan melipat kaki. "Mau bagaimana pun juga, mau seperti apapun kau menolaknya, kau tetaplah aku, Zeeta.


"Kau kehilangan orang-orang tersayangmu, meskipun kau menjuluki dirimu sebagai Penyihir Harapan....

__ADS_1


"Cara kita kehilangan orang tersayang memanglah berbeda, tetapi kita kehilangan mereka disaat kita tidak berdaya dan bingung harus melakukan apa....


"Selamat, Zeeta...! Kau telah menjadi Penguasa Kekelaman sepertiku...!"


__ADS_2