Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Willmurd Louis de Dormant


__ADS_3

"Sakit.... Sakit sekali rasanya....


"Sakit...?


"Kenapa aku merasakan sakit ini...?


"Tidak ... sejak kapan aku berhenti merasakan sakit...?"


.


.


.


.


"Ah ... sakit.... Aku benci rasa sakit ini....


"Siapapun ... tolong aku...."


.


.


.


.


"Lebih cepat kulakukan sendiri!


"Sialan! Akan kuhancurkan siapapun yang membuatku sakit!"


......................


"UAAAAAAGGHHHH!!" jerit Lucy yang tiba-tiba melemparkan aura merah gelap dan menghancurkan apapun yang mengenainya. Tangan kirinya memegangi bahu kanannya yang belum berhenti mengeluarkan darah. "Aku tidak akan membiarkannya usai di sini!" mata kuningnya menyala-nyala.


Setelah itu Lucy melepas anting bulan di telinga kanannya. "Oh, bulan! Berikan aku lebih dari kekuatan terkutuk ini!" lalu ia memecahkan anting itu di genggamannya.


Seketika, dari pecahan anting bulan itu, keluar aura biru terang yang kemudian menjalar ke bahu kanannya, hendak meregenerasi tangan kanan berbahaya itu.


"TAKKAN KUBIARKAN!"


'FWOOSSHHH'


Awan gelap yang menutupi matahari seketika lenyap dan menghadirkan bola panas raksasa berwarna merah bercampur jingga dari baliknya.


"A-apa?!" Lucy terbelalak. "Sihir siapa ini?!" selagi ia panik, bola panas itu semakin mendekatinya dan panasnya tidaklah main-main. Ia melihat seorang pria naik dari darat sambil terengah, sang raja, Hazell. "Siapa kau?!"


Ashley tidak membuang kesempatan ini. Ia muncul di hadapan Lucy. "Sialan!" gerutu Lucy. Ashley kemudian memegang kakinya lalu segera melemparnya ke bola panas itu.


"Cih! Jangan remehkan aku!" Lucy mengubah arah menjalarnya aura biru di bahu kanannya ke tangan kiri, lalu membentuknya jadi bentuk bor kemudian melapisi tubuhnya dengan aura merah gelapnya. Dengan segenap tenaganya, ia memutar badannya untuk menembus bola panas itu.


"Sial, dia bisa mengatasinya! Aliciaaaa!" jerit Hazell.


Alicia yang ada di darat bersama Willmurd, bersiap di ujung lingkaran sihir yang amat besar. "Aku tahu!" Alicia menepuk tangannya sambil berkuda-kuda. "Tuan Will, pertaruhkan semuanya di sihir ini!" Alicia memastikan kesiapan diri Willmurd yang berdiri dengan pose sama sepertinya.


"Jika demi kerajaan ini, aku bersiap kapanpun, Ratu! Aku sudah lama melayani keluarga kerajaan, mati di momen seperti ini, aku tidak masalah!"


Alicia mengangguk. "Ayo lakukan!"


Willmurd balas mengangguk.


"HAAAAAAGGGHHH!!!" pekik keduanya, sambil memukul garis lingkaran sihir di saat bersamaan.


'BWOOOMMM!!!'


Lingkaran sihir itu bercahaya dimulai dari pukulan mereka. Sebelum cahaya itu menyinari keseluruhan lingkaran yang besarnya mencapai pulau layang itu sendiri, apa yang direncanakan keduanya akan gagal total.


"He-hei! Apa yang mereka lakukan?!" Hellenia dibuat sangat cemas. Ia melihat ke arah Rey, Albert, dan Porte. Mereka menggertak gigi sambil memejamkan mata. "Jangan bilang...?!" Hellenia bisa menebak dari respon ketiganya. "Kek Wiiiillll!!!"


Sambil menahan beban besar untuk menyeimbangi kekuatan dan kecepatan aktif lingkaran sihir, Willmurd berdarah di hidung hingga menetes sampai gigi. "Hahahahah.... Jangan berteriak seolah kau peduli padaku, dasar muridku yang tidak tahu adab!" gumamnya.


......................


[Enam belas tahun yang lalu....]


"Helle....


"Hellen....


"HELLENIA von Cloxzar!"


Willmurd membanting mejanya. Hellenia sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang sedang diberikannya.


"Apa... Kek Will?" tanya Hellen. Matanya tak bertemu Willmurd. Ia hanya memandangi rerumputan dan samsak yang tergantung dibawah kayu dari seberang jendela.


Urat kepala tentu saja muncul di dahi Willmurd. "Keluar dan segera praktikan sihir yang baru kujelaskan." Dengan segenap ketenangannya, ia berusaha untuk tidak emosi.


"Ogah."


"Hellenia...." Alicia yang duduk sebangku dengan Hellenia memberi kode supaya berhenti bersikap seperti itu.


Willmurd berjalan mendekati keduanya. Ia melempar sarung tangan kanannya ke wajah Hellenia. Ia menantang siswinya itu untuk berduel dengannya.


"Tuan Will, apa Anda serius?!" tanya para muridnya.


"Anak tak tahu adab ini tidak akan mengerti tanpa kekerasan," jawab Willmurd. Ia serius.


"Hooo? Memangnya apa yang bisa kaulakukan dengan rapier itu? Bahkan itu tidak bisa disebut sihir!" Hellenia meremas sarung tangannya. "Baiklah! Kuterima tantanganmu."


"Bagus. Kalau begitu, kalau aku menang, kau akan mendapat nilai buruk selama satu semester, baik itu praktik atau teori, terlepas apapun yang kau capai.


"Tapi, jika kau menang, aku akan bersedia melakukan apapun untukmu, Bocah Ingusan."


"Ghk?!" Hellenia terpancing. "Apa katamu?!"

__ADS_1


"Hohoho, kalau kau terpancing hanya karena sebutan, kau takkan bisa mengalahkanku!" tanpa disadari Hellenia, Willmurd sudah mengambil sarung tangannya.


"Kelas selesai. Bubar atau menonton, terserah pada kalian."


"Sialan, dia meremehkankuuu!"


Arthur yang ada di kelas itu hanya bisa menghela napas dan menggeleng kepala, kemudian meninggalkan kelas. "Ada-ada saja, kelakuan bangsawan ini...," batinnya.


Porte, Hazell, dan Alicia mengelilingi Hellenia, untuk memastikan keseriusannya.


"Ada apa denganmu hari ini, Hellen...?" tanya Alicia.


"Tidak, bukan apa-apa," jawab Hellenia. Ia mengalihkan pandangannya. "Tenang saja, pasti kumenangkan duel ini."


Ketiga temannya itu dapat tahu, jika Hellenia pasti akan kalah. Tidak ada nada keseriusan di suaranya.


"Baiklah kalau begitu," kata Alicia, "tapi kalau kau sudah siap untuk menceritakan apa yang terjadi, kami siap mendengarkan. Iya, 'kan?" Alicia melirik ke Porte dan Hazell. Keduanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ya," jawab Hellenia pendek.


Alicia, Porte, dan Hazell memutuskan untuk meninggalkan Hellenia sendiri.


Lima belas menit berlalu, di lapangan tanah luas yang dikelilingi oleh ratusan murid yang antusias ingin melihat duel antar bangsawan utama, Hellenia dan Willmurd telah saling berhadapan. Di tengah mereka, terdapat wasit yang akan menjadi penengah diduel itu.


"Tanpa menunda lagi, kita akan segera memulai duel antar warga Akademi Dormant!


"Sebelah kananku ada Kepala Akademi, Count Willmurd Louis de Dormant!"


"Tuan Willmurd! Anda pasti mengalahkannya dengan satu serangan!" pekik para pendukungnya.


"Dan sebelah kiriku ada siswi nomor tiga se-Akademi, sekaligus putri sulung dari bangsawan utama keluarga Cloxzar, Hellenia von Cloxzar!"


"Nona Hellen! Berjuanglah!!" jerit pendukungnya, yang lebih sedikit dari Willmurd.


"Tentu saja, jika membahas aturan duel, kalian pasti sudah tahu! Apapun boleh dilakukan dengan sihir para peserta, asalkan tidak memengaruhi mental atau membunuh satu sama lain.


"Duel ini didasari oleh tantangan dan syarat masing-masing peserta yang sudah diterima oleh kedua belah pihak. Jika Count Willmurd menang, Nona Hellenia akan menerima hukuman nilai buruk selama satu semester, sementara jika Nona Hellenia menang ... ternyata!


"Count Willmurd akan melakukan apapun untuknya! Bukankah ini sesuatu yang ingin kita lihat, apa yang ingin dilakukannya?!"


Willmurd menatap tajam si Wasit. "Ka-kalau begitu, tanpa menunda lagi ... mulai!"


Willmurd tak bergerak dari tempatnya berdiri, sedangkan Hellenia sudah serius dengan mengeluarkan seluruh mananya menjadi selimut aura di seluruh tubuhnya. Kemudian, Hellenia mengganggu pandangan Willmurd dengan lemparan bola mana yang meledak menjadi pancaran cahaya menyilaukan. Setelah itu, ia mencengkeram tangannya—yang mengaktifkan sihir tanah untuk mengikat kaki dan tangan Willmurd.


"Kena!" batin Hellenia. Ia kemudian menggerakkan tangan kirinya seperti membuat garis cembung di depan perut. Garis cembung itu membentuk air berwarna hijau, yang siap ditembakkan berkali-kali dengan sayatan yang tajam.


"Oh, Hellenia!" seru Willmurd.


Hellenia tersentak. "Dia tidak terpengaruh...?" batinnya.


"Sebelum kau menyerang, kuingin bertanya."


"A-apa?"


"Hah? Apa kau meremehkanku? Tentu saja aku tahu! Perisai, trisula, dan pedang!"


"Lalu ... apa kautahu apa makna dari emblem itu?"


"So-soal itu...."


"Biar kutebak. Alasanmu terganggu selama ini, adalah kau tidak ingin menjadi penerus Cloxzar."


"E-eh...? Benarkah begitu?" bisik demi bisik terdengar dari seluruh siswa.


Hellenia mencengkeram tangannya. "LALU APA SALAHNYA? Ketika aku selalu melihat apa yang ibu selalu lakukan untuk Ratu Scarlet, perlahan aku mulai takut dengan bahaya demi bahaya yang harus dilalui.... Apa aku salah merasa takut?


"Apa aku salah jika ingin menjadi perempuan bangsawan yang bisa sering menghadiri pesta teh dan mengobrol asyik bersama?!"


Para siswa langsung membisu.


"Sementara kalian bisa tidur tenang di rumah, ibuku jarang ada di rumah untuk kerajaan ini! Aku tidak ingin menjadi orang yang seperti itu!"


"Hellenia...." Alicia mencemaskan temannya itu.


Willmurd berbicara dengan nada yang tenang. Disaat yang sama, sihir cahayanya hilang, dan memerlihatkan dirinya yang tidak berubah posisi, dan memasukkan kedua tangannya di kantung celana. Hal itu tentu membuat Hellenia terkejut, karena ia yakin berhasil mengikat Willmurd. "Perisai di emblem-mu berarti pelindung untuk kerajaan," jelas Willmurd.


"Sementara trisulanya adalah lambang kekuatan besar. Kemudian pedangnya, berarti untuk berdiri membela rakyat, diri, dan tentu saja keluarga kerajaan.


"Sehingga jika dimaknakan dalam satu kesatuan, Cloxzar adalah bangsawan yang melindungi dan membela kerajaan ini dengan kemampuannya yang besar.


"Kau merasa takut adalah hal utama yang penting untuk mewarisi gelar Marchioness di masa depan."


"A-apa maksudmu?"


"Ketakutan adalah langkah awal untuk menjadi berani. Siapapun akan menjadi berani setelah menaklukan ketakutan itu.


"Tetapi, untuk menaklukannya kau butuh kekuatan bukan dari mana, tetapi dari...." Willmurd menunjuk hatinya dengan jempol.


"Jadi, janganlah menjadi anak yang manja dan mudah menyerah seperti itu! MENJADI BERANI TIDAK SEMUDAH YANG KAUBAYANGKAN!


"Sekarang, bulatkanlah tekadmu! Jika kau memang ingin membuktikan padaku kalau kau tidak ingin mewarisi nama Cloxzar, menyerahlah dan tinggalkan Tuan Putri tanpa kehadiranmu!


"Tetapi kalau kau memutuskan untuk menjadi berani dan berdiri dengan bangga, menjadi penopang kerajaan, serta menjadi harapan bagi banyak rakyat, serang aku dan jadilah wanita yang berani, yang mampu melindas banyak rintangan berat!!"


"Gggghhhh....!" Hellenia menggertak gigi.


"Hellenia! Kau adalah bibit masa depan yang akan membawa langit cerah untuk kerajaan ini! Ini juga berlaku untuk kalian semua!


"Kalian adalah pelajar dari Akademi Dormant! Menjadi penakut bukanlah alasan untuk mundur!


"Demi keluarga kau harus berani!


"Demi teman kau harus berani!"


"Demi kerajaan kau harus berani!"

__ADS_1


"Dan yang lebih penting, musuh terbesarmu itu harus kau taklukan, yaitu demi dirimu sendiri!"


"Hrraaaahhh!!" Hellenia memutuskan untuk menjadi berani.


.


.


.


.


"Aku sudah tahu sejak awal....


"Kek Will akan mengatakan sesuatu seperti ini. Dia akan memberiku sayap untuk terbang bebas dan meninggalkan keinginan sementaraku. Dia akan memberikanku keberanian dan memantik api semangatku untuk terlepas dari ketakutanku yang tak seberapa dibandingkan apa yang dialami semua keluarga kerajaan, terutama Kek Will sendiri.


"Dia juga mengawasi penjara kerajaan dengan pengawasan ketat. Aku sering mendengar isu menakutkan dan mengerikan dari penjara itu. Jika aku mengunjunginya, mungkin aku akan segera pingsan....


"Kek Will... aku selalu ... selalu....


"Selalu...."


......................


"Bghk!" Willmurd memuntahkan darah. Ia tidak cukup kuat untuk mengisi kekuatan di lingkaran sihir ini. "Bertahanlah Willmurd! Kau adalah pemimpin Wilayah Utara, sekaligus kepala Dormant! Jika kau tumbang disini, dunia ini tidak memiliki masa depan!"


Willmurd melihat tangannya bercahaya hijau. Ia menoleh ke arah Alicia yang menyembuhkannya. Namun, ia juga melihat kalau hidung Alicia juga berdarah, tetapi tatapannya menandakan ia sudah bertekad bulat. Ia mantap dan siap dengan apa yang harus dibayarkannya.


Sebuah senyum lega terlukis di bibir Willmurd. "Mana mungkin kubiarkan Putri Zeeta harus kehilangan orang tuanya lagi. Maaf, Ratu, akhir cerita ini, adalah untukku sendiri!"


Willmurd mendorong Alicia hingga terpental dengan sihir tanah yang muncul di bawah perutnya.


"Tak kusangka dalam hidupku akan bertemu dengan tiga keturunan—tidak, bahkan empat keturunan Aurora dengan kekuatan mereka yang gila. Sayangnya, satu dari mereka jahat seperti ini...."


Dimulai dari kaki, Willmurd berubah menjadi abu.


Hellenia yang melihatnya dari langit menangis dengan deras hingga air hidungnya tidak ia pedulikan lagi. Meski ia ingin berbuat sesuatu, ia tahu kalau ia mengubah posisinya, akan menghancurkan sihir skala besar yang hendak dilakukan ratu dan gurunya tersebut. Ia tidak berdaya dengan situasi ini... lagi.


.


.


.


.


Willmurd mendadak mengingat momen beberapa saat yang lalu, ketika ia datang membantu Ratunya yang erpelanting ke tanah.


"Tuan Will, aku punya permintaan," kata Alicia, yang hanya mengalami lecet dan sobekan di pakaiannya.


"Apa itu, Yang Mulia?"


"Aku sudah menduga ini akan terjadi ketika Azure menceritakan kedatangannya padaku. Jadi, aku punya rencana yang sangat berbahaya tetapi juga risiko yang tidak kecil."


Willmurd mencoba mencerna baik-baik apa maksud Alicia. Ia memejamkan mata, lalu tersenyum. "Aku siap mendengarkan, Yang Mulia."


"Kita tidak punya banyak waktu jadi akan kujelaskan singkat. Lawan kali ini adalah leluhurku sendiri dari ratusan tahun yang lalu. Aku harus mengeluarkan seluruh, benar-benar seluruh tenagaku dan sedikit bantuan darimu, Tuan Will.


"Mustahil kita mengalahkan leluhur ini di kondisi seperti ini. Harapan kita satu-satunya adalah Zeeta dan Azure yang memiliki potensi setelah kulihat duelnya.


"Aku akan membuat lingkaran sihir kutukan yang akan melemahkan seluruh sihirnya. Tetapi sayangnya, tangan kanan merah kehitaman itu akan melenyapkan semua sihir dan mengubahnya menjadi kekuatannya sendiri, karena itulah sihir pedangmu adalah yang paling cocok untuk mengenainya.


"Suamiku akan mengalihkan fokusnya dengan sihir mataharinya. Lingkaran sihir kutukan tidak akan aktif jika tidak terisi kekuatan penuh. Bayangkanlah pedang yang akan melemahkan sihirnya, sementara aku akan membuat sihir pelindung yang akan menteleportasi seluruh sihirnya sekaligus leluhurku itu ke tempat jauh dari kerajaan ini, antisipasi kalau dia berhasil menahan sihir matahari suamiku."


Willmurd melihat tangannya. Ia bergemetar.... "Hahahahah...." Ia menyadari kalau ini menakutkan untuknya. Ia pun menggenggam erat gagang rapier-nya. Dua orang dengan sihir besar ini akan menunjukkan kekuatan besar di hadapannya.


"Baiklah! Jika itu demi keberlangsungan kerajaan, akan kubantu segenap tenagaku!"


Alicia berkaca-kaca, lalu segera memeluk Willmurd. "Terima kasih.... Aku sungguh berterima kasih padamu, Guru Will...."


Willmurd juga dibuat hampir menitikkan air matanya. Ia membalas pelukan Ratunya, kemudian berkata, "Kau sudah dewasa, ya, Tuan Putri!" ia menunjukkan senyumnya yang tegar.


Alicia menggigit bibirnya.


......................


'BMMMMMMM....'


"Aku selalu... selalu... menghormatimu dan menjadikanmu panutanku...." batin Hellenia yang melihat Willmurd sesaat lagi lenyap.


"Ah... kuharap ... langit cerah dan hembusan lembut angin akan menyambut masa depan kerajaan ini...." Willmurd meneteskan air matanya.


"TUAN WIILMUUUUURRRDD!!" jerit Hellenia, yang tubuhnya ditahan sekuat tenaga oleh Porte.


Lingkaran sihir itu aktif, bersamaan dengan lenyapnya Willmurd menjadi abu....


.


.


.


.


Lingkaran sihir itu membentuk dua sihir, satu pelindung berbentuk gelembung, dan satunya lagi ratusan—bahkan mencapai ribuan pedang rapier merah transparan yang menembus Porte, Hellenia, Hazell, Ashley dan Albert, namun menusuk Lucy tanpa menyebabkan darah.


"A-apa ini?!" Lucy panik.


Ketika sihir pelindung itu menyentuh keseluruhan sihir bola panas Hazell, sekaligus Lucy di dalamnya, mereka terteleportasi ke tempat yang jauh dari kerajaan. Lalu....


'DDDUUUUUUAAAARRRR!!'


Ledakan dari bola panas itu dapat terlihat membentuk setengah bola, menimbulkan badai kencang, lalu membentuk asap pohon bercincin.


Sementara itu, Ashley yang diam, ternyata menangis dari mata kirinya. Ia menggenggam tangannya erat-erat—berusaha untuk menahan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2