Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Naga Pengecut, Nidhogg


__ADS_3

Ruang bawah tanah Bengkel Axel adalah tempat yang dituju Arata dan Saitou. Saitou tercengang oleh keindahan alam dan berbagai jenis makhluk sihir yang jarang dilihatnya, ditambah dengan kehadiran seekor Minotaurus dan ki dua Naga yang amat terasa menekan.


"Di mana sebenarnya ini, Arata?" tanya Saitou, yang memutar-mutar badan demi bisa melihat seluruh sudut alamnya. "Bagaimana kaubisa mengetahui tempat seperti ini?"


"Seperti yang kubilang, Pak Saitou, rahasiakan ini dari yang lain. Apalagi, Naga yang ada di sini...."


Tidak lama kemudian, Elbrecht dan Myra datang dengan terbang. Jarang bagi Myra untuk menunjukkan sayapnya dalam wujud Manusia. "Jadi begini sosok Manusia yang menjijikkan itu?" tanya Myra. "Sekali lihat saja aku sudah tahu seberapa bencinya Naga-Naga itu terhadap Carlou ... juga salah satu keturunan spesifik."


Atas kedatangan mereka, Saitou segera bertekuk lutut. "Sebuah kehormatan bagiku bisa bertatapan mata dengan kalian, Wahai Naga Kuno!"


Elbrecht dan Myra melirik Saitou. "Kau...," gumam Myra kemudian mengernyit. "Apa-apaan kau ini? Mengapa mana Nidhogg terasa dari tubuhmu?"


Arata agak terkejut dengan pertanyaan Myra. Dia sama sekali tidak tahu tentang yang baru saja diucapkannya, ia juga tertegun dengan Myra yang aegera tahu identitas gurunya.


"Urus Naga Pengecut itu belakangan, Myra. Yang lebih penting, Arata, semuanya sudah kusiapkan. Kuingatkan, kendati tempat ini luas, makanan yang dimiliki terbatas. Kami terkadang harus naik ke daratan.


"Aku melakukan ini hanya karena keegoisanku dan tidak ada sangkut pautnya dengan penguasa kerajaan."


"Terima kasih sudah bersedia membantuku pula, Elbrecht. Jika tanpamu, aku yakin tanganku yang putus kala itu...."


"Hentikanlah. Naga-Naga yang ada di dalam dirimu yang membantu semuanya. Aku hanya memantik agar kaubisa terhubung dengan mereka.


"Ngomong-ngomong, Naga Pengecut...."


Saitou mendongak. "Iya?"


"Biar aku saja, Kak," celetuk Myra.


'KA-POOWW!!'


Myra menendang lehera Saitou dengan amat sangat keras. Tiada yang pernah melihat kekuatan Myra seperti apa sebelumnya. Tendangan itu menghasilkan dentuman yang lantang dan mampu menjatuhkan beberapa buah yang sudah matang seperti kelapa yang ada di sekitaran sungai.


Saitou terhempas ke kanan—arah tendangannya—hingga tersangkut di dalam tebing.


"A-apa yang...?!" Arata dibuat terkejut.


"SEJAK DAHULU KAU SELALU SEPERTI ITU! TUNJUKKAN WUJUDMU SEKARANG JUGA!" jeritan Myra segera membuat penduduk sekitar heboh.


"Yah~" suara Saitou terdengar dari balik asap bekas dirinya tersangkut. "Myra juga tidak pernah berubah, ya. Selalu membenci kesenangan yang kulakukan."


"Kesenangan katamu...?!


"Kauingin merusak tanah ini dengan mana-mu. Mana kegelapan yang menjijikkan itu telah menelan banyak nyawa, tidak terbatas pada Manusia saja! Aku takkan membiarkanmu mengotori tanah kebanggaanku dan keturunan Aurora!"


"Myra. Cukup sampai di situ saja." Elbrecht memegang bahu Myra untuk menenangkannya. "Nidhogg. Katakan pada kami sekarang juga. Apakah kau lawan atau kawan?"

__ADS_1


"Bukan keduanya." Saitou—atau yang disebut Nidhogg—keluar dari dalam tebing. "Namun, untuk saat ini aku punya satu tujuan yang satu arah dengan kalian. Aku ingin mengalahkan Jormundgand yang sombong itu!"


"Kenapa kau menipu Arata?"


"Menipu?" Saitou berjalan menghampiri mereka. "Tidak pernah seperti itu. Kalian saja yang salah karena masih mengingat dendam lama kalian."


"A-apa maksud semua ini?" Arata akhirnya bicara. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Tuh, lihat, kalian jadi membuatnya panik. Aku bersumpah aku bukanlah musuh bagi kalian, Arata."


"Haaah~


"Lalu bersumpahlah padaku, Nidhogg, bahwa jiwa-jiwa Naga Orsted dan Naga Schrutz sudah tenang di Lembah Kematian."


"Ya. Kalian tahu sendiri kalau akulah yang menjadi lawan kalian dahulu, memakan sisa tubuh mereka, dan membawanya ke Tanah Kematian. Flakka sudah menjalani tugasnya dengan sempurna."


Myra mencengkeram tangannya erat-erat dan menggertak giginya. Sementara itu Arata kaget mendengar penjelasannya barusan. "Memakan sisa tubuhnya...?"


"Kalau begitu baiklah. Aku mengerti kami dan dirimu pribadi tidak searah, namun sisanya kalian berdua selesaikan sendiri. Aku tidak segan untuk membunuhmu karena sengaja memancing Myra untuk bertindak dengan emosinya, namun aku adalah kakaknya."


"Baiklah baiklah, dasar Kakak Penyayang. Arata, aku akan menjelaskan semuanya, aku berjanji, tetapi kita memiliki prioritas."


"O-oh... baiklah...."


Begitu mereka disibukkan dengan urusan mereka di sana, Myra dan Elbrecht berbincang.


"Tidak. Aku dan kau sama-sama sempat di sana, bukan? Kemungkinan dia menyembunyikan dirinya dibalik tumpukan mayat kala itu. Dia juga memakan... tidak... kurasa Nidhogg tidak lagi melakukan itu."


"Ha-Hahh?! Kau bercanda, Kak? Dia—"


"Aku mengerti, Myra. Namun aku merasa dia ingin menyelesaikan semuanya pada Ragnarok nanti. Tendanganmu berlapiskan mana milik ayah dan ibu. Kita yang paling tahu seberapa kuat mana mereka dan dia tidak terluka sama sekali.


"Aku pikir ... dia memakai sesuatu yang disebut ki oleh Ashley...."


......................


[Kekaisaran Seiryuu....]


Menjelang malam tiba, kendati banyak rakyat yang sempat pmeragukan putra mahkotanya, mereka sadar bahwa yang dikatakannya adalah benar. Satu-satunya harapan untuk mengatasi kelaparan saat ini adalah dirinya seorang. Dengan demikian, mereka berjibaku menyiapkan tenda atau apapun yang dimiliki dari puing-puing kediaman mereka. Ada beberapa barang yang kondisinya masih sangat bagus dan ada pula yang tidak.


Halaman istana disulap oleh rakyat menjadi tempat tinggal sementara. Penerangan pun minim karena situasi. Salah satu dari sekian banyak rakyat, tentu ada Riruko. Walau ia membantu, semangatnya tidak terasa sama sekali. Wajahnya seakan telah melihat keputusasaan. Orang-orang yang melihat mengapa ia bisa begitu, tidak ingin ikut campur. Semua adalah masalah pribadinya dan tiada satu pun yang ingin menghiburnya.


"Apa yang telah kulakukan selama ini...?" batin Riruko, bercermin diri. Ia pergi menjauh dari kerumunan rakyat untuk menyendiri. "Selama ini ... apa yang kulakukan?


"Apa yang kurasakan terhadap Acchan sebenarnya...?

__ADS_1


"Apakah cinta? Tidak. Tidak mungkin cinta... aku sudah sangat menyakitinya. Lantas, apa tujuanku hidup selama ini?


"Aku sudah jahat padanya, mengatakan hal-hal kejam di belakangnya, dan menganggap dia yang jahat terhadapku....


"Memangnya ... memangnya apa yang telah dia lakukan padaku sampai aku seperti ini...?"


.


.


.


.


Riruko sampai di sebuah genangan kotor. Ia memandangi refleksi dirinya di air. "UGH!" ia segera menginjak pantulan wajahnya, tak peduli itu akan mengotori pakaiannya.


Tiba-tiba Riruko merasakan dirinya sedang dipantau oleh seseorang. Tapi ia tetap tidak memedulikannya. Ia menjatuhkan dirinya kepada genangan.


"Kau benar-benar wanita yang menjengkelkan ya, Riruko." Suara wanita terdengar. Riruko mengacuhkannya.


"Kau tentu ingat, sejak kematian ibu kami, aku selalu mengancam untuk membunuhmu gara-gara segala ucapanmu pada kakakku di belakangnya.


"Sebagai sesama wanita, aku tahu. Kau mencoba menarik perhatiannya dan membuatnya marah padamu. Marah padamu berarti dia ingin kau berubah dan tidak mengulangi kesalahan.


"Namun, yang kaudapat justru acuhan dan dirinya yang semakin jauh dari jangkauanmu. Kau perlahan bahkan jadi membencinya."


"Tidak! Aku sama sekali tidak membencinya!"


"OMONG KOSONG!" bentakan suara itu membuat Riruko ciut. "Kau kira hanya dia yang mengawasimu dari kejauhan? Hasutan-hasutan untuk mendobrak istana adalah idemu, Riruko.


"Kautahu dunia sedang dalam bahaya, namun kau tidak memedulikan semua itu. Kau adalah manusia terbodoh, idiot, dan tak berperasaan di negeri ini. Andai Jötunnheim terbuka, kuharap—"


"Cukup, Hitomi. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tetapi di sana lebih penting, bukan?"


"Tsk. Kau selalu datang disaat yang tidak tepat, Kak. Usir saja gadis itu dari kehidupanmu!"


"Aku akan mempertimbangkannya."


"Haah.... Ya sudahlah, terserah kau saja!"


.


.


.

__ADS_1


.


"Akhirnya kita berdua saja, ya, Riruko." Arata berjongkok, memegangi kedua bahu Riruko. Namun, gadis itu tidak berani menatap matanya. Dia juga tahu sekarang wajahnya sedang tidak karuan. Ia pun menggigit bibirnya sendiri.


__ADS_2