Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ifrit Sang Api


__ADS_3

[POV Zeeta.]


Di sinikah perjalananku akan berakhir...?


Di sinikah perjuanganku akan usai...?


Di sinikah tempatku beristirahat untuk selamanya...?


.


.


.


.


"Aku percaya padamu!"


Kalimat itu terus saja membisingi kepalaku. Ayah Arthur, kak Azure, Ozy, dan banyak orang lainnya mengatakannya padaku....


Aku heran ... kenapa...?


Dingin... seluruh tubuhku terasa amat sangat dingin.... Lagi pula, dimana sekarang aku berada...?


......................


Zeeta mengedipkan matanya beberapa kali. Ia melihat langit malam terbentang bersama warna biru dan merah yang berasal dari tanah. Ia melihat ke sekitar dan mendapati bahwa dua warna itu begitu bersinar hingga menyiluetkan apapun yang ada di dekatnya, seperti pepohonan dan beberapa hewan yang memandangi Zeeta yang sedang telentang. Tubuhnya terasa basah tetapi dia tidak benar-benar basah. Ia telentang di permukaan air yang memantulkan segala yang ada di sekitarnya, termasuk sebuah pohon raksasa.


"Tempat apa ini...?" gumamnya, yang kemudian duduk. Ia melihat tangannya dan mencoba memasukkannya ke dalam air. Ia pun kaget setelahnya. "Jadi... kenapa aku tidak basah...?


"Di mana sebenarnya aku? Apa pohon raksasa itu... dan...." Zeeta mulai didatangi oleh makhluk-makhluk bersayap yang bersinar putih. "Siapa kalian...?"


"Fufufu... fufufu...."


Hanyalah sebuah tawa yang didengarnya dari makhluk-makhluk misterius itu. Mereka kemudian menghampirinya.


"A-apa yang kalian lakukan...?" tanya Zeeta. Ia merangkak mundur.


Ada empat makhluk yang menghampirinya. Begitu mereka menyentuh Zeeta, air yang menumpunya menggantikan tanah, bersinar menyilaukannya dan memaksanya menutup mata.


Ketika ia membuka matanya, ia tidak lagi berada di tempat yang memenuhi hati dan kepalanya dengan tanda tanya. Ia berada di dimensi gelap dan kosong, yang perlahan-lahan muncul sebuah percikan api di hadapannya dan lama kelamaan membesar, mewujudkan seekor makhluk berkaki empat dengan kepala serigala, tanduk dan kulit banteng dengan bulu merah dan api yang menyelimuti keempat kakinya. Ia menggeram, menunjukkan wajah ganasnya.


Zeeta yang awalnya panik, perlahan-lahan tenang. Ia mengatur napasnya. "Kau... adalah Roh yang dipercayakan ayah padaku, Ifrit...? Apa yang kauinginkan...?"


"Kau sudah mati," jawabnya singkat.


"Eh...?"


"Tapi aku bisa membuatmu hidup kembali."


"A-apa kau bercanda...? Aku mati...? Kenapa...?"


Ifrit menunjuk dengan cakarnya pada dada Zeeta yang berlubang.


"Ah!


"Begitu... kah....


"Aku mengerti...."


"Roh Yggdrasil yang menjadikanmu sebagai Wadah juga sebentar lagi akan mati."


"E-eh?! Me-mengapa?!"


Mata Ifrit bersinar, memberikan Zeeta penglihatan bagaimana nasib Luna.

__ADS_1


"Ini semua... gara-gara aku.... Lagi-lagi aku tak bisa melindungi siapapun dan...."


Ifrit lagi-lagi menggeram. Ia lalu mengaum dan menyemburkan napas apinya.


"Ughk!" Zeeta bertahan dengan sihir penghalang di depan kedua tangannya. Namun, ia kalah kuat dan api itu melahap seluruh tubuhnya.


......................


"Mengecewakan sekali," ujar Pria Berpakaian Serba Hitam. "Tak kusangka dia yang menjadi ancaman dunia ternyata selemah ini," sambungnya.


"Hmm, apa iya?" tanya Lucy, meragukannya.


Si Pria melirik Lucy. "Apa maksudmu?"


"Yang kaubicarakan adalah keturunan bulan, lho. Ucapanmu hanya akan menjadi bumerang untukmu."


"Hmph!


"Apapun yang kaukatakan, aku tidak mungkin dikalahkan. Bahkan aku pun bisa mengalahkanmu saat ini juga, namun itu bukanlah kesepakatan kita."


"Hahaha, aku suka kepercayaan diri—tidak, apa harus kusebut sebagai ...


"Kesombongan, ya?"


Lucy menyeringai jahat.


"Apa yang ingin kaukatakan?!"


"Kesombongan yang melebihi batas tak akan membawamu ke langit yang lebih tinggi. Jika kau tak bisa menyadari hal sederhana itu, apa gunamu hidup sepanjang waktu ini?"


"Lucu sekali. Seakan-akan kau tidak sombong dengan kekuatan itu."


"Aku? Sombong?


"Hahahaha! Apakah kau buta?"


"Jangan samakan aku dengan kebusukanmu yang kau tutup-tutupi dengan sebutan keadilan itu, L'arc!


"Membinasakan tiap Manusia yang memiliki takdir lebih besar darimu, kaupikir kau siapa?


"Kuakui, kau hebat karena memiliki lebih dari tiga Roh Yggdrasil yang menjadikanmu sebagai Wadah.


"Aku tidak mengerti mengapa mereka membiarkan aksi yang kausebut sebagai keadilan, tapi aku tahu mereka tidak mengizinkanmu melihat lebih jauh seperti apa Yggdrasil dan tidak membiarkanmu menjadi penentu nasib dunia, dan sekarang....


"Kau bersepakat denganku untuk mempertemukannya.


"Kau yang tidak mengerti mengapa aku melakukannya, maka kau tidak berhak untuk berlagak kau berada yang paling di atas bersama dengan kesombongan itu.


"Selama ini tak ada yang bisa menghentikanmu, tapi di sinilah, riwayat kelam itu akan berakhir."


Si Pria memutar tubuhnya lalu berjalan menghampiri Lucy. "Aku mengerti. Aku saaangat mengerti jika kauingin aku menutup mulutmu yang lancang itu secara paksa, huh, Bocah Tengik?!"


"Aku bisa meladenimu tapi bukan akulah yang akan mengalahkanmu. Yang lebih penting, kau kedatangan tamu, lho."


"Hmm?" L'Arc membalik tubuhnya dan melihat Azure dan Ashley datang dari sihir portal.


"Zeeta!" pekik Azure.


"Lu-Luna...?!" Ashley tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Hmph! Hanya dua orang serangga, untuk apa kuladeni!" seru L'arc.


"Lucy! Kenapa kau tidak melakukan sesuatu?!" tanya Azure menjerit.


"Eh...?" Ashley merasakan keanehan dari pertanyaan itu.

__ADS_1


"Jangan terlalu panik begitu, wahai Muridku. Berapa kali kubilang kepanikan hanya membuat sensitivitasmu pada mana akan berkurang?" jawab Lucy. Ia tersenyum dan tetap santai.


Namun kemudian....


"A-Auh! Panas.... apa yang...?" Azure melihat ke arah Zeeta. Ia mendapati anting bulannya bersinar merah.


"Nak Azure, mundurlah!" Ashley menarik Azure mundur, tepat ketika terjadi ledakan pilar besar berwarna merah api di sekitar tubuh Zeeta.


Pria bernama L'arc itu ikut terbelalak. "A-apa yang terjadi padanya...?!"


Ketika pilar itu mengecil, semua mata dapat melihat sosok Zeeta melayang di langit dengan tangan ditarik ke belakang pinggul dan kaki yang dirapatkan. Aura merah panas menyelimutinya, membuat kulitnya sedikit demi sedikit terbakar.


"Zeeta, apa yang kaulakukan?!" jerit Azure, "cepat hilangkan aura itu atau kau—"


Zeeta menoleh ke arah Azure, memperlihatkan mata seluruh matanya ikut bersinar merah.


"Si... siapa kau...?" tanya Azure.


"Cih... tidak kusangka Roh itu BENAR-BENAR akan turun tangan...," gumam Ashley.


"Oooh?" Lucy terlihat bersemangat. "Kautahu tentang Ifrit, Alexandrita?"


"Apa?! Ifrit, katamu?!" L'arc kaget. "Itu tidak mungkin! Ifrit adalah Roh kuno yang menjaga keseimbangan alam bersama Roh Kuno lainnya, Undine dan Zephyr!


"Mengapa Roh seperti itu ada bersamanya?!"


Lucy hanya menyeringai mendengar L'arc tak memercayainya.


Zeeta kemudian mulai beraksi. Ia mengepalkan tangan kirinya, yang kemudian berselimuti api. Ia melihat ke arah L'arc. Menyadari dia menjadi target, L'arc segera membentuk lengannya seperti tanda 'X'.


'FWIP!'


Zeeta muncul di belakang L'arc, menghantam punggungnya yang terbuka lebar itu dengan kepalan kiri berselimut apinya. "UAAAAGGGHHH!" erangnya. Mantel, rompi, hingga kemejanya hangus terbakar dan menandaskan bekas kepalan sekaligus luka bakar di punggung itu, sebelum akhirnya terpental melewati Azure dan Ashley.


"Apa-apaan kekuatannya itu...?" gumam Azure.


"Dia bukanlah lagi Zeeta," kata Lucy, menghampiri keduanya. "Sosok itu hanya terfokus pada siapa yang telah melukainya—dalam hal ini Zeeta—dan tak akan memberinya ampunan.


"Mengapa, kautanya?


"Itu karena Zeeta sudah mati."


.


.


.


.


Azure menggertakkan giginya. "JANGAN BERCANDA! Zeeta tidak akan mudah dikalahkan begitu saja! Kau sendiri yang bilang, Rune adalah kekuatan terbesarnya, yang tidak dimiliki Manusia manapun lagi di dunia ini!"


"Kau benar, tapi tidak ada gunanya ketika kekuatan besar itu tidak setara dengan kecepatan lawannya, bukan.


"Aku tahu Zeeta memiliki kesempatan menang, tapi kesempatan itu putus begitu dia kaget dengan kecepatannya.


"Jika kau masih tidak percaya padaku, lihatlah Roh Yggdrasil itu. Dia bahkan kalah oleh L'arc, dan tubuhnya perlahan-lahan menghilang.


"Itulah tanda Zeeta sudah mati. Tidak ada lagi garis hubungan yang terjalin diantara mereka." Lucy sampai di hadapan Ashley dan Azure. Keduanya melihat Luna yang tubuhnya menjadi serpihan mana dan menguap.


"Kaupikir panas yang menyelimuti tubuhnya tidak terasa sakit?" Lucy menunjuk Zeeta. "Ifrit sudah mengambil kuasa tubuhnya!"


Azure lagi-lagi menggertakkan giginya. "Meskipun itu benar!" dengan tergesa-gesa, Azure menghampiri Zeeta.


......................

__ADS_1


Sementara itu, Reina di Hutan Sihir Agung, terus melihat bagaimana kelangsungan pertarungan di Nebula dengan menaruh tangannya di sebuah pohon.


"Jangan! Kalau dia mendekatinya... masa depan yang menakutkan itu ... bisa saja terwujud...," ujarnya sendiri, "siapapun... hentikanlah dia!"


__ADS_2