Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Tipu Muslihat


__ADS_3

“Suka atau tidak, kalian akan selalu hidup bersama dengan sihir. Mendekatlah pada kehancuran, sebrangilah kebahagiaan.”


Demikianlah kata-kata akhir dari Tellaura, seorang Penyihir yang mengembalikan keberadaan sihir untuk Manusia, sebagai bentuk dari kutukannya terhadap mereka.


Tubuhnya menghilang menjadi bagian dari butiran mana, yang kemudian tersebar ke penjuru dunia dengan bantuan angin. Entah angin itu meniupnya dengan kehadiran Seele yang membantu, atau kehendak alam itu sendiri, tiada yang tahu. Yang pasti saat ini, di kerajaan Aurora....


......................


“Kakak....” Clarissa hanya bisa tertunduk lemas dan menangisi kepergian satu-satunya keluarga yang tersisa baginya. “Sekarang aku harus bagaimana tanpamu, kak...?”


Leon tidak menjawab Clarissa, namun dirinya mengelus-elus punggung sang gadis. Beberapa saat kemudian....


‘BRAK!’


Hilma mendobrak masuk ke dalam ruangan. “Pangeran!” jeritnya, “aku sudah kumpulkan obatnya!” keduanya melihat Hilma datang dengan dada yang kembang kempis, pelipis, kening serta leher yang penuh dengan peluh. “Laura....” Wajahnya segera murung. “Benar-benar memutuskan pergi, ya...?”


Clarissa menyeka tangisnya, kemudian bertanya, “Apa gerangan obat itu, Hilma?”


“Ini... sulit untuk menjelaskannya padamu, tapi....” Hilma kemudian menceritakan situasi yang mereka hadapi saat ini.


“Aborsi...? Tak apa. Aku tak keberatan.”


Jawaban cepat dari Clarissa tidak diduga baik dari sang pangeran ataupun si pelayan. “Apa kauyakin tentang ini? Ada kemungkinan jika nanti kau tidak bisa memiliki keturunan. Obat ini sangatlah memiliki efek yang kuat, sampai-sampai terlalu berbahaya.”


Clarissa jadi berpikir dua kali ketika mendengarnya.


Saat itulah....


“Kalian tidak perlu repot-repot melakukannya.” Sebuah suara wanita terdengar. Mereka bertiga saling tengok kesana dan kemari untuk mencari dari mana sumbernya berasal. “Salam kenal, Manusia Rendahan sekalian.” Ketiganya lalu mendapati Feline dari luar, masuk begitu saja ke dalam ruangan.


“Ka-kau... Peri...?!” Hilma segera menanggapi Feline dengan emosi.


“Aku tahu dan mengerti emosimu itu, tetapi kuncilah dulu itu rapat-rapat. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku demi menuntaskan janjiku pada Laura, hanya untuk mendengarkan celotehan kosongmu itu.”


“A-apa...?!” urat kepala segera timbul di masing-masing pelipis Hilma.


“Jadi, Pangeran Leon Aurora IX, persingkatlah waktunya, segera bawalah aku bertemu dengan Amanda. Gadis itu akan menjadi pusat dunia setelah kakaknya mati.” Feline menatap Clarissa.


“E-eh? Apa maksudmu...?” tanya Leon.


“Apakah kautuli? Kubilang, persingkatlah waktunya.”


Leon segera memahaminya. “Baiklah. Ikut aku.” Sambil menggandeng erat tangan Clarissa, Leon membimbing sang ratu peri ke ruang takhta. Hilma juga ikut.


......................


“Ratu Peri Feline?” Amanda memegangi dagunya. “Jadi kaulah dalang dari semua ini, bahkan sosok yang mengajari Laura cara bersihir?”


“Itu benar,” jawab Feline singkat.

__ADS_1


“Jadi, apa maksudmu tentang Risa yang akan jadi pusat dunia?”


“Itu adalah permintaan kakaknya.”


“Kakakku?!” Clarissa segera mendekati Feline. “Apa yang dia katakan?”


“Bahas itu nanti saja, ketika kalian semua sudah memahami dasar-dasar dari bersihir. Yang penting saat ini, kalian butuh seseorang yang bisa memersatukan rakat, serta dunia, bagaimana caranya bersihir. Dan peran itu, akan dipegang oleh Risa.”


“A-aku?! Kenapa?!”


“Haaah~” Feline menghela napas. “Tak bisa kupercaya aku harus menjelaskan dari awal.” Lantas, Feline menjelaskan dasar-dasar dari bersihir. Tentang pentingnya imajinasi, mana, dan lain-lain.


.


.


.


.


“Sekarang dari kalian yang ada di ruang ini sekarang, bayangkanlah kalian menciptakan sihir. Apapun itu. Api, es, air, angin, aku tak peduli, ciptakanlah. Kalian akan menemukan sendiri jawaban kenapa Risa adalah yang paling cocok untuk mengemban peran penting ini.”


Gerard, Amanda, Hilma, Leon, dan Clarissapun bersihir. Mereka membuka jendela ruangan, kemudian mengarahkan kedua tangan ke arahnya.


Secara berurutan, yang memiliki mana paling kecil adalah Gerard, Hilma, Amanda, Leon, dan Clarissa. Si adik dari Penyihir itu menciptakan sihir kegelapan yang berhasil menyerap beberapa barang di dekatnya—menyerupai lubang hitam. Dengan aba-aba Feline, lubang hitam itu tidak lepas kendali dan bisa lenyap diwaktu yang tepat.


“Dan peranmu itu adalah untuk mencegah semuanya terjadi. Tenang saja, kau tidak sendirian di dunia ini agar kehancuran itu tidak terjadi.


“Kita memiliki berbagai ras yang tidak pernah kalian lihat, seperti Raksasa, Dryad, Dwarf, Naga, dan masih banyak lagi. Fokuslah untuk membimbing orang-orangmu. Barulah pikirkan di luar kerajaanmu.”


“Tapi... apa aku bisa...?”


“Karena itulah Laura meminta bantuan—tidak—bersepakat denganku. Untuk membantu kalian menghadapi semuanya. Anggaplah aku sahabat kalian, yang akan selalu menasihati banyak hal tentang sihir.”


Hilma langsung naik darah mendengarnya. “Sahabat katamu?!” semua orang jadi terpusat padanya. “Kaupikir kaubisa meniadakan begitu saja apa yang telah kalian lakukan pada kerajaan Southern Flare!?


“Karena kalian bangsawan-bangsawan di kerajaan itu menjadi benar-benar tidak bernurani dan sangat busuk sebagai Manusia! Kalian telah menipu daya leluhurku!”


Feline memelototi Hilma, seketika itu juga, mereka yang sudah bisa bersihir, segera mampu merasakan tekanan yang besar dari tatapan matanya itu saja. “Tahu apa kau tentang Southern Flare?


“Kerajaan?


“Pada awalnya itu bukanlah kerajaan, itu hanyalah nama kelompok yang mendewakan sosok yang telah mati dibunuh oleh Naga! Bisa-bisanya mereka memakai nama manusia itu, untuk mengatasnamakan keadilan, meskipun yang mereka lakukan hanyalah penindasan terhadap anak-anak ras lain!


“Kau yang tidak melihat dan tidak memahami alasan kami membutakan mereka ke jalan yang salah sampai ke titik sekarang ini, tak patut menceramahiku!”


‘PRANGG!’


Semua kaca yang ada di ruang itu pecah karena ledakan emosinya Feline.

__ADS_1


“Manusia selalu saja begitu. Selalu menganggap dirinya adalah pembela keadilan, padahal timbangan adil mereka tidak pernah bisa secara menyeluruh dan tidak pernah bisa mengadili secara seimbang!


“Bila Laura tidak bernegosiasi denganku, aku takkan sudi membantu Manusia!”


“Sudahi emosimu, Ratu Peri Feline.” Kata-kata dari Amanda, yang terdengar tidak goyah sama sekali, membuat luapan emosi Feline segera lenyap. Dia memandangi Amanda. Tidak bergemetar, tidak juga merasa takut seperti yang lain, termasuk Clarissa.


“Hoo...?” batin Feline, yang merasa tertarik dengan ketangguhan Amanda.


“Seperti ucapanmu tadi, kita tidak memiliki waktu untuk membicarakan masalah lain. Sudah tanggung jawab atasan bagi ketidaksopanan bawahannya. Seharusnya dia tahu lawan bicaranya adalah seorang—ehem—seekor Ratu, sama sepertiku.


“Aku akan menerima segala bentuk ketidakpuasanmu terhadap bawahanku, Ratu Feline, kecuali mempermainkan nyawanya.”


Feline menyeringai. “Tidak. Tidak apa. Aku juga salah karena sudah terpancing emosi sesaat. Maafkan aku.”


“He-hebat...,” batin Clarissa, “inikah sosok Ratu Aurora yang pernah kubenci sebelumnya...?”


“Clarissa.” Feline memanggil.


“I-iya?!”


“Sekarang, karena kalian semua satu ruangan, segera kutanyakan pada intinya saja. Apa kau bersedia menjadi penerus takhta Ratu Amanda? Aku bisa melakukan sesuatu terhadap calon bayi itu, tanpa harus menggunakan obat aneh yang diracik sembarangan dan bisa menyebabkan kemalangan bagimu sendiri.”


Hilma merasa tersindir oleh ucapannya.


“Kau juga Ratu Amanda. Bersediakah kau menjadikan Clarissa sebagai penerus takhtamu?”


Clarissa menunduk. “A-apakah akan menjadi langkah yang salah, bila aku ingin waktu untuk memikirkannya dahulu?”


“Haaah~” Feline lagi-lagi menghela napasnya. “Cepatlah. Aku pun memiliki rakyat yang tidak bisa kutinggalkan.”


“Terima kasih....” Dengan kepala yang tetap menunduk, Clarissa angkat kaki dari ruang takhta. Leon sempat melihat tangis yang menetes di pipinya. Leon yang merasa tak bisa apapun, mencengkeram tangannya.


“Kejarlah dan tenangkanlah dia!” seru Gerard tiba-tiba, “kau adalah Pangeran dan kau adalah calon pendamping hidupnya!”


Leon segera berlari menyusul Laura.


“Tunggu, Leon!” panggil Feline, “beri ini pada Clarissa.” Dirinya melemparkan sebuah renjie padanya.


“Baiklah!”


Sesaat setelah Leon pergi mengejar Clarissa, Amanda segera buka suara lagi. “Sekarang, beri tahu aku apa rencanamu terhadap kerajaan ini, oh Peri yang terkenal suka mengusik Manusia?


“Biarkan suami, putraku, dan Clarissa yang tidak tahu menahu tentangmu, tetapi leluhur-leluhurku, serta kerajaan ini benar-benar memiliki catatan lengkap tentangmu.


“Bila kau berani-beraninya mengacaukan hidup kami semua, layaknya yang kaulakukan pada gadis-yang-seharusnya-menjadi-calon-menantuku—“


“Sudah kubilang, aku takkan melakukan apapun. Laura mengikat kami dengan perjanjian yang ketat. Oleh karenanya, aku tak keberatan membagimu rencanaku ke depannya.”


“Hahaha... ini semua berjalan lancar!” batin sang Ratu Peri....

__ADS_1


__ADS_2