Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Yang Mengerti Dirinya


__ADS_3

Cahaya Tombak Suci Rhongomyniad menandakan akan dimulainya Akhir Dunia. Semua yang sudah dialami atau menimpa seluruh lapisan Galdurheim, takkan mengira ini barulah permulaannya saja.


Titania mengangguki permintaan Zeeta untuk mengawal mereka yang ingin mengungsi ke Aurora, baik itu Manusia, Raksasa, ataupun Naga. Para Levant pun membantu Zeeta di luar Töfrahnöttur, demikian pula para sekutu Aurora dan prajurit khususnya yang gagah, yang sedang berusaha membunuh makhluk menyeramkan berbentuk creepy yang dinamakan Diablo oleh sang penciptanya tersebut. Zeeta bahkan berani menjadi lawan bagi Jormungand dan Alter. Namun, semuanya tidak tahu bahwa....


"Sial!" gerutu Gerda. Ia terengah dengan tongkat sihir di tangannya. "Berapa kali pun dibunuh, mereka terus saja muncul!" gadis itu sedang berhadapan dengan salah satu dari sekian banyaknya salinan Diablo yang mengepung. "Tidak ada inti, tidak ada titik kelemahan... namun mereka memakai sihir kegelapan. Diserang dengan elemen cahaya pun mereka hanya akan kembali hidup seperti ini! Apa yang dilakukan Alter pada mereka, sebenarnya!?"


Para penduduk Aurora yang maju ke garis depan dipaksa terpojok ke perbatasan antara dunia nyata dan dimensi buatan Alicia yang berisikan rakyatnya. Semua yang ada di dalam Töfrahnöttur terus berjuang walau terlihat tiada artinya. Kemudian, tiba-tiba....


"Gyaahhh!"


Seorang prajurit sukarelawan mendadak meleleh menjadi cairan berasap berwarna ungu gelap dan hitam. Tak begitu lama setelahnya, terdengar suara lain yang nasibnya sama. Sebuah suara menyusul suara yang lain dengan nada yang nyaris selalu serupa. Tentunya hal tersebut memantik kepanikan yang segera menjalar semakin luas, disaat tidak ada yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Masih dalam kekacauan yang sama, Gerda dan Reina mendadak memuntahkan darah hingga memaksa keduanya kehilangan kekuatan dan berakhir tersungkur.


Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi pada mereka yang ada di dalam pelindung saja, tetapi juga pada mereka yang sedang bertarung di luar, termasuk Raksasa dan Naga. Tubuh yang mendadak meleleh, memuntahkan darah, atau daging yang seakan tersedot habis hingga menyisakan tulangnya saja, mengubah suasana harapan yang baru saja dapat digenggam menjadi keputusasaan, secepat membalikkan telapak tangan. Seakan tidak membeda-bedakan siapapun targetnya, kejadian itu benar-benar merata.


Edward, Ella, dan Lowén sama dengan Reina dan Gerda yang mendadak muntah darah. Mereka merasakan sakit di sekujur tubuh. Erangan demi erangan terus melengking.


Kemudian....


"HAHAHAHA! RASAKAN ITU, DASAR ANJING-ANJING SAMPAH!"


Seorang lelaki amat bersuka-cita dengan kejadian ini. Ia meregangkan kedua tangan dan kaki di bawah gelapnya langit, namun beberapa kali diterangi oleh gemerlap dari guntur yang menyambar. Lelaki itu adalah Keenai.


"SUDAH BEGITU LAMA KUTUNGGU WAKTU INI! MAKANLAH KUTUKAN YANG TAKKAN BISA DICABUT ITU DARIKU!


"NONA!


"AKU SUDAH TEPATI PERANKU, SISANYA KUSERAHKAN PADAMU!"


Setelahnya, Keenai lenyap seperti abu. Cynthia yanh berada di lokasi yang sama, beruntung, tidak mengalami apapun berkat air yang melindunginya seperti gelembung. Ia sudah merasa akan perasaan buruk yang akan menghantam semua Galdurheim. "Lelaki itu tidaklah menggertak. Ia memang merapalkan sihir kutukan yang sudah dia perkuat sejak lama... ratusan... tidak... ribuan tahun!


"Jika begini, bahkan dengan Tirta Amarta pun mustahil bisa menyembuhkan!"


[Sementara itu, di pertarungan Zeeta dan Alter....]


Zeeta menangis. Ia tahu apa yang sedang terjadi di belahan Bumi lain, namun ia tidak bisa berbuat apapun. Kekuatannya bukanlah untuk menyucikan kutukan, tetapi untuk melenyapkan kejahatan.


"Sebenci itukah dirimu terhadap takdirmu, Zeeta?" tanya Zeeta pada Alter.


"Tidak ada bagiku alasan untuk mengangguki takdir semacam itu."


"Mereka tidak bisa kuselamatkan lagi, tapi aku ingin tahu. Bagaimana kaubisa menjadikan lelaki dari ribuan tahun yang lalu itu jadi sekutumu?"


Alter menurunkan senjatanya. Mengikutinya, Jormungand yang masih dalam kendalinya pun ikut tenang.

__ADS_1


"Setelah dibuang oleh Yggdrasil, aku bertemu dengan Seele. Mereka yang disebut sebagai Spirit dari Bulan, menjawabku tentang mengapa mereka mengkhianatiku.


"Aku tidak bisa menyelamatkan siapapun, berakhirnya Ragnarok, berarti berakhir pula diriku. Walau ada perbedaan arus waktu dariku denganmu, kita sama-sama tahu setelah ini ... kita tidak akan kembali bersama mereka. Perjuangan kita seakan tak memiliki arti.


"Hari-hariku tidaklah semanis dirimu yang selalu ditemani rekan-rekanmu.


"Manusia-Manusia yang telah kulindungi dengan bayaran nyawa rekan-rekanku, ataupun makhluk sihir lain yang telah kulindungi, tidak berpikir kalau aku sudah melindungi mereka.


"Aku ... benci dunia itu. Sangat sangat membencinya. Yggdrasil yang tiba-tiba memilihku menjadi Wadahnya pun mengkhianatiku, maka aku minta Seele untuk menjawab permintaan terakhirku.


"Aku ingin membunuh dirimu agar kau tak perlu mengalami apa yang kurasakan. Dengan kekuatan yang kudapatkan dari Seele, aku berhasil kabur dari ruang hampa Yggdrasil dan mampu mengunjungi berbagai zaman di duniamu untuk memperparah masa depan seorang Zeeta Aurora XXI.


"Kau tidak harus hidup di dunia yang sudah rusak ini. Jika dunia memang sudah ditakdirkan untuk hancur, maka hancurlah saja tanpa perlu menyeretmu."


Zeeta termangu. Ia yakin kalau jawaban Alter adalah untuk kepentingannya sendiri, namun ternyata....


"Kau telah membuang harapan yang diteruskan kepadamu, Alter."


Alter mengerutkan dahi.


"Kebencian demi kebencian yang telah terjadi padamu, memustahilkan dirimu untuk bertemu dengan Gala, Ars, Flare, dan Lynn. Oleh sebab itu, kekuatanmu tak pernah bangkit."


Mata Alter berkedut. Sepertinya Zeeta benar.


Alter mencengkeram tangan.


"Tetapi, lagi-lagi kau masih belum menyerah. Kautahu kau melihat secercah cahaya bila kau menuntaskan tanggung jawabmu. Oleh sebab itu, kau belajar Rune. Dengannya, kau mulai bisa melihat harapan baru. Dengan Rune, kaubisa mengubah afinitas Catastrophe Seal-mu menjadi kegelapan.


"Sayangnya, dirimu dikala itu tak tahu kalau Ragnarok membutuhkan ini." Zeeta setengah mengangkat Rhongomyniad-nya. "Kau sudah membuang afinitas cahayamu sejak lama, kau pun tak memiliki izin dari tiga Roh Kuno. Untuk mengatasinya, mau tak mau kau membunuh mereka demi merebut kekuatannya.


"Kau pasti berpikir, 'disaat dunia sedang menghadapi akhirnya begini, aku harus mendapatkan IZIN dari kalian? Yang benar saja! Jika kalian memang adalah Roh Kuno yang hebat, maka kenapa kalian tak pernah melenyapkan Hollow untuk selamanya?!'


"Apa aku benar?"


Alter tersenyum. "Akulah yang paling mengerti diriku, kah....? Yap, kau benar sekali. Seratus poin untukmu. Lalu? Kenapa kau menjelaskan semua itu padaku?"


"Ayo akhiri ini, Zeeta. Kau sudah menuntaskan tugasmu walau akhirnya sangat pahit. Dilain sisi, dengan diriku yang menghabisimu dan Jormungand, tugasku juga akan selesai. Aku ingin istirahat dari semua ini ... selamanya."


Alter menganga untuk sesaat. "Ya. Aku setuju." Ia berkuda-kuda untuk mengaktifkan lagi Catastrophe Seal-nya.


......................


Kutukan yang diberikan Keenai juga melibatkan Arata dan kekaisarannya. Mereka sudah kelelahan dari pertarungannya dengan Surtr, malah menghadapi hal diluar nalar seperti ini. Semuanya putus asa. Inilah akhir dari Seiryuu. Bahkan Arata sendiri sudah pucat pasi, Ki-nya terkuras banyak akibat kutukan tersebut. Nidhogg yang kembali ke wujud Saitou, menghampiri Cynthia yang berada tak begitu jauh dari mereka.

__ADS_1


"Penakluk Penguasa Lautan," panggil Saitou.


Saat Cynthia menoleh, ia segera tahu manusia tersebut hanyalah Naga yang memakai wujud fana. "Ada apa, Tuan Naga?"


"Kudengar kau memiliki cara untuk mengangkat kutukan ini, namun semuanya jadi mustahil. Benarkah?"


"Ya. Bahkan jika mungkin diangkat, aku butuh bantuan Roh Yggdrasil dan Undine yang Agung."


"Kalau begitu, bisakah kausampaikan ini pada mereka?


"Naga Nidhogg ... akan menuntaskan perjalanan panjangnya."


Cynthia berwajah serius dan mulai menyimak baik-baik penjelasan Saitou.


.


.


.


.


[Disaat yang sama....]


"Tidak hanya sudah dikutuk oleh lelaki dari ribuan tahun silam itu," gumam Marianna, "tapi setiap mereka mengalahkan makhluk-makhluk mengerikan itu, kutukannya bertambah dua kali lipat.


"Hanya satu Manusia saja yang selamat dari kejadian ini, dan dia adalah seorang Benih Yggdrasil...."


"Kalau begitu, maukah kau membantunya bersamaku?"


Marianna menoleh ke belakang, segera mendapati seseorang dengan sayap kupu-kupu yang sangat indah.


"Ratu Peri yang baru.... Sialan, kenapa wujudmu jauh lebih cantik dari Feline, tetapi jelek disaat yang sama?"


"Ahahaha... aku mengerti maksudmu. Tidak mungkin Peri mengambil wujud Manusia seperti ini, bukan? Entahlah. Dunia yang mewujudkanku seperti ini.


"Menyampingkan penampilanku, mana yang tersimpan di Hutan Peri, berkat lelaki tadi, seakan tak memiliki taring yang tajam. Padahal, Rune saja bisa ditahan."


"Lalu? Apa yang kauingin dari orang mati sepertiku?"


"Tentu saja kutukanmu."


Marianna terkejut. "Oh, begitukah...." Ia lalu menyeringai lebar. Dia semangat akan rencana yang langsung dipahaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2