Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kemunculan Tellaura, Sang Penyihir Pengutuk Dunia


__ADS_3

“MATILAH!”


“MATILAH, DASAR PENYIHIR!”


“Keberadaanmu hanya mengganggu untuk dunia ini!”


“Apanya yang Penyihir Harapan kalau kau tak bisa menyelamatkan kami?!”


Dibawah sinar rembulan merah ... Zeeta bisa mendengar semuanya. Dia berdiri di depan tumpukan mayat. Terdapat juga genangan darah yang menenggelamkan mata kakinya. “Apa yang ... telah kulakukan...? Kenapa aku bisa ada di sini...?” Zeeta berkecimuk dalam hati.


“ZEETA!”


Suara seseorang memancingnya agar menengok ke depannya. “Kak Azure...?” ia melihat Azure yang kepalanya bersimbah darah, tetapi masih berkuda-kuda dengan Buku Sihir-nya. Tatapannya marah, sedih, tampak bercampur aduk.


“Bahkan jika itu harus membunuhmu, aku akan menghentikanmu!” seru Azure.


“Membunuhku...?


“Memangnya apa yang telah kulakukan?


“Aku selalu ... selalu ... SELALU SAJA BERUSAHA untuk memenuhi harapan kalian!”


.


.


.


.


‘BWHAAAMMMM!’


Ledakan api berbentuk setengah bola meluas—hingga menelan Belle sebagai korbannya. Semua orang yang berlari mengejar Zeeta yang sebelumnya berteriak kencang, juga tertelan oleh ledakannya. Scarlet, Porte, Azure, dan Mellynda.


“A-apa ini?!” seru Mellynda, yang mengepalkan kedua tangan dan membentuknya seperti huruf X untuk bertahan dari ledakan api ... yang anehnya tidak melukai siapapun.


“Zeeta!!” jerit Azure cemas. “Oi, Flakka! Tak bisakah kau lebih cepat lagi?!” ia mulai putus asa.


Di tempat lain, Scarlet juga mendecih. “Tsk. Apa lagi sekarang?!”


“Nyonya Scarlet!” seru seorang lelaki dari arah yang berlawanan, yang tentunya adalah Porte.


“Nak Porte! Akhirnya!


“Apa kaubisa menggunakan sihirmu?”


“Sa-sayangnya tidak, aku juga tidak mengerti kenapa....”


“Agghh! Kupikir kita bisa melaju cepat dengan kristalmu.... Kenapa harus begini jadinya?!


“Nak Porte! Kita harus segera menyusul Zeeta secepatnya! Aku punya firasat yang tidak enak....”


“Ba-baiklah!”


......................


[Sementara itu, Belle....]


“A-apa sebenarnya yang terjadi...? Dia masih berselimutkan kekuatan Ifrit, tapi kenapa ledakan mana-nya tidak melukaiku?!”


Belle melihat dari Zeeta yang meringkuk, bahwa mata biru langit miliknya tidak memancarkan cahaya. Ada sesuatu yang terjadi dengannya, tetapi ia tak bisa yakin apa masalahnya. “AKU!!” tiba-tiba saja Zeeta menjerit, sambil bangun dari ringkuknya perlahan. “Aku selama ini sudah bertahan ... bertahan ... dan TERUS BERTAHAN!


“Apa kau mengerti bagaimana rasanya menjadi satu-satunya orang yang memegang nasib dunia?! Apa kaupikir hal ini mudah, kak Azure?!”


Belle mengernyit. “Ilusi...? Apa itu yang dilihatnya sekarang...? Tapi ... apa iya, hanya karena melihat tubuhnya yang....


“Tidak! Ingatlah tujuanmu, Belle Vianna! Kauingin membunuhnya, karena dia sangat mengganggu! Dia terlalu berkebalikan denganmu, yang selalu hidup di balik bayangan!” ia kemudian membalas ledakan mana dengan ledakan yang sama.


Ledakan setengah bola api dan setengah bola hitam kekelabuan saling beradu.


“Jika kau tidak senang dengan hidupmu, maka aku akan membunuhmu dengan senang hati, Zeeta!” Belle melesat menuju Zeeta.


“Kau...?!” Zeeta tampak sadar bahwa di hadapannya adalah Belle—bukannya Azure lagi. Masih dalam kondisi mata yang tidak memancarkan cahaya, Zeeta hanya fokus untuk membalas serangannya saja. Memakai Rune Eihwaz yang dituliskannya di dalam sihir yang diciptakannya, sebuah bola api seukuran kepalan tangan. Ia segera melontarkannya kencang pada Belle.



Sebagai pihak yang memancing, Belle cukup terkejut karena Zeeta tiba-tiba saja bisa memakai Rune. “Sudah kubilang sihir apapun takkan berguna di Tanah Kematian!” iapun menjentikkan jemarinya.


Dan memang ... seperti yang dikatakannya, bahkan dengan Rune pun, sihir Zeeta hancur seperti kaca yang pecah. Tapi....


Proses pecahnya tidak biasa. Ketika inti dari sihirnya Zeeta hancur oleh Belle, malah area di masing-masing hadapan mereka—tempat dimana dua sihir saling berseteru—retak dan pecah satu demi satu. Apa yang ada dibalik keretakan itu ... memperlihatkan pemandangan yang sama sekali tidak biasa.


“A-a....” Belle kehabisan kata-kata. Ia bermandikan peluh. “D-D-Dréka... heim?!”


......................

__ADS_1


Ini adalah kedua kalinya bagi Zeeta bisa membuka gerbang menuju dunia lain. Tidak ... akan lebih tepat bila faktor penambah itu bisa dilakukan adalah adanya Belle. Berbeda dengan Jötunnheim, dimana hanya sebagian kecil gerbangnya saja yang terbuka dan membiarkan salah satu penduduknya mengintip, tidak untuk saat ini, di Tanah Kematian ini.


Retakan dan pecahannya semakin melebar, membuat Belle tak tahu harus apa. Semakin melebarnya pecahan, semakin jelas pula kehadiran dua Aurora ... keturunan makhluk yang sangat ... sangat ... sangat dibenci oleh makhluk sihir ribuan tahun yang lalu di sana.


Kornea lonjong meruncing dengan dua selaput yang melindungi bola matanya dan diikuti dengan kelopak mata. Semua itu terdapat di pelbagai Naga yang mengunci Belle dan Zeeta sebagai mangsanya. Dengan sayap-sayap gagah nan perkasa mereka, mereka langsung menyerbu keduanya.


Tidak hanya menyerbu, mereka juga menyemburkan serangan dari moncong mereka. Ada yang api, es, angin, juga bahkan kegelapan. Mereka tidak peduli jika serangannya saling melukai satu sama lain, yang terpenting di pikiran mereka adalah kenyataan bahwa mangsa mereka muncul begitu saja, dan momen ini tidak bisa dilepas.


“Jangan bilang mereka sudah menebak ini akan terjadi, makanya mereka berkumpul layaknya koloni?!” gumam Belle, yang mengingat bahwa sebelum ia pergi menemui Zeeta, ia sempat memperlihatkan Drékaheim pada Azure dan Mellynda. “Hei, Zeeta! Segeralah sadarkan dirimu! Nyawamu sedang dalam bahaya!” ia melarikan dirinya. Tetapi, ia segera mengernyit saat melihat Zeeta justru pasang badan di tengah-tengah pintu gerbangnya.


“Sudah waktunya bagiku untuk mengakhiri semuanya. Bila dunia ini tidak ada aku, maka semua akan bahagia...,” gumam Zeeta.


Sebuah kilas balikpun melintas di kepalanya tatkala Belle melihat Zeeta begitu.


.


.


.


.


Belle mengingat sebuah masa ... dimana dirinya masihlah kecil. Dia sedang meringkuk di bawah sebuah pohon. Di sebelahnya terdapat sebilah pisau, batang pohon di dekatnya terdapat simpulan tali tambang, dan bermacam benda tajam lainnya.


“KENAPA AKU TIDAK BISA MATI?! KENAPA KENAPA KENAPA KENAPAKENAPAKENAPAKENAPAKENAPAKENAPAAAA?!” Belle terus-terusan mengoyak urat nadinya, tetapi darah yang telah membasahi pakaian dan tubuhnya, seakan tidak mempengaruhi hidupnya.


Seorang yang tembus pandang tak lama kemudian menghampirinya. Ia adalah seorang lelaki. “Sudah kubilang, kau telah terikat dengan Tanah Kematian, Putriku. Kau takkan bisa mati, kecuali dengan kekuatan Bulan milik mereka.”


“AKU BENCI KAU!


“Tidak hanya merenggut nyawa ibu, tapi kau juga....” Dari posisi ringkuknya, Belle menjadi bersujud. Ia menangis dengan deras setelahnya. “Kumohon, biarkan aku mati.... Apa gunanya kuhidup jika aku tak bisa bersama keluargaku…?


“Lagi pula, kenapa kaubisa mati? Kau sudah hidup dua ratus tahun!”


“Begitu pula dengan ibumu, Estella. Berapa kali harus kukatakan padamu, kami begini karena melindungimu, Nak!”


“Tapi kenapa kalian meninggalkanku...?


“Apa kau tahu reaksi desa itu saat melihatku?


“Mereka memerlakukanku seperti monster, aku adalah kutukan, dan aku harus mati! Seharusnya kau pun lihat apa yang kualami! Makanya ... makanya ... makanya semua orang di desa itu kubunuh....” Anak kecil itu, Belle Vianna, tersenyum mengerikan.


Identitas sang ayah, Edouard, hanya bisa mengernyit dan memejamkan mata. Ia tidak bisa melakukan apapun selain memerhatikan. Ia juga mencengkeram erat kedua tangannya.


“Belle. Kau harus hidup sampai saat itu tiba.


“Aku telah gagal melindungimu, juga ibumu.


“Aku tak mengharapkanmu membalas dendam pada orang itu, tetapi apapun yang terjadi, kumohon, Putriku.


“Dunia harus seimbang. Kau harus ada di dalamnya!”


.


.


.


.


“ZEETA, DASAR BODOH!!!” jerit Belle dengan sangat lantangnya. Dia melihat Zeeta hampir terkena bermacam-macam serangan dari para Naga yang haus akan dendam. Rambut dan pakaiannya yang masih dalam mode “Ratu Iblis” Ifrit,  sudah terhempas oleh dampak anginnya.


Kemudian....


“Oke, oke, sudah cukup, ya.”


‘ZHWIP!’


Gerbangnya tertutup begitu saja dan Zeeta tersungkur setelahnya.


“Whoops.” Si pemilik suara menangkap Zeeta. Dia adalah wanita berambut merah gelap panjang sepinggang yang diikat satu dengan pita hitam. Ia mengingatkan sesuatu seperti kalung yang diikat di lengan kirinya. Ia berkulit putih dan bermata merah sewarna dengan rambutnya. “Kau baik saja? Ah... tidak, kah.” Saat Si Wanita melihat lagi Zeeta, ia sudah tak sadarkan diri.


Ia menelentangkan Zeeta di tanah beku karena sihirnya, kemudian meninggalkannya begitu saja untuk menghampiri Belle. Setelah sampai di depan Belle yang terpatung dan tak mengenal siapa wanita ini, ia dengan santainya diseret.


“Tu-tu-tungg—siapa kau ini?! Lepaskan aku!”


“Berisik. Nanti juga kulepaskan!”


“Tidak! Lepaskan aku sekarang juga, atau kuhancurkan kau!”


Urat kepala muncul di kening Si Wanita Berambut Merah.


‘BWAK!’


Ia memukul keras kepala Belle dengan kepalan tangan kirinya. “Bersabarlah, Bocah!”

__ADS_1


“Apa-apaan...? Kuat sekali orang ini.... Ssst aduh...,” batin Belle meringis.


Si Wanita melepaskan Belle di depan Zeeta, lalu menarik tangan Belle ke jantung Zeeta. “Kerahkan manamu padanya! Cepat!”


“Kenapa?!”


Si Wanita mengaba-abakan kepalan kirinya.


“Ba-baiklah baiklah!” mau tak mau Belle melakukannya.


Tidak lama kemudian, Zeeta segera membuka matanya.


“Tidak kusangka. Perubahan Ifrit-nya pun lenyap...,” kata Belle.


“Jika tidak begitu, Rune yang dipasang dirinya sendiri, akan semakin memperburuk keadaannya. Kalian adalah combi yang bagus. Kuharap kalian bisa berteman.”


“HAHH?! Dengan gadis yang sangat bertentangan dengan hidupku ini?!”


“Siapa itu...?” gumam Zeeta, “apa itu kau, Nek Scarlet...?”


“Oh, hai, Zeeta. Ini pertama kalinya kita bertemu.”


“Hnnghhh...?” Zeeta merasa linglung.


Belle yang tidak sabar, segera menampar keras kedua pipi Zeeta.


“A-ADUH! Kenapa tiba-tiba?!”


“Lihatlah siapa orang itu.” Belle menunjuk ke wanita yang berdiri menyilangkan tangan di sebelahnya.


“Siapa...?”


Sambil melemparkan senyumannya, Si Wanita bilang denhan percaya diri. “Si Penyihir Pengutuk Dunia, Tellaura!”


Zeeta terbelalak. “Ka... kakaknya Clarissa ... yang mengembalikan sihir pada dunia?!” seru Zeeta.


“HAH?! TELLAURA?!” senada dengan Zeeta, Belle pun terkejut.


Tapi, kemudian....


“ZEETAAAAA!!” suara jeritan memanggil dari belakang mereka.


“Yah, UNTUK SAAT INI, kalian hanya harus tahu siapa aku. Sisanya, lihatlah saja dunia.” Usai mengucapkannya, wanita yang mengaku dirinya adalah Tellaura ini menghilang seperti butiran mana merah.


Belle dan Zeeta saling tatap sesaat. Mereka sama-sama melihat butiran merah itu masuk ke dalam anting dan kalung bulan mereka. Keduanya pun tersenyum. Mereka mengerti maksudnya.


“Kenapa kau senyum-senyum begitu? Ada yang aneh di wajahku, hah?!” teriak Belle.


“Kau sendiri, kenapa memerhatikanku dengan serius, kemudian tersenyum?!”


“HAHHH?!”


.


.


.


.


“Zeeta!” panggil sebuah suara. Dia adalah Mellynda.


“Melly, kau baik saja?!” Zeeta segera berlari menghampiri Mellynda. Begitu pun sebaliknya.


“Tentu! Kami juga punya cerita—ehh... bahasan darurat yang harus kaudengar.”


Azure yang ada di belakang mereka, tiba-tiba saja bilang, “Itu bisa menunggu, lagi pula waktu di sini lebih lama, bukan... oh Aurora yang mencari perhatian, Belle...?” Azure menarik kerah Belle, namun Belle tidak ciut.


“Hah? Apa maksudmu menarik-narik pakaianku? Kau menantangku duel, dasar mainan?”


"Tidak, aku tidak sebodoh Adikku yang tetap menyerang kendati dia paham tak memiliki kesempatan di sini. Tapi, aku tahu setelah melihat darah dan lantai yang membeku ini. Kau sudah macam-macam dengan Adikku, maka kau akan mendapatkan balasannya.” Aura hitam keunguan membumbung darinya


“Bisa apa kau dihadapan sihirku?”


Azure menyeringai. “Ini.” Dia mencengkeram pergelangan kanan Belle, lalu dengan mudahnya melelehkan tangannya, menyisakan tengkoraknya saja.


“A-apa?!”


Azure kemudian mengembalikannya lagi seperti biasa.


“Anggap saja itu ancaman dariku.” Azure lalu kembali bergabung pada Zeeta dan Mellynda, lalu lekas menjerit, “DASAR ADIK DUNGUUU!


“KENAPA KAU MEMILIH MENYUSUL KAMI DISAAT KAU SEDANG DIBUTUHKAN DI DUNIA?!


“Apa kau tak tahu, ada istilah ‘di dunia ini ada prioritas’?!”

__ADS_1


Selagi Azure masuk mode ceramahnya, Belle memandangi dalam diam tangannya. Ia bertanya-tanya, “A-aku ini pemilik kekuatan Bulan, lo! Kenapa dia bisa dengan mudahnya melelehkan tanganku, yang seperti mayat hidup ini...?!”


__ADS_2