Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Melodi dari Neraka


__ADS_3

Ditengah kekacauan Galdurheim dengan kepanikan mendadak dari banyaknya orang secara acak, di pusat terjadinya kekacauan tersebut, orang-orang didekatnya tidaklah mengalami hal demikian.


Namun, ketika Zeeta mendengar suara-suara dari dua gerbang dunia yang telah terbuka, entah karena Rune Kaunaz atau penyebab yang lain, ia melihat pemandangan yang membuatnya lagi-lagi takut.


Usai Azure menarik kerah dan memberinya kata-kata kasar yang bermaksud baik, Zeeta Alter, mengutarakan kata-katanya. "Kau benar, Kak Azure. Aku tidaklah sendirian. Aku memiliki ayah Arthur, ayah, ibu, guru Ashley, dan kalian semua di belakangku. Aku tahu dan dia pun pasti mengerti maksudmu.


"Namun kau takkan mengerti. Kau takkan mengerti perasaanku yang selama ini melindungi kalian, ketika gerbangnya terbuka, kalian memaksaku untuk yang ada di paling depan, menuntaskan semuanya sendirian.


"Kalian bilang aku punya Catasrophe Seal yang bisa menghancurkan segala malapetaka.


"Kalian bilang aku memiliki Roh Yggdrasil yang berpihak padaku....


"Kalian juga bilang Benih Yggdrasil lain yang juga akan membantuku.


"Tapi...."


Zeeta Alter mencengkeram kuat sabit yang "dipanggilnya" dari tanah.


"Pengkhianatan kalian takkan bisa kumaafkan. Bahkan sejak awal, pengkhianatan itu takkan terjadi bila aku tak ada di dunia ini. Oleh sebab itulah, dengan senang hati kuterima tawaran nyawamu, Zeeta!"


Zeeta Alter mengacungkan sabitnya pada dirinya yang lain yang kerahnya masih dicengkeram Azure. Disaat yang sama, sayangnya, kilat menyambar belakangnya—mengguncang tanah dan meretakkannya.


Sontak, Azure, Zeeta, Mellynda, dan Tellaura segera menjauhkan diri. Dan kala mereka memberikan jarak lebih dari Alter itulah, Zeeta menepis Azure.


"Tenang saja." Suara laki-laki terdengar dari tuan putri tujuh belas tahun itu.


"Si-siapa itu?!" tanya Azure.


"Gerbang itu sudah berhasil kutahan dengan kekuatanku. Keduanya takkan terbuka untuk sementara."


Tellaura sadar akan suara itu, lantas ia bertanya, "Apakah kau Roh Kuno Ifrit, yang pernah membantu Zeeta di Tanah Kematian?"


"Itu benar."


Zeeta Alter tak senang mendengarnya. "Roh Kuno semacammu bisa menahan gerbang Drékaheim dan Jötunnheim...? Jangan bercanda!


"Kau memang makhluk yang setara dengan Yggdrasil, tetapi kauhanyalah Roh!"


Zeeta—Ifrit yang sekali lagi mengendalikan tubuhnya—tersenyum. "Kau tidak tahu apapun sebab Ifrit yang ada di sana tak bersedia membantumu."


"Apa katamu...?!" Alter menggeram. "Tahu apa kau tentangku?! Sudah cukup, akan kuselesaikan semuanya di sini dan sekarang!"


Zeeta Alter mengaktifkan lima Batu Jiwa yang ada di hadapannya dengan Sihir Kuno Rune-nya—sebuah Bind Rune. Ifrit yang ikut menyaksikannya langsung, segera mengernyit.


Kelima Batu Jiwa tersebut bersinar dengan bermacam warna. Ada yang ungu, merah, jingga, hitam, dan putih.


......................


[Di lokasi yang tidak bisa dilihat mata mereka yang ada bersama Zeeta Alter....


Kekaisaran Seiryuu....]


Jasad-jasad yang terlindungi gelembung milik Undine dan medan penghalang dari Hitomi, mendadak berontak. Mereka bergerak begitu saja meski diantara mereka ada tubuh yang tidak lengkap.


"A-apa yang terjadi sekarang?!" tanya Hitomi.


"Nak Benih Yggdrasil! Apapun yang terjadi, jangan biarkan tubuh-tubuh itu keluar!"

__ADS_1


"Baik!"


.


.


.


.


Di sebuah gua di arah mata angin selatan—tempat dimana Colette dan rekan setimnya bertemu dengan sosok monster ciptaan Zeeta Alter—jasad busuk dan berserakan di sana juga ikut bergerak sendiri. Bahkan yang sudah melebur dengan guanya juga terangkat, seakan ingin memenuhi panggilan terhadap sosok yang lebih tinggi.


Tidak hanya di dua tempat itu saja, di tempat yang seharusnya tak terjamah oleh siapapun kecuali mereka yang sudah mati....


Belle dan Edouard terpatung dengan wajah yang takut dan cemas. Langit Tanah Kematian dipenuhi oleh jiwa-jiwa yang memaksa terbang keluar dari sana. Tidak hanya satuan, puluhan, ataupun ratusan, mereka bahkan tak bisa menghitungnya.


Seperti kata Edouard, jumlah jiwa yang mati di Lembah Jiwa, yang menunggu giliran untuk direinkarnasi menjadi bentuk kehidupan lain, masihlah sangat banyak. Dan hampir semua yang belum tereinkarnasi tersebut, sedang ada di langit.


"Belle!" jerit Edouard, "kerahkan seluruh tenaga kita untuk menahan mereka!!"


"Aku tahu!" keduanya memakai tongkat yang biasa dipakai untuk mengawasi dari kolam, untuk menyihir langit supaya tidak menjebol antar-dimensi.


Semuanya tampak lancar, meskipun keduanya sampai menggertak gigi dan bercucuran keringat. Namun....


"Ya ampun, gadis itu benar-benar serius ingin menghancurkan dunia."


Keduanya kaget dengan sebuah suara lelaki.


"Ka-kau...?!" Belle tahu siapa lelaki itu. Pun dengan Edouard. "Keenai?!"


"Kalian semua takkan tahu seberapa keras dia berusaha untuk menghancurkan dirinya yang lain ini. Bahkan ia sudah melewati beberapa masa untuk benar-benar bisa mendapatkan keinginannya.


"Ia juga tak segan menggandeng tanganku yang selalu menganggap keturunannya adalah musuh besar."


Sambil terus berusaha bertahan, Belle bertanya, "Apa maksudmu...?"


"Yah, lihatlah saja sihir ini." Dengan tetap menjaga seringainya, Keenai mengangkat tangannya. Sebuah lingkaran sihir raksasa, yang menyelimuti seluruh jiwa yang berusaha untuk keluar tersebut, muncul.


Lingkaran sihir tersebut berwarna merah kejinggaan. Namun, itu selalu berubah-ubah warna. Terkadang itu berubah menjadi merah, biru gelap, serta kelabu.


"Li-lingkaran sihir itu...?!" Edouard seperti mengetahuinya.


"Hoo...? Jadi kautahu...?"


"Tidak mungkin aku tak tahu! Kau adalah orang yang memiliki kekuatan serupa dengan Benih Yggdrasil yang ketiga, Hitomi Reiko!"


"Tepat sekali. Aku senang tidak perlu memakan banyak waktu hanya untuk menjelaskannya padamu.


"Ups, karena gadis itu sudah mengaktifkannya, aku tak bisa membiarkannya menunggu lebih lama."


Keenai terbang menghampiri jiwa-jiwa itu. "Mampuslah kalian, Aurora." Ia kemudian menjentikkan jemarinya.


"Tsk!


"JANGAN BIARKAN DIA, BELLE!!!"


Edouard menjerit kencang.

__ADS_1


"HAAAAAHHH!!!" mengeluarkan lebih dari seluruh tenaga yang ia miliki, menyababkan Belle mimisan.


Air-air di Lembah Jiwa naik ke langit—dikendalikannya—untuk menarik sebanyak-banyaknya jiwa tersebut kembali.


"Mustahil! Aku tak bisa lebih banyak dari ini!"


Keenai—sosok yang telah mati di tangan Belle—keluar Tanah Kematian dengan sihir—sesuatu yang TIDAK seharusnya terjadi. Ia membawa lebih dari ribuan jiwa dari sana. Begitu mereka keluar, langit yang terbuka dengan sihir Keenai, tertutup dengan sendirinya.


"SIAL!" pekik Edouard. "Belle, kau tak apa?" ia menahan tubuh putri sematawayangnya yang lemas.


"Zee... Zeeta...!" tangannya berusaha menggapai bahu ayahnya.


......................


[Sementara itu....]


Galdurheim telah kacau dengan suara dari dunia lain. Mereka semakin takut dan segera ingin mengakhiri hidup, ketika jeritan-jeritan kesakitan dan minta tolong yang bahkan tidak bisa mereka lihat darimana sumber suaranya, membuat situasi semakin kacau balau.


Ifrit, Zeeta, Mellynda, Azure, dan Tellaura, melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana tanah terbuka, "memuntahkan" banyaknya jiwa-jiwa.


Kelimanya tahu bahwa mereka berasal dari Tanah Kematian.


"A-apa yang sebenarnya terjadi...?!" Azure terbelalak.


Tellaura yang tidak menyangka ini kehabisan kata-katanya.


"Sesuai perjanjian, aku datang membantumu, Nona." Keenai bertekuk lutut di hadapan Zeeta Alter.


Zeeta Alter tersenyum. "Kerja bagus, Keenai. Aku tak melihat beberapa jiwa yang seharusnya ikut bersamamu ... tapi tak apalah.


"Hei, dengarkanlah melodi indah ini, Keenai! Bukankah ini sangat merdu untukmu?"


Keenai tersenyum lebar. "Suuungguh indah."


"Zeeta," ujar Alter, "kutuntaskan keinginanmu dan kutuntaskan juga kata-kataku sendiri.


"Nikmatilah melodi neraka ini...."


Alter tersenyum manis.


Mellynda merinding melihat senyuman itu. "Kak Azure! Percuma kita anggap dia adalah Zeeta yang sama dengan Zeeta kita! Dia benar-benar berbeda!" ia terpaksa berteriak sebab jeritan tak ada habis dari para jiwa.


"Soal itu aku juga tahu! Tapi untuk apa dia mengeluarkan semua jiwa-jiwa itu!?"


"Ah...." Alter tersadarkan sebab pertanyaan Azure. "Aku hampir lupa. Maafkan aku, melodinya begitu indah hingga membuatku lupa diri.


"Lihatlah lebih detail siapa yang ada bersama jiwa ini. Kalian, majulah."


Mellynda dan Azure kaget setengah mati.


Disana, ada Danny, Gerda, Serina, dan Jourgan, serta Luna.


"Jika begini, bahkan Roh Kuno sekalipun tak bisa melawanku, bukan...?" Alter tetap dalam senyumnya. "Ayo, kalian tahu apa yang harus dilakukan." Ia menepuk tangan dua kali.


Jiwa-jiwa itu, termasuk rekan-rekan Aurora, terbagi menjadi lima makhluk besar—dimana Batu Jiwa adalah intinya. Makhluk besar tersebut memiliki ciri-ciri yang sama dengan Diablo—makhluk ciptaan Zeeta Alter yang pernah menyerang Colette dan Lloyd.


"Mari kita mulai kehancurannya...."

__ADS_1


__ADS_2