
Bunyi hentakkan sepatu kuda dibawah kengerian cahaya merah dari bulan “palsu” yang sedang berlangsung malam ini, seakan mengabaikan apa yang sedang dirasakan masyarakat dunia. Orang yang mengendarai kuda tersebut adalah Hilma. Dia juga membawa Clarissa dengan mengikat punggung gadis berambut ungu panjang itu ke perutnya sendiri dengan untaian kain.
Dada yang kembang kempis, serta keringat yang tak kunjung reda kendati dirinya tertiup oleh angin, menandakan betapa sedang putus asanya dirinya sekarang.
“Aku tak percaya ini,” batin Hilma, “begitu aku berangkat tadi, orang-orang desa itu masih sempatnya saja menghentikanku untuk pergi! Bahkan mereka menuduh Clarissa telah berbuat sesuatu yang berhubungan dengan bulan itu.... Laura benar, mereka bukanlah orang yang pantas untuk dimintai pertolongan!”
“Berjuanglah sedikit lebih lama lagi, Risa!” seru Hilma yang sedikit melirik ke arah Clarissa. “Aku yakin pangeran Leon akan bersedia membantumu!”
......................
[Sementara itu....]
Di hamparan kegelapan, diatas bentangan air yang menjadi lantai, serta dihadapan pohon raksasa, Tellaura sedang berbicara dengan tiga makhluk kecil bercahaya putih-kuning. Mereka adalah Seele.
“Itu adalah ... waskita ... Pohon Dunia.” Para Seele berbicara bergantian. “Tentukanlah ... keputusanmu ... oh yang terpilih....”
“A-aku....” Tellaura murung. “Aku tidak begitu mengerti apa yang baru saja kulihat ini, tetapi aku cukup yakin dengan perasaanku sendiri. Namun, sebelum kukatakan apa keputusanku, apakah aku boleh mengetahui lebih jauh tentang orang tuaku?
“Siapa orang tuaku sebenarnya?
“Aku sudah bisa menebak-nebaknya, tetapi sebelum aku mati, aku ingin memastikannya.”
Tellaura segera dibawa pergi ke sebuah ruang dimensi tanpa ujung. Dimensi itu seperti diisi oleh awan-awan jingga yang lembut dan kenyal. Begitu gadis berambut merah sepunggung yang diikat ponytail itu sampai di sana, hatinya entah kenapa merasa hangat—seakan merindukan perasaan ini. Sulit untuk diungkapkan melalui kata-kata, namun ia tersenyum. Di pandangan matanya, ia melihat kedua orang tuanya yang sedang bersama-sama, sebelum berada di desa Lazuli.
“Sudah kuduga,” ujarnya sambil tetap senyum, “mereka adalah mantan bangsawan dari kerajaan Flare!
“Terima kasih, mengetahui hal pasti ini saja, sudah membuatku merasa lebih tenang. Aku bisa yakin mengatakan keputusanku.”
Tellaura dibawa kembali lagi ke hadapan sang pohon raksasa. Ia segera mengatakan keputusannya pada para Seele. “Aku akan mengubah waskita itu dengan caraku sendiri. Bila adikku memiliki keturunan nantinya, atau ada orang lain yang memiliki darah yang sama denganku, aku akan menuntun mereka untuk membantuku mengubah waskita itu.
“Meskipun aku membenci dunia ini, demikian pula dengan para leluhur-leluhurku, pada kenyataannya dunia ini begitu luas, sehingga masih begitu banyak hal yang bisa dicintai di dunia ini, juga ada banyak hal yang belum kami ketahui. Aku tak ingin generasi-generasi selanjutnya merasakan apa yang kami rasakan.
“Kebencian yang terus kami keluarkan dari dalam hati, haruslah hilang.
“Meskipun tidak bisa secara instan, meskipun itu butuh waktu ratusan tahun, aku akan membantu mereka untuk melenyapkan kebencian itu.
__ADS_1
“Soalnya....
“Jika aku tidak mengalami semua kejadian-kejadian sebelumnya, aku pun akan mencintai dunia ini!”
Perlahan-lahan, disaat itu juga, rambut merah Tellaura menjadi perak. Kemudian, dia dipulangkan oleh para Seele ke dalam tubuhnya sendiri. Tubuhnya yang sebelumnya tergeletak di hamparan rerumputan begitu saja, bangkit perlahan lalu melayang sedikit di atas tanah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Tellaura bergerak menghampiri Hutan Peri. Matanya menyala merah, tanah yang dilaluinya terbakar—namun apinya tak merambat. Sekitaran tubuhnya juga diselimuti oleh aura merah keemasan.
Para Peri yang melihatnya panik. Mereka segera melaporkannya pada sang ratu. Dan balasan dari ratu mereka adalah, “Biarkan saja. Tidak perlu diberi perlawanan. Targetnya bukanlah kita, melainkan….”
Morgan, yang sedang bersama Sigurd, sempat melihat bangkitnya Tellaura. Sigurd yang di dalam hatinya terbesit pikiran menyesal meskipun terlambat, “dibuang” oleh si Peri lelaki yang sudah setia pada sang ratu sejak lama, dengan menteleportasikannya ke luar Hutan Peri—dengan kondisi tetap telanjang bulat.
Bergemetar dalam keputusasaan, takut, dan ketidakmampuannya, Sigurd melihat wujud Tellaura yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Tetapi saat itu juga....
“Jangan sentuh putraku, dasar monster!”
Keduanya mendengar jeritan Greimwald.
“Selain membunuh anak buahnya, kauingin membunuh putraku juga?! Sudah kuduga kau ini memang benar-benar—“
“Aku selalu, selalu, selalu saja membencimu!
“Bunuhlah aku, Laura. Setelah semua yang kuperbuat pada kalian, aku—“
“Berisik, dasar Babi-Babi busuk." Tellaura memandang Sigurd rendah dengan tatapannya yang melotot. "Kalian sudah tidak memiliki kewajiban untuk mengatakan apapun lagi padaku. Kaupikir aku akan membunuhmu langsung? Itu hanya akan jadi pengampunan untukmu dan aku TIDAK AKAN melakukannya.
“Kau dengar adikku merintih, bukan? Apa itu begitu nikmat di telingamu? Kalau begitu, bagaimana bila rintihanmu didengar ayahmu sendiri?
“Kau menyalahkan ayahmu, namun kau tidak pernah mencoba untuk berhenti. Jika otak kecilmu itu masih bisa digunakan untuk mengingat, coba ingatlah seberapa sering kami—dan para penduduk Lazuli lain—sudah sering meminta kalian untuk mengampuni kami?
“Tidak pernah kalian dengarkan, bukan?
“Sekarang, inilah pembalasannya.”
Tellaura menarik Greimwald dengan telekinesisnya. Ia juga memaksa ayah-anak itu duduk diam di tempat dengan teknik yang sama. Kemudian, Tellaura menciptakan sebilah pedang murni api, dan memulai pembalasannya.
__ADS_1
Sigurd yang melihat apa yang ada diciptakan Tellaura itu, mendadak semakin takut dan mulai menangis. “Ti-tidak! Ja-jangan lakukan ini, Laura! A-aku mohon padamu...!
“TI-TIDAAAKK!”
Mata Greimwald tak kuasa melihat bagaimana satu per satu tubuh anaknya terlepas dan mengucurkan darah dengan luka bakar yang serius. “Kau benar-benar monster...,” ujarnya sambil menutup mata.
“Ya. Aku monster. Kaulah yang menciptakan monster ini.”
Greimwald tersentak mendengarnya. Ia juga menitikkan air matanya.
“Jangan pernah lupakan itu, bahkan setelah mati. Karena bila aku menyusul kalian nanti, aku tetap takkan memaafkan kalian.”
‘ZRSHT!’
Greimwald tergeletak bersimbah darah dengan luka lubang di jantungnya. Di sekitar lubang tersebut pun ada luka hangus.
.
.
.
.
“HAHAHAHA!” Morgan tertawa dengan kerasnya. “Lihatlah! Aku heran kenapa Feline selalu ingin memusuhi Manusia, tetapi aku tak bisa tidak sepaham dengannya. Tak ada ampun, cara yang keji dan setimpal, mereka selalu menjunjung tinggi kesamarataan!
“Manusia itu ... benar-benar makhluk yang menarik untuk diusik....”
Namun setelahnya, Tellaura datang tepat di hadapannya, dengan teleportasi. Ia benar-benar dibuat kaget setengah mati. “Ma-mau apa kau?!”
“Bawa aku ke hadapan Feline.”
“Ingin apa kau menghadapnya?”
Tellaura tersenyum. “Negosiasi.”
__ADS_1