
Dibawah teriknya surya, ditemani rimbun pepohonan dan merdunya melodi kicau para burung, desa Lazuli tampak damai seperti biasa. Kedamaian untuk tempat ini takkan bisa didapat apabila Zeeta tidak serius dalam menjalani perannya sebagai Tuan Putri. Di usianya yang saat itu masih delapan tahun, mendapatkan sekutu dari berbagai makhluk sihir tidaklah bisa dilakukan dengan mudah. Namun, benarkah semua itu dilakukan Zeeta sendirian? Apakah benar makhluk-makhluk sihir yang telah menjadi teman baginya benar-benar disebabkan karena pengakuan terhadap kekuatan Zeeta, dan bantuan yang diberikan karena diusia belianya, dia memikul beban berat dunia?
Bagaimana jika ....
Bagaimana jika ungkapan "sekutu" atau teman yang diungkapkan salah satu dari mereka hanyalah salah satu kartu untuk menumbangkan Zeeta...?
Tapi kali ini, tiada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Dimomen hangat ini, Zeeta bersama keluarga Lazuli-nya memutuskan untuk mengadakan pesta lagi. Bahkan, desa-desa tetangga yang ingin ikut memeriahkan kepulangan Zeeta sebagai keluarga Lazuli, disambut baik oleh mereka. Sehingga kini, lautan manusia yang tumpah dari kedai A n' Z adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Di lautan manusia itu, tentunya telah disiapkan set meja, meskipun tidak sedikit yang tidak kebagian dan harus berdiri. Ada pula kehadiran Crescent Void lain yang diundang oleh Danny dan Gerda untuk menepati janjinya pada Zeeta.
Zeeta yang ada di dalam kedai, telah memakai celemeknya. Dia berpose dengan menekuk tangan kanannya dan memegang otot bisep-nya dengan tangan kiri. Kemudian dia berkata sambil berapi-api, "Baiklah semuanya! Ini sudah tengah hari! Bicara tentang tengah hari, tentu saja makanan-slash-minuman yang paling diinginkan adalah es, bukan?!"
"Yaaaa!!" balas para pengunjung yang tak kalah semangat.
"Tunggulah! Hasil kreasiku selama latihanku di negeri yang jauh! Tak bisa diragukan lagi kalian akan ketagihan dan mustahil melupakan rasanya!"
Para pengunjung meneteskan liurnya.
"A-apakah seenak itu...?" tanya salah satu pengunjung.
Zeeta menyeringai. "Ho ho... kauingin bilang kau meragukan aku?"
"Ti-tidak! Hanya saja... aku belum pernah menemukan masakan lain yang seenak buatan Arthur...." Ia menggaruk kepalanya.
"Cih cih cih...!" Zeeta menggerakkan telunjuk kirinya ke kanan dan kiri. "Seorang murid bisa saja melampaui gurunya, bukan?
"Ayah! Mari kita bertanding!"
"Ohhh?!" para pengunjung semakin bersemangat.
Arthur tersenyum kecut. "Heh! Dasar, pulang-pulang jadi anak yang sombong!
"Baiklah! Kuterima tantanganmu!"
Arthur tersenyum lebar lalu masuk ke dapur.
......................
"Oooooooo!!!" jeritan semangat dari para pengunjung menyebar sampai luar, membuat para Crescent Void menghela napas. Mereka berkelompok di bawah teduhnya pohon.
"Kemeriahan di sini sekan-akan festival Evergreen sudah kalah hanya karena keberadaan mereka...," ujar Colette.
"Apa ini baik saja, Gerda?" Mellynda bertanya.
"Hmm? Tentang apa?" tanya Gerda.
"Jumlah pengunjung seperti ini ... dilihat darimana pun gila sekali, 'kan? Apa kauyakin tidak membantunya?"
"Hahaha.... Apa dia bilang butuh bantuan, Danny?" Gerda tersenyum.
"Tidak." Danny juga tersenyum.
"Meskipun kubenci mengakuinya, kalau sudah memasak, gairah semangat anak itu sangat berbeda sekali.
"Kautahu? Sebelum kami dan anak-lain, termasuk Zeeta sendiri belum tahu kalau dia adalah Tuan Putri, dia bermimpi untuk jadi koki handal seperti paman Arthur."
__ADS_1
Gerda menyilangkan tangannya.
"Begitu, ya...." Mellynda tersenyum. "Meski dia sudah menerima siapa dirinya, dia tetap tidak melupakan mimpinya, ya.... Bukankah itu indah?"
Danny dan Gerda membalas senyumannya. "Tentu saja!" jawab mereka bersamaan.
"Hnngggghhh...." Marcus meregangkan tubuhnya. "Kerajaan damai dengan interaksi penduduk dan Tuan Putri yang seperti ini selalu kudambakan sejak aku masih jadi Pasukan Alexandrita.
"Kedamaian itu sekarang ada di hadapan mata kita, dan peran kita selanjutnya adalah melindunginya."
"Tidak secepat itu, Marcus." Suara lelaki yang dikenali mereka muncul dari sisi kiri mereka. Ia datang dari arah Hutan Peri.
"Pangeran Klutzie!" seru Crescent Void.
"Apa maksudmu, Pangeran?" tanya Marcus, berubah serius.
"Zeeta hendak mengajakku ke Nebula. Dia mengetahui sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kondisi ceria begini.
"Kurasa kita harus bersiap untuk suatu fakta pahit."
Gerda berjalan menghampiri Klutzie lalu menarik kerahnya. Klutzie tidak menduga ini.
"Tak peduli meskipun kau Pangeran atau bukan, aku paling tidak suka ada yang merusak suasana bahagia seperti ini. Meskipun kau tidak bilang tentang itu, kami semua tahu ada yang disembunyikannya, dan dia sesang menunggu waktu yang tepat!
"Ingatlah, Pangeran Asing! Kau hanyalah pesuaka di negeri ini. Kau bahkan tidak begitu mengenal Putri kami, dan kau berlagak seolah kau mengerti tentangnya.
"Jangan lupakan tentang dirimu yang pernah berniat melamar Zeeta hanya karena menilai dia tidak bisa membangun negeri ini.
"Ya. Aku tahu kau adalah Benih Yggdrasil, kau adalah Pangeran, dan kau kuat! Tapi, kausadar ada yang kurang dari dirimu sebagai manusia setelah melihat Putri kami, 'kan?!
"Untukku, aku merasakannya. Dia hanyalah gadis cengeng, penakut, dan sering galau tentang masalah kecil! Lihatlah dirinya yang sekarang. Dia menerima siapa dirinya, dia tahu bebannya, dan dia tetap tersenyum dan ceria seperti itu.
"Berpikirlah dengan otak bangsawan itu, bisakah kau mengemban beban yang sama? Hah!?"
Klutzie mengepalkan tangannya erat-erat, kemudian menepis tangan Gerda. Ia meledakkan emosinya seketika. "Jangan bicara seolah kau yang paling benar, Gerda!
"Apa yang kautahu tentangku, hah?!
"Bahkan kalau orang-orangku masih ada, aku takkan sudi bersuaka di kerajaan lain!
"Ayah dan ibuku, juga rakyatku hilang tanpa jejak! Pelayanku Sebas juga sudah mati karena kakak kandungku sendiri.
"Sadarlah! Zeeta bisa sampai sejauh ini hanya karena dia dibantu banyak makhluk sihir!"
"Hentikan, Lutz!" Siren datang dari arah yang sama seperti Klutzie. "Jangan berkata yang akan membuatmu menyesal."
"Mana bisa aku menahannya lagi?! Orang ini, bicara seolah dia paham tentang kehilangan keluarga dan rakyatnya, juga ketidakmampuannya sebagai orang penting.
"Berkacalah pada dirimu sendiri! Apa kaubisa ada di posisi kami?!
"Ya, beban yang kupikul tidaklah sebanding dengan Zeeta, tapi aku adalah Pangeran! Pangeran apa yang tidak bisa tahu mengapa rakyatnya sendiri hilang tanpa jejak?!"
Klutzie meneteskan air matanya. Hal ini membuat Gerda merasa bersalah atas ucapannya sendiri.
__ADS_1
Danny maju ke sisi mereka. "Klutzie!" panggilnya tegas. Ia memegang kepala Gerda untuk memaksanya menunduk. "Maafkan aku! Sebagai Kakak, aku tak bisa mengajarkannya sopan santun! Kumohon, maafkan dia. Ini adalah salah satu sifatnya yang tidak bisa menahan ucapannya." Ia ikut menunduk. "Aku sering menerima ucapan kasar darinya, tapi aku tahu dia adalah Adik yang baik dan peduli pada siapapun. Ucapan kasarnya padamu juga sebenarnya memiliki niat yang baik.
"Bila ucapannya menggores hatimu, salahkan saja aku. Tapi, aku merasa sebaiknya kita memang tunggu saja Zeeta sampai menyelesaikan masakannya. Terik panas ini membuat kita semua emosi."
Dibalik tunduk yang dipaksa, Gerda menggigit bibirnya, matanya berlinang, ia juga mencengkeram seragamnya.
Klutzie mengusap tangisnya. "Biarkan aku sendiri." Ia lalu mengangkat kaki ke arah ia datang tadi. Siren mengikutinya.
Semua perdebatan itu jadi tontonan para rakyat. Danny meneruskan ucapan minta maafnya karena sudah menyebabkan keributan tak menyenangkan.
......................
[Kediaman Recko....]
Danny dan Gerda pulang sesaat untuk menenangkan hati Gerda. Kedua orang tuanya tidak di sini, mereka masih ada di kedai A n' Z.
Di ruang keluarga, Danny menyuguhkan jus renjie untuk adiknya. "Minumlah. Ini kesukaanmu, 'kan?"
Tanpa mengucapkan apapun, Gerda menerima lalu segera meneguknya.
Danny duduk di sofa sambil menekuk kaki kanan di atas paha kirinya.
"Aku tahu kaupeduli dengan Zeeta, tapi setelah ini minta maaflah padanya dengan mulutmu sendiri. Kau berlebihan. Setelah mendengar situasi pangeran itu dari Siren, tidak seharusnya kaubicara begitu."
Gerda mencengkeram rok-nya. Ia menundukkan kepala.
"Jangan pernah terbesit pikiran kalau aku membencimu, dasar Adik bodoh."
Gerda segera mendongak. Ia kaget kenapa kakaknya tahu apa yang ia pikirkan.
"Entah seperti apa kaubicara kasar padaku, aku takkan mempermasalahkannya. Tapi, terkadang aku pun bisa marah padamu, dan aku akan membelamu jika kau dalam masalah.
"Ucapanmu yang kasar, tidak semua orang bisa menerimanya begitu saja. Meskipun sebenarnya tidak terdengar begitu kasar, ucapanmu melukai perasaannya.
"Aku adalah Kakakmu. Aku tahu Adikku peduli padaku entah apapun yang dia katakan padaku. Tapi, jika itu orang lain....
"Kau mengerti, Gerda?"
.
.
.
.
"Uhm. Aku mengerti." Gerda kembali menunduk. "Maafkan aku, Kakak...." Ia mengucapkannya pelan.
Danny tersenyum, kemudian menghampirinya. "Ya!" ia mengelus kepala Adiknya. "Baiklah, kalau kau sudah tenang, sebelum Zeeta selesai, segeralah minta maaf padanya. Oke?"
"Uhm. Baiklah." Gerda menurutinya. Ia segera keluar dan mencari batang hidung Klutzie.
"Dasar.... Kalau penurut begitu, dia bisa menggaet banyak hati lelaki. Sungguh, Adikku terkadang bisa imut sekali!"
__ADS_1