Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ingatan Manis Hellenia (2/2)


__ADS_3

Tengah hari. Terik matahari yang sedang berada di titik puncaknya, terasa menambah sakit yang diterima oleh murid-murid Akademi Dormant. Ya, mereka sudah disembuhkan oleh Willmurd dan Ashley, namun itu masih belum cukup. Mana mereka belum cukup terpulihkan. Tapi... seorang di antara mereka, yang sebelumnya berbicara cukup dekat dengan Alicia, membuka matanya setelah ikut menjadi korban.


Orang itu adalah lelaki seumuran—lebih tua satu tahun dari Alicia, berambut lurus berwarna cokelat kehitaman serta memiliki mata merah gelap yang sedikit sipit. Ia memakai seragam Akademi Dormant—sama seperti yang lain—yang merupakan kemeja putih pendek, berdasi hitam, dan berjubah putih panjang yang sudah kotor karena noda tanah, serta pada bagian punggungnya terdapat emblem Dormant, yakni seekor kupu-kupu berwarna biru.


Setelah beberapa saat ia mengingat apa yang terjadi, ia berdiri, lalu melemaskan tubuh bagian leher serta lengannya. Tak lama kemudian, Erigona yang sebelumnya telah membelah diri, mendatanginya. Mata merah gelap lelaki itu tampak menyala, kemudian ia berkata dengan nada yang mantap, "Tunggulah aku Alicia. Aku akan menyelamatkanmu!"


Sementara itu, disaat yang sama dengan lelaki itu sadarkan diri, Erigona hadir di dekat Hellen dan Arthur.


"Ma-mana macam apa ini? Apa dia Erigona yang sebelumnya?" batin Arthur, "*a*pa yang harus kulakukan? Aku tak bisa apa-apa jika begini terus! Untuk melindungi Nona Hellenia saja aku takkan mampu!" Arthur mengeratkan dekapannya pada Hellen. Dan tanpa disadari Arthur, Hellen melakukan sesuatu terhadap lukanya.


......................


Willmurd dan Alicia yang akan berhadapan dengan Erigona, merasakan mana milik Ashley melemah.


"Apa yang... mengapa mana milik Guru...?" gumam Alicia. Ia mematung.


"Jangan bilang kalau Beliau sudah...," gumam Willmurd.


Mendengar ucapan mereka barusan, Erigona memiringkan kepalanya sampai tampak seperti patah, lalu tersenyum lebar. "Sudah berakhir!" teriaknya.


Alicia mencengkeram tangannya, melihat lawannya dengan emosi. "Oh, begitu?" ucapnya, "kalau begitu aku akan serius."


Anting bulan setengah lingkarannya bercahaya. Aura berwarna ungu muncul dari anting tersebut lalu menyelimuti tubuhnya. Melihat perubahan mana dari Alicia, Erigona membenarkan posisi kepalanya lalu menjilat bibirnya—seperti sedang menantikan makanan lezat yang akan disantapnya.


"Putri Alicia, jangan memaksakan diri Anda!" seru Willmurd yang mencemaskannya.


"Tenang saja, Tuan Will," jawab Alicia, "lebih baik kaucemaskan dulu keselamatanmu. Hari ini, anakmu akan menikah, bukan?" Alicia tersenyum.


"Tapi... Anda lebih penting daripa—"


"Jangan begitu, Tuan Will." Alicia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke Erigona sambil memusatkan mana-nya di telapak kanannya. "Semua orang memiliki keluarga, dan aku sangat tahu betapa pentingnya sebuah keluarga itu." Ia kemudian berlari kepada Erigona.


"Aku tahu seranganku pasti akan kauserap. Kau juga pasti tahu bahwa mana-ku ini sedap, bukan?" batin Alicia ditengah berlarinya. "Kalau begitu, makanlah ini!"


Alicia yang sudah dekat dengan Erigona kemudian melontarkan dirinya dengan sihir di kaki untuk meninju inti yang ada di perut makhluk sihir tersebut. Tetapi, sesaat sebelum kepalan tangan kanannya mendarat pada dirinya, ia justru membelah setengah tubuhnya.


"A-apa?!" Alicia terkejut.


"Putri Alicia!!" Willmurd berniat untuk menyelamatkan Alicia secepat yang ia bisa, namun....


Dari tubuhnya yang terbelah, ia memerangkap tangan sekujur lengan kanan Alicia. Oleh karenanya, rencana Alicia yang ingin menghancurkan tubuh Erigona dengan sihir yang diserap, justru membuat kebanyakan mana-nya terserap.


"Sial! Aku terlalu naif!


"TAPI!!"


Alicia tidak kehabisan ide untuk melawan musuh ini.


"Tuan Putri, aku akan menyelamatkanmu!" pekik Will kemudian berlari.


"Jangan, atau kau akan kena!" balas Alicia.


Sadar bahwa Alicia akan melakukan sesuatu, Erigona sengaja melepas Alicia kemudian menjauh darinya. Sesaat setelah lengannya terlepas, Alicia jatuh bertekuk lutut.


"Haaah ... haaah... kekuatanku...." Alicia melihat tangannya bergemetar.


"Untuk makhluk sihir yang baru terlahir sepertimu ... tampaknya kaubisa mengetahui bahaya yang mendekatimu, ya?" kata Alicia, "meskipun begitu ... kau masih tidak peka terhadapnya." Alicia tersenyum.


"Huh?" Erigona memiringkan kepalanya. Tak lama kemudian, ia kepanikan. "Kau... kau menjebakku?!"


"Hoo? Kausadar?" Alicia tersenyum kecut.


Tubuh Erigona itu perlahan membengkak, yang lama kelamaan semakin membesar dan terus membesar.


"Si-sial! Padahal aku ingin mana sedap itu lagiii!"


'BWHAAMM!'


Tubuh salah satu klon Erigona itu meledak hingga hancur tak bersisa.


Jika saja Erigona tak menjauh dari Alicia, bisa saja dirinya ikut meledak bersama Erigona. Oleh karena itu, ia memerintah Willmurd agar menjauh, supaya Erigona mengambil jarak karena waspada. Meski naif dan sangat berisiko, Alicia berhasil mengalahkan Erigona. Namun, karena kehilangan banyak mana-nya, akhirnya ia terpelanting ke tanah dan hilang kesadaran.


"Putri Alicia!" Willmurd segera berlari ke Alicia kemudian menyembuhkannya.


......................


Kerajaan Aurora, sejak pertama kali eksis, memiliki lima tembok utama. Tembok pertama; yaitu tembok untuk menjadi perlindungan terluar dari kerajaan, juga termasuk dalam Wilayah Selatan— mengecualikan desa-desa yang terletak di luar kerajaan, seperti Lazuli dan Lapis misalnya. Lalu ada tiga tembok lain yang melapisi wilayah-wilayah utama kerajaan; seperti Utara, Barat, dan Timur. Kemudian yang terakhir; adalah tembok yang melapisi istana kerajaan.


Desa-desa yang terletak di luar kerajaan, bukan berarti tidak memiliki perlindungan. Apabila bangsawan utama memiliki rasa tanggung jawab yang benar, maka desa-desa tersebut akan selalu terlindungi meskipun ada di luar kerajaan. Misalnya, apabila desa-desa di Wilayah Utara terjadi suatu masalah dari makhluk sihir atau ancaman lain, namun bangsawan utama Wilayah Utara tersebut sedang tidak dalam posisi Wilayahnya, maka bangsawan utama lain diizinkan untuk mengambil tindakan evakuasi atau perlindungan darurat dengan memasukkan rakyat tersebut masuk ke dalam kerajaan.


Sekarang, hal inilah yang terjadi. Seluruh penghuni desa di tiap wilayah utama kerajaan sudah diungsikan. Hal ini bisa dilakukan hanya dalam tiga puluh menit sejak Peringatan Darurat Satu diumumkan oleh Brandia, Orima, dan Elze, sebab sihir teleportasi dan alat sihir mereka yang memungkinkan untuk berpindah tempat dalam jarak tertentu secara instan, yang disebut Glass Port.

__ADS_1


Para prajurit kerajaan, melalui perintah Scarlet, telah bersiaga di tiap tembok-tembok wilayah utama dengan persiapan lengkap. Meskipun tampak akan terjadi sesuatu yang menegangkan, Scarlet masih belum memberi tahu mengapa ia melakukan ini secara mendadak, bahkan kepada bangawan-bangsawan utama yang saat ini sudah bersamanya di gerbang Wilayah Selatan.


Para bangsawan yang sudah berkumpul tersebut, merasakan mana Alicia turun drastis secara tiba-tiba.


"Ratu ... Tuan Putri...," kata Brandia, dengan wajah cemas.


"Tidak. Apapun yang terjadi, mereka takkan dibantu," jawab Scarlet, "kita memiliki tanggung jawab besar di sini." Scarlet mencengkeram kuat kedua tangannya.


Orima dan Elze hanya bisa diam menatap cengkeraman tangan Ratu mereka.


Beberapa saat kemudian, Scarlet membuka sebuah portal dari sihirnya. Portal tersebut menunjukkan desa Lazuli. "Ikut aku," ujarnya seraya masuk ke dalam portal.


Ketika mereka sampai di desa Lazuli yang sudah sepi tak berpenghuni setelah proses pengungsian, ia mengeluarkan Buku Sihirnya. "Kalian juga!" perintahnya. Merekapun mengikuti perintah Scarlet tanpa tahu apa maksud sebenarnya.


"Ratu Feline, keluarkan batang hidungmu sekarang juga!" teriak Scarlet.


"Eh?!" Orima, Brandia, dan Elze begitu terkejut setelah mendengarnya.


"A-a-a-apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?!" Brandia benar-benar panik.


"Diam dan bersiaplah dengan sihir kalian. Aku sudah muak dengan perbuatan mereka," jawab Scarlet. Ia menjawabnya sambil menatap tajam hutan yang ada di seberang mereka.


Bangsawan utama itu tampak berkeringat dingin. Mau tak mau, jika sudah melihat Scarlet seperti ini, mereka hanya bisa menuruti perintahnya.


Beberapa saat kemudian Feline menunjukkan dirinya.


"Aku sudah melihat gelagatmu sejak kau memerintahkan Perintah Darurat Satu, apa yang ingin kaulakukan?" tanya Feline.


"Oh? Kau terus mengawasi kami, ya? Lalu, katakan padaku, di mana Morgan berada?"


"Morgan...?" gumam Elze, "Peri yang selalu ada bersama Anda, Yang Mulia?"


"Ya. Dia pikir aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Memangnya aku ini siapa, sampai dianggap seperti batu kerikil...?" jawab Scarlet, "Ratu Feline, kau yang mengutus Morgan padaku. Aku tidak ingin bilang bahwa kaulah yang menyuruhnya mengevolusikan Erigona ke bentuk sempurna, tapi katakan padaku di mana dia!"


"A-apa?! Morgan yang...?" Elze tak percaya.


"Hmm...? Maksudmu... Morgan sengaja ingin mengambil nyawa Nona Alicia?!" tanya Brandia, berbisik pada Elze.


"Ya. Dia juga menginginkan Grand Duchess," jawab Elze.


"Hei hei hei... apa maksudmu kita akan berperang dengan Peri?!" Orima panik.


"Tidak, dasar otak udang!" pekik Scarlet, "hanya karena satu Peri berwatak seperti Morgan bukan berarti semua Peri sama dengannya."


"Maafkan atas ketidaksopanan kami. Aku sedang dihimpit oleh waktu," ujar Scarlet, mewakili bawahannya.


"Hmm." Feline mengernyit, "lalu, apa maksudmu mengeluarkan Buku Sihir itu? Ancaman apa yang hendak kau lakukan? Asal kau tahu, tanpaku kalian takkan—"


"Sadarilah situasinya, dasar Peri yang tidak peka! Apa kau benar-benar akan menganggap kami datang tanpa persiapan lengkap, jika dibalik hutan itu ada sesuatu yang kausembunyikan?"


Feline tampak sedikit terkejut. "Bagaimama kaubisa tahu?" tanyanya.


"Kukatakan, apa gunanya untukmu? Sekarang, yang lebih penting daripada itu, cepat katakan padaku di mana Morgan berada!"


"Kau benar-benar Manusia yang sangat mudah mendapatkan musuh, ya, Scarlet." Feline tersenyum.


Mendengar ini, Scarlet menggertakkan giginya. "Cepat katakan, Peri! Hidup putriku sedang terancam!"


Feline tampak tak ingin merubah keputusannya. "Scarlet. Apa kau tak ingin cara termudah untuk menghindari masa depan Aurora jadi lebih cerah?" tanya Feline, "mengapa kau tidak biarkan saja Alicia mati di tangan Erigona, dan anak bernama Zeeta itu takkan lahir menjadi penghancur dunia?"


Brandia, Elze, dan Orima terkejut mendengarnya.


Aura merah gelap muncul dengan pekatnya. Tanah bergetar, burung-burung terbang ketakutan. Mata merahnya menyala.


Brandia, Orima, dan Elze hanya bisa terpatung dan berharap semuanya akan baik-baik saja.


"Kau benar-benar serius mengatakan itu, setelah tiga ratus tahun? Jika kauingin yang lebih mudah, mengapa kau justru membiarkan kerajaan Aurora tetap hidup?"


Feline tersenyum. "Hahaha. Tenanglah, aku hanya bercanda. Morgan berada di hutan Wilayah Barat, dia masih menikmati tontonannya."


Aura merah gelap tersebut hilang mendadak, "Semuanya, aku akan—"


"Jika kau sudah siap dengan Perintah Darurat Satu, lebih baik kau tinggal di sini. Erigona itu bukanlah tandingan mereka... jika dalam jumlah banyak," tukas Feline.


"Jangan-jangan...?!" Scarlet terlihat panik.


"Aku tidak tahu, yang pasti kau tinggallah di sini. Aku akan membantu pertahanan kalian."


Scarlet menghilangkan Buku Sihirnya, diikuti bangsawan utama lain.


"Aku takkan pernah melupakan apa yang baru saja kaukatakan meskipun itu sebuah candaan atau tidak. Untuk saat ini, aku akan menuruti permainanmu, Ratu Feline." Scarlet membuka portal menuju markas prajurit.

__ADS_1


Tanpa menjawab Scarlet, Feline hanya bisa tersenyum dan mengikuti Scarlet dari belakang.


Sementara itu, di waktu yang sama....


......................


Hellen dan Arthur yang sedang berhadapan dengan klon Erigona lain, masih dalam posisi yang sama—untuk beberapa waktu. Dengan langkah pelan, Erigona itu siap menyantap mana yang ia rasakan dari mereka. Ia mempersiapkan tangan runcingnya.


Melihat Erigona semakin mendekati mereka, Arthur semakin mendekap Hellen. "Nona, maafkan aku selama hampir satu jam ini, hanya bisa terdiam tanpa berbuat apapun," kata Arthur, "aku merasa malu dan tak pantas telah menyentuh bangsawan utama seperti Anda...."


"Arthur, jika kaubisa bertarung saat ini, apa kauyakin bisa mengalahkannya?" tanya Hellen.


"Y-ya, aku yakin."


"Jika satu sampai sepuluh, seberapa besar percaya dirimu itu?"


"Sembilan."


"Oh?" Hellen tersenyum. "Lakukanlah!"


"Eh? Ta-tapi...."


"Apa kau sebegitu inginnya memelukku sampai kau tidak sadar punggungmu sudah normal kembali?" tanya Hellen. "*Kyaaaa! Kenapa aku bisa mengatakannya dengan penuh percaya diri?


"Ba-ba-bagaimana jika dia sadar atas perasaanku*?!"


"O-oh...? Anda benar!" tanpa melepas dekapan pada Hellen, Arthur mengangkatnya dan membuat jarak dari Erigona. Saat ini, ia seperti menggendong ala tuan putri, dan itu berhasil membuat gadis berusia tujuh belas tahun itu berdegup kencang dan merah semerah tomat.


"Hellen, apa kaubisa berdiri?" tanya Arthur, yang terbawa suasana. Mendengar dirinya dipanggil dengan nama langsung, membuat Hellen semakin berdegup.


"A-aku tidak kuat...," kata Hellen. Kali ini ia jujur dari dalam hatinya.


"Baiklah, serahkan padaku. Aku akan membereskan ini dengan cepat." Arthur membuat sebuah cushion kapas berwarna merah muda yang melayang, lalu mendudukkan Hellen di situ.


"Mana milik Tuan Putri serta Grand Duchess melemah, aku tidak memiliki waktu untuk bermain denganmu!" seru Arthur yang mengeluarkan aura putih.


Ia mebuat sesuatu dari sihirnya, yaitu sebuah vacuum cleaner yang kepalanya dibuat melonjong. "Jika kau menyerap, aku juga akan menyerapmu!" ia mengatakannya, sambil yakin seratus persen bahwa ia keren.


Tapi, ajang pamer kekuatan itu tidak jadi ia lakukan. Secara mendadak, Erigona itu menghilang bagaikan asap.


"A-apa yang...?" Arthur menghilangkan "pembersih debu"-nya.


Tiba-tiba, ia mendengar suara lelaki.


"Arthur, kaudengar aku?!" jerit suara tersebut. Ia terdengar panik.


"Hazell Levant, kah? Ada apa?" tanya Arthur. Hellen mendengar Arthur berbicara sendiri.


"Jangan tanya apapun dulu, bagaimana dengan mana-mu? Apa kau baik-baik saja?"


"Ya, aku baru disembuhkan Nona Hellen."


"Kalau begitu, bantu aku! Erigona akan menyerang Aurora!"


Arthur mengerenyitkan matanya. "Apa yang harus kulakukan?"


"Buatlah pelindung. Aku akan—"


Ucapan lelaki bernama Hazell itu terputus, mereka mendengar suara lain yang terdengar mendengung—layaknya melalui speaker besar.


"Terlambat. Kalian terlambat, manusia!" kata suara itu, "aku sudah menyerap mana Tuan Putri Aurora! Ah... rasanya begitu lezat! Kelihatannya di tembok sana ada mana yang jauh lebih sedap. Jangan ada yang berani menggangguku, jika tidak...." suara yang bersumber dari Erigona itu terjeda.


Hazell—lelaki berambut cokelat kehitaman serta bermata merah yang sebelumnya ingin menyelamatkan Alicia, berada di dekat Grand Duchess dan Erigona yang asli. Ia terbelalak.


Erigona itu melakukan hal yang sama sebelum ia memperbanyak diri saat melawan Ashley. Dengan jumlah yang lebih banyak—ratusan dari Erigona—terbentuk melalui pepohonan di hutan yang telah ditancapkan batang runcing dari punggungnya. Ratusan Erigona itu merubah batang runcingnya menjadi sayap, lalu melesat ke kerajaan.


Sadar akan bahayanya, Hazell berteriak. "ARRTHUUURR!!"


Teriakan lantang itu terdengar samar oleh Arthur. Ia yang sudah melapisi tubuhnya dengan aura putih, berkuda-kuda.


"Suara itu... Tuan Zell? Perasaan tidak enak apa ini?" batin Hellen.


"Aku takkan membiarkan makhluk itu berbuat seenaknya terus! Saat ini juga, aku harus melampaui batasku!" batin Arthur.


"HUAAAAAGGHHH!" Aura putih Arthur membesar—lebih besar dari ukuran tubuhnya yang berotot. Di saat yang sama, ia merentangkan tangan, lalu menepuk dan mengunci telapak tangannya.


Tanah bergemuruh, perlahan tapi pasti, sebuah pelindung berwarna putih kecokelatan muncul melingkari area yang menjadi arena pertarungan mereka—bahkan jauh lebih besar.


Sadar bahwa pelindung itu akan menjebak mereka, sayangnya, banyak Erigona yang lolos sebelum pelindung itu benar-benar tertutup.


Melihat banyaknya jumlah Erigona yang lolos serta terperangkap, Hellen terbelalak.

__ADS_1


Setelah pelindung buatannya tertutup, Arthur jatuh terpelungkup. Sihir cushion kapasnya juga hilang. Tangan dan kakinya bergemetar sambil terengah, ia kehilangan cukup banyak mana.


__ADS_2