Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Masa Lalu Suzy


__ADS_3

Kerajaan Nebula... sebuah kerajaan berteknologi mutakhir yang rata-ratanya ditemukan oleh sang tuan putri, Suzy Nebula I. Salah satu yang paling dibanggakan mereka adalah teknologi nano, yaitu suatu teknologi yang tidak seharusnya ada di dunia yang segala sesuatunya bergantung pada sihir ini.


Dengan teknologi ini, Nebula bisa mengontrol rakyatnya menjadi lebih kuat, lebih kebal, atau bahkan bisa menyembuhkan penyakit-slash-luka berat yang diderita, tanpa harus memiliki seseorang yang memiliki mana besar, ataupun harus bergantung pada bangsawan.


Di kerajaan ini, Raja memang jadi kepala pemerintahan sekaligus kepala negara, tetapi rakyat juga tidak begitu harus bergantung padanya karena mereka bisa hidup dengan kekuatan mereka sendiri. Dengan kondisi timbal-balik yang seperti itu, maka bisa dikatakan Nebula adalah kerajaan yang makmur tanpa adanya pertikaian... sampai suatu hari sang tuan putri bergelagat aneh ketika mendengar percakapan dari rekan satu laboratoriumnya.


"Hei, tidakkah kaupikir teknologi nano yang kita ciptakan ini sama seperti menciptakan senjata yang paling hebat sedunia?" ucap peneliti A.


"Oh? Kau memikirkan apa yang kupikirkan? Dengan teknologi ini, kita bahkan tidak membutuhkan sihir untuk kehidupan sehari-hari. Rasanya angin segar datang ke kehidupan kita dan seharusnya kita bisa merasakannya lebih banyak lagi!" balas peneliti B.


"Apa Tuan Putri juga memikirkan hal ini, ya? Bukankah cetak biru teknologi ini dibuat olehya?" tanya peniliti C.


"Ah, kau tidak perlu memikirkan apa yang dia pikirkan. Pikiran dia terlalu jauh untuk kita pahami. Yang lebih penting, kita bisa nikmati teknologi ini, dan suatu saat Nebula akan jadi pusat dunia dimana kita akan menjadi yang terkuat!" seru peneliti A.


"Hahaha! Kau benar! Bayangkan saja apa yang bisa kita lakukan dengan teknologi ini. Mengalahkan makhluk sihir pasti mudah untuk kita, bwahahahaha!" seru peneliti B.


"Tidak, bahkan kita bisa saja lebih kuat dari omong kosong Tuan Putri tentang Pohon Kehidupan Dunia itu!" seru peneliti C.


Kedua peneliti lain memandangi peneliti C, lalu mereka saling menatap satu sama lain. "Bwahahaha!" peneliti A terbahak-bahak sambil memukul bahu peneliti C. "Kau lebih busuk dari yang kami kira! Hahaha, kau benar sekali! Omong kosong tentang pohon itu mana ada di dunia ini! Bwahahaha!"


"Selamat datang, selamat datang! Dengan adanya kita, teknologi ini bisa kita rebut dari Pemimpi Bodoh itu, mwahahaha!"


.


.


.


.


"JANGAN BERMAIN-MAIN DENGANKU, DASAR PENGKHIANAT!"


'BWOOOMMM!'


Ketiga peneliti itu tergeletak tak berdaya setelah menerima pukulan keras dari Suzy. Kala itu, matanya bersinar merah. Rambut prang keemasannya pun melawan gravitasi.


"Anak ini membuat benda seperti ini demi kenyamanan hidup kalian! Dia rela diolok-olok oleh rakyatnya sendiri seperti yang kalian lakukan, tapi inikah yang dia terima sebagai hasil jerih payahnya?!


"Apanya yang 'Nebula kerajaan terkuat'!?


"Apanya yang 'lebih kuat dari Pohon Kehidupan Dunia'?!


"Kalian... kalian sama sekali tak pantas untuk dibiarkan hidup!"

__ADS_1


......................


Hari itu... telah dianggap terjadi sebuah kecelakaan penelitian di laboratorium Suzy oleh pihak berwajib. Namun, ketiga peneliti itu menjadi korban nyawa sementara Suzy tidak sadarkan diri selama tiga hari tiga malam. Teknologi nano yang dibangga-banggakan rakyat sebelumnya perlahan-lahan dipertanyakan, apakah teknologi itu benar-benar mampu membuat manusia jadi semakin kuat, bila hanya karena ledakan saja dapat menghilangkan nyawa manusia? Semakin lama, alasan mereka meragukan Suzy semakin tidak masuk akal hingga suatu hari di istana terjadi sesuatu pada Klutzie yang kala itu masih berusia tujuh tahun.


Suzy menunggu adik kesayangannya yang selalu hadir untuk belajar bersamanya tentang misteri dunia, juga tentang ilmu yang telah dipelajarinya. Sudah begitu lama ia menunggunya, namun sang adik tidak kunjung datang. Ia memutuskan untuk berkeliling ke segala penjuru istana sambil tetap memakai jubah putih laboratorium-nya untuk mencari Klutzie. Ia mencari ke dapur, ke taman, ke perpustakaan, toilet, hingga akhirnya ia memutuskan untuk ke dua tempat terakhir yang belum ia cari; ruang takhta dan kamar tidur Raja dan Ratu.


"Selamat siang, Tuan Putri!" sapa dua penjaga pintu ruang takhta.


"Ya, siang. Apa Raja ada di dalam?" tanya Suzy.


"Ya, Tuan Putri. Beliau ada di dalam."


"Oh, kalau begitu aku aka—" ketika ia akan memasuki ruang takhta, ia tiba-tiba membeku. Ia mengingat jika ayahnya pasti sedang sibuk dan tak memiliki waktu untuk mengurusinya, seperti yang biasa ia katakan padanya. Akhirnya, ia memilih untuk mengurungkan niatnya, meninggalkan dua penjaga yang bertanda tanya.


Ia lalu sampai di depan pintu kamar tidur. Ia mengetuknya dan menerima suara wanita yang lemah lembut. "Masuklah, Suzy. Ibu tahu itu kamu."


'Ceklek'


Begitu Suzy membuka pintu, ia mendapati ibunya yang terbaring di kasur dengan infus di tangannya. Kondisinya juga tampak kurus, meski begitu ia menyambut kedatangan anaknya dengan senyum hangat.


"Apa Lutz ke sini?" tanya Suzy. Ia tidak berani menatap lurus ibunya.


"Tidak, ada apa?" tanya sang ibu.


"UWAAAHH KAK SUZYYY!"


Teriakan Klutzie dari kamarnya yang terletak dua kamar dari kamar yang disinggahinya ini mengejutkan Suzy dan sang ibu.


"Lu-Lutz?!" Suzy segera berlari ke kamar Klutzie. Sementara sang ibu, ia terbelalak sambil perlahan menangis.


"Tidak mungkin...," ucapnya meratap.


Suzy yang baru sampai ke pintu terhenti. "I-Ibu...?"


"I-Ibu tidak apa, pergilah dan lihat kondisi adikmu!"


"U-uhm!" Suzy lanjut berlari.


......................


Suzy mendobrak pintu kamar Klutzie sambil berteriak, "Apa yang terjadi, Lutz?! Siapa pelaku yang berani melukai adik imut—" Suzy segera terbelalak melihat sebuah bola cahaya melayang di depan dada Klutzie. Adiknya bahkan menyeringai dengan gembiranya.


"Kak Suzy! Tebaklah! Bola-bola apa ini...?" tanya Klutzie yang gembira.

__ADS_1


Suzy perlahan ikut menyeringai. "Jangan-jangan...?"


"Uhm! Kakak dan ibu benar! Roh Yggdrasil benar-benar ada! Kalian bukanlah pemimpi dan penyebar omong kosong!"


Suzy segera menghampiri Klutzie dan meraih kedua tangannya. "Horee! Horee! Horeee!" mereka berjingkrak bersamaan.


Disaat yang sama....


"Apa yang terjadi, Lutz?!" sang ayah masuk ke kamar sambil membawa empat prajurit.


Tidak menghilangkan senyumnya, Klutzie memberitahu bola bercahaya biru itu. Begitu mendengar apa bola itu, sang Raja menggertak gigi. "SEMUANYA! LENYAPKAN MAKHLUK ITU SEKARANG JUGA, SEBELUM SEMUANYA TERLAMBAT!"


Keempat prajurit yang dibawanya segera menusuk dengan tombak yang mereka bawa, namun....


'FWSSSHHHH'


Asap menyelimuti ruangan sekaligus menghalangi pandangan semua orang. "Kasar sekali sambutan kalian. Apa kalian tidak mengerti apa yang Bocah ini katakan?" Siren muncul dalam membentuk dirinya dan mengejutkan semuanya. Suzy dan Klutzie terkejut, tetapi mereka lebih cenderung ke arah yang terkesan, sementara keempat prajurit, mereka tak percaya pemandangan ini, dan sang Raja semakin tidak suka dengan yang terjadi.


"Untuk apa kau memilih Putraku, Roh Yggdrasil?! Jauhilah dia sekarang juga!" seru sang Raja yang dipenuhi amarah.


"A-Ayah...?" tanya kedua anaknya yang ciut oleh suara menggelegar ayahnya.


......................


"Lutz...? Ada apa?" tanya Siren yang berada di saku kemeja Klutzie.


"Ah... tidak. Hanya melamun saja," jawab Klutzie.


"Benarkah?"


"Uhm. Maaf membuatmu khawatir."


"Oke, kalau begitu.... Tapi, sebaiknya fokuslah. Nebula sudah terlihat!"


"Ya. Aku tahu!" Klutzie menatap serius kerajaan yang berada di langit itu.


"Uwaaahh, hebat sekali!" ujar Zeeta, yang melunturkan keseriusan Klutzie. "Baru kali ini aku melihat kerajaan seperti ini.... Ah. Ini juga pertama kalinya kulihat kerajaan lain, hahaha!


"Bentuknya... seperti tongkat sihir.... Di mana aku pernah melihatnya, ya...?"


"Hei, Putri! Berseriuslah! Sebentar lagi kita sampai!" pekik Klutzie.


"A-ah, uhm. Maaf!"

__ADS_1


"Dasar.... Padahal sebelumnya dia mengingatkanku tentang bahaya di Nebula, tapi dia sendiri seperti tidak memedulikan bahaya itu.... Aku serasa jadi orang bodoh!" Klutzie menggerutu.


__ADS_2