
[Masa kini, saat Raja Eizen dan Pangeran Klutzie sedang berbincang di depan Vanadust.]
"Hari itu, aku dihadapkan oleh mimpi terburukku." Ucapan demi ucapan yang dilontarkan ayahnya, didengar dan disaksikan saksama oleh Klutzie. "Matahari baru saja menyingsing, burung-burung mulai berkicau dengan senandung mereka yang merdu, serta riuh masyarakatku yang semangat untuk memulai keseharian mereka, semuanya langsung kacau balau ketika serigala raksasa menggeram dengan gigi-giginya yang tajam.
"Kerajaanku yang sama sekali tidak memiliki kesiapan, segera panik dan berhamburan bagaikan semut yang rumahnya hancur. Marah, sedih, bingung, segala teriakan emosi bisa kudengar hingga keluar tembok kerajaan.
"Kami hanyalah kerajaan kecil yang kehidupannya hampir selalu bergantung pada alam. Prajurit kami pun hanya ada beberapa dan mereka tidak memiliki perlengkapan sihir sebagaimana kerajaan lain miliki. Meskipun demikian, mereka melawan, melawan, dan terus melawan.
"Pun dengan aku dan Maaya. Kami memakai segala cara yang kami bisa, baik secara persuasif maupun paksaan. Namun, seakan sengaja menutup telinganya rapat-rapat, Barghest tetap menghancurkan Gala.
"Satu-satunya yang menjadi pertanyaanku saat itu adalah ... kenapa saat ia menghancurkan apapun yang menghalanginya, kala ada rakyatku yang hendak tertindih, ia segera menyelamatkannya.
"Seolah-olah ... tujuannya menghancurkan hanyalah bangunan kami saja. Ayahku—Raja Kedua Puluh Sembilan juga mengira demikian."
"Lalu...." Klutzie menatap arah dimana Gala sebelumnya sempat berdiri kokoh. "Bagaimana kalian bisa selamat?"
Dengan senyumnya yang dilukiskan tipis, Eizen menjawab, "Kami berdua tidak bisa bersihir diluar nalar seperti yang telah dilakukan Scarlet sebelumnya pada mereka yang hadir di pesta teh, sehingga kami hanya bisa mengevakuasi semua orang ke hutan terdekat dan menyaksikan sampai Barghest selesai meratakan kerajaan kami dengan tanah."
"Bagaimana dengan tanggapan rakyat setelahnya? Pasti mereka melontarkan segala emosi mereka pada raja Barghest dan kalian sebagai bangsawan, 'kan?"
"Kami semua kala itu tidak menyangkanya."
"Eh? Apa yang terjadi memangnya?"
......................
[Empat puluh dua tahun silam.]
Langit pagi yang sudah menerangi Bumi, mendadak gelap oleh sesuatu yang melonjong di langit. Sesuatu itu tidak turun ataupun naik ke Bumi, melainkan lurus menuju satu titik—Barghest. Sesuatu tersebut juga bersinar merah kirmizi. Silau darinya membiaskan cahaya dari matahari sehingga meredupkan langit, menyerupai langit ketika gerhana tiba.
"Scarlet...?" gumam Maaya yang mendongak, ditengah-tengah kerumunan masyarakat Gala yang tengah risau.
Ketika sinar memanjang berwarna merah kirmizi itu sampai di lokasi tujuannya, ledakan menyambut, kemudian diteruskan oleh hamburan debu, kerikil, dan sisa-sisa bangunan yang menghujani. Selepasnya, jeritan yang terdengar sangat pilu dan sedih, terdengar mereka yang sedang berteduh dibalik hutan.
"KENAAPAAAAA....?!"
Mereka semua menyaksikannya. Bagaimana serigala raksasa yang sangat-sangat dibenci, yang sejak satu jam yang lalu terus saja fokus kepada apa yang sedang dilakukannya, mendadak berhenti dan kaget melihat sosok yang berteriak tersebut. Ia terpatung, seakan kegiatannya tidaklah penting lagi. Terdiamnya semua orang di sana, termasuk anak-anak, jadi bisa menyaringkan apa yang diteriakkan oleh suara tersebut.
"Kenapa ... kenapa kau melakukan ini, Barghest...?
"Apa yang telah kaubicarakan dengan pria brengsek itu sehingga membuatmu melakukan hal sebengis ini?! Mereka yang kehilangan tempat tinggal, kenangan yang hadir di ingatan mereka tentang kerajaan ini, sudah kaurenggut dengan tangan itu!
"Apa fakta kalau aku mencintaimu apa adanya, meski dirimu dikutuk itu tidak cukup bagimu untuk menerima dirimu sendiri?
"Apakah semua yang telah kita lalui ... hanyalah omong kosongmu belaka?!"
Terlihat geraman sejenak dari Barghest, sebelum matanya menunjukkan jika ia sudah membulatkan tekad.
__ADS_1
'BWHAK!'
Dengan punggung cakar kirinya, Barghest melempar Scarlet jauh ke kedalaman hutan. Usainya, Barghest melolong sebelum akhirnya pergi menjauhi mereka.
Scarlet jadi tontonan warga sesaat sebelum akhirnya mereka menolong bersama dengan Maaya dan Eizen. Mereka semua bisa melihat kondisi Scarlet ketika itu. Goresan luka di sekujur tubuh, keringat dan darah membasuhinya, namun gadis tersebut masih mengangkat tangan kanannya, seakan ingin meraih sesuatu, sambil mengucap, "Jangan pergi dari sisiku ... Bar... ghest...." Hingga pada akhirnya, Scarlet kehilangan kesadarannya. Mereka tidak tahu jika gadis ini baru saja mengalahkan sosok mengerikan yang disebut sebagai Hollow.
Tidak selesai sampai di situ saja, mereka semua yang ada di balik hutan, mengubah arah mata mereka pada satu tempat—di belakang Maaya dan Eizen berada—yang dimana mereka sedang berupaya membantu Scarlet.
"Hai semuanya, betapa hari yang indah untuk menunjukkan kebodohan kalian, bukan, penduduk Gala sekalian." L'arc tiba dengan senyum sumringahnya.
"Kau...!" Eizen segera meninju mangsa yang sudah lama ingin ia santap itu.
'POW!!!'
Dampak dari pukulannya memang menghembuskan angin, namun....
"Pukulan yang bagus," ujar L'arc, "tapi percuma kalau tidak kena." Ia mengatakannya dengan senyumnya yang membuat orang jengkel. Ia menahan tangan kanan yang digunakan Eizen untuk meninju.
"Apa yang telah kaulakukan pada Barghest, L'arc?!" tanya Eizen.
"Apa yang telah kulakukan...?
"Tidak tidak.
"Apa yang telah KALIAN lakukan, hmm?"
"Apa yang ingin kaukatakan?! Cukup dengan celotehan tak berdasarmu itu dan mengaku sajalah kalau kau yang—"
Merasa kewalahan dengan kekuatan L'arc, Eizen menarik paksa tangannya.
"Apa kalian tidak setuju denganku, oh rakyat Gala yang sudah tahu siapa aku?"
Rakyat menatap benci pria yang baru saja menciptakan panggungnya sendiri itu.
"Selama ini tugas kalian hanyalah patuh pada wejangan para leluhur—taatilah janji, taatilah sumpah, percayalah pada Yggdrasil.
"Tetapi, aku tahu ... kalau jauh di lubuk hati, kalian sadar bahwa kejadian hari ini pun pasti ada kaitannya dengan Yggdrasil.
"Bagaimana tidak, kalian pasti bingung ... mengapa tidak ada satupun dari kalian yang celaka? Mengapa serigala yang tiba-tiba muncul di pagi hari, hanya menginginkan bangunan kalian saja?
"Tidakkah kalian dengar jeritan gadis itu? Orang yang dicintainya dikutuk, wujudnya yang demikian, kalian tentu tahu siapa yang mengutuknya, bukan?!"
Mengecualikan anak-anak, rakyat Gala memasang wajah yang diharapkan L'arc.
"Mustahil...." Eizen tidak percaya dengan semua yang dilihatnya.
"Oh, Raja, mengapa sejak tadi kau diam saja sementara aku terus berceloteh? Bukankah selama ini kau terus 'mengutuk' kehadiranku di tengah-tengah kalian?
__ADS_1
"Kuberitahu, kalian—"
'PLARR!!'
Tidak ada yang menebak dengan tindakan yang diambil Maaya.
"Tutup mulutmu, Pria Brengsek. Apapun tujuan dibalik semua kata-katamu itu, aku tidak peduli. Tetapi, kau telah membuat teman pertamaku, Scarlet, menangis dan hatinya terluka parah.
"Aku tahu aku kalah kuat darimu dan aku pasti tidak akan bergeming jika melawanmu. Ketahuilah saja ini.
"AKU, MAAYAFORD SOUTHERN FLARE XXVII!
"Bersumpah kalau aku dan Barghest sama sekali tidak merasa dirugikan dengan kutukan Yggdrasil!
"Memang benar kalau kami tumbuh kesulitan dengan kutukan yang selalu memandang sebelah mata, tetapi karena kutukan inilah, yang membuatku dan dia bertemu dengan orang-orang kuat macam Scarlet dan Ashley!
"Aku pun bertemu dengan orang aneh bernama Eizen ini.
"Jika kutukan ini tidak bisa dijadikan sebagai sekutu, aku dan Barghest, tidak akan tampil di depan hidungmu!
"Sekarang, pergilah dari hadapan kami, aku tak peduli kalau kauingin meramu rencana lain untuk kami atau berharap kalau semua akan sesuai harapanmu, tapi camkan ini, L'arc.
"Meskipun Manusia bisa jatuh, mereka pasti bisa bangkit kembali. Sama halnya denganku, Barghest, atau bahkan Scarlet."
"Hehe...." L'arc menunduk. "Hehe hahahaha! Apapun tujuanku, ya....
"Kalau begitu, Maaya, aku terkesan dengan keberanianmu, tetapi karena kau sudah menantangku, pasti aku akan kembali. Dengar aku, Eizen? Apapun yang akan kalian coba lakukan, dia tidak akan selamat. Apapun tujuanku, kalian takkan peduli, bukan?
"Hahaha. Baiklah baiklah. Kurasa bermainnya cukup sampai sini saja. Kalian juga dengar, 'kan? Jika masa itu benar-benar hadir, aku tidak akan berhenti meskipun kalian memohon."
Dengan demikian, L'arc menghilang dari sana. Walau menimbulkan pertanyaan dengan ucapan akhirnya, Maaya sekali lagi merebut panggung.
"Baiklah!" gadis berambut emas itu bertolak pinggang dan menyuguhkan senyum lebarnya. "Bagaimana kalau kita semua berteduh di Southern Flare, sarapan, bebersih diri, baru kemudian bicara tentang ke depannya?"
......................
"Ja ... jadi maksud Ayahanda.... Penyakit ibu kala itu, karena L'arc...?!" tanya Klutzie heboh.
"Bisa jadi."
"Bisa jadi? Kenapa terkesan tidak yakin begitu?!"
"Sebab aku dan dia tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak saat itu. Mungkin saja penyakit ibumu karena kutukannya, aku pun tidak tahu.
"Tetapi, ingatlah Klutzie.
"Kematian ibumu bukan karena penyakit, namun—"
__ADS_1
"Ya...." Klutzie mencengkeram kedua tangannya. "Aku tahu. Tidak mungkin aku melupakannya.
"Karena cerita ini semua ... aku jadi tahu apa yang ingin aku lakukan dengan peranku saat ini."