
Reina di Hutan Sihir Agung terus melihat bagaimana kelangsungan pertarungan di Nebula hanya dengan menaruh tangannya di sebuah pohon.
"Jangan! Kalau dia mendekatinya... masa depan yang menakutkan itu ... bisa saja terwujud...," ujarnya sendiri, "siapapun... hentikanlah dia!"
.
.
.
.
"Hentikanlah, Nak Azure!" jerit Ashley, ketika Azure berlari mendekati Zeeta. Azure pun menoleh ke belakang. "Kau datang ke sini bukan untuk membuang nyawamu seperti itu, walau alasanmu mulia. Jika memang harus ada korban demi menyelamatkan Zeeta, generasi muda dan kuat sepertimulah harus berada di sampingnya."
"Ta-tapi...!"
"Aku juga harus mengatakan sesuatu pada Bocah itu. Jika aku gagal, kuserahkan padamu."
"Nyonya Ashley...."
Awan gelap pun mulai mendatangi Nebula.
"Hahaha! Lucu sekali, Alexandrita! Kaupikir manusia sepertimu bisa mengalahlan Ifrit?" tanya Lucy.
Ashley menyipitkan mata pada Lucy, lalu tersenyum. "Entahlah, siapa yang tahu."
'ZDUUMM!'
Ashley memakai mode full power-nya. "Segala hal mungkin terjadi di dunia sihir ini, 'kan, oh leluhurku...?" Ashley menghadapi Zeeta yang sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Ifrit.
"Zeeta... kau adalah muridku yang paling gegabah, paling nekat, dan paling berhati besar. Tidak banyak orang yang mampu mengemban beban berat layaknya dirimu lakukan.
"Kau adalah pusat dunia, dimana harapan berada padamu. Namun, sebuah harapan akan selalu menggandeng kesedihan dan amarah bersamanya. Ini bukanlah tempat akhir bagimu. Hiduplah sampai usiamu tua, hiduplah bersama teman-temanmu, dan buktikanlah kepercayaan mereka dapat kauwujudkan.
"Sebagai Gurumu, tugasku adalah membukakan pintu agar dirimu dapat mewujudkan harapan itu, seperti yang sudah kulakukan pada Alicia!"
Ashley berlari, mengangkat tangannya untuk memanggil tombak petir ke genggaman kanannya sekaligua perisai di lengan kirinya.
"Roh Ifrit! Jika engkau memang adalah Roh penjaga seperti yang dikatakan Levant, maka hadapilah aku! Aku adalah Guru anak itu dan berhak untuk menolongnya!" seru Ashley kala berlari. Begitu dalam jarak serangnya, ia melontarkan tubuhnya dengan bantuan sihir di kaki, dan hendak membanting perisai petirnya pada Ifrit. Namun, sebelum benar-benar mengenainya, Ifrit menarik kaki kanan ke belakang, membiarkan Ashley meleset.
__ADS_1
Ashley tidak mengizinkan dirinya terjatuh. Ia menancapkan tombaknya ke tanah, menggunakannya sebagai penopang tubuh dan memutar tubuhnya untuk menendang ke arah Ifrit.
Disaat yang sama, L'arc naik lagi ke pulau bangsawan setelah jatuh oleh serangan Ifrit di punggungnya dengan wajah yang tidak senang sama sekali. "Aku tidak bisa terima penjahat sepertinya dipercaya oleh Ifrit!" serunya. Kemudian, dua Roh Yggdrasil bertudung dengan warna merah muda dan hijau keluar dari tubuhnya untuk memberi power up. Ia hendak mengandalkan jemari kanannya yang dirapatkan dan dilapisi sihir hingga menjadi sebuah bilah.
"Bodoh sekali." Dengan suara Zeeta, Ifrit menyilangkan kedua tangan ke arah masing-masing lawannya, lalu menyentil keduanya bahkan sebelum mereka mendekat. Dari sentilannya, termuntahkan laser kejinggaan yang menghempaskan mereka.
"Apa?!" keduanya terkejut sentilan yang menghadap ke wajah mereka.
"Zeeta!" jerit Ashley, yang tubuhnya sedikit terbakar di bagian wajah. "Kau selalu membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin! Entah kaudengar ini atau tidak, tapi....
"Sadarlah! Kau ini kuat! Buka matamu, karena jika tidak...." Ashley bangkit lagi dengan bantuan tombaknya.
Tak lama kemudian... apa yang terjadi pada Klutzie mulai terlihat.
'BWOOOMM!'
Ledakan pilar biru memancing semua mata untuk melihatnya. Dampak angin dan hempasan lantai berterbangan ke segala arah.
"Apa yang...?" Ashley bertanya-tanya, terpaku pada silaunya cahaya biru.
"Nyonya Ashley, awas!" jerit Azure.
Ketika Ashley menengok, bola api mengejutkannya. "Cih!" Ashley menaikkan perisainya, ledakan pun tak terelakkan.
Dengan jemari kanannya, Ifrit menarik L'arc mendekat ke hadapannya. Merasa dipenuhi ketakutan, L'arc menutup matanya rapat-rapat, cemas akan dilukai oleh luka bakar sekali lagi.
"Jawablah, oh Pengembara Zaman. Engkau yang telah melewati banyak waktu, apa itu keadilan bagimu?"
L'arc terkejut dengan julukan yang disebut Ifrit, tetapi ia tetap menjawab. "Siapapun yang hendak mengubah dunia, adalah penjahat. Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat, aku menghabisinya karena itu pasti akan membawakan keadilan bagi dunia!"
"Dangkal!" serunya, "tidakkah wanita itu juga hendak mengubah dunia dengan caranya sendiri?" Ifrit menatap Lucy yang sama sekali tidak tersenyum.
"Aku benci mengakuinya, tanpanya aku tidak akan menemukan lokasi Zeeta," jawab L'arc yang mengepalkan tangannya.
"....
"Oh Pengembara Zaman, kedangkalan itulah yang merobohkan dirimu sendiri. Tak ada lagi keharusan bagiku untuk bicara padamu.
"Jatuhlah bersama tanah ini."
__ADS_1
Ifrit yang sebelumnya melayang, menurunkan diri ke tanah. Beberapa saat kemudian, tanah berubah menjadi merah pekat perlahan.
Disaat yang sama, Azure menyadari sesuatu pada Luna. "Hei... ini bohong, 'kan...?" gumamnya. Ia mendapati Luna yang tubuhnya semakin menghilang. "Kuharap kau akan baik saja, Nyonya Ashley!" Azure melapisi punggung tangan dengan mana ungu gelapnya, memotong tonggak yang menikam Luna agar bisa ia angkat dan kabur dari tempat.
Rambut Ifrit—tepatnya Zeeta yang berwarna perak— melawan gravitasi. Kulitnya tampak semakin terbakar, disertai bunyi mengelupas yang sangat tidak nyaman untuk didengar.
"Hei! Tak bisakah kalian menteleportasikanku?!" tanya L'arc pada Roh-Roh-nya. Ia pun merasa tak betah pada bunyi dan pandangan di hadapannya itu.
"Mustahill. Panas ini saja sudah membuat kami kewalahan hanya untuk melindungimu."
"Cih! Dasar Roh tak berguna!"
"Hentikanlah, Roh Ifrit!" seru Ashley, yang terengah dan menerima luka bakar yang semakin lebar di bagian kiri tubuhnya. "Tubuh anak itu adalah tubuh yang seharusnya kaulindungi, apa aku salah?! Apa yang akan terjadi kalau tubuhnya benar-benar hangus?!"
Sambil tetap mencengkeram jemari kanan agar L'arc tetap di dekatnya, Ifrit melirik Ashley kemudian menjawab, "Mati adalah suatu kepastian. Seberapa lama jangka suatu makhluk akan hidup, akan tiba waktunya dia mati. Kematian ini bukanlah suatu kesedihan. Jika engkau keberatan dengan caraku, maka buktikanlah dengan kekuatan yang masih kautahan itu!
"Jangan beralasan untuk menahan kekuatan besar itu untuk tidak melukai sebuah mayat yang berjalan!"
"Bersiaplah untuk ledakan!"
"Sialan sialan! Kenapa wanita itu memancingnya seperti ini?!" L'arc dilindungi oleh medan penghalang warna-warni seukurannya.
'DWOOOAAMMMM!'
.
.
.
.
Ledakan yang daya hancurnya datang dari panas yang terpusat pada satu titik itu sangatlah besar. Setengah dari pulau bangsawan yang sebelumnya tampak kokoh dan tidak pernah dijarah ataupun diserang oleh kerajaan lain hancur berantakan. Sebuah tubuh jatuh tak berdaya dengan nasibnya yang hangus dan tak sadarkan diri dengan bola mata yang terbalik. Pulau-pulau itu menyisakan bongkahan-bongkahan raksasa yang setidaknya masih bisa dipijaki meski dengan bantuan sihir pada kaki. Bongkahan-bongkahan itu tetaplah melayang, sebab inti gravitasi biru—Vanadust—yang menyala terang.
"Mengucapkan hal seperti itu dengan tubuh muridku, kau benar-benar menyulutkan api, ya, Roh Ifrit...." Dikabuti oleh tebalnya debu dan asap, Ashley datang dari sebuah bongkahan yang naik setelah ditarik lagi oleh Vanadust.
Ifrit berbalik menghadapi Ashley. "Hmph. Berbeda dengan Wanita ini, dirimu yang sombong dengan kekuatan justru bernasib seperti ini, oh Pengembara Zaman...." Ifrit melirik tubuh hangus L'arc masih jatuh.
Zirah biru petir Ashley perlahan-lahan bersinar kuning. Ifrit merasakan peningkatan mana yang drastis darinya.
__ADS_1
"Begitu. Kau telah memutuskan, Goddess of Thunder, Ashley Alexandrita.
"Majulah dan jawaban yang kauharapkan akan kautemukan!"