Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Guru dan Murid yang Menanggung Kebencian Besar


__ADS_3

“Ayo mulai ini, Zee!” seru Azure, yang bersemangat. Sebenarnya sudah lama juga ia menantikan kesempatan dirinya dan adiknya bertarung bersama seperti ini.


Zeeta yang sekarang dalam duduknya, segera menulis Rune dengan tongkat sihir Catastrophe Seal-nya pada Azure, kemudian menjawab, “Ya!” Rune yang dituliskan Zeeta pada Azure adalah Elhaz yang berfungsi sebagai power up dan defense.



Azure yang ingin mulai menyerang usai melihat Marianna sudah mendapatkan kekuatannya lagi untuk bergerak, terbelalak setelah Elhaz memberi efek padanya. “A-apa inikah kekuatan Rune itu...?” batinnya. Ia lalu mengingat apa yang diucapkan Zeeta beberapa saat yang lalu.


“Aku akan memberimu Rune Elhaz—sebuah Rune yang akan memperkuat pertahanan dan kekuatan sihirmu. Tetapi, tergantung dari lama waktunya, Rune ini akan terlepas sendiri. Jika ketiga Rune-ku sebelumnya tetap memberi efek pada Marianna, kemungkinan besar Rune Elhaz akan melindungimu sementara kusibuk dengan persiapanku.”


Kemudian, Azure menyeringai. Ia senang dengan situasi kerja sama ini, pun dengan pertumbuhan


adiknya. Tetapi, seringai yang dilukis pada bibir itu tidak awet terlalu lama.


“Zee... Zeeta....” Suara Marianna yang sedang berusaha bangun dari lemas yang disebabkan Rune Nauthiz, mengambil fokus mata kedua gadis di depannya. “Bunuhlah... bunuhlah....”


Kedua gadis itu menyipitkan mata.


“Bunuhlah ... semua bangsawan ... terkutuk itu...!


“HRAAAAHHH!”


Dengan tangan kanannya, Marianna mencakar ke atas—yang mengakibatkan tebasan menyerupai cakaran tangannya—hingga menyebabkan “robekan” parah di pulau langit dimana mereka sedang berdiri saat ini hingga hancur lebur, dan mampu memisahkan dirinya dengan dua lawannya. Tebasan itu terus melaju ke arah Zeeta dengan ketajaman serta warna yang serupa dengan tangan monsternya.


“Kau pernah menyerangku dengan ini, jadi jangan pikir kalau aku tak bisa menirunya!” seru Azure, yang cepat-cepat berlari ke arah Zeeta, kemudian melakukan serangan cakaran—sama seperti yang dilakukan Marianna.


Kedua tebasan yang masing-masing berjumlah lima dengan warna hitam-merah di sebelah kiri dan hitam keunguan di sebelah kanan saling berseteru—yang akhirnya membuat banyak sayatan-sayatan tak hanya di tanah pulau langit, tetapi juga hingga ke daratan. Sayatan-sayatan kecil dari keduanya bahkan bisa menebang sebuah pohon dengan mudahnya. Tidak hanya alam saja yang menjadi korban, tetapi sang tuan serangan itu juga sama nasibnya. Hanya saja, keduanya tidak begitu terpengaruh. Sementara luka sayatan Marianna yang tersebar di beberapa bagian tubuh telah beregenerasi, Azure menerima luka sayatan yang tidak mengeluarkan darah, baik itu di pipi, lengan, atau kaki.


Marianna terdiam beberapa saat setelah respon serangan dari Azure. Tidak lama kemudian, dia menyeringai jahat lalu memakai sihirnya dari tangan kiri yang hendak menciptakan gundukan-gundukan batu runcing dari bawah kaki Azure. Merasakan bahayanya, Azure segera melompat dan ingin terbang. Tetapi....


“Awas, itu hanyalah tipuan!” seru Zeeta.


Azure yang sebelumnya melompat dan tak melihat ke depan, kaget dengan kemunculan Marianna di depannya secara tiba-tiba, yang benar-benar siap melukainya dengan tangan kanan monsternya.


“Cih!”

__ADS_1


Tetapi Azure tidak tinggal diam. Ia meringkukkan tubuhnya, mengumpulkan sejumlah mana, lalu meregangkan tubuhnya dengan cepat. Sebuah gelombang lingkaran berwarna hitam transparan mendorong jauh Marianna dan memberi luka yang tak berarti. Namun, gelombang yang mendorongnya jauh itu tidak memberi waktu banyak. Marianna segera kembali ke hadapan Azure dan pertarungan jarak dekat tidak terhindarkan.


Marianna membuat sebuah pedang di tangan kirinya. Secara bersamaan, ia menyerang Azure dengan dua senjata tangan yang dimilikinya tersebut. Keagresifannya yang tidak berhenti mengganti tangan kanan dan kiri yang berbahaya itu membuat Azure kewalahan. Marianna tak memberi kesempatan Azure untuk berimajinasi dan meng-counter serangannya.


“Keparat, jangan pikir aku tak bisa pertarungan jarak dekat!” emosi, Azure mengepalkan kedua tangannya, lalu memukul kuat-kuat perut Marianna. Ketika dia terpaku dengan rasa sakit di perutnya, Azure memakai kaki kiri untuk menendang kepala dan membuatnya jatuh. Sayangnya, hal itu saja tak membuat Marianna berhenti. Tangan kanannya yang masih leluasa hendak menembak Azure dengan sebuah sihir ledakan jarak dekat.


“Kh!” Azure sadar dia tak bisa menghindarinya.


Tapi tiba-tiba....


‘BWUMMM!’


Azure menutup matanya erat-erat, bersiap menerima serangannya. Aneh. Ia tak merasa ada yang aneh pada tubuhnya, tetapi ia mendengar ledakan terjadi. Saat ia membuka matanya, ia segera terbelalak. Marianna dalam jatuhnya di langit dalam kondisi penuh noda hitam.


“Dia lupa Rune-ku masih ada di dalamnya,” ujar Zeeta santai.


“Huuh....” Azure menghela napas. “Terima kasih. Kau masih lama?”


“Sayangnya, ya.”


“Sudah kubilang, menyelesaikan kebencian yang sudah berlangsung dua ratus tahun.”


“Tidak. Yang kutanya, apa yang akan terjadi pada-MU?”


Zeeta tersenyum. “Tidak tahu.” Ia mengangkat kedua bahunya.


Jawaban itu membuat mata Azure berkedut. Ia merasa dirinya mendengar hal yang aneh. “Hah?”


“Tidak ada waktu ‘tuk bicara, dia kembali!”


“Cih, sialan! Kamu sengaja membuat kakakmu ini sibuk karena tahu takkan membiarkanmu melakukan hal berbahaya, ‘kan?!”


“Hehehehe.” Zeeta hanya menjawabnya dengan senyuman dan tawanya yang merdu.


......................

__ADS_1


Marianna kembali dengan sihir terbangnya. Dia tampak tidak senang karena belum ada satu pun serangannya yang mendarat dengan sempurna. Merasakan adanya perubahan aliran mana dari dalam tubuh Marianna, Zeeta mengernyit. “Berhati-hatilah, dia mulai serius, Kak Azure...!”


“Ya, aku mengerti,” balas Azure, yang bersiaga.


Tak lama kemudian, langit mendadak gelap, kesunyian datang menyusul. Bersama dengannya, Marianna pun ikut menghilang dalam sekejap mata. Waspada akan dimana kemungkinan dia datang, Azure berusaha melihat segala arah dengan matanya, sementara Zeeta menutup mata dan mengatur napasnya.


“Uppercut, di depanmu!”


Mendengarnya, Azure segera memakai sihir untuk membuat sebuah perisai layaknya mantel yang akan menangkap tangan Marianna. Tak lama kemudian, sebuah cetakan berbentuk tangan kiri terbentuk, membuat tak hanya Marianna kaget, tetapi juga Azure. Marianna kaget serangannya ditangkis, sementara Azure kaget karena ucapan Zeeta benar adanya.


Namun, walau terkejut, seakan sudah mengantisipasinya, Marianna menggunakan tangan kanan untuk mengincar kepala Azure. Senang ia akan mendapatkannya, mendadak ia menggeram kesal. Lagi-lagi tangannya terhenti oleh sesuatu. Tapi, ia masih memiliki cara lain.


Dengan kakinya, ia menjatuhkan Azure ke tanah.


“A-apa?!” Azure tak menduganya. Meski berhasil menahan serangan kaki itu, ia tak dapat menahan dampak yang diterima.


“KAK AZURE!” seru Zeet khawatir.


Begitu lawannya terbanting dan mendapatkan kesempatan menyerang lagi, Marianna segera memakai tangan kanannya lagi untuk membungkam tubuh remaja itu lalu mendorongnya ke bawah. Azure yang jatuh menembus tanah secepat mungkin diikuti Marianna yang langsung menembakkan sihir semacam laser dari tangan kanannya beberapa kali.


“GUHAKK!”


Azure memuntahkan darah, tubuhnya pun bernoda hitam. “Si-sialan.... Serangannya tidak begitu variatif, tetapi kekuatannya....”


Azure berteleportasi ke hadapan Marianna, melapisi kedua tangannya dengan sihir kegelapannya, kemudian meninju pipinya hingga lawannya mencipratkan darah dari mulutnya. Tak berhenti, ia melakukan tinjuan beruntun yang sangat cepat berkat sihir pada tubuh bagian kiri dengan tambahan kekuatan dari Rune Algiz.


“Aku pun belajar bagaimana caramu melakukan pertarungan jarak dekat, jadi jangan meremehkanku!” ujarnya sambil menyerang.


Merasa cukup, Azure mengakhiri serangannya dengan menciptakan sebuah palu besar dari tangan


kanannya lalu menghantamnya dengan sangat kuat sampai menimbulkan suara retak dari tulangnya. Bersama dengan suara itu, Marianna terjatuh.


"Haaah... haaah....


"Aku tahu! Serangan seperti itu takkan cukup untuk melukaimu! Bahkan jika tulangmu hancur lebur... kebencian yang kau miliki sejak dua ratus tahun lalu itu sekarang sudah menjadi inti-mu sendiri, hingga sehancur apapun tubuhmu, tanpa sadar kau langsung meregenerasinya....

__ADS_1


"Itulah yang kupelajari sejak kuikut denganmu, Guru...."


__ADS_2