Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Masa Lalu Penyihir Bintang


__ADS_3

[Sebelum Hitomi Reiko kembali ke kekaisaran Seiryuu....]


Usai Zeeta berpidato di depan warga desa Lazuli, Zeeta dan Tellaura pergi ke monumen desa Lapis, bersama dengan Hitomi Reiko dan Roh Yggdrasil-nya, Xennaville, yang masih kehilangan kesadaran.


Saat keduanya sampai, wajah masam diberikan Tellaura. “Tidak kusangka ... desa yang damai seperti Lapis bisa hancur tak bersisa seperti ini...,” gumamnya, sambil melihat daftar-daftar nama korban jiwa, yang berjumlah ratusan orang.


“Satu-satunya orang yang selamat, kak Azure, sekarang menjadi kakak angkatku dan menjadi putri kerajaan,” balas Zeeta.


“Benarkah itu?”


“Uhm. Berkatnya pun, sekarang Aurora benar-benar terbebas dari penindasan. Para bangsawan juga berperilaku sebagaimana mestinya. Berkatnya juga ... aku belajar untuk menghargai seseorang dan memiliki orang untuk dilindungi.”


Tellaura tersenyum. “Dilihat dari wajahmu saja, aku mengerti kalau kalian telah melewati banyak hal.” Dia lalu menepuk bahu kiri Zeeta. “Jadi? Pasti kau memiliki sesuatu yang harus kaukatakan hingga mengajakku ke tempat seperti ini, bukan?”


Zeeta yang sebelumnya senada dengan Tellaura, langsung berubah. “Sudah kuduga dari leluhurku. Tapi, aku harus membangunkan gadis ini dulu.”


Saat Zeeta hendak membangunkan rekan sesama Benih Yggdrasil-nya....


“Hei, hei, hei, hei!” seru suara seorang gadis. Suaranya terdengar sangat emosi.


Kala keduanya melihat ke sumber suara, Zeeta yang paling tak menyangka. “Ah ... Luna!”


“Dasar kau ini!”


‘BWAMM!’


Luna memukul keras sekali kepala Zeeta. “Bisa-bisanya kau berlagak ‘menghargai seseorang’, disaat kau benar-benar melupakanku!”


“Ma-maaf, aku tidak sengaja!”


“Kaukira ini yang ke berapa kali kaubilang seperti itu, hah?!


“Kau juga!”


Luna menunjuk Tellaura, tepat di depan hidungnya. “Aku tidak peduli kau ini orang mati, orang dari tiga ratus tahun yang lalu, atau apapun ... tapi! Kau! Pasti! Tahu! Kalau aku adalah makhluk yang tidak seharusnya dilupakan oleh gadis bahlul ini, ‘kan?!”


Kewalahan dengan situasinya, Tellaura hanya bisa menjawab, “Y-ya… kupikir juga begitu….” Dengan tambahan senyum terpaksanya.


“Haaah~” Luna menghela napas panjang. “Meskipun kita akan berpisah suatu saat nanti, Zee, aku ini menyayangimu. Jangan buat aku terus-terusan merasa khawatir seperti ini padamu.” Luna memegang lembut pipi Zeeta.


Zeeta segera merefleksikan diri setelahnya. “Uhm. Aku janji tidak akan begitu lagi.”


Luna tersenyum. “Bagus kalau begitu. Sekarang, biarkan aku yang mengatasi ini.”


“Eh…?” dua keturunan bulan itu saling tatap, kemudian melihat ke arah Luna.


“Kau akan berbicara dengan gadis ini untuk berdiskusi dengannya, bukan?” tanya Luna.


“Kau benar. Kenapa bis—“


“Daripada harus menerima kemungkinan jika gadis ini berbohong, kita akan memasuki link yang akan kulakukan. Link ini akan tersambung pada dua Roh Yggdrasil yang lain. Kita akan meminta Roh Yggdrasil dari gadis itu untuk bicara semua hal tentangnya, dan apa tujuan sebenarnya dari Wadah-nya ini.”


“Apa aku ada kaitannya dengan ini?” tanya Tellaura.


“Tentu saja. Gadis bodoh dan naif ini butuh suara lain ketimbang suara dariku.”


Tellaura langsung berwajah serius. “Baiklah. Aku akan ikut.”


“Bagaimana dengan Klutzie?” tanya Zeeta, “apa dia juga akan ikut?”


“Hm. Itu, sih, tergantung Siren.”


Luna kemudian menciptakan setengah lingkaran yang mengamankan mereka dari luar. Setelah itu ketiganya duduk silang di depan Hitomi dan Xennaville yang telentang. Di bawah bokong mereka, muncul masing-masing lingkaran sihir berwarna putih-kekuningan. Tak lama kemudian, mereka memasuki “link” yang dikatakan Luna.


......................


Pohon Yggdrasil.


Manusia dan makhluk mana yang saat ini tidak mengetahuinya.


Luna, Zeeta, dan Tellaura, adalah yang pertama kali sampai di pemandangan langit malam di bawah pohon dunia itu. Ketiganya memancarkan cahaya seperti aura terang.


Tidak lama kemudian, Siren muncul bersama dengan Klutzie.


“Oh?” tanya Siren, “sudah lama kau tidak memakai cara ini untuk berkomunikasi. Ada apa, Luna, bahkan sampai mengajak orang asing itu dan Zeeta secara langsung?”


“Kita akan bicara pada orang terakhir yang akan menjadi kunci Hari Akhir-nya.”


Klutzie dan Siren langsung berwajah serius. “Kukira akan bicara serius yang lain, tetapi tak kusangka seserius ini,” ujar Siren.


“Pangeran, kau sudah tahu apa yang dimaksud Hari Akhir?” tanya Zeeta.


“Sudah. Siren dan kakakku yang memberitahu.”


“Kak Suzy? Ah, aku baru ingat, sudah beberapa hari ini aku tidak mengunjunginya. Dia kan tidak akan ke luar ruang bawah tanah itu sampai hal-hal yang mendesak benar-benar menyudutkannya.”


“Ahahaha~ kau benar.” Klutzie menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


“Jadi, istana pun sudah tahu tentang Hari Akhir ini.” Zeeta menggumam. “Setidaknya, mungkin guru Ashley atau ayah yang bertanggung jawab atasnya. Lalu, Luna, apa yang harus kita lakukan di sini?”


“Kau ada di sini, bukan? Segera keluarlah,” ujar Luna.


Tak lama kemudian, Xennaville menunjukkan dirinya. “Licik sekali, memakai cara ini disaat Wadahku sedang tak sadarkan diri.”


“Jangan mengeluh. Katakan saja apa yang seharusnya kaukatakan.”


“Haaah~ aku sudah lama berperan sebagai ‘pelayan’ untuknya, melakukan sesuatu tanpa izin darinya begini, entah kenapa membuatku merasa merinding,” balas Xennaville, “tapi baiklah. Akan kukatakan. Aku akan bertanggung jawab bila dia marah.”

__ADS_1


......................


POV Xennaville.


Aku bertemu dengan Hitomi ketika dia masih bayi. Perlu kalian ketahui, Hitomi pada awalnya bukanlah anggota keluarga kekaisaran. Dia lahir di salah satu dari sekian banyaknya daerah kumuh yang terdapat di sana. Saat dia masih bayi, aku merasakan sesuatu yang besar—seperti ada sesuatu yang akan terjadi yang melibatkannya, oleh karena itu aku terus mengawasinya.


Dari luarnya, kekaisaran Seiryuu tampak seperti benteng tak tertembus, namun di dalamnya, banyak sekali potensi-potensi keruntuhannya. Salah satu potensi yang bisa meruntuhkan kemonarkian negeri itu, adalah putra mahkota dari kaisarnya sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Arata Akihiro.


Namun, sang kaisar, Zero Akihiro, berambisi besar untuk menduduki dunia dan membuat seisi Bumi ini untuk mengagungkan Naga. Tentu saja, aku yang mengawasi negeri itu, mengetahui alasannya.


Sejak dirinya kecil, Zero selalu berambisi untuk mengubah kekaisarannya. Dia enggan untuk terus menjadi bagian negeri yang tidak pernah dilirik oleh dunia, bahkan tidak pernah terhubung dengan negeri lain. Baik untuk berdagang, berinteraksi, dan lain-lain.


Suatu saat, dirinya bertemu dengan seekor Naga yang telah hidup sejak ribuan tahun yang lalu, Carlou. Sejak saat itu, Zero memiliki visi dan misi yang baru untuk mewujudkan ambisinya. Usai ambisinya terwujudkan—yaitu untuk mengubah kekaisarannya, sejak saat dia dinobatkan sebagai Kaisar, kini dialah yang harus menepati janjinya pada Sang Naga—untuk membuat dunia tunduk lagi pada Naga.


Perlahan tapi pasti, negeri ini mengumpulkan banyak Naga karena pengaruh sang kaisar. Begitulah, bagaimana sang kaisar mendapatkan julukan sebagai Zero, Sang Penakluk Naga.


Negeri ini, terkenal dengan kemampuan mereka yang bisa mengendalikan tenaga dalam. Bisa juga disebut sebagai Ki. Sang Naga yang telah percaya pada Zero, Carlou, melihat kesempatan besar dari manusia-manusia tersebut, untuk dijadikan sebagai pion untuk mewujudkan mimpinya.


Manusia-manusia itu bisa mengendalikan tenaga yang ada di dalam tubuhnya, untuk dijadikan sebagai kekuatan di luar fisiknya. Laser, pukulan, atau bahkan pengobatan. Jika seekor Naga memberikan kekuatannya pada seorang manusia yang bisa mengendalikan Ki, maka ada kemungkinan manusia itu pun bisa memakai kekuatan Naga-nya.


Mereka bisa menjadi lebih kuat, lebih perkasa, dan tentu saja, lebih ditakuti.


Sebelum percobaan pertamanya dilaksanakan, Zero mendengar desas-desus dari rakyatnya yang mengatakan dirinya adalah kaisar yang kejam dan tidak memiliki nurani, meskipun adalah fakta bahwa ia berhasil mengubah kekaisarannya menjadi lebih hebat. Bahkan, sempat ada unjuk rasa di depan istana.


Untuk memastikan kebenaran apa yang telah terjadi, dia mengirim orang untuk menyelidiki. Dan dari sanalah, dia mengetahui bahwa di daerah kumuh, ada seorang anak kecil yang sangat terkenal tentang kepastiannya dalam meramal.


Pada awalnya Zero tidak begitu menganggap serius hasil penyelidikan tersebut dan malah menganggap orang suruhannya telah mengada-ada, namun Carlou mengatakan bahwa itu bukanlah sesuatu yang harus dianggap sepele. Itu adalah tanda, dari sekian banyaknya orang di kekaisaran ini, yang bisa bersihir hanyalah anak kecil itu saja.


Dari hasil penyelidikan, anak kecil tersebut meramal bahwa Zero akan melakukan hal keji pada putranya sendiri, dan kelak akan meruntuhkan kekaisarannya karena perbuatannya ini.


Meskipun memiliki peringatan dari Carlou, Zero tidak memedulikannya, dan tetap ingin mewujudkan apa yang telah ada di depan mata—kekuatan militer yang bisa memiliki kemampuan Naga.


Tetapi, disaat yang sama, tanpa diduga oleh Zero dan Carlou, Permaisuri yang menjadi belahan hati Kaisar, menaruh percaya dan kesenangan yang besar pada Si Gadis, bahkan mengundangnya secara pribadi ke istana.


Kala itu, terjadilah konspirasi diantara Zero, Carlou, dan Si Gadis—Hitomi. Dengan silat lidahnya, Hitomi berhasil membujuk Permaisuri agar mengizinkannya berhadapan dengan Kaisar. Dan seperti inilah konspirasi yang disepakati oleh ketiganya....


......................


“Bintang telah memberi penglihatan padaku. Carlou, kau adalah Naga yang bisa bersihir untuk mengubah wujudmu menjadi Manusia. Hal ini kau pelajari dari seorang Raksasa. Benar, bukan?”


Si Pria Tua yang berdiri di dekat takhta Sang Kaisar, menggeram.


“Tidak usah menutupi fakta bahwa kalian telah tahu seperti apa kemampuanku dan malah menyepelekannya. Apalagi untukmu, Kaisar Zero.”


“Seorang anak kecil sepertimu yang tidak tahu etika dan tata krama saat berhadapan dengan seorang Kaisar sepertiku, memangnya hal apa yang bisa kau gunakan untuk mengancamku?!”


“Mengancam?


“Aku tidak perlu melakukan hal itu. Seperti yang kaukatakan, aku ini hanyalah anak kecil. Jadi, aku hanya menawarkan diri untuk menjadi bagian dari keluargamu, dan kaubisa menggunakan kekuatanku seperti apapun yang kauinginkan.


“Melihat masa depanmu, yang sudah kukatakan akan hancur, tentu saja kauingin menghindarinya, ‘kan?


“Lalu, apa untungnya bagimu? Aku tidak ingin orang yang ada di dekatku malah menunjukkan taring disaat aku sedang berjaya.”


“Kaisar benar-benar tidak tahu seperti apa kejamnya hidup di daerah kumuh, ya? Ayolah. Kau tidaklah sebuta itu untuk bisa menilai dan menebak kenapa aku bisa SEPERTI INI di depanmu?”


.


.


.


.


“Baiklah. Kuterima kau di istanaku. Tapi, janganlah macam-macam dengan Permaisuri-ku. Jika tidak....”


Hitomi tersenyum dikala dirinya menunduk untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. “Tenang saja. Aku tahu kau sangat mencintai istrimu. Aku takkan melakukan apapun padanya.”


......................


POV Xennaville.


Setelah itu, perlahan-lahan kehidupan Hitomi berubah seratus delapan puluh derajat. Perlahan-lahan pula, dirinya mulai disukai dan disegani di kalangan istana. Atas usulan Permaisuri, Hitomi pun diangkat menjadi adik Arata, lalu hubungan mereka pun semakin dekat, hingga tiba waktunya ramalan Hitomi tentang perbuatan Zero pada putranya....


Dengan alasan untuk melatih Arata, Zero selalu membawa putranya ke suatu tempat yang tidak diketahui istrinya. Namun, yang dilakukannya adalah menjadikan putranya sebagai subjek untuk rencananya dan Carlou.


Semuanya selalu berjalan lancar dalam pandangan Zero, sampai hari itu tiba....


......................


Arata sedang menemani Hitomi di suatu danau di dalam wilayah istana yang sangat besar. Meskipun isi kepalanya cukup berbeda dengan anak seusianya berkat lingkungannya tumbuh, dia tetaplah seorang anak kecil.


“Kakak,” panggil Hitomi.


“Apa?” tanya Arata, yang sedang tidur santai di atas batang pohon dekat danau.


“Kautahu aku tidak bisa menggunakan Ki, melainkan kekuatan lain, ‘kan?”


“Kenapa memangnya?”


“Coba lihat ini.”


Saat Arata menundukkan kepala untuk melihat, dia terkejut saat melihat di atas kedua telapak tangan adiknya ada bola air jernih.


“Uwogh, keren! Bagaimana caramu melakukannya?!” Arata segera terpancing.


“Kata tuan Carlou, ini disebut mana. Kekuatan yang justru lumrah di luar kekaisaran.”

__ADS_1


“Heeeh….” Arata melihat secara keseluruhan bola airnya. “Sejak kapan kaubisa memakai kekuatan seperti ini?”


“Eh…? Kau menanyakan sesuatu seperti itu pada wanita?”


“Ti-tidak boleh?”


“Hehe. Bercanda. Hmm… sejak aku belum ada di istana.”


“Hebat! Apa lagi yang bisa kaulakukan selain ini?”


Setelah itu, Hitomi menunjukkan apa saja yang ia bisa lakukan dengan mana-nya, sampai....


Senja telah tiba. Biasanya, para pelayan akan sibuk mencari dan memanggil keduanya untuk segera kembali ke kamar masing-masing, namun karena hari ini telah dikecualikan oleh sang permaisuri, maka bila malam belum turun, mereka takkan dicari.


“Kak, sebelum kita kembali, aku punya permintaan. Tolong rahasiakan ini dari ayah ataupun ibu.”


Arata yang mendengarnya dengan nada yang serius, segera menanggapi. “Apa itu?”


“Kautahu aku bisa meramal dengan bintang, ‘kan?”


“Uhm.” Arata mengangguk.


“Ada sesuatu yang bisa kulakukan dengan bintang selain meramal. Aku ingin menunjukkan itu padamu, tetapi kuingin kau bertahan atau bahkan membalasku dengan segala yang kau miliki.”


“Eh? A-apa maksudmu?”


“Selama ini aku tahu kau dan ayah berlatih untuk sesuatu … yang pasti takkan disenangi ibu. Kaupikir aku tidak melihatnya dengan kekuatan ramalanku?”


“Ka-kau benar juga… jadi selama ini kami berdua selalu diam-diam tidak ada gunanya?”


“Tidak juga. Aku sudah lama menunggu kesempatan ini.”


“A-apa maksudmu…?” Arata mulai sadar ada sesuatu yang berbeda dari adiknya.


“Sederhananya, aku ingin terlibat dengan kalian secara langsung. Tidak usah cerita apapun padaku, karena aku sudah tahu.


“Jika terus begini, ibu akan dalam bahaya, Kak.”


“Apa maksudmu? Kenapa ibu jadi berkaitan dengan ini?!”


“Bintang memberi penglihatan padaku.


“Kaisar Zero akan membunuh siapapun yang menghalangi rencananya. Dia akan menjadikanmu sebagai contoh untuk rakyatnya, mengumpulkan kekuatan militer yang lebih banyak lagi, dan pada akhirnya menyerang negara lain.


“Ibumu … tidak … ibu kita, bukanlah orang yang suka pertikaian. Tentu saja beliau akan menolak cara ini, ‘kan?


“Oleh karenanya, aku ingin Kakak membantuku agar bisa mengubah keputusan Kaisar Zero.”


“Jadi … kauingin bilang, ayahku akan membunuh ibuku karena dia menghalangi rencananya?”


“Itu benar.”


“Apa memangnya yang bisa dilakukan tangan kecil ini?” Arata bergemetar.


“Tangan kecil? Jangan bercanda! Orang itu takkan menduga bahwa tangan kecil ini memiliki cakar tajam yang bisa mengancamnya.”


“Tapi … aku menyayangi ayahku, Dik…. Dia cahaya untukku.”


“Haaah~” Hitomi menghela napas. “Kalau begitu, putuskanlah sendiri. Aku akan menyerangmu sekarang, dan apa yang terjadi setelahnya, adalah bukti dari segala ucapanku barusan!”


Hitomi memunculkan lingkaran sihir besar di bawah kaki Arata. Si Kakak amat sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihat matanya untuk pertama kali, sehingga ia bergemetar di tempat. “A-apa ini?!”


Tetapi….


“Hentikan itu, dasar bocah nakal!” seru sebuah suara, yang langsung membuat panik Hitomi.


“Tu-Tuan Carlou?!” seru Arata, “kenapa Anda di sini?”


“Aku menolong ibumu yang ingin memanggilmu. Dia ingin memberi sesuatu yang berharga padamu secara pribadi.”


“Bagaimana dengan ayah?”


“Sayang sekali, dia sedang ada pekerjaan.”


“Ah… begitu, ya….”


“Ya. Sayang sekali. Tapi, sebelum kita pergi, aku harus mengatakan sesuatu pada bocah nakal yang ingin usil padamu itu.”


“Adikku…?” Arata melirik Hitomi yang sedang kepanikan.


“Pintar sekali, Nak. Pintar! Tetapi, sayang sekali. Kau selangkah lebih lambat.” Carlou menyeringai.


Arata melihat Hitomi sedang mencengkeram erat tangannya dan menggertak giginya erat. Tetapi, dia sama sekali tak memiliki arah, kemana maksud perkataannya itu.


“Nah, mari kuantar kau ke pelukan ibumu.”


“Uhm. Terima kasih, Tuan Carlou! Sampai jumpa nanti, Adik!”


Arata tidak mendapatkan balasan, sebab Hitomi terus terpaku dalam berdirinya. Bergemetar, menggertak gigi. Sampai keduanya tak terlihat lagi, anak kecil berambut hitam itu baru bisa bergerak. Dia tiba-tiba tersungkur di tanah dan seakan kehabisan napas. Ia terengah.


“Sial!


“Sialan! Sialan!


“Aku … gagal…!


“Maafkan aku, kak Arata…. Aku gagal melindungi ibumu….”

__ADS_1


Dikala ia tersungkur itu, Sang Penyihir Bintang, menangis tersedu-sedu….


__ADS_2