
"Aku... sudah muak!"
Zeeta mencengkeram kedua tangannya keras hingga berurat.
"Semuanya berakhir menyedihkan karena sesuatu yang disebut SIHIR itu merenggut banyak hal yang berharga!
"Untukku...!
"Dan untuk semua orang...!"
Kalimatnya tersebut ... disaksikan oleh seekor yang seharusnya sudah mati dan ada bersama dalam kumpulan jiwa-jiwa yang berwujud monster di sana. Ia adalah Luna. Pandangan dan pendengarannya di sana saling terhubung dengan dua Roh Yggdrasil lain. Satu diantaranya masih berada di dalam samudera, yang lain berada di kerajaan Nebula.
Ketiganya memicu sebuah ingatan setelah melihat gelagat Zeeta. Ingatan tersebut dilihat oleh Siren bertahun-tahun silam, sebelum Zeeta berangkat untuk latihan selama enam tahun di Grandtopia.
"Meskipun aku akan menjadi penjahat, meskipun aku akan dimusuhi banyak orang, bahkan meskipun aku harus mati, aku akan mengakhiri dunia ini!!"
Semua kalimat yang dilontarkan Zeeta itu layaknya mimpi yang menjadi kenyataan....
Tidak.
Dalam hal ini, mungkin lebih pantas jika menyebut mimpi itu adalah sebuah waskita. Oleh sebab itulah, sejak saat itu, Siren selalu menganggap Zeeta adalah ancaman terbesar dan tidak ingin Klutzie—Wadahnya—berinteraksi banyak dengannya. Namun tentu saja, karena situasi, kondisi, dan keadaan, keduanya harus bekerja sama.
Meledaknya mana dari Zeeta bukanlah yang pertama kalinya. Ini adalah kesekian kalinya. Jika pada awalnya ledakan mana darinya sama sekali tidak menyebabkan kerusakan, kali ini kata-kata tersebut sama sekali tidak berlaku.
Dunia ... Galdurheim ... semakin di ambang kehancurannya.
Xennaville yang berada di dalam samudera menyaksikan bagaimana mana Zeeta menarik arus air—menghasilkan gelombang tinggi—dan menyebabkan tsunami.
"Apa yang terjadi...?!" jerit Penakluk Penguasa Lautan, Cynthia.
Sementara itu, Xennaville memasang wajah cemas dan menggertak gigi. "Siren!" panggilnya melalui telepati, "bagaimana situasi di sana?!"
"Sudah siap! Tapi, jika seperti ini terus, kami tak bisa melaksanakan rencananya!"
"Cih...!"
......................
Ledakan mana semakin memperparah keadaan sebab retakan Drékaheim dan Jötunnheim yang terhenti oleh kekuatan Ifrit hancur.
"Sial! Zeeta! Kembalilah! Tegarkan dirimu!" jerit Mellynda. Tubuhnya bercucuran keringat, sebab dengan sekuat tenaganya ia mencoba menahan Zeeta. Keringat itu juga meluncur sebab alam yang sedang mengamuk. Jantungnya berdegup sangat cepat. Panik, takut, cemas, semuanya menjadi satu.
__ADS_1
Hal itu tidak hanya berlaku untuk Mellynda saja. Dua orang lainnya yang melakukan hal serupa juga—Tellaura dan Azure—mengalaminya.
Zeeta Alter yang menikmati semuanya bagaikan hiburan, semakin senang ketika rambut perak dirinya yang lain itu menghitam seperti dirinya secara perlahan dimulai dari paling bawah.
"Selamat, Zeeta...! Kau telah menjadi Penguasa Kekelaman sama sepertiku!"
Betapa senang dan bahagianya wujud Zeeta yang telah "busuk" hingga akar jiwanya tersebut. Senyumnya amatlah sangat sumringah, bahkan muncul rona merah di sekitar pipinya saking senang dirinya.
Namun....
"Tetap tahan dia seperti itu!"
"Ka-kau...!?" Mellynda dan Azure terkejut dengan kedatangannya. Namun, tidak dengan Tellaura dan Zeeta Alter.
"Kalian tidak mengetahui ini," kata sosok yang menghampiri mereka itu, "tapi aku sudah berjanji dengannya."
'ZRASSHT!'
Darah mengucur deras dari perut Zeeta sebab tanah yang meruncing dan melubanginya. Sontak, Zeeta kehilangan kesadaran dan segala yang terjadi saat itu berangsur berhenti. Pun dengan rambutnya yang perlahan menghitam.
Ketiganya tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Mereka bergemetar, kemudian Azure segera melontarkan segala amarah dan tangisnya pada orang itu.
"APA YANG KAULAKUKAN ... ARIA?!" ia mencekik dan menjatuhkan High Elf itu ke tanah. Tangisnya menetes pada wajah Aria.
"Aria...?" gumam Zeeta Alter. "Ughk!" ia mendadak memegangi kepalanya.
"Aku sudah berjanji padanya, jika dia berubah menjadi sosok yang bukan dirinya sendiri, aku akan menghentikannya, bahkan jika itu berarti membunuhnya....
"Aku sudah memantaunya sejak kalian bertiga pergi. Aku TIDAK BISA dan TIDAK AKAN membiarkannya jatuh seperti Manusia di sana itu!"
"A... pa katamu...?" Azure kehabisan kata-kata ditengah tangisnya. Terlebih, ia juga melihat Aria yang tak bisa membendung tangisnya. Azure memutuskan untuk melepasnya, lalu memukul-mukul tanah atas ketidakberdayaannya untuk melindungi Zeeta. "Sial...! Sial! Siaaaal...!"
"Zeeta...?" Mellynda bersuara lirih. "Ini bohong..., 'kan...?" ia juga mengucurkan tangisnya. Tangannya mencoba meraih tangan Zeeta yang tersangkut di tengah tusukan di perut. Dan seperti yang enggan dipercayanya, tangan itu mulak mendingin dan sama sekali tak menunjukkan adanya tanda kehidupan. "Jangan seperti ini, Zeeta! Jangan lakukan ini padaku!"
"Aria...? Kau ini ... Aria...?"
Semua orang menatap Zeeta Alter. Ia terus memegangi kepalanya.
Azure bangun, menghapus air matanya. "Inilah kesempatannya! Aku takkan membiarkan kepergian Adikku—"
Tiba-tiba....
__ADS_1
"Nona!!!" Keenai mendadak terbang menghampiri Zeeta Alter dengan kondisi yang membuat mereka bertanya-tanya. "Sebaiknya kita mundur!"
"Apa?!" Alter terkejut. "Kenapa? Lalu, bagaimana kondisimu bisa seperti itu?!"
Keenai datang tanpa tangan dan lengan, juga dengan kondisi penuh luka di sekujur tubuh, dan kehilangan sebagian kepalanya. Bila ia Manusia biasa, tidak mungkin dia bisa hidup.
"Para keturunan Bulan itu... mereka menghalangiku di sana!"
"Apa...?"
"Tidak hanya adik dari wanita itu saja!" Keenai melirik ke arah Tellaura, "tetapi leluhur mereka ... bahkan Gala sialan itu...!"
"Gala...?! Kenapa...? Tanah Kematian seharusnya sudah mereinkarnasi jiwanya!"
"Aku pun tidak tahu! Galdurheim sudah seperti ini, kita butuh persiapan yang lebih—"
"Galdurheim takkan hancur!" jerit Aria, "kalian pikir sudah berapa lama kami semua sudah mempersiapkan hari ini akan tiba, hah?!
"Zeeta!
"Aku tidak tahu dengan apa saja yang kaualami di duniamu, tapi jangan samakan Zeeta di sini dengan dirimu!"
Kemudian, sesosok Raksasa perlahan membesar. Siluetnya bisa dilihat oleh mereka yang ada di sana.
"Ra-Raksasa...? Bagaimana...?" gumam Keenai, "apa-apaan besar dan tingginya itu!? Dia dua kali lebih besar dari Raksasa yang pernah ada!"
"Apa?! Siapa itu?! Dia bukan Ozy!" Alter mulai panik.
"Nona, ayo!"
"Jangan bercanda, Keenai! Aku takkan mundur hanya karena seorang Raksasa saja!"
......................
Konon katanya, dunia ini memiliki paralelnya. Dari masing-masing dunia, apa yang terjadi, sejarah, serta hal sederhana seperti hubungan antar manusia memiliki perbedaannya.
Apabila Zeeta Alter datang dari dunia dimana segala yang ingin dilindunginya justru lepas karenanya, maka yang terjadi saat ini adalah kebalikannya.
Rencana yang dibuat oleh Luna dan dipercayakan pada Klutzie dan Siren, kini sudah selesai. Elbrecht dan Ozy yang memiliki peran pembantu, namun memiliki pikiran yang serupa dengan Luna, mendukungnya dengan menumbuhkan bibit baru untuk memberikan cahaya harapan pada Galdurheim—Arata Akihiro dan Titania.
Titania saat ini berada di hadapan istana Nebula yang bercahaya emas dan diselimuti oleh butiran mana hijau. Masyarakat Nebula yang berada di pulau layang menatapinya dengan wajah terpana.
__ADS_1
Hari ini, akan menjadi hari legenda baru yang akan dituturkan pada generasi penerus, dan tentunya akan disukarkan kebenarannya bagi mereka yang tidak akan percaya bila tidak melihatnya secara langsung....