
[Hutan Sihir Agung, Grandtopia....]
Setelah pembentukan Hutan Elf untuk menipu mata manusia demi keselamatan Elf dan Hutan Sihir Agungnya sendiri, sebagian besar Elf tidak lagi di Grandtopia. Sayangnya, dengan angka yang terbilang hanya sepuluh persen—dengan kata lain hanya sekitar beberapa puluh orang saja—Grandtopia diguncang oleh masalah yang sangat besar dan nyata.
Di sini—tepatnya kediaman Reina—adalah lokasi dimana kepanikan itu terjadi. “Kenapa?! Kenapa ini bisa terjadi?!” jerit Reina.
“Apa yang terjadi, Reina?” tanya Aria. Dia hadir di dekat Reina untuk mengawasi kondisi mental, kesehatan, juga mananya.
Sambil mengalihkan mata ke arah lain, Reina menjawab, “Aku kehilangan kontak Zeeta, Scarlet, Porte, Azure, Mellynda, Colette, juga Lloyd.”
“Se-sebanyak itu?!” Aria tercengang. “Bahkan Lloyd juga...?”
Tapi tiba-tiba....
‘BRAK!’
Pintu kediaman Reina didobrak paksa oleh seorang pria Elf.
“Ini gawat, Reina!” seru Si Elf Pria. Dia datang dengan wajah yang super panik. Napasnya pun terengah.
“Apa?!” Reina tak sengaja menjerit—karena kondisinya yang masih dilanda bingung.
“Te-Tetua...!”
Reina dan Aria langsung mengernyit begitu kata itu diucap.
“Tetua mendadak sangat lemah! Tu-tubuhnya juga terus-terusan mengeluarkan semacam asap hitam!
“Kami sudah mencoba segala yang mungkin kami bisa lakukan, seperti penyembuhan luka luar, dalam, racun, dan seterusnya ... tetapi tidak ada hasilnya!”
“Disaat-saat seperti ini...” Reina menggumam, mengambil segelas air dan langsung meneguknya. Tapi kemudian....
‘PRANGG!’
Gelas yang digenggamnya jatuh, menanda-tanyakan kedua Elf di dekatnya, apa yang telah terjadi?
“Ti... tidak mungkin...!” tubuhnya perlahan-lahan jadi bergemetar.
Kemudian, melihat gelagat Reina, Aria segera mengerutkan dahi, lalu menghampirinya. “Tegarkan dirimu, Reina!” bentaknya, sambil mengguncang bahu Reina. “Katakan padaku, apa yang sudah kaulihat? Jika kau tetap menyimpannya, kau yang paling tahu apa yang akan terjadi pada tubuhmu!”
Reina langsung mencengkeram keras Aria di bagian lengannya. Begitu keras hingga membuatnya sempat meringis kesakitan.
“Zeeta...!
“Pohon Chronos telah memberiku waskita ... bahwa Zeeta...!”
Aria dan Si Elf Pria yang hanya kebetulan berada di sini kaget setengah mati atas apa yang baru saja dikatakan Reina.
“Tapi ... bagaimana...?” Aria bertanya. Ia seakan mengerti apa maksud ucapan Reina yang tidak diselesaikan itu.
“Nghkk...!” Reina memegangi kepalanya. “Banyak sekali teriakan-teriakan minta tolong ... suara ledakan dimana-mana.... Aku pun tak tahu apa yang membuatnya jadi begitu....”
Aria merasa pasti ada sesuatu yang bisa dilakukannya. “Ini bukanlah waktunya untuk hanya diam tercengang setelah Tetua Hugo memilihku untuk menjaga Reina dari masalah seperti ini!”
“Reina. Aku tahu ini sangat sulit bagimu, tapi dengarkanlah aku.
“Tidak mungkin tiada alasan Tetua Hugo bisa mendadak seperti itu disaat yang bersamaan dengan waskita yang telah kaulihat. Pasti. Pasti ada sebuah celah waktu dimana hal itu bisa terjadi!”
Meski dengan wajah berkeringatnya, Reina mengangguk. Namun....
“Tidak perlu kaulakukan itu!” suara seorang pria terdengar dari luar.
“Te-Tetua?!” Si Elf Pria tak menyangka kedatangan Hugo yang dibopong dua Elf pria lain.
“Yang bisa melakukan ... hal semacam ini padaku ... sekaligus menembus perlindungan Hutan Sihir Agung tidaklah banyak. Kita semua ... kedatangan tamu ... yang sangat berbahaya!
“Segeralah cari secara teliti ... dimana Lloyd berada ... dan beritahu dia!
“Bahwa ‘Sang Penguasa Kekelaman’ telah melintasi waktu!”
Semua Elf yang ada di sana kaget. Tapi kemudian....
“Heehhh... ternyata apa yang dikatakannya bahwa Elf bisa melihat waskita benar adanya, ya....” Suara seorang pria terdengar di suatu tempat.
“Siapa di sana?!” Si Elf Pria yang sebelumnya mendobrak pintu, bersiaga. Pun dengan Aria yang langsung merapatkan tubuhnya dengan Reina. Begitu juga dua Elf pria yang membopong Hugo.
“Wanita itu sangat gila kekuatannya, lho, bahkan tidak perlu lagi mengukur ki-nya. Semuanya sudah terlihat dari penampilannya.”
‘FWIP’
Pemilik suara itu turun ke hadapan mereka semua. “Dia sudah membunuh banyaaak sekali orang, kuhahaha!” pria itu adalah pria yang pernah menyerang Aurora sebelumnya. Berambut kuning panjang dengan kain merah diikat di keningnya. Dia adalah Nanashi.
“Apa maumu ke sini...?” tanya Hugo.
“Mauku? Hmm. Tentu saja menjalankan misiku. Apa kaubisa mengetahuinya?” Nanashi menyeringai.
Hugo menutup mata lalu menghela napas. “Tiada Manusia sejauh ini selain dia yang berniat baik memasuki hutan ini.”
Meresponnya, Nanashi semakin melebarkan seringainya. Kemudian perlahan-lahan asap hitam terlihat mulai mengepul di berbagai sisi Grandtopia. Warna glow biru dari rerumputan dan tanahnya, berubah merah.
__ADS_1
“Ghk...!” Hugo dan Reina meringis bersamaan.
“Hahahahaha! Ini jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada menyerang Aurora!” seru Nanashi dengan hebohnya, “kalian tidak mampu melakukan apapun disaat dua Elf itu terpojok! Kalian benar-benar sampah! Jika seterusnya misi dari wanita itu selalu seperti ini, apa sebaiknya kita tunduk saja pada dia, ya, Gendut...?”
‘BWHAM!’
Asuka turun dari sebuah cabang pohon. Dia tampak memegang sesuatu di kedua tangannya. “Ya,” jawabnya, “sebelumnya kita sempat terganggu oleh Arata.”
Semua Elf yang ada di sana kaget melihat apa yang digenggam Asuka dan mereka juga tahu apa itu. Itu adalah dua buah stoples berisikan butiran-butiran mana berwarna hitam, putih, dan ungu gelap. Kesemuanya terlihat bersinar.
“Oh?” Nanashi menyadari gelagat para Elf. “Kalian sepertinya tahu barang ini apa....
“Biar kuberitahu satu fakta menyenangkan!
“Wanita itu bilang, ‘Elf adalah makhluk yang saling berhubungan dengan hutan di sekitarnya. Habisilah mereka dengan kekuatanku ini. Waspadalah. Ini sangat destruktif.’”
Menyusul akhir kalimat Nanashi, ledakan kemudian terjadi tak jauh dari mereka. Ledakan demi ledakan saling menyahut satu sama lain—langsung mengubah Grandtopia menjadi lautan api dalam sekejap mata.
“Tetua! Kita juga harus bertindak! Pasti ada yang salah dari semua yang dikatakan mereka!” ujar Elf lain yang membopongnya.
“Tidak. Tidak ada kesalahan dalam pernyataan mereka,” jawab Hugo, yang tidak disangka oleh semua Elf di sana. “Reina, sudahkah?”
“Ya! Aku sudah menyelesaikannya!”
Hugo tersenyum. “Kalian bisa melepaskanku.”
“Eh? Ta-tapi, tubuhmu masih....”
“Tidak apa!”
Mau tidak mau, kedua Elf itu melepaskan Hugo. Ketika itulah, Nanashi dan Asuka menyadari ada yang tak beres.
Hugo menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Perlahan-lahan, tubuhnya kembali seperti sedia kala—sehat bugar. “Aku adalah Elf yang mengajarinya banyak hal di hutan ini. Dan akulah juga yang menciptakan hutan ini.
“Tapi, banyak TIDAK BERARTI semua. Dan kalian salah menilai ucapan wanita itu.”
“Apa?!”
“Hutan ini adalah hutan para Elf. Hutan juga saling berhubungan dengan kami. Itulah informasi yang kalian terima darinya. Lantas, tidakkah kalian berpikir, dimana sisa Elf yang lain? Apakah mereka terbakar di rumah masing-masing?”
“Itu sudah pasti!” jawab Nanashi.
“Anak-anak, sudah waktunya.”
Asuka dan Nanashi merinding ketika secara serentak—secepat angin—puluhan Elf mengepung mereka. Kemudian, disaat yang bersamaan, mereka menciptakan busur panah, yang segera ditembakkan beruntun menuju titik-titik api dengan sihir air berbentuk anak panah. Setelah asap mengepul mengelilingi mereka, mata bercahaya dari masing-masing Elf, serta mereka yang menjadi target selanjutnya, membuat keduanya sempat panik. Tapi....
Nanashi sekali lagi menyeringai. “Seperti ini saja?!
‘ZRSHT!’
Darah mengucur dari leher Nanashi.
“Asal kalian tahu, Elf sangat membenci Manusia.” Hugo sendirilah yang melukai leher Nanashi dengan akar yang muncul dari belakang Nanashi. “Semua Manusia yang berniat buruk terhadap hutan ini, adalah musuh bagi Elf.
“Habisi mereka.”
Asuka yang terpojok, bahkan tak mampu mengunjuk-gigi-kan kekuatan Naganya. Kala itulah, keduanya mengingat beberapa jam sebelum mereka menginjakkan kaki di Grandtopia.
......................
[Malam hari, setelah Asuka, Nanashi, dan Arata kembali ke kekaisaran Seiryuu dan telah melaporkan kegagalan mereka....]
Sambil mengharapkan ampunan terhadap nyawa mereka, Nanashi dan Asuka dalam posisi sujud, sementara sang kaisar mereka, Zero, berada di ruang terpisah. Ruang itu adalah ruang khusus untuk sang kaisar. Ruangan tersebut terbuat dari kayu—dimana bagian depannya, adalah kertas anorganik, sehingga hanya siluetnya sajalah yang dapat dilihat bawahan-bawahannya. Tanpa izin darinya langsung, tiada yang boleh melihat wajahnya.
“Begitu,” ucap Sang Kaisar, Zero. “Padahal aku sangat memercayai kemampuan kalian. Lantas, kenapa tidak kalian gunakan kekuatan suci yang telah kuberikan sejak awal?”
“So-soal itu, Yang Mulia....” Nanashi berpikir untuk mengambing-hitamkan Arata. Namun....
“Tidak perlu terheran begitu, Kaisar!” suara seorang wanita mengejutkan Nanashi.
“Oh...? Tidak kusangka ada yang bisa berhasil melewati Naga penjagaku.” Sang Kaisar tetap tenang. “Katakanlah, siapa dirimu dan apa hubunganmu dengan mereka, Wanita?”
“Mereka? Hanyalah serangga yang tidak berguna. Kalau aku jadi mereka, aku takkan berani kembali menghadapmu.”
“Apa...?!” Nanashi dan Asuka terpancing emosi. Mereka bahkan tidak tahu atau bahkan mengenali siapa wanita yang tiba-tiba saja menampakkan batang hidungnya ini.
“DIAM!” Sang Kaisar membentak—yang membuat ruangan itu bergemuruh. “Aku tidak memerintahkan kalian untuk bersuara.”
“Oooh, seram sekali.” Si Wanita hanya bisa tersenyum.
“Maafkan kelancangan bawahan tak bergunaku. Jadi, siapa namamu, Wanita?”
“Hahaha, tidak apa, Kaisar. Bawahan memang sering tidak berguna. Aku paham perasaanmu.
“Hmmm....
“Bagaimana kalau kubilang, aku adalah Penguasa Kekelaman?”
Tanpa sepengetahuan mereka yang berada di luar ruang Zero, urat kepalanya seakan hendak meledak. “Penguasa Kekelaman, katamu? Atas dasar apa kau mengakui nama itu?”
__ADS_1
“Bukankah matamu itu milik seekor Naga Kuno bernama Gram, Kaisar? Cobalah. Pastikan saja sendiri.”
Sandaran untuk tangan pada kursinya dicengkeram hebat hingga membuatnya hancur. “Tidak perlu. Aku sudah yakin kau tidak berbohong.
“Jadi, apa kauingin menghancurkan kekaisaran suci ini, Penguasa Kekelaman?”
“Tidak. Aku sudah bosan melihat kehancuran oleh tanganku sendiri.
“Bersepakatlah denganku, Kaisar.”
Zero terdiam sejenak. “Apa keinginanmu?”
Penguasa Kekelaman itu menyeringai. “Aku akan menjadi kekuatanmu dan sebagai gantinya, aku ingin bermain dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun yang kuhendaki. Tentu saja, aku akan menuruti perintahmu jika kauingin aku menyerang Aurora sekalipun.”
“Dasar wanita gila...!”
“Pfft!
“Hahahaha!
“Sadarilah posisimu, Kaisar! Tak ada alasan bagimu untuk menolak tawaran ini, bukan?”
“Khh...." Zero berkeringat dingin yang terus-terusan jatuh dari pelipisnya. “Baiklah. Jadilah kekuatan untuk kekaisaranku, Seiryuu, Penguasa Kekelaman!”
“Fufu. Itulah yang kuinginkan, Kaisar.... Menurutlah dan kau akan selamat...,” ujar Penguasa Kekelaman dengan pelan.
“Baiklah. Pinjamkanlah dua serangga tak berguna ini padaku. Aku ingin mereka langsung menyerang satu tempat berbahaya bagimu—yaitu tempat tinggal para Elf.”
“Hoo...? Kauyakin mereka akan berhasil?”
“Tidak perlu khawatir. Bahkan jika mereka gagal, tempat itu akan hancur. Karena akulah yang menjaminnya.”
“Baiklah. Gunakan mereka sekehendakmu.” Siluet Zero kemudian mengangkat kaki dari ruangnya.
.
.
.
.
“Apa-apaan ini? Serangga? Tak berguna?” batin Nanashi, yang masih dalam sujudnya. “Siapa sebenarnya wanita bajingan di belakangku ini? Kenapa Kaisar begitu menurut padanya?
“Juga... kenapa Si Gendut itu tidak....” Begitu dia menoleh ke kiri, arah dimana Asuka berada, ia kaget setengah mati. “AAAAHH!” jantungnya serasa ingin copot.
Ia melihat pelototan yang teramat tajam, wajah yang pucat, juga wajah yang sangat marah dengan rambut hitam panjang terurai. Pelototan matanya bahkan menimbulkan urat.
“Si-siapa kau?!” Nanashi merangkak mundur.
“Aku mendengarmu dengan sangat jelas, Serangga. Kau mengumpat padaku, bukan?
"Ha... hah...?" Nanashi tidak tahu kenapa Penguasa Kekelaman ini bisa mengetahui isi hatinya.
“Sadarilah posisimu. Kau hanyalah makhluk rendahan yang tidak mampu melakukan apapun! Lihatlah Serangga ini!" Penguasa Kekelaman menunjuk Asuka. "Dia bahkan tak mampu lagi bangun atau bahkan berpikir! Contohlah dia! Kalau tidak....”
‘TEK!'
Penguasa Kekelaman menjentik jemarinya dan seketika, Asuka tidak lagi terbentuk. Seluruh badannya berceceran kemana-mana.
“Ughp!” melihatnya dengan mata kepalanya langsung, Nanashi langsung merasa mual.
“Aaahh.... Bagus sekali! Aku sangat suka wajah seperti itu!
"Tapi tidak mengapa. Kau takkan kehilangan rekan pentingmu ini...."
‘TEK!’
Sekali lagi menjentikkan jemarinya, Penguasa Kekelaman membangkitkan Asuka dari lingkaran sihir ungu gelap yang muncul secara instan.
Gemetar, panik, kehabisan kata-kata, juga putus asa. Itulah yang dirasakan Nanashi sekarang.
“Patuhlah dan aku akan memberimu pekerjaan yang mudah dan menyenangkan bagi kalian. Mengerti?”
Hampir tak sanggup mengangguk, Nanashi membisukan bibir dan membiarkan tubuhnya yang bergerak.
......................
Ketika suasana Grandtopia sudah melandai, para Elf berkumpul membentuk lingkaran, menanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi. Jika Reina tidak bertindak cepat dengan memberitahu rekan Elf-nya yang lain, mungkin saja....
“Jadi, Tetua... bisakah kami mengetahui faktanya?” tanya Aria, “kenapa dia ... kenapa Zeeta menjadi ... Penguasa Kekelaman—seperti yang diramalkan Feline?”
“Itu tidak sepenuhnya benar.” Reina menjawab. “Waskita itu terkadang hanya memberi secuil penglihatan. Zeeta yang sekarang, masih baik-baik saja... kurasa.” Jawabannya membuat para Elf semakin tidak paham.
“Jadi ... apa maksudnya, ada dua Zeeta di dunia ini?” tanya Aria.
“Itu benar,” jawab Hugo. “Dunia ini sedang terancam oleh keberadaan mereka.”
Lagi-lagi, tanpa disangka-sangka mereka, dari tubuh yang sudah bersimbah darah dari Nanashi dan
__ADS_1
Asuka yang terletak tidak begitu jauh sebab akan segera dibakar, muncul lingkaran sihir ungu gelap. Mereka bangkit lagi—seperti yang dilakukan Penguasa Kekelaman pada Asuka....