Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pandangan Salah Seorang Dark Elf Pada Manusia


__ADS_3

Berkumpulnya orang-orang dari Aurora, Belle, dan kedatangan Edouard yang memancing tanda tanya, segera terjawab oleh Pria Tua tembus pandang tersebut. Pria itu juga menyadari gelagat anaknya yang ingin segera mengamuk padanya. “Tidak ada waktu untuk bertengkar denganku, Belle,” ujarnya, “karena kita sudah terhimpit oleh waktu.”


Azure dan Mellynda mampu menebak-nebak apa yang akan ditanyakan gadis berambut perak dan bermata merah itu. Sementara Scarlet, segera tegas bertanya, “Meskipun begitu, tidaklah menyakitkan bagimu untuk memperkenalkan diri pada kami, ‘kan, keturunan Aurora?”


Zeeta baru menyadari kalau Pria Tua itu juga memakai kalung bukan yang sama dengan Belle. Ia lalu memandangi kedua tangannya, menatapinya dengan cemas.


“Tentu saja aku akan memperkenalkan diri. Aku, juga anakku Belle yang ada di belakang kalian itu, adalah keturunan dari Galkrie. Seharusnya kalian berdua tahu siapa nama itu, bukan?”


Scarlet dan Zeeta saling pandang sesaat, kemudian mengangguk pada Edouard.


“Hanya satu tujuanku menghampiri kalian, yaitu untuk memperjelas dan meluruskan semua yang terjadi di sini.”


Azure dan Mellynda tiba-tiba menepuk bahu Zeeta. “Sebelum itu,” kata Azure, “biarkan kami berdua bicara dengannya dahulu.”


Edouard mengerti maksudnya, sehingga ia mengangguk. Tetapi Scarlet, “Apa yang ingin kalian bicarakan? Bicarakan saja di sini.”


“Tidak apa, Nek,” balas Zeeta, yang ingin menenangkan neneknya. “Hanya bicara saja, ‘kan?” Zeeta memastikan.


“Tentu saja.” Mellynda dan Azure menjawab bersamaan. Setelah itu, Zeetapun ikut bersama mereka.


“Jadi, selama mereka bertiga bicara, aku akan menjelaskan pada kalian,” tutur Edouard, setelah melihat menjauhnya Zeeta dan dua rekannya.” Belle, kemarilah. Aku tahu kau masih membenciku, tapi ini juga salahmu, jadi kau harus bertanggung jawab.”


“Hah?! Apa maksudmu?!” jerit Belle dari kejauhan.


“Kemarilah, Nak!” mata merah Edouard bersinar, memaksa Belle untuk menghampiri mereka. Melihatnya, membuat Scarlet jadi bertanya-tanya. Namun, karena pria tembus pandang ini hendak mengatakan apa yang ingin ditanyakannya, maka ia diam saja.


......................


[Sementara itu, di Grandtopia, kediaman Reina....]


“Gawat! Gawatgawatgawatgawat! Aku sudah berulang kali mencoba menyambungkan Chronos dengan Tanah Kematian, tapi selalu saja gagal!


“Kukira, dengan diriku yang mengerahkan seluruh tenaga, bisa menembus ke sana, tetapi aku salah besar! Padahal Tetua bilang akar Chronos meliputi seluruh Galdurheim....


“Waktuku sudah terbuang dua jam hanya untuk mencoba menghubungi Zeeta.... Aahh! A-apa boleh buat, sebaiknya kuhubungi Serina dan Gerda terlebih dahulu!”


.


.


.


.


[Tiga malam sebelum semua yang sedang berlangsung di Aurora terjadi....]


Malam itu, Gerda berhasil mengalahkan seorang prajurit Seiryuu yang bernama Akira. Kakaknya yang bernama Lyuu, dipaksa pulang oleh seekor Naga bernama Carlou ke kekaisaran asalnya. Sementara itu, jasad Akira, tetap tergeletak di hamparan tanah selama beberapa jam, sebab Gerda dan Serina, diundang masuk ke desa yang dipimpin oleh seorang pria muda bernama Reid.


Suasana tegang memenuhi sebuah ruang yang berisikan beberapa orang tua, dan puluhan pemuda-pemudi, termasuk Reid. Mereka semua menatap Serina dan Gerda curiga, juga adanya takut.


Gerda akhirnya mengambil langkah. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya—sebuah kertas kulit. Sambil tetap berdiri, Gerda membacakan dengan lantang apa yang tertulis di kertas tersebut.


“Berikut ini adalah pesan dari Yang Mulia Ratu Alicia Aurora XX. Dengarkanlah baik-baik, kalian semua!


“’Dua orang yang ada di hadapan kalian ini adalah utusanku. Mungkin beberapa dari kalian bertanya-tanya, kenapa ada Elf yang mau membantu Manusia? Tetapi atas titahku, permasalahan antara Manusia dengan Elf sudah berhenti. Tidak perlu adanya lagi pertumpahan darah yang tidak perlu.


“Tetapi, ketahuilah, bahwasannya banyak dari Elf yang tidak bisa melupakan kekejaman manusia, entah kalian terlibat atau tidak. Jadi, bersikaplah yang wajar di hadapan mereka.


“Sekarang, masalah utamanya. Di Aurora saat ini, sejak tujuh belas tahun terakhir, kami telah bersekutu dengan Naga, Dwarf, Half Elf, Elf, juga Raksasa.’”


“Ra-Raksasa?!” warga desa yang ada di ruang itu kaget.


“’Ya, kalian tidak salah dengar. Kami telah bersekutu dengan Raksasa. Oleh karena itu, aku tidak akan memerinci apa alasan kami tidak datang membela kalian, kendati kami adalah kerajaan yang paling dekat dengan desa kalian.


“Tujuan kami mengutus dua utusan ini, hanyalah satu. Menggali informasi tentang musuh, dan apapun yang kalian tahu, demi apa yang ingin dilindungi oleh Raksasa berani yang sudah membela kalian.


“Apabila kalian masih tidak percaya padaku, kuserahkan semuanya pada dua utusanku ini. Apapun keputusan kalian, Aurora tidak akan menghakimi.’


“Sekian, pesan dari Yang Mulia Ratu Alicia Aurora XX!”


Reid, sebagai pemimpin desanya, berdiri. “Berikanlah kami waktu untuk bicara.”


Gerda melihat ke arah Serina, yang tanggapannya adalah anggukan.


“Selagi kalian bicara, kalian tak keberatan kalau kami menguburkan jasad musuh kalian, ‘kan?” tanya Gerda.


Reid sempat terkejut, tetapi segera menjawab, “Ya, tidak apa.”


.


.


.


.


Ditemani cahaya bulan sabit, juga penerangan dari sihir Gerda, Serina membawa jasad Akira ke bukit, yang bisa terlihat dengan mata telanjang adanya papan nisan yang tersusun rapi di bawah sebuah pohon. Tentu saja, sebagai penggagas ide untuk memakamkan jasadnya, Gerda juga ikut, memimpin jalan. Serina yang bertugas membawa jasad, membawanya dengan melayangkan tubuh kaku itu di udara.


“Ternyata kalian memiliki cara tersendiri saat ada rekan sebangsa yang mati, ya?” tanya Serina, kala berjalan.


“Apa itu berarti Elf memiliki cara yang beda?”


“Ya. Kami menyebutnya upacara perpisahan. Berbeda dengan makhluk hidup lain yang jiwanya akan dijemput oleh Flakka, kami langsung mengembalikan jiwa rekan sebangsa kami yang sudah tewas menjadi mana, dengan kekuatan Tetua kami.”

__ADS_1


“Flakka, kah... apa menurutmu jiwa pria ini sudah dijemput?”


“Aku tidak tahu, sepertinya belum.”


Sempat terjadi keheningan diantara mereka, sebelum Gerda bertanya, “Bolehkah aku bertanya tentang satu hal yang mungkin tidak sopan?”


“Apa?”


“Zeeta berlatih denganmu, bukan? Di tempat tinggal para Elf?”


“Ya, itu benar.”


“Apakah ada kesempatan bagiku atau Crescent Void yang lain mengunjungi tempat tinggalmu itu?”


Serina memejamkan mata, juga terhenti sesaat. “Maaf, tapi tidak.”


“Begitu kah.... Yah, aku tidak masalah. Aku hanya ingin tahu, juga setidaknya ingin mendoakan leluhur Zeeta yang tiga tahun lalu pernah mengguncang dunia itu.”


“Kuhargai niatmu, Gerda. Tapi, kebencian Elf pada manusia, meskipun ibu Tetua sudah bilang bahwa kebencian antara kami sudah sirna, luka yang terdapat pada hati dan kepala, tidak bisa hilang begitu saja.


“Jika aku harus jujur, bahkan jika Zeeta adalah orangnya, kalau dia melakukan sesuatu yang buruk pada rekan sebangsa kami, Elf tidak akan diam saja.”


“....” Gerda terdiam, membuat Serina mengalihkan pandangan. Ia merasa suasana menjadi pahit karena topik mereka. Tapi....


“Tenang saja, Serina. Manusia-manusia yang ada di dekatmu, tidak akan melakukan hal buruk itu. Malah, kami pasti akan melakukan tindakan yang sama seperti kalian, bahkan jika itu Zeeta.


“Yang ingin kukatakan, kalian mungkin masih takut dan membenci kami, meskipun kami adalah teman-teman terdekat Zeeta. Tapi, setidaknya untukku, aku benar-benar ingin berteman dengan kalian, bercerita, menghabisi waktu, juga belajar lebih banyak hal tentang dunia ini bersama kalian.


“Soalnya ... kita yang sudah satu tim ini, sama saja dengan teman, bukan?”


Gerda menunjukkan senyum lima jarinya.


Serina kehabisan kata-kata untuk membalas senyuman itu. Yang bisa ia lakukan, hanyalah membatin, “Sungguh, manusia memang makhluk yang tidak bisa kumengerti....”


......................


Usai membutuhkan waktu tidak sampai sepuluh menit untuk mengubur dan menciptakan nisan tak bernama, namun hanya bertuliskan, “Prajurit Pria Seiryuu”, mereka akhirnya didatangi “tamu”, yang sebelumnya menjadi topik bahasan mereka—Flakka.


“Baru kali ini aku melihat mereka...,” ujar Gerda, yang naik ke batang pohon bersama Serina. Mereka memandangi bagaimana proses pengambilan jiwa oleh para Flakka.


“Seharusnya Flakka tidak bisa dilihat oleh manusia,” tanggap Serina. Mereka lalu melihat jiwa—serupa dengan hantu—tersedot keluar dari tanah, kemudian lehernya dirantai. Sebuah Flakka yang datang, tiba-tiba saja hilang, bersama dengan jiwa yang dirantai lehernya.


“Eh? Kenapa bisa begitu?”


“Ingatlah lagi dimasa lalumu, apakah kau pernah melihat Flakka?”


Gerda menggeleng. “Ah, apa ini karena senjata suciku?”


“Bisa jadi.”


“Dunia terkadang memiliki sisi yang harus dibuka oleh suatu kunci khusus terlebih dahulu, ya....”


“Fufufu." Serina tertawa sambil menutup mulutnya. "Kau benar.”


Tak lama kemudian, keduanya melihat Reid keluar dari rumah yang sebelumnya dijadikan sebagai tempat pertemuan mereka. Ia lalu melambaikan tangan. Keduanya segera melompat lambung tinggi dari batang tersebut, lalu mendarat sempurna di hadapan Reid. Hal itu tentu saja mengejutkan bagi Reid, yang benar-benar hanyalah manusia biasa.


“Bagaimana?” tanya Gerda.


“Silakan masuk terlebih dahulu. Kalian setidaknya haus, bukan?”


“Wow, tidak kusangka. Dengan senang hati kuterima.”


“Tunggu, Gerda.” Serina mengernyit. Dia juga menahan lengan kanannya.


“Tenang saja. Orang-orang ini tidak akan mengkhianati kita dengan memberikan kita racun atau semacamnya.”


“Ra-racun?!” Reid terkejut.


“Kenapa kaubisa yakin? Lagi pula, dua Peri tadi juga tidak tampak selama ini. Sudah pasti ada yang mereka sembunyikan!”


Reid cukup paham apa yang terjadi di sini, menilai dari situasi dan raut wajah Serina. “Kalau kau mencari para Peri itu, mereka sedang menyembuhkan rekan-rekanku yang terluka,” ujar Reid, “desa ini juga memutuskan untuk menerima bantuan dari kalian, juga akan memberi kalian informasi apapun yang kalian butuhkan, apabila yang kami miliki ini bisa bermanfaat.”


“Tuh, ‘kan?” Gerda tersenyum. Ia lalu memegang pelan tangan kanan Serina yang menahannya itu.


Serina masih memasang wajah yang sama. Sehingga, Gerda bilang pada Reid, “Maaf, bisakah kau tunggu lebih lama lagi? Tapi, tolong siapkan saja minum yang ingin kau berikan itu ya. Jujur saja, aku memang sangat haus. Ah, air putih saja juga boleh.”


“Ba-baiklah....” Reid pun meninggalkan mereka berdua.


.


.


.


.


“Manusia itu makhluk yang sederhana, Serina.” Gerda menatap serius Serina. “Tetapi kadang, karena kesederhanaan mereka itulah yang membuat kami sulit dimengerti.


“Aku yakin orang-orang di desa ini tidak akan mengkhianatimu, ataupun aku, karena mereka adalah manusia-manusia yang sudah dilindungi oleh Raksasa, hingga mengorbankan nyawanya sendiri.”


Baru setelah itulah, raut wajah Serina, salah satu Dark Elf, dan merupakan adik pertama dari Jourgan, berubah. Dia sadar kalau Gerda ada benarnya.


“Maafkan aku, karena kebencianku, aku jadi—“

__ADS_1


“Tidak apa. Itu bukan masalah besar. Aku hanya ingin kauingat satu hal yang kukatakan tadi saja, tentang teman-teman Zeeta, termasuk aku. Namun, bila kau masih tidak bisa melupakan kebencian itu, kami juga tidak akan menyalahkanmu.


“Ayo. Misi kita belum selesai. Setelah kita bicara malam ini, aku berpikir untuk menginap dulu.” Gerda masuk ke rumah.


“Aku ikut denganmu.”


“Begitu? Baiklah.”


......................


“Pwaahhh!!” Gerda merasa puas setelah meneguk minuman yang disajikan untuknya dan Serina. “Apa-apaan minuman ini? Ini sangat lezat!”


Minuman itu disajikan di cangkir besar, berwarna cokelat kehitaman, dengan banyak busa di atasnya.


“Syukurlah bila kau menyukainya,” jawab Reid, “ini disebut ale. Minuman fermentasi dari biji-bijian, meskipun begitu, kami memberikannya perisa buah. Apa Aurora tidak memiliki minuman seperti ni?”


“Oh, ale kah? Aku hanya pernah mendengar dari seorang kenalanku yang menjalani sebuah kedai, tapi dia hanya menghidangkan bir dan anggur. Tahun ini, aku baru bisa minum minuman begini! Duniaku benar-benar terasa berbeda saat aku meminum alkohol begini, rasanya aku menemukan harta karun tersembunyi seumur hidup!


“Selain itu, aku tidak menduga kau membenci minuman keras, Serina.”


“Apa?! Ada masalah denganku yang lebih menikmati air putih?!”


“Sa-santai-santai... aku hanya bercanda…. Maaf jika aku menyinggungmu.”


“Ugh....” Serina menekan-nekan keningnya. “Tidak, aku yang minta maaf. Aku hanya tidak bisa tahan dengan alkohol.”


“Tapi, jika kau menginginkannya, aku bisa menyediakanmu jus renjie.” Ucapan Gerda, tak hanya membingungkan Serina, tapi penduduk desa yang ada di satu rumah tersebut, yang duduk lesehan.


“Renjie?” bahkan Reid bertanya.


“Tunggu sebentar.” Gerda hendak menciptakan sesuatu dengan sihir tanahnya. “Ah, boleh aku minta cangkir kosong?”


“Ya, tentu.”


.


.


.


.


Setelah Gerda menerima cangkir kosong, dengan sihir tanahnya, ia menumbuhkan sebuah pohon renjie.


“Ka-kaubisa menciptakan pohon, Nona?!” Reid teramat terkejut.


“Hah? Kau tidak pernah melihat pohon ini?”


“Tidak. Memangnya pohon ini... tidaktidaktidak, bukan itu yang kutanya—“


“Yah, masalah kecil tidak usah dipermasalahkan!


“Mungkin karena desa kami berada dekat dengan Hutan Peri, makanya tiada yang pernah melihat pohon ini, ya? Aku pun tidak tahu.”


Gerda kemudian memetik satu dari banyaknya buah yang langsung tumbuh pada pohon tersebut. Setelah itu, dengan sihirnya, ia memeras renjie, memisahkannya dari biji, lalu bertanya pada Serina. “Kau ingin dingin, atau biasa?”


“DINGIN!” Serina menjawabnya dengan begitu semangat dan cepat.


“Hahaha, baiklah!”


Dengan tangan kiri yang memeras renjie dan tetap melayangkannya di udara, tangan kanan Gerda digunakannya untuk menciptakan air, menyatukan kedua cairan itu dengan menepuk tangan. Kemudian, setelah menepuk, dia mengocok-ngocok tangannya, lalu membukanya perlahan sambil mengarahkan cairan yang berwarna jingga tersebut ke dalam cangkir.


“Baunya harum sekali....” Reid terkagum.


Sementara itu Serina, ia merona merah, tak sabar ingin segera mencicipinya.


“Sentuhan terakhir!” seru Gerda, yang menyihir minuman berwarna jingga itu dengan jemarinya, menggunakan telunjuk kanan. Ia mendinginkan suhu minumannya. “Sebenarnya ada cara yang lebih cocok dan akan lebih membuat minuman ini terasa lebih nikmat, tapi aku, Zeeta, dan kak Azure, bersama-sama menciptakan versi lite dari sihirnya!”


Gerda mendorong cangkirnya pada Serina. “Silakan diminum, Sobat!”


“Selamat menikmati!”


‘Glug ... glug ... glug....’


“Nona Elf, bagaimana rasanya?!” tanya Reid dengan sangat semangat.


Binar mata tercermin dari mata Serina. “LE-ZAT!


“Gerda, bisakah aku tambah?!”


“Ya, tentu saja! Apa kalian juga ma—“ Gerda yang ingin memastikan, kaget saat melihat para penduduk desa sudah meneteskan liur mereka. “Baiklah, untuk merayakan kemenangan desa, serta menyambut kedatangan kami, ayo kita berpesta!”


Semuanya segera bersemangat. “AYOOOO!!”


“Aku juga akan membuatkan kalian beberapa makanan hasil resep dari Tuan Putri Kedua Puluh Satu Aurora, Zeeta! Asal kalian tahu, kelezatan makanannya, menyaingi kelezatan masakan koki nomor satu sekerajaan Aurora, Arthur!


“Kupastikan kalian kenyang dan menikmatinya, meskipun semua bahannya kuciptakan dengan sihirku! Bersabarlah saja karena ini bukan hasil alam!”


......................


Setelah tiga jam dihabiskan untuk berpesta bersama, pukul sebelas malam, Serina meninggalkan rumah, dimana penduduk desa yang ada di rumah tersebut, termasuk Reid, yang awalnya berniat untuk membicarakan rencana untuk kedepannya, benar-benar terhenti karena semuanya tertidur.


Mereka asyik minum, makan, dan mengobrol diluar topik seharusnya, mereka juga bahkan menjadikan renjie yang seharusnya adalah jus, menjadi minuman beralkohol. Serina benar-benar tak habis pikir dengan apa yang telah ia jalani bersama mereka.

__ADS_1


Namun... bukan berarti dia membencinya. Saat ia berjalan sendirian di kesunyian malam ini pun, senyum terjahit di wajahnya.


“Tetua ... manusia itu ... benar-benar aneh....”


__ADS_2