
Jeritan kencang Zeeta terdengar menggema hingga telinga mereka yang sedang memerhatikan bangkitnya Azure dan Mellynda dari “kematian”. Keduanya yang sama-sama mendengar jeritan teman berharganya itu, tak mampu bergerak banyak karena tubuh yang terasa lemas. Oleh karena itu, Tellaura, Scarlet, Porte, dan Albert-lah yang menyusul ke sumber suara.
.
.
.
.
“Ada apa?!” teriak Scarlet, “Zeeta, kau baik-baik saja?!”
Keempat orang dewasa itu kemudian melihat Zeeta yang sedang berdekapan dengan Belle.
“Si-siapa gadis itu? Kenapa dia memakai kalung yang serupa dengan—“ Albert yang kebingungan, segera ditepuk bahunya oleh Porte—menandakan bahwa nanti dirinya yang akan menjelaskan.
“Aku tak apa, Nek,” ujar Zeeta, sembari melepas dekapannya pada Belle. Dirinya kemudian turun dari batu besar tempurung. “Apa kak Azure dan Melly sudah selesai? Aku hanya ... ingin segera pulang untuk saat ini.” Zeeta mencengkeram lengan kirinya, juga menatap tanah. Wajahnya juga menunjukkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Semua orang dewasa di sana tidak bisa ditipu dengan wajah yang seperti itu. Memang mereka tidak mendapatkan jawaban langsung dari Zeeta, tetapi tidak ada salahnya bila mereka pulang.
“Baiklah. Grand Duke, siapkan lingkaran sihir untuk semua orang teleportasi,” perintah Scarlet.
“Siap, Nyonya Scarlet,” jawab Albert, yang segera kembali ke tenda.
“Kami akan menunggumu. Selesaikan urusanmu dengan Belle.” Scarlet kemudian menyusul Albert bersama Porte.
Setelah keduanya pergi, Tellaura segera mengerutkan keningnya pada Zeeta. “Beritahu aku apa yang terjadi.”
Zeeta yang membungkam, membuat Belle memutuskan untuk angkat bicara menggantikannya. Dirinya menunjukkan cincin Catastrophe Seal dan bilang kalau ketika dirinya memakai cincin tersebut, Zeeta berteriak kencang.
Hanya ada poker face atau wajah yang biasa-biasa saja setelah Tellaura mendengarnya. Belle tidak tahu apakah leluhurnya itu memang tidak mengetahuinya atau hanya berpura-pura, tetapi ia segera mengembalikan cincinnya pada Zeeta.
“Zeeta, lihatlah aku.” Belle mencengkeram kedua bahu Zeeta. Zeetapun menurutinya. “Kau sudah membulatkan tekadmu untuk sejauh ini. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berteriak, tetapi janganlah takut.”
“Aku akan berusaha.” Zeeta menjawabnya, dengan mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.
Kemudian, mereka berpisah. Zeeta menyusul nenek dan rekan-rekannya, sementara Tellaura dan Belle tetap di desa. Mereka memandangi dari kejauhan kepergian rombongan tersebut dengan lingkaran sihir kejinggaan yang cukup besar.
“Jadi?” tanya Belle, “apa yang membuatmu tetap di sini, Tellaura?”
“Beritahu aku satu hal, Belle.”
“Tentang apa?”
“Seperti apa sajakah Benih Yggdrasil selain Zeeta?”
Belle secara percuma memberitahu Tellaura bahwa seorang diantaranya adalah Pangeran dari kerajaan Nebula—sebuah kerajaan yang terlahir dari bersatunya kerajaan Gala dan kerajaan Southern Flare—dan seorang yang lain adalah dari pihak musuh, Putri kekaisaran Seiryuu.
“Pangeran itu bernama Klutzie dan Putri yang bernama Hitomi Reiko. Sebagai informasi tambahan, Hitomi ini memiliki julukan sebagai Penyihir Bintang, Asteria.”
“Penyihir Bintang...?” Tellaura memegangi dagunya. “Jangan-jangan...?”
__ADS_1
......................
[Kerajaan Aurora, istana....]
Scarlet menuntun Zeeta ke kamarnya. “Segeralah istirahat dan pulihkan tenagamu. Sisanya serahkan pada Nenek dan yang lain.”
“Uhm. Izinkan aku istirahat, Nek,” balas Zeeta.
Meskipun seperti biasa tetap menjadi penurut, Scarlet tetap merasa ada yang aneh. Namun dirinya tak bisa menanyakannya begitu saja.
Setelah itu, Scarlet dan Porte menghadap Alicia dan Hazell. Di ruang yang sama, hadir pula semua bangsawan terkait, termasuk Grand Duke Albert, mantan Grand Duchess, Ashley, serta Illia. Mereka mendengarkan apa yang telah terjadi selama rombongan yang baru saja pulang dari Tanah Kematian.
Seakan mimpi, semua yang memenuhi ruang takhta tak akan percaya cerita ini bila bukan orang berpengaruh yang mengatakannya.
.
.
.
.
[Disaat yang sama, di kamar Zeeta....]
Luna muncul dalam bentuk rubahnya di sebelah Zeeta yang sedang terbaring dengan piyama. “Aku tak merasakan mana-mu setelah kau kembali. Bukannya wajah senang dan gembira setelah menuntaskan tujuanmu ke Tanah Kematian, mengapa wajahmu seperti itu, Zee?”
“Ada sesuatu yang lagi-lagi membuatku takut, Luna....”
“Uhm. Itu benar.”
“Dan ini tidak bisa kauberitahu pada orang lain?”
“Mana bisa kuberitahu kalau apa yang kulihat ... ada orang-orang yang kusayangi sedang mengacungkan sihirnya padaku.”
Luna mengernyit. Dia lalu naik ke kasur. “Ceritakan padaku.”
Usai Zeeta bercerita....
“Jadi begitu,” respon Luna, “aku mengerti inti keinginanmu yang hendak melakukan hal-hal gila itu dan sejujurnya aku sudah menebak sejak lama kau akan melakukannya.”
“Benarkah?”
“Ya. Sejak aku memutuskan untuk menjadikanmu sebagai wadahku, juga Clarissa yang menjelaskan padamu tentang ‘cara spesifik’ itu, hanya masalah waktu saja sampai kau mendapatkan jawaban yang jelas.
“Namun, penglihatan itu bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan.
“Ini hanyalah saranku dan kau bebas untuk menolaknya, tetapi aku ingin kau bicara juga dengan Benih Yggdrasil lain.”
Zeeta terdiam sesaat, mencoba mencerna dengan baik kata-kata Roh Yggdrasil itu. “Jangan bilang ... kauingin membuatku dan Benih Yggdrasil di Seiryuu berkontak?”
“Hey. Ini lebih baik daripada tidak ada kejelasan diantara kalian. Iya, ‘kan?”
__ADS_1
“Ugghh... baiklah!
“Tapi aku akan kesana setelah mana-ku pulih!”
“Selama masa itu, aku akan menjagamu.”
“Hehe, terima kasih.”
......................
Keesokan siangnya, Zeeta mengisi hari-hari menjadi manusia biasanya dengan mengelilingi kerajaan. Dirinya yang sudah mengetahui situasi terkini Aurora, memakai waktu luangnya untuk menyapa dan membantu rakyatnya.
Sampai akhirnya, dia sampai di desa Lazuli, kediaman Arthur, yang kedainya sedang tutup. Gadis berambut perak berusia tujuh belas tahun yang melihat bagaimana desa ini tiga ratus tahun silam, berjalan diatas Luna yang memperbesar tubuhnya—menggantikan kaki Zeeta yang sudah kelelahan setelah berkeliling dua Wilayah, sendirian.
Sambil tetap menyapa orang-orang desa yang tertegun melihat rubah raksasa putih dengan dua ekor api di ujungnya, serta bulunya yang dari mata telanjang saja sudah bisa menebak bagaimana sensasi lembutnya, ada sebuah hal yang terlintas dalam benak Zeeta. Zeeta berpikir betapa desa ini sudah benar-benar berubah. Ini bukanlah desa monster yang selalu memerlakukan Tellaura dan Clarissa dengan tidak adil dan kejam.
“Hei, Luna...,” panggil Zeeta lirih, sambil mendekati wajahnya pada kepala Luna.
“Iya, Zee?”
“Maukah kau mengantarkanku sebuah rumah yang agak jauh dari sini?”
“Tentu saja. Tapi ... rumah siapakah itu?”
“Seseorang....” Zeeta menjawabnya dengan senyum.
Luna segera mengantarkannya sesuai arahan yang ditujukan Zeeta.
.
.
.
.
Mereka berdua sampai pada bangunan kokoh, namun sudah terselimuti oleh ilalang, tumbuhan menjalar, serta lumut. Kondisi bangunan itu persis seperti yang Zeeta lihat dengan sihir.
Angin menghembus kencang keduanya—memaksa Zeeta untuk melihat ke arah barat bangunan tua tak berpenghuni di depannya. “Aku takkan pernah tahu bila dulu Astray Land adalah bagian dari Tir Na Nog, atau yang sekarang kita sebut Hutan Sihir Agung, bila Tellaura tidak memerlihatkanku ingatannya,” gumamnya.
Luna akhirnya paham mengapa Zeeta ingin ke sini. “Tir Na Nog dahulu adalah tempat yang damai, dimana semua kehidupan saat itu berjalan seperti mimpi. Semuanya damai, tersenyum, dan dipenuhi oleh tawa.
“Semenjak pertikaian semakin menebal antar ras, Tir Na Nog bukanlah lagi hutan dambaan, kecuali beberapa hewan mistik, Dryad, dan penghuni baru yang menetap di sana—Elf.”
“Aku paham itu, Luna. Makanya, bila aku menghancurkan dunia ini....”
Luna menepuk kepala Zeeta dengan ekornya. “Dunia itu selalu berubah, Nak. Terkadang itu berputar ke arah yang baik, terkadang ke arah yang buruk. Sepertilah itu selama ini.”
Zeeta mendekap Luna dan mengelus-elusnya lembut sambil tersenyum. “Terima kasih. Sebelum kita pulang, aku ingin mengunjungi ayah Arthur. Kudengar dia sudah bertunangan dengan Nona Hellenia.”
“Baiklah. Katakan saja apa maumu, sebelum semuanya tak bisa lagi kaugenggam.”
__ADS_1
Dengan tetap tersenyum dan rambut yang terbawa oleh angin sebab Luna yang mulai berlari, Zeeta menjawab, “Ya. Aku harus mempersiapkan diri untuk hari akhir itu.”