
Erangan terdengar menggema ke seluruh Galdurheim. Ada yang mendengar rintihan wanita, tangisan, serta rintihan karena emosi yang tinggi. Semuanya bercampur menjadi satu.
Langit malam yang sebelumnya tampak sudah pulih, kini berubah lagi—seakan-akan membawa penduduk di bawahnya terdampar di dunia lain.
Kemarin malam rasanya adalah malam yang sangat indah dan dirindukan, bila mereka tahu kalau satu malam hari ini saja begitu berdampak besar kepada seluruh dunia. Kegelitaan yang seperti biasa, jutaan gemerlap bintang yang menghiasinya, serta rembulan yang menemani mereka, tidaklah tampak hari ini.
Kabut hitam, langit hijau, cahaya bulan meredup.
Demikianlah malam hari ini mengubah semua kedamaian menjadi kekacauan dalam sekejap mata.
Bila manusia yang memuncaki populasi Galdurheim saja mengalami ketakutan yang tak pernah dirasakan sebelumnya, tentu saja itu pun terjadi dengan para hewan. Mereka berlarian untuk mencoba menyelamatkan diri—meskipun seisi dunianya sudah tak ada lagi "jalan keluar".
Kepakan sayap para burung dapat dilihat sangat cepat, walau sedikit yang mampu menyaksikannya. Tak sedikit pula mereka yang tewas karena panik. Tidak hanya dari para burung, namun hewan darat lainnya serupa.
Apa yang dilakukan Zeeta Alter dan Keenai, menambahkan beban yang sangat besar untuk Tanah Kematian. Jangankan tempat yang seharusnya menyeimbangkan tiga dunia itu, Galdurheim yang sekarang menjadi titik pusat semuanya terjadi pun terancam keberadaannya. Semua ini dapat terjadi hanya karena dua orang itu saja.
Lantas, apa langkah yang akan diambil mereka yang ada di garda paling depan, seperti Zeeta, Mellynda, Azure, dan Tellaura? Mereka bahkan tahu di dalam kerumunan jiwa yang sekarang sudah menjadi satu dalam Batu Jiwa—membentuk monster serupa dengan Diablo, ada jiwa teman-temannya.
"Nah... mari kita mulai kehancurannya!" seru Zeeta Alter. Ia menyeringai, menikmati setiap momen dan melodi yang didengarnya dari segala penjuru.
"Ifrit! Lindungilah Zeeta!" perintah Azure cepat, "Melly, apapun yang terjadi jangan sampai mati lagi!
"Ayo kerahkan semua yang kita miliki di sini dan sekarang!!"
Melly mengangguk mantap. "Baik!" ia kemudian mengaktifkan senjata suci dari kalung yang digelangkan di kedua tangannya.
Sementara itu, Azure bersiaga dengan tangan yang terus menumpahkan miasma.
Keenai tersenyum kecut. "Kalian pikir mereka sebanding denganmu?!" dirinya tersulut emosi. "Nona, tolong perintahkan—"
"Tidak perlu kaukatakan, Keenai. Yang lebih penting, pastikan tak ada yang menggangguku. Awasilah Tanah Kematian."
Keenai mendapati tatapan mata Alter telah mantap dengan segala kebenciannya. Hal tersebut justru membuatnya senang. "Baik!" ia lalu pergi menjauh.
Bersamaan dengan perginya Keenai, Alter menepuk tangan dua kali—yang langsung disambut oleh serangan salah satu monster menembakkan laser putih ke tanah. Kecepatannya di luar nalar, bahkan nyaris mengenai Azure jika ia tidak sempat menangkisnya dengan miasma di tangan.
"Kak Azure! Kau tak apa?!" jerit Mellynda khawatir.
"Ya! Tak apa," jawab Azure singkat.
"Apa-apaan serangan barusan?" batin Mellynda, "tanah dan tumbuhan yang terkena seketika membeku! Dan ... jangkauannya begitu luas, aku tak bisa melihat ujungnya...."
Azure menyeringai sambil menatap Alter. "Kau benar-benar berniat membunuhku, Zee?"
"Jangan buat aku mengulangi terus perkataanku."
"Aku jadi ingat, ibu pernah membuat kita bertarung satu lawan satu untuk memastikan kekuatanku, bukan?"
Alter mengernyit. "Apa yang kaubicarakan?"
"Aku juga tidak pernah menantangmu untuk serius, bukan?"
Alter mengerti arah bicaranya. "Baiklah, jika itu maumu." Ia menarik mundur empat monsternya ke belakang, menyisakan seorang yang baru saja menembakkan laser.
Azure tersenyum. "Aku senang kau cepat mengerti. Tapi, aku peringatkan kau satu hal sebelum kita mulai."
"Apa?"
"Aku ini selalu sayang padamu. Amarah dan sihir ini adalah bentuk perlindunganku untukmu. Namun, kali ini kau akan merasakan kemarahanku. Kau akan menangis, mundur, lalu menantangku—tidak—menantang kami lagi.
"Dan disaat itu, kupastikan kau akan kalah."
Alis Alter berkedut mendengarnya. "Sungguh besar kepala dirimu itu...." Ia bersiap untuk menyerang Azure.
__ADS_1
"Melly," panggil Azure lewat telepati, "kupercayakan sisanya di sini padamu."
Mellynda melihat senyum tipis dari Azure. Ia terbelalak. Segera, ia menjerit, "Kak Azure?!"
'BWHOOOOMM!'
Aura ungu pekat menyelimuti Azure. Tubuhnya semakin menumpahkan miasma yang mampu melelehkan segala yang disentuh.
"Aku datang, Zeeta!"
......................
[Kerajaan Nebula....]
Salah satu Benih Yggdrasil, Pangeran Klutzie Nebula II, sedang bertukar dialog dengan Lloyd.
Lloyd mendapati kerajaan ini aneh. Ia merasakan tubuhnya bergidik ngeri, namun tiada dari penduduk di sini, termasuk Pangerannya, yang merasakannya.
Semuanya terlihat tenang dan tampak baik-baik saja. Mereka juga melihat langit yang sama. Oleh sebab itu, Lloyd bertanya, "Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan, Manusia?"
Klutzie tersenyum. "Ini adalah teknologi, Lloyd. Kami menyebutnya sebagai nano. Teknologi ini dalam suatu artian adalah hasil jerih payah dari leluhurmu, Jewel."
"A-apa katamu...?" Lloyd terbelalak.
"Meski begitu, sedalam keinginanku untuk menjelaskan lebih banyak padamu, tapi kita tak memiliki waktu.
"Kami—aku dan Roh Yggdrasilku, Siren—menerima permintaan dari Luna dan Xennaville."
"Lalu...?" Lloyd memasang lebar telinganya.
"Kau tahu Zeeta telah kembali dari Tanah Kematian, bukan? Disaat sirkuit sihirnya masih belum berfungsi, dengan bantuan pengawas Tanah Kematian, Belle, Luna menghubungi Xennaville secara diam-diam.
"Ia memberitahu bahwa gerbang Drékaheim dan Jötunnheim nyaris terbuka karena benturan sihir dua keturunan Aurora di sana. Luna juga memberitahu Xennaville tentang rencana Zeeta yang ingin membiarkan musuh memiliki Batu Jiwa.
Klutzie memersilakan Lloyd untuk mengikutinya ke sebuah ruangan di dalam istana yang berbentuk tongkat sihir itu. Mereka terus menyusuri lorong demi lorong yang terasa semakin menanjak, sambil Klutzie lanjut menjelaskan.
"Ketika kami berempat saling berkontak, Luna mengatakan...."
......................
"Sejak awal, ramalan Ratu Peri Feline tidaklah salah. Zeeta memang akan menghancurkan dunia. Tetapi, bagaimana bisa dia mengetahuinya? Apakah karena pengalaman hidup panjangnya selama ribuan tahun?
"Apakah itu karena waskita dari kita ribuan tahun lalu, yang bahkan jika kita tidak memiliki Wadah seperti mereka, kita takkan mampu berbuat apapun?"
Siren mengernyit. "Tentu saja karena waskita itu! Naga, Raksasa, dan Peri yang terlibat saat perang kala itu melihatnya! Apa yang ingin kaukatakan?!"
"Kita hanya melihat sesosok gadis menangis menyesali perbuatannya. Bagaimana bisa hal itu memantik paham bahwa gadis itu benar-benar menghancurkan dunia, kecuali ada seseorang yang menginginkannya demikian?"
Siren tak mengerti maksud Luna.
"Siren," ujar Xennaville, "aku tahu beberapa waktu yang lalu aku tak berpihak dengan kalian, tapi dengarkanlah ini.
"Kita membagi dunia menjadi tiga—Galdurheim, Drékaheim, dan Jötunnheim.
"Lantas, apakah kau melupakan fakta eksistensi Fyrriheim?"
Siren tersentak. "Ja-jangan-jangan...?!"
Luna mengangguk. "Penduduk masa lalu, terutama Bulan dan Mataharilah yang menciptakannya. Jika aku tidak ikut bersama Zeeta saat ia ke Tanah Kematian, aku pun akan lupa dengan hal ini."
.
.
__ADS_1
.
.
Fyrriehim ... adalah salah satu pecahan dunia yang diciptakan Yggdrasil untuk menyeimbangkan dunia usai itu memecah diri menjadi Roh.
Seperti itulah sejarah yang diketahui bila tidak ada fakta lain yang muncul setelahnya.
Hampir 3000 tahun silam, perang sihir terjadi antara empat ras—Raksasa, Peri, Naga, dan Manusia. Peperangan mereka menyeret berbagai makhluk sihir lain seperti Dwarf dan masih banyak lagi.
Kala Tellaura menceritakan sejarah yang dimilikinya kepada keturunannya, hal tersebut memantik ingatan Luna. Sejarah yang dimaksud adalah ketika Bulan Darah terjadi yang menyebabkan terpanggilnya dia ke hadapan Seele dan Pohon Yggdrasil.
Rentetan kejadian yang dialami Gala dan keturunannya sangatlah kritis untuk menjadi tolak belakang mengapa Luna menghubungi Xennaville dan Siren, terutama saat Pohon Yggdrasil memecah dirinya untuk mengusaikan perang sihir.
Keturunan Bulan yang menangis darah kala itu, menyebutkan bahwa ia benci dunia ini karena telah merenggut segalanya darinya. Jika mengingat kejadian Tellaura, maka setelah itu ia pasti bertemu dengan Seele dan melihat Yggdrasil.
.
.
.
.
"Memang, secara keseluruhan, kejadian malam ini bisa terjadi karena ada campur tangannya Feline," ujar Luna, "namun, semua perbuatannya fokus pada satu hal—mengusik Manusia, sebagaimana kehidupannya selama ini. Itu tidak menjelaskan bagaimana dia bisa tahu Zeeta akan menghancurkan dunia. Iya, 'kan?"
"I-itu benar...." Siren berkeringat. "Kenapa kejadian sepenting itu bisa kita lupakan...?"
"Pasti karena kita terpecah. Bila Seele saja mengingatnya, hanya itulah yang kesimpulan yang bisa kutarik."
Klutzie yang ada di tengah-tengah pembicaraan besar itu kewalahan oleh topik.
"Bulan dan Matahari.... Aku tak percaya mendengar semuanya langsung dari mereka!
"Aku memang bisa menebak keturunan Bulan memiliki peran penting yang melandaskan semua ini bisa terjadi, tetapi aku tidak menyangka ada keturunan lain—para leluhur dari pihak ibuku—Southern Flare—juga ikut andil!
"Mereka bersepakat dengan Seele dan Yggdrasil untuk membantu mereka menciptakan dunia lampau agar menjadi pengingat supaya sejarah kelam yang menelan banyak korban jiwa itu tidak diulangi di masa depan!
"Mereka bahkan menghilangkan eksistensi sihir dari dunia dan mendamaikan Galdurheim selama lebih dari 2000 tahun!
"Tapi jika begitu...."
Klutzie mengernyit dan memegangi dagunya sambil memikirkan jawabannya sendiri. Pandangan itu disadari oleh Luna.
"Dugaanmu benar, Klutzie."
Klutzie terheran-heran. "Maksudnya...?"
"Kau pasti sedang berpikir, 'Jika begitu, penduduk masa lampau mungkin telah melihat atau menyaksikan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada perang sihir itu. Sebab, seperti apapun sejarah akan dibelokkan, waktu akan selalu mengarah pada satu tujuan. Dan tujuan itu mungkin adalah 'Akhir Dunia' yang saat ini sedang dalam proses.
"Oleh sebab itu mereka menciptakan Fyrriheim—memerlihatkan bagaimana mereka bertahan dari perang sihirnya.'
"Bagaimana?"
Lelaki nomor dua sekerajaannya itu menelan liurnya. "I-itu benar...."
"Apa maksudnya itu, Luna...?" tanya Siren yang mengernyit.
"Siren. Musuh yang paling melukai adalah teman yang tidak akan pernah kita curigai.
"Alasan Feline bisa meramal Zeeta bisa menghancurkan dunia, adalah Sihir Kuno yang bisa mempermainkan ingatan.
"Tidakkah aneh bagimu, mengapa tiba-tiba Tellaura dan para keturunan Matahari di Southern Flare mulai kembali menjadi 'pemeran aktif'?"
__ADS_1
Siren terbelalak dengan mulut yang terbuka. Demikian pula pada Klutzie.