Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Jiwa yang Tersesat


__ADS_3

Berjubah mantel hitam dengan rambut hitam panjang menjuntai hingga kaki, mata merah dengan iris mata runcing, memiliki kesan “Pangeran Sadis yang Tampan”, juga cukup terkenal di kalangan bangsawan, adalah identitas dari Sephiroth Southern Flare IV.


Matilda—ibu dari Hilma—bergetar ketakutan tatkala dirinya melihat kedatangan tiba-tiba Pangeran Keempat itu di depan rumahnya.


“Kau tahu, ‘kan, Matilda, apa yang paling tidak kusukai di dunia ini?” pertanyaan Sephiroth tidak dijawab. Ia jadi mengernyitkan keningnya. “Matilda? Apa kaudengar aku? Aku bertanya padamu.”


“A-aku tahu apa yang paling Anda tidak sukai ... Tu-Tuan Sephiroth,” jawab Matilda bergemetar, “i-itu adalah kebisingan dan... orang yang ikut campur masalahmu....”


Sephiroth menyeringai. “Itu benar.... Dan apa kautahu siapa sekarang yang sedang ikut campur masalahku?”


Matilda menunduk, kemudian menggeleng. “Ma-maafkan aku Tuan, a-aku tidak tahu....”


“Begitu. Kau tidak tahu, ya...? Sayang sekali....” Sephiroth mengangkat kedua tangannya dan menggeleng kepala—mengisyaratkan kata-kata ‘apa boleh buat’. “Kalau begitu kuberitahu. Kalian semua yang ada di sini sudah mengganggu rencanaku, termasuk adikku sendiri, Olav.”


Matilda segera mendorong Hilma ke belakang hingga dirinya tersungkur.


“I-Ibu? Apa yang kau...?!”


“Tenang saja, aku tidak akan membunuh kalian. Dengan syarat ... Matilda, kaubunuh dua anak kecil itu.” Sephiroth memandang tajam dan lurus Tellaura dan Clarissa yang masih terlelap.


Matilda terkesiap, juga terbelalak. “A-apa...?”


“Moh~ ada apa denganmu hari ini, Matilda? Kau tidak seperti biasanya!”


Matilda lagi-lagi bergemetar dan tidak mampu membalas apapun. Hal ini sangat membuat kesal Hilma. “Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Ibuku?!”


Sephiroth segera menyipitkan mata. “Diamlah. Aku tidak sedang bicara padamu!”


‘BWHAM!”


Hilma tiba-tiba saja terpelanting ke lantai, hingga melukai rahangnya sendiri.


“Hi-Hilma!” jerit Matilda.


“Apa itu barusan...?” batin Tellaura, “kenapa tiba-tba Hilma terjatuh lagi... bahkan lebih keras?!” Tellaura jadi ikut bergemetar karenanya.


Hilma mulai berdarah dari mulutnya. Matilda yang melihat anaknya terluka begitu, segera menghampiri dan memangku anaknya. “Ma-maafkan Ibu... ini semua karena—“


“Ah... jadi kau ibunya kah, Matilda...,” ujar Sephiroth lagi, “pantas saja aku merasa kejengkelan yang tidak kutahu asalnya darimana, ternyata dia anakmu bersama ... pria itu, ya?”


Matilda terbelalak untuk yang kesekian kalinya.


“Sungguh membawa kenangan. Saat itu sungguh mengejutkan, aku menyuruh orang-orangku untuk melenyapkan keluarga Arkwood, tetapi yang kudapatkan adalah laporan kalau mereka semua sudah tewas dan tidak ada lagi jejak Arkwood yang tersisa.


"Jantung Ferdinand yang menjadi target utamaku pun sudah terkoyak, tak mungkin lagi diselamatkan. Cara pembunuhannya pun mulus sekali. Tidak banyak darah yang bercucuran, tetapi luka yang diberikan sangatlah fatal.


“Bahkan para pelayan Arkwood juga tewas.


“Tapi... mereka melakukan sebuah kesalahan yang hanya aku bisa melihatnya.


“Lihat mata ini?


“Mata ini bukanlah mata biasa. Sederhananya, ini adalah pemberian seekor makhluk legendaris, namun orang tua serta keluargaku memandang mata ini sebagai mata kutukan.


“Mata ini bisa melihat masa lalu dalam jangka waktu yang pendek.


“Oleh karena itu, sesempurna apapun kau, Matilda, menyembunyikan diri dari pembunuhan keluarganya sendiri ... hanya aku yang bisa memperalatnya.”


Kala itu, Hilma mengerti semuanya. Pekerjaan kotor yang selama ini diberikan pada ibunya ... laki-laki yang selalu menyuruh ibunya ... adalah Sephiroth. Meskipun giginya berdarah, meskipun rahangnya sakit, dia menggertak giginya. “SIALAAAAANN!”


“Jangan! Jangan Hilma!” Matilda mendekap erat Hilma.


“Dialah... dia orang yang selalu menyuruh Ibu untuk membunuh?! Kenapa?!”


Sephiroth mendekati Hilma dan Matilda, lalu berjongkok. “Bakat itu harus digunakan secara maksimal oleh orang yang tepat.


“Tampaknya ibumu tidak pernah memberitahumu seperti apa sosok ayahmu dan keluarganya itu.


“Baron Ferdinand Arkwood, atau yang lebih dikenal sebagai The Mad Killer, adalah bangsawan yang bergerak di bidang medis—dan dibalik gerakan-gerakan medisnya itu, dia membunuh target-targetnya, yang berusaha ‘keluar dari sesatnya hutan’. Meskipun begitu, Ferdinand memiliki mimpinya sendiri.


“Dan itu adalah mengungkap semua rahasia yang bisa ia gali dari ‘hutan’ itu.


“Aku hanya menganggap remeh dirinya, karena tidak mungkin bangsawan rendah dan pembunuh sepertinya bisa mengungkap rahasia yang hanya bangsawan kerajaan mengetahuinya, tetapi aku salah. Keluarga Southern Flare salah.

__ADS_1


“Apa kautahu sepenting apa rahasia yang sudah diungkap ayahmu itu, Bocah?


“Aku melihat ibumu baru saja memberitahumu sebuah buku yang ada di ruang bawah tanah ini, tetapi itu hanyalah SEBAGIAN KECIL dari rahasianya saja.


“Rahasia tersebut tidak boleh diketahui Manusia, sebab Manusia hanyalah sumber masalah bagi dunia. Bila takdir Manusia hanyalah untuk musnah, biarlah musnah. Tidak perlu ada perjuangan yang sia-sia seperti ingin terus hidup.”


“Hanya karena alasan itu saja kau terus-terusan memberikan Ibuku pekerjaan kotor itu?!”


.


.


.


.


“Hanya ...?


“HANYA...?!”


Urat kepala timbul di kedua sisi kepala Sephiroth.


“MANUSIA ITU HANYALAH MAKHLUK RENDAHAN! MEREKA TIDAK PANTAS HIDUP!


“MANUSIA SALING MEMBUNUH MANUSIA ADALAH HAL YANG WAJAR, SEJAK DAHULU, SEJAK YGGDRASIL MASIHLAH ADA!


“Haaah... haaah....”


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, Olav dan rombongannya datang. “Jadi ini, kah, rumah jelata yang berhasil melukai tangan berbakatku ini?


“Hmm? Siapa itu...?” Olav mendapati siluet pria yang bangun dari jongkoknya. Ia lantas menghampirinya bersama para rombongannya.


 “Ini semua gara-gara kau, Adikku, Olav.” Sephiroth menggumam. Olav tidak begitu mendengarnya.


“Kakanda...?”


Disaat yang sama, Matilda mendorong Hilma jauh-jauh, dengan wajah yang panik. Kala itu, Hilma bisa mendengar dengan jelas ucapan apa yang dilontarkan ibunya. “Maafkan Ibu....”


‘ZRASHHT!’


Darah menutupi seluruh ruangan. Bahkan para anak-anak di situ juga tertutupi oleh darah di sekujur tubuhnya.


“A...


“Apa yang baru saja terjadi...?”


Hilma terbelalak, wajahnya pucat pasi, juga berkeringat dingin. Usai bertanya-tanya tentang itu, dia tak sadarkan diri.


Sementara itu....


Napas Tellaura yang melihat itu semua di depan matanya mulai tak beraturan. Dirinya perlahan sesak, hingga sangat sulit untuk bernapas. Dirinya tersungkur di atas genangan darah.


“Lihatlah ini. Ini adalah kekuatan yang diberikan seekor Naga, makhluk legendaris yang bahkan tidak pernah kulihat sebelumnya padaku!


“Fufuhahahaha!”


Tidak ada yang tersisa di situ selain para anak-anak. Semuanya tiba-tiba saja menjadi genangan darah. Tidak ada yang mengerti bagaimana cara Sephiroth bisa melakukannya.


“Sekarang masalahnya ... hanyalah kau, Bocah.”


Meski napas sangat sulit baginya untuk dihirup, Tellaura berusaha mendongakkan kepala.


“Jika Olav itu tidak membunuh kedua orang tuamu dan menculik adikmu, semuanya takkan berakhir seperti ini.


“Dengarlah aku, Bocah.

__ADS_1


“Aku tidak ingin bocah sepertimu terlibat lebih jauh dalam masalahku, tetapi setelah melihat kemampuanmu usai kabur dari ‘rumah hobi’ adikku, aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja.


“Aku mulai tahu kenapa pria bulat itu ingin sekali melenyapkan kalian, tetapi dalam diriku ini tidak memiliki rasa seperti itu, namun disaat yang sama, mata ini benar-benar membencimu. Amat sangat membencimu dan adikmu.


“Oleh karena itu, aku yang sudah diberikan kekuatan oleh mata ini, akan menuruti permintaan darinya, yang ingin membunuh kalian sekarang juga.”


Sephiroth mengangkat tangan kanannya. Di situ, Tellaura bisa melihat kuku-kuku Sephiroth yang hitam ternyata bisa memanjang dan meruncing dengan sendirinya—bagaikan cakar hewan. Sesuatu semacam bola juga mendadak muncul dari tangannya. Dia tahu, kalau dia terkena bola itu, sudah pasti dirinya dan adiknya tewas di tempat


......................


[POV Tellaura.]


Aku tidak mengerti sama sekali apa yang baru saja terjadi.


Kenapa tiba-tiba ibu Hilma seperti meledak begitu saja...?


A-apa yang baru saja dilakukan pria ini...?


Aku benar-benar tidak mengerti!


Hilma juga tiba-tiba pingsan.... Apa yang harus kulakukan...?


Ayah... Ibu....


.


.


.


.


Mungkin kami akan segera menyusul kalian. Hidup kami memang pendek, tetapi kurasa tidak ada penyesalan.


......................


“Hei hei hei!”


Suara seorang wanita terdengar dari belakang Sephiroth. “Huh? Siapa kau?!” tanyanya emosi.


“Tidak perlu kautahu siapa aku. Biarkan aku bicara sebentar dengan Bocah itu.” Wanita ini berambut pirang terang—wanita yang sama dengan yang sebelumnya menahan serangan Hilma. “Hei Bocah! Apa kau sudah lupa dengan janjimu pada adik dan dirimu sendiri?


“Kaubilang dan sudah bertekad untuk melindunginya apapun yang terjadi bukan?


“Maka buktikanlah itu. Buktikan tekad kuat yang membuatmu mampu menyelamatkan adikmu dari tempat mengerikan itu!”


Tellaura yang sebelumnya menutup mata karena sudah menyerah dalam posisi bungkuknya, segera terbelalak.


“Ngomong-ngomong,” sambung Si Wanita Pirang, “namamu Sephiroth, ya?”


“Hah? Memangnya kenapa?!”


“Begitu. Jadi begitu.” Si Wanita Pirang mengangguk-angguk. “Aku ganti pertanyaanku. Apakah kau yang membunuh orang-orang sekitar sini?”


“Membunuh sekitar? Apa maksudmu?”


“Hmmm....” Wanita Pirang menggumam. “Selain kehilangan jati diri, kau bahkan tidak bisa mengontrol kekuatanmu lagi. Betapa malang nasibmu, Sephiroth. Inilah akibat dari menentang Yggdrasil....”


Si Wanita Pirang membalik badan. “Bocah! Biar kuberi satu saran padamu.


“Target balas dendammu sudah mati. Namun, orang yang sudah menyelamatkanmu pun sudah mati. Hidupmu ke depannya akan jauh lebih sulit dari yang sekarang, tetapi yakinlah! Hidupmu akan mengubah dunia! Apapun yang terjadi, berjuanglah!” seakan tersapu oleh angin, Wanita Pirang itu lenyap.


“Cih,” Sephiroth mendecit. “Siapa wanita tidak jelas itu...?


“Sekarang... kembali ke—di-di mana bocah itu?!”


Sephiroth mencari ke sekeliling ruangan yang sudah berubah menjadi merah gelapnya darah.


Tiba-tiba, Tellaura muncul di depan matanya dengan mata merah yang bersinar—mirip seperti mata Sephiroth.


‘BWHAM!’


Wajah Sephiroth terkena pukulan telak dari Tellaura hingga membuatnya terpental jauh.

__ADS_1


“AKU... AKAN MELINDUNGI ADIKKU, APAPUN YANG TERJADI!”


__ADS_2