
Penguasa Kekelaman mengaktifkan Catastrophe Seal miliknya. Itu berwarna hitam gelap, bahkan seakan tak memiliki kepadatan—laksana asap hitam yang digenggam.
"Bersiaplah untuk balasannya, Zeeta!" ia berkuda-kuda, hendak mengayunkan dari bawah ke atas sabitnya.
.
.
.
.
Langit malam mencekam terjadi sekali lagi. Masyarakat pernah mengalami malam seperti ini pada lima tahun lalu, baik masyarakat dari dalam kerajaan Aurora, maupun dari luar. Namun kali ini, cakupan cekamannya lebih luas—hingga seluruh Galdurheim bisa melihatnya.
Malam yang sebelumnya terang dengan sinar rembulan, perlahan berubah menjadi lebih gelap. Kendati demikian, masyarakat bisa melihat dua sisi yang berbeda—satu sisi langit yang memancarkan gemerlap hitam keunguan—dan sisi lainnya yang bergemerlap merah dan biru.
Di Kekaisaran Seiryuu, Undine dan Hitomi tentunya bisa melihat langit yang demikian. Oleh sebab itu, timbullah pertanyaan yang sama dari keduanya, "Mengapa mereka masih terus melanjutkan pertarungannya? Bagaimana dengan yang lain?"
Saat itulah, Undine mengajukan saran. "Aku akan mengutus familiar-ku untuk memastikan keadaannya, kau—"
"Itu tidak perlu dilakukan, Undine yang Agung." Elbrecht turun dari langit. Kedatangannya mengunci perhatian Hitomi dan Undine.
"Mana ini...," gumam Undine, "kau seorang Naga...?"
"Dan aku ada di pihak Zeeta," jawab Elbrecht, "kaubisa percaya padaku kalau ada orang lain yang bisa menghentikannya. Yang perlu kalian lakukan sekarang adalah...." Ia menunjuk ke belakangnya—menuju sebuah gunungan Manusia yang mengalami bermacam kondisi, yang diantaranya ada yang sudah tewas.
Gunungan tersebut bisa dilihat keduanya saat ini, sebab air yang sudah surut karena tinjuan Arata sebelumnya.
"Mereka tak melakukan kesalahan apapun yang bisa menyulut amarahmu, tetapi mereka malah ikut menjadi korban," sambung Elbrecht, "apapun alasannya, kali ini kau benar-benar telah membunuh."
"Aku tahu apa yang kulakukan, Naga, jika itu yang kau masalahkan, maka—"
"Tentu saja aku tahu kemampuan manipulasi airmu, Undine yang Agung," tukas Elbrecht, "kau bahkan bisa menghidupkan makhluk hidup yang sudah mati—jiwa-jiwa yang telah terperangkap dalam Tanah Kematian.
"Tapi bukan itu yang harus menjadi titik perhatianmu. Sadarilah tentang kemampuan Zeeta dari dunia lain itu. Aku tak bermaksud merendahkanmu, tetapi aku tahu Roh Kuno sepertimu ... mengerti maksudku."
Undine lantas mengernyitkan dahi. Ia memandangi gunungan manusia di depannya. Tak lama kemudian, ia menjerit, "Jadi begitu!"
Elbrecht tersenyum. "Manusia," panggilnya sambil melirik Hitomi. "Kami akan membawa lelaki itu. Sebelum waktunya tiba, kau harus sudah siap dan tidak lagi mengulangi hal semacam ini."
"Eh...?" Hitomi kebingungan. "Apa maksu—" belum bisa menuntaskan kalimatnya, Elbrecht menghilang. "Apa maksudnya tadi...?" batinnya.
"Hei, Nak Benih Yggdrasil," panggil Undine.
"I-iya, Roh Kuno yang Agung...?"
"Aku butuh bantuanmu." Tatapan serius dari Undine memacu keseriusan yang sama untuk Hitomi.
"Apa itu?"
"Aku akan mengurung gunungan Manusia itu dalam sebuah air. Demikian pula Manusia yang tergeletak di sekitarnya. Aku benci mengakuinya, tetapi Naga tadi memberiku petunjuk yang penting yang bisa mengubah situasi di sana." Undine menunjuk ke arah Zeeta dan Penguasa Kekelaman berada. "Kita tak memiliki waktu banyak agar aku bisa menjelaskan semuanya, tetapi...."
"Uhm. Aku mengerti!"
"Bagus. Kalau begitu...." Undine mulai memanipulasi air di sekitarnya. Ia "memenjarakan" Manusia-Manusia yang tergeletak di luar tumpukan ke dalam sebuah bola air. Hal yang serupa juga dilakukannya pada tumpukan manusianya.
Jika dilihat dengan mata telanjang, pasti ini akan menimbulkan pertanyaan besar, apa yang sebenarnya hendak dilakukan Undine? Dan sebagai putri seorang kaisar, tentunya ia memiliki perasaan khawatir terhadap rakyatnya sendiri. Namun, ia sadar dengan situasi dan kondisi saat ini, oleh sebab itu ia tetap diam dan fokus dengan apa yang harus dilakukannya sekarang ... tanpa kegagalan.
"Lapisilah mereka dengan medan penghalang yang bisa kauciptakan dengan sihirmu. Imajinasikan sihir itu agar tak bisa mengusik manusia yang ada dibalik airnya, baik dari luar ataupun dari dalam."
"Baiklah!" Hitomi lantas meluruskan tangannya ke depan dan membuka telapaknya. Lingkaran sihir kuning cerah menyusul di depan telapaknya. Kemudian, dari banyaknya bola-bola air, masing-masing terlapisi oleh sihirnya.
__ADS_1
"Apa ini sudah cukup, Roh Kuno yang Agung?!" tanya Hitomi, agak berteriak.
"Kita tunggu saja...."
......................
Penguasa Kekelaman yang sudah siaga dengan senjata sucinya, tersenyum lebar. Berbeda dengan dirinya yang lain itu, Zeeta malah tak memberikan ekspresi sedikitpun. Disaat yang sama, Zeeta juga diajak bicara oleh Ifrit dari alam bawah sadarnya.
.
.
.
.
"Apa benar ini yang kauinginkan, Manusia?" tanya Ifrit.
"Dia sudah melukai semua yang kuanggap berharga. Aku tak tahu apa yang dialami dari dunia asalnya, tapi aku sudah bersumpah tentang ini jauh lebih lama sebelum aku bertemu denganmu.
"Aku ... membulatkan tekadku dan mampu sejauh ini untuk melindungi mereka yang kusayangi. Jika dia adalah diriku, walau kami berbeda, tetapi aku tahu dia memiliki alasan awal berjuang yang sama.
"Aku mendengar pesan Zephyr dan aku memahami apa akibatnya.
"Aku ... harus melakukan ini!"
"...." Ifrit terdiam. Ia memandangi wajah Zeeta yang sudah membulatkan tekadnya. Beberapa saat kemudian....
"Tatapan mata itu mengingatkanku sesuatu yang terjadi ribuan tahun silam. Aku membantu seseorang dengan tekad yang sama sepertimu.
"Kuingatkan lagi. Apakah ini keinginanmu yang sebenarnya, Zeeta?!"
Zeeta menggigit bibirnya. "TENTU SAJA TIDAK!
"Rune Kaunaz juga memerlihatkan masa depanku sendiri, dimana aku akan berhadapan dengan orang-orang yang kulindungi!
"Aku ... aku takut...!"
Hal yang membuat Zeeta terheran datang dari wajah Ifrit. Setelah mendengar semua jawabannya itu, dia tak paham mengapa Roh Kuno Api itu malah tersenyum.
"Aku menerima sebuah janji dari seorang manusia. Perjanjian itu akhirnya akan bisa kulaksanakan bersamamu. Aku masih ingin bertukar kata denganmu, jadi aku takkan membiarkanmu jatuh ke lubang tempatnya jatuh!
"Sekarang, percayalah padaku dan pinjamkan aku tubuhmu!"
"E-ehh...?!"
.
.
.
.
Dari pandangan Penguasa Kekelaman, ekspresi Zeeta mulai berbeda, terutama dari pandangan matanya. Warna matanya yang biru langit juga berubah merah saat ia berkedip. Zeeta—yang tubuhnya dikendalikan oleh Ifrit—membesarkan ukuran api di senjata sucinya.
Hal itu segera disambut gembira oleh Penguasa Kekelaman. "Haha! Akhirnya kau serius melawanku?! Begitulah seharusnya! Datangkanlah Ragnarok karena kesalahanmu sendiri, Zeeta!"
Kedua orang yang sama tapi berbeda itu saling berkuda-kuda untuk melancarkan serangan sabit mereka. Kuda-kuda mereka semakin menyilaukan gemerlap dari masing-masing sisi.
......................
__ADS_1
[Disaat yang sama....]
"Mereka sudah akan saling menyerang!" seru Mellynda, "kita harus cepat, Kak Azure!"
"Cih...." Azure justru terhenti, memaksa Mellynda ikut melakukannya.
"Kak Azure...?!"
"Mendekatlah padaku! Aku akan memakai sihir yang diajarkan Marianna!"
"Ba-baik!"
Kala Mellynda menyentuh bahu kiri Azure, dari telapak gadis dengan rambut dua sisi itu, muncul asap hitam yang secara cepat menyelimuti keduanya. Setelahnya, seakan tertiup angin, mereka hilang dari balik asap.
.
.
.
.
Di Kerajaan Aurora, Alicia dan Hazell tentunya melihat kondisi langit. Hazell memeluk bahu Alicia dari samping. Keduanya berharap dari atas balkon yang kacanya sudah hancur akibat kepergian dua Naga sekutu. Mereka berharap dari dalam hati, semoga dengan semakin berkilaunya gemerlap di langit itu, tak menyebabkan apapun pada Zeeta, dan mereka juga berharap agar kedua putrinya bisa pulang dengan selamat.
Hal yang serupa juga dilakukan oleh Scarlet dan Ashley, serta para bangsawan utama dari tempat yang berbeda-beda.
......................
Zeeta dan Penguasa Kekelaman akhirnya melancarkan masing-masing serangan. Keduanya memotong jarak dan menebaskan sabitnya.
Penguasa Kekelaman maju dengan senyum lebar, Zeeta maju dengan wajah datar.
Serangan bilah merah dan biru dari Zeeta, bilah berselimutkan asap hitam dari Penguasa Kekelaman.
'SRRRAAANGGG!!!'
'BWHASSHH!!'
Dua bilah tajam itu saling beradu, mendampakkan angin dahsyat yang mampu menyapu semua yang ada di darat—termasuk tubuh terluka teman-teman Zeeta.
Masing-masing elemen yang ikut beradu itu sekan menciptakan spiral api dengan tiga warna.
"Ha ha ... kau menyimpan kekuatan sebesar ini, tentu saja kau ditakuti oleh banyak orang! Terimalah saja takdirmu yang akan dikhianati oleh mereka yang kaulindungi!"
Kemudian....
Asap hitam mengejutkan Zeeta karena muncul tiba-tiba di depan mata lawannya. Penguasa Kekelaman yang masih tak bisa melihat namun bisa merasakan mana, langsung curiga. "Apa yang—?!"
'FWWSSSHHH!'
Leher Penguasa Kekelaman segera melepuh. "Aaaaahhh!" jeritnya reflek.
Meski Penguasa Kekelaman sudah menjauh dari Zeeta, namun lepuhan di lehernya tak kunjung berhenti. Tapi saat berhenti, dirinya malah merasa ada tangan yang mencekiknya. "Siapa kau!? Siapa yang berani melakukan ini padaku?!"
Azure muncul perlahan dengan asap yang membentuk dirinya dan Mellynda.
Sementara Azure terus menekan Penguasa Kekelaman, Mellynda yang sekejap melihat kondisi Zeeta, langsung melapisi dirinya dengan kristal lalu memeluknya erat. Saangat erat. "Zeeta!!" tetes air mata jatuh dari pipinya.
"Suara itu ... Mellynda?!" pekik Penguasa Kekelaman.
"Itu benar. Dia Mellynda. Dan pastinya kautahu siapa suara ini, 'kan, Zeeta...?"
__ADS_1
"Ka ... Kak Azure...." Tubuhnya bergemetar hebat hingga memengaruhi suaranya.
"Apakah harus kutanyakan, 'lama tak bertemu, Adik Kecil', padamu?" Azure menyeringai.