
Suatu hari di kerajaan Aurora, ditengah-tengahnya Alicia dan Hazell sedang makan siang di istana, anting bulan di telinga kanan Alicia bersinar menyilaukan—memaksa para pelayan dan penjaga istana di dekatnya panik dan bersiaga, termasuk Hazell sendiri yang bergegas mendekat ke Alicia—juga bahkan tidak dikehendaki kedatangannya oleh Alicia sendiri.
“A-apa yang terjadi?!” pekik Hazell, “kau baik saja, Alicia?!”
Tak ada jawaban dari Alicia, sebab ia sedang melihat sesuatu. Mulutnya menganga, wajahnya pun ketakutan. “A-apa... a-apaan ini...?!” gumamnya.
“Alicia...? Hei, ada apa, Alicia?!” Hazell mengguncang bahu istrinya.
“Mereka mulai bergerak!” balas Alicia. Ia bermandikan keringat. “Lekas kumpulkan semua bangsawan!”
Hazell terkejut tetapi paham apa yang dimaksud. “Baiklah. Aku akan mengatur semuanya. Kau tenangkan dirimu dan temuilah Luna. Dia pasti bisa memberi saran.”
“Oke!” Alicia mengangguk. Kemudian, Hazell mengangkat kaki dari ruang makan, yang disusul berbagai pertanyaan yang diserukan oleh para penjaga dan pelayannya.
“Tenanglah semuanya. Kita pasti bisa melakukan sesuatu...,” jawab Alicia, “masih terlalu dini bagi kita untuk berputus asa!”
......................
Sementara itu di Hutan Sihir Agung, Zeeta pun mengalami hal yang sama dengan ibunya. Ia yang sedang bersama Reina dan Volten Sisters dan hendak menjalani latihannya lagi hari ini, jatuh terduduk karena terkejut dengan cahayanya yang menyilaukan. Ia melihat pemandangan yang sama yang dilihat ibunya.
Berbagai macam makhluk dengan berbagai bentuk yang tak pernah ia lihat sebelumnya, yang berjumlah nyaris ratusan. Semua makhluk itu sangat mengerikan dan menjijikkan. Mereka berbadan hitam tetapi tak berbentuk pasti—ada semacam ulat raksasa tetapi itu merangkak dengan enam kaki, dan masih ada banyak makhluk yang aneh dan membuat siapapun ngeri melihatnya. Tidak hanya berbentuk tak pasti, mereka pun menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapannya. Zeeta juga melihat ada beberapa makhluk yang terlihat lebih berintelijen dan memiliki bentuk pasti—yang memimpin mereka.
Ada pria raksasa bertangan empat, bertaring empat—dua ke atas dan dua ke bawah, bermata merah, bertampang kasar, berkulit merah, bermata kuning, bertelinga runcing, dan berambut keriting panjang diikat. Dia memegang tiga jenis senjata di tiga tangannya. Pedang, tombak, dan panah api. Setiap langkah yang dibuatnya, apapun yang dilewatinya terbakar.
Di depan makhluk itu ada siluman ular yang mirip sekali dengan makhluk mitologi Gorgon, namun ia memiliki sayap naga. Sisik ularnya berwarna hijau, senada dengan rambutnya. Kulitnya putih pucat dan dia terlihat senang dengan “perjalanan”-nya.
Terakhir, yang memimpin paling depan adalah kakak dari Klutzie Nebula, Suzy. Wajahnya tidak menunjukkan senang, juga tidak menunjukkan sedih. Dia hanya berjalan memimpin pasukan hitam yang ada di belakangnya.
Perlahan, penglihatan itu mulai pudar dan Zeeta kembali ke kesadarannya lagi—yang disusul oleh panggilan namanya dari keempat Elf yang mengelilinginya.
“Hei, Zeeta! Ada apa denganmu?!” pekik Jourgan, seraya menampar-nampar pipi Zeeta.
Zeeta memegangi kepalanya lalu melepas antingnya. “A... aku....” Para Elf itu dapat melihat dengan pasti betapa bergemetarnya Zeeta. “Izinkan aku bertemu dengan Paman Hugo,” sambung Zeeta. Ia berusaha menahan rasa gemetar itu dengan mencengkeram kuat tangannya.
Jourgan dan kedua saudarinya saling mengangguk. “Baiklah, latihan hari ini kita tiadakan. Serina, kaubawa Zeeta kepada Tetua. Aku akan menemui Tetua terlebih dahulu. Mintia, Reina, buatkan obat untuk Zeeta.”
Ketiga Elf yang diperintah Jourgan menanggapinya dengan cekatan. Jourgan menghilang sebelum mereka bergerak. Serina kemudian segera membopong Zeeta dan memakai sihir di kakinya untuk melompat lambung keluar dari kedalaman hutan. Sementara Reina dan Mintia kembali ke rumah Reina untuk meracik obat-obatan.
“Ada apa sebenarnya dengan Zeeta, ya...?” tanya Reina di tengah perjalanan.
“Ini bukan sesuatu yang baik,” jawab Mintia, “bersiaplah untuk skenario terburuk bagi kita, Reina....”
Meresponnya, Reina hanya bisa membisu. Ia ingin mengucapkan sesuatu tetapi ia urungkan.
......................
Setelah bertemu dengan Hugo, Zeeta tidak langsung berbicara padanya tentang apa yang dilihat. Ia diminta untuk menunggu kedatangan Ozy dan Aria.
“Kenapa ... kita harus menunggu mereka?” tanya Zeeta, yang sedang berada di kediaman Hugo, berbicara empat mata.
“Aku akan menjawab itu selagi kita menunggu,” jawab Hugo, yang memejamkan mata. Ia mengatur napasnya. “Kupastikan sebelum mulai bicara, kausudah tahu siapa aku—identitasku yang sebenarnya?”
__ADS_1
Zeeta mengangguk. “Iya. Aria yang memberitahuku.”
“Bagaimana dengan Phantasmal?”
“Uhm. Ayahku memberitahuku sedikit tentang itu. Katanya, Phantasmal tidak hanya berbentuk seperti Hollow. Sejak Yggdrasil masih ada, Phantasmal pun ada.
“Sama halnya seperti makhluk sihir dan makhluk hidup lain, Phantasmal pun bisa tumbuh, berpikir, juga beradaptasi. Mereka yang memangsa emosi jahat seseorang sebagai katalis pembentuk wujud dan kekuatan, berubah menjadi Hollow.”
“Ya. Yang dikatakan ayahmu, semua itu semua benar. Zeeta, apa yang kaulihat melalui antingmu adalah Phantasmal.
“E... eh?! Sebanyak itu?!”
“Aku takut jika itu belumlah semuanya. Mungkin saja mereka hanya sepersepuluh atau bahkan sepersekian kecil dari jumlah mereka yang sebenarnya."
“A-apa maksudmu? Kenapa kaubisa tahu?”
“Untuk membuatmu paham, kau harus ingat lagi apa itu Yggdrasil.”
“Pohon kehidupan, ‘kan?”
“Itu benar. Cepat atau lambat aku memang akan memberitahumu ini, tetapi aku tidak menyangka jika mereka akan bergerak duluan.
“Dengar, Phantasmal memang makhluk yang serupa dengan kami para makhluk sihir, tetapi tidak sama. Mereka memang tak memiliki bentuk yang pasti—meski ada yang tidak seperti itu. Poinnya adalah, kita semua, baik kau dan aku, manusia dan makhluk sihir, hewan dan tumbuhan, hidup dengan mana yang ada karena Yggdrasil—yang saat ini menjadi serpihan-serpihan Roh.
“Hal itu juga berlaku untuk Phantasmal. Namun, alih-alih hidup karena Yggdrasil, pada awalnya, mereka hidup dan berkumpul di suatu tempat di seberang dunia ini. Tempat itu bernama Tanah Ephemeral.
“Ya, mereka mendapatkan kekuatan dan bentuk dari emosi jahat makhluk hidup lain. Bisa dikatakan pula mereka adalah buahnya Yggdrasil. Tetapi perlu kauketahui bahwa sebelumnya, mereka pun sama seperti kita semua dan bisa hidup berdampingan.
"Ada sesuatu yang menyebabkan Tanah Ephemeral menjadi tanah yang amat sangat menakutkan.
"Sederhananya, Phantasmal-Phantasmal yang AWALNYA hidup damai seperti mereka, menjadi makhluk yang disebut sebagai Hollow. Emosi itu dapat diubahnya menjadi mana sesuka hati mereka. Seiring berjalannya waktu ... Catastrophe Seal akhirnya dibuat.
"Catatlah juga, bahwa di luar sana, mungkin saja masih ada Phantasmal lain yang nasib hidupnya beruntung."
Zeeta segera paham apa yang akan dibicarakan selanjutnya. “Jadi, karena ini aku harus bisa menguasai Catastophe Seal…?”
“Ya. Tetapi, yang harus lebih diwaspadai adalah bagaimana cara kita menghadapinya. Phantasmal dan makhluk sihir, memiliki inti. Jika diibaratkan pada manusia, inti itu adalah jantung kami."
Zeeta jadi teringat kisah Hellenia tentang Erigona.
"Namun, ada perbedaan siginifikan antara Phantasmal yang menjadi Hollow dengan kami. Contoh termudahnya adalah aku.
"Setiap Phantasmal dan makhkuk sihir, memiliki beragam jumlah inti. Ada inti yang beregenerasi atau inti yang tersebar di dalam tubuhnya.
"Dalam kasus Hollow, setelah Phantasmal kehilangan satu intinya, atau bisa kausebut mati sekali, dia memiliki potensi untuk menjadi Hollow.
"Kematian menyebabkan kehampaan pada jiwa. Dalam kehampaan itu, emosi-emosi jahat yang didapatnya sangat memengaruhi apakah dia akan berevolusi menjadi Hollow atau tidak. Selama aku hidup, tidak ada yang mampu melawannya.
"Sementara aku, seperti yang kauketahui, aku jatuh dari kebenaran setelah kejadian itu. Demi menuntaskan apa yang menurutku benar, aku menjadi Dark Elf. Kekuatanku memang jadi lebih besar, tetapi ada kalanya aku dipenuhi rasa kebencian."
Hugo lanjut menjelaskan tentang Hollow-fikasi sebuah Phantasmal. Ia menjadikan Hell Hydra sebagai contoh. Hell Hydra adalah Phantasmal, tetapi sebelum dia datang ke Aurora dia sudah mati dan menjadi Hollow. Saat dia berubah ke bentuk Hell Hydra berarti dia mati lagi saat terkena serangan sihir Rune dari Ozy.
__ADS_1
Kewaspadaan tinggi harus dibawa jika Phantasmal menjadi musuh. Ya, mereka memang bisa ditumpas tanpa Catastrophe Seal, tetapi bencana setelahnya acap kali menjadi bumerang. Oleh karenanya, kehadiran Zeeta, sebagai satu-satunya manusia yang bisa memakai senjata suci itu, menjadi suatu bentuk kewajiban.
......................
“Hanya aku sendiri di dunia ini? Melawan mereka...? Kau bercanda, ‘kan...?” suara Zeeta bergetar setelah mendengar semua penjelasan panjang Hugo.
Hugo menghela napas, kemudian berkata, “Apa kaulupa siapa aku? Apa kaulupa siapa Eclipse, Aria, dan Ozy? Apa kaulupa siapa itu Luna? Apa kaulupa ... siapa ibu dan ayahmu?”
Zeeta sempat tersentak, kemudian tersenyum. “Hahahah, sialan. Kau benar-benar Elf yang jahat, Paman!” Zeeta menunjukkan senyum lima jarinya. "Kau membuat bebanku jadi terasa semakin berat!"
Beberapa saat kemudian, Aria dan Ozy datang. “Tidak akan kubiarkan kau menanggung ini semua sendiri, Zee!” seru Aria, yang tersenyum.
“Aku datang untuk melatihmu memakai sihir Rune, Zeeta. Kita tidak memiliki banyak waktu, tapi aku punya cara cepat agar kaubisa segera kembali ke kerajaan,” ujar Ozy.
“Tapi, aku belum bisa sepenuhnya mengendalikan mana alam!” sanggah Zeeta, “apa itu akan mempengaruhi?”
Ozy tersenyum. “Tidak ada masalah.”
Aria dan Ozy duduk di samping Zeeta. “Jadi, Tetua, ada apa sampai Anda harus mengumpulkan kami?” tanya Aria.
“Yah, ada sesuatu yang harus kusampaikan pada kalian apapun yang terjadi,” jawab Hugo.
......................
Selagi Zeeta, Aria, dan Ozy bicara, Klutzie yang sedang berada di penjara mendengar kabar kedatangan Phantasmal itu dari Siren, yang mengetahuinya dari Luna.
“Sialan!” seru Klutzie., “ada yang salah dengan semua ini! Kak Suzy adalah kakak kandungku! Dia selalu bersamaku! Tidak mungkin kalau dia adalah Phantasmal!”
Klutzie mendekat ke jeruji besi, lalu memakai sihirnya dan mengabaikan rasa sakit dari sihir listrik yang menyengatnya begitu ia menyentuh jerujinya.
“A-apa yang kaulakukan, Klutzie?!” bentak Siren.
“Aku sudah muak karena tidak melakukan apa-apa! Aku tidak bisa diam saja dengan semua kejadian ini! Aku ingin bertemu dengan Ratu Alicia dan membuatnya harus menyertakanku di pertahanan kerajaan ini!
“Aku … aku ini Pangeran Nebula pertama! Aku juga seorang Benih Yggdrasil!”
Siren senang mendengarnya. “Akhirnya, kaupunya tekad…,” gumamnya. “Baiklah! Aku akan ikut denganmu untuk bicara dengannya!” Siren melenyapkan sihir listrik dari jerujinya dan memudahkan Klutzie keluar dari penjara.
Sementara kerajaan Aurora sedang bersiap diri, Luzy dan Azure berada di suatu pantai dan berjemur, seolah tidak merasakan kecemasan atau apapun pada apa yang sedang bergerak ke belahan dunia mereka.
“Hei,” tutur Azure, yang memakai bikini dan berkacamata hitam. “Apa kauyakin?”
Sama halnya dengan Azure, Lucy juga berpakaian dan kacamata yang sama. “Apa maksudmu?”
“Jangan berlagak bodoh, mereka sudah bergerak. Aku bisa merasakannya.”
“Wow, hanya dua bulan pelatihan, kausudah bisa sejauh itu.... Sudah kuduga dari muridku, ho ho ho….”
“Tsk. Aku tidak paham kepribadianmu. Terkadang kau sadis, terkadang kau lembut, terkadang kau juga emosian. Jawab saja, mereka juga jadi ancaman, ‘kan?”
“Ah, tenang saja. Kalau mereka serius membangkitkannya, Phantasmal seperti itu sama seperti kroco. Santaikanlah dirimu sebelum kau bertemu dengan neraka latihanku lagi.”
__ADS_1
“Dasar iblis!”
“Kuanggap itu sebagai pujian!”