
Zeeta berkuda-kuda. Kaki kanan ke depan tertekuk, sementara kaki kiri di belakang tetap ditegakkan. Ia juga menarik tangan kirinya ke belakang dan sedikit diangkat. Tangan kanannya membentuk huruf "V" menyamping.
Disela-sela ia berkuda, matanya melotot sambil merapal cepat. "DENGARLAH AKU, WAHAI KEHIDUPAN MISTIK!"
Tanah di sekitarnya segera hancur—membuatnya seakan berada di dalam lubang. Mereka yang sebelumnya telah diminta Zeeta untuk memberi jarak darinya, menganga dan tak berkutik. Tak satupun dari mereka, kecuali Ozy, yang pernah melihat Zeeta memakai Catastrophe Seal dari jarak sedekat ini. Tak satupun dari mereka juga yang pernah melihat sosok emosi Zeeta seperti ini. Mata yang terbuka lebar serta terlihat urat-uratnya, ditambah dengan suara yang dilantangkan... ini hal baru bagi mereka.
"PATUHILAH AKU SEBAGAI TUANMU YANG AKAN MEMUSNAHKAN BENCANA DI DEPANKU!"
Cincin di jari tengah kiri Zeeta bersinar emas, diikuti dirinya yang ikut terlapisi aura berbutir mana yang sewarna. Aura tersebut menjulang tinggi hingga ke langit. Rambut peraknya seakan ditiup angin kencang, terhempas melawan gravitasi.
"SEGEL ... DILEPAS!"
Sabit besar kini digenggam tangan kiri Zeeta. Ia mencengkeram kuat senjata suci ini.
Melihat pemandangan seperti ini, sudah termasuk langka bagi mereka yang menjadi penonton. Tapi, ada sesuatu lagi yang membuat mereka semakin kewalahan dengan situasi.
Sementara mereka tak mengetahui mengapa tiba-tiba Zeeta memakai Catastrophe Seal-nya, mereka dibuat kaget lagi dengan munculnya aura hitam keunguan yang menjulang tinggi di langit.
......................
[Kekaisaran Seiryuu, beberapa menit yang lalu....]
"Haaah... haaahh...." Penguasa Kekelaman yang sedang terengah itu telah berhasil menghancurkan es yang menujah perutnya.
Tangannya masih berselimutkan semacam tali asap hitam—tanda sihir yang digunakannya. "Aku tak punya waktu untuk meladenimu, Undine!" serunya.
Undine, yang berada di seberangnya, menggertak gigi dengan luka hitam di sirip kaki hingga tangan kanannya.
Sementara itu, Hitomi Reiko yang sedari tadi melihat semuanya, tak berkutik—seperti sebuah patung. Badannya bergetar, pun dengan mulutnya. "Xennaville ... tolong aku...," batinnya.
Tak lama kemudian, baik Penguasa Kekelaman, Undine, dan Hitomi Reiko, melihat aura emas di langit. Penguasa Kekelaman langsung menyeringai. "Akhirnya kaudatang juga, Zeeta!" jeritnya.
Undine sangat terkejut saat Penguasa Kekelaman merapal cepat dan mengaktifkan Catastrophe Seal. Dia semakin dibuat kaget lagi saat melihat Bind Rune yang biasanya hanya dipakai ras Raksasa saja. Manusia itu memakai Rune Thurisaz, Fehu, Uruz, dan Algiz.
...(Algiz)...
__ADS_1
Usai menuliskan Bind Rune tersebut, seperti bereaksi terhadap Rune-nya, cincin jari tengahnya ikut bersinar hitam keunguan, lalu disusul dengan aura yang menjulang tinggi, yang ikut dilihat oleh Zeeta dan teman-temannya.
"Manusia ini...," batin Undine, "sudah berbeda level...!"
Serupa dengan Undine, Hitomi juga memandang ngeri Penguasa Kekelaman yang seperti menikmati momen-momen ini. Senyumannya begitu sumringah, tetapi kekuatannya yang membuat keduanya tertegak kaku itu TIDAK merasakan senang sama sekali.
......................
"Cih ... LUNA, BANTU AKU!" pekik Zeeta, usai melihat aura hitam keunguan di depannya.
"Baiklah!" jawab Luna. Ia segera berubah menjadi bola cahaya berwarna kuning keemasan, kemudian masuk ke dalam sabitnya.
Cahaya emas sabit itu semakin menyilaukan. Namun, terdapat asap pada bilahnya, yang menunjukkan bahwa itu juga mengandung panas. Zeeta pun tidak segan memakai kekuatan Ifrit.
"DUNIA INI ADALAH DUNIA YANG DICIPTAKAN UNTUK KEDAMAIAN!
"DUNIA INI BUKANLAH DUNIA YANG PANTAS UNTUK ENGKAU TINGGALI!
"OH, WAHAI MAKHLUK YANG TERSESAT, KEMBALILAH MENUJU KEHAMPAAN!"
Alam menjadi kacau. Malam yang gila belumlah usai. Petir menyambar dimana-mana, tanah mengguncang dunia, lautan hendak mengamuk.
Para penghuni lautan merasakan sesuatu yang bergejolak tinggi sedang terjadi di daratan dan itu tak membuat mereka nyaman. Para Duyung—Cynthia dan Sugar—bisa menduga yang sedang terjadi, tapi keduanya tetap harus melindungi lautan.
Semua yang ada di dekat Zeeta, termasuk Zeeta sendiri, melihat aura hitam keunguan itu juga menjadi kecil dan menjadi setitik cahaya.
"SEMUANYA, BERLINDUNG!!!" jeritan Jourgan yang lantang, langsung disambut oleh Danny, Gerda, dan Serina, untuk menciptakan medan pelindung terkuat yang mereka bisa.
"SEAAAAL...!!"
Dua bilah laser yang membentuk huruf "Z" saling bertemu. Pertemuan dua serangan dari senjata suci itu menghancurkan apapun yang ada di dekatnya. Berawal dari terserapnya segala yang di dekatnya ke dalam "Z" yang saling beradu—seperti sebuah lubang hitam, berakhir menjadi ledakan yang amat sangat kuat.
'ZBMM.... BWHAAMM!!'
......................
Disaat yang sama, di sebuah hutan yang dihidupi oleh Elf setelah perintah Tetua mereka agar memecah pengetahuan makhluk lain tentang keberadaan Grandtopia, di sinilah Ozy membawa Titania kembali, bersama dengan penduduk desanya, serta pemimpinya yang bernama Reid.
"A-apa yang sedang terjadi di desa kami...?" gumam Reid. Ia kemudian memandangi Ozy. "A-aku berterima kasih karena sudah membawa pulang Tanny kembali, tapi ... bolehkah aku bertanya siapa kau...?"
Ozy terpejam sesaat sebelum menjawabnya. "Yang pasti, aku bukanlah musuh kalian. Untuk sekarang, sebaiknya kalian masuklah ke dalam hutan. Aku akan bicara dengan para Elf dan membiarkan kalian berlindung."
"Ah ... soal itu...." Reid menunjukkan kalung batu giok yang diberikan Serina sebelum mereka berpisah. "Nona Serina memberikanku ini sebagai bukti kalau kami bisa dipercaya. Aku tak begitu mengerti situasinya, tetapi berkatnya, para wanita dan anak-anak sudah bisa berlindung."
__ADS_1
Tentu saja hal tersebut tak diduga Ozy. Ia tersenyum. "Begitu ya...."
"Jika kautak bisa memberitahu identitasmu, bisakah kauberitahu apa yang sedang terjadi sekarang? Mengapa tiba-tiba Tanny begitu marah dan menangis...?"
"Tidak ada gunanya kalian tahu, tetapi Jeanne juga tidak ingin aku terus menutupinya." Ucapannya membuat Reid mengernyitkan dahi.
"A... pa maksudmu...?" tanya Reid.
"Seorang Aurora sedang bertarung untuk perubahan dunia. Sebentar lagi, gerbang antara Dunia Para Raksasa dan Dunia Para Naga akan terbuka, dan orang itulah yang sedang berusaha menghentikannya menghancurkan dunia, tentu saja bersama teman-temannya.
"Untuk Titania, maaf tetapi ini harus kurahasiakan seperti apapun kauingin mengoreknya dariku. Aku akan membawanya bersamaku, sebelum aku ikut bersama mereka yang sedang bertarung." Ozy kemudian membopong Titania kecil di bahunya, lalu berjalan santai melewati Reid.
"Jangan-jangan ... lelaki itu sama-sama seorang Raksasa seperti Titania dan bibi Jeanne...?" batin Reid, yang tidak disadarinya sudah berhasil menebaknya.
......................
Ledakan yang terjadi antar Catastrophe Seal milik Zeeta dan Penguasa Kekelaman amat sangat parah. Lubang yang tercipta pasca-ledakan masih menimbulkan efek "alam yang kacau", dimana di sekitarannya terdapat sambaran-sambaran listrik. Asap menutupi pandangan mereka yang ada beberapa meter di belakang Zeeta.
"Sialan...." Zeeta mengumpat, sambil tetap berusaha berdiri dengan bantuan tongkat sabit yang ditancapkannya di tanah. "Dia memakai Rune untuk mengatasi kerugiannya berada di sini...."
Luna kemudian keluar dari sabitnya. "Kekuatannya gila! Gila sekali! Kau harus berhati-hati, Zee!"
"Aku tahu...!"
Sementara itu, Jourgan, Serina, Danny, dan Gerda, yang sebelumnya menciptakan medan penghalang, sekarang terbaring di tanah dengan tangan yang mati rasa.
"Tubuhku ... tak bisa digerakkan...!" seru Serina.
"Zeeta...!" jerit Gerda, "bagaimana dengan Zeeta?!"
Tak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan Gerda. Saat itu....
'FWUUUMMM!'
Mendadak, semuanya, termasuk Zeeta, merasakan tekanan kuat dan ketakutan yang sangat kuat. Bulu kuduk mereka berdiri dan seperti diarahkan, mata mereka setuju untuk melihat ke satu tempat.
Mereka semua bersama-sama menyaksikan.
Senyuman, kepuasan, dan wajah bahagia dari seorang gadis berambut hitam, kendati matanya masih berdarah dan tak bisa melihat. Kedua pipi yang menjadi tempat keringnya darah dari mata, menambah kesan seram tersendiri untuk Gerda dan Danny.
"Akhirnya kita bertemu juga, ya, Wahai Diriku yang Lain...!"
Ucapan gadis berambut hitam itu hanya membuat Zeeta menggertak giginya. "AKU PASTI AKAN MELENYAPKANMU!" jeritnya dengan sangat lantang....
__ADS_1