
Zeeta menggeram dengan langkah yang diambil dirinya yang lain itu. Menyatukan diri dengan Raksasa yang menjadi tanda Akhir Dunia...? Itu sudah diluar dugaannya. Rune Kaunaz-nya tidak memprediksi hal seperti ini. Tidak, Zeeta tahu bahwa bukan Rune-nya-lah yang tak bekerja, namun mereka saling bertentangan—antara Kaunaz miliknya dan Alter—sehingga memustahilkannya untuk mengambil langkah tepat untuk mencegahnya.
Melihat sosok mengerikan di depannya, itu, membawa Zeeta kembali teringat percakapannya bersama Danny, Gerda, dan Luna, saat sebelum Ragnarok terjadi. Tidak hanya kepada mereka, tetapi juga dengan Nadéja.
.
.
.
.
"Jormungand adalah Raksasa Ular. Dia dikenal sebagai Mimpi Buruk oleh bangsanya karena selalu mendatangkan keburukan tidak hanya bagi rasnya sendiri, namun yang lain juga. Racunnya sangat kuat. Tidak ada yang pernah bisa menggores sisik Raksasa itu sebelumnya."
"Tujuan akhirmu adalah menghancurkan Drékaheim dan Jötunnheim. Dan agar kaubisa melakukannya, aku akan menopangmu."
.
.
.
.
Zeeta menatap serius Alter, dimana ia sedang menyeringai. Gadis berambut hitam dan bermata biru itu kemudian mengangkat kedua tangannya. Menyambut tangan tersebut, sebuah lautan hitam meledak dan membanjiri tanah. Segala yang tersentuh olehnya segera layu dan hancur, sementara dia yang sudah menyatu dengan Jormungand melaju ke arah Zeeta dengan sangat kencang.
Untuk menangkalnya, Zeeta semakin mengencangkan cengkeramannya pada Rhongomyniad, lalu menebasnya. Sebuah bilah cahaya emas melesat pada Alter, namun sayang, ia berhasil menghindarinya dengan tubuh yang dimiringkan. Zeeta langsung mengambil langkah mundur sambil menggertakkan gigi. "Kecepatannya semakin bertambah karena laut racunnya!"
"Ada apa, Zeeta?!" pekik Alter, "hanya inikah yang kaubisa?!" ia lalu memunculkan lingkaran sihir dengan bermacam elemen yang segera ditembakkan tepat ke arahnya. Sihir-sihir itu lebih tebal dari yang biasanya dan tentu saja lebih kuat, dimana kesemua sihir itu pun terlapisi oleh racun.
Zeeta tidak bergerak dari tempatnya berada. Ia hanya mengibaskan tangan kirinya yang memunculkan kibasan angin dengan arah serupa. Angin tersebut berwarna hijau dan mampu menangkis semua sihirnya hingga menghancurkan sekitar dengan daya yang besar.
"Hmph. Anginnya Zephyr, kah...?" Alter tak tertegun. "Tapi...." Ia menyeringai memandangi Zeeta.
Di bahu Zeeta terdapat goresan yang menanggalkan asap. Ia terkena cipratan racun. Tak merespon kegirangan Alter, ia segera mengangkat tangan kirinya—menghempaskan Alter ke udara dengan benturan gundukan tanah. Ia melepas Rhongomyniad -nya dan berkuda-kuda.
"Dia pikir aku akan diam saja?" Alter menggerakkan lautan racun di tanah untuk menenggelamkan Zeeta. Zeeta sendiri tak bergerak. Ia masih berkuda-kuda dan mengumpulkan kekuatan di tangan kanannya.
'BYURRR!'
Hanya Zeeta saja yang terkena tsunami dari dua arah itu, sementara Rhongomyniad tak terpengaruh sama sekali—seakan ada barrier lingkaran di sekitarnya yang berwarna serupa namun transparan.
Alter tak senang dengan itu. Ia tahu kalau sampai dia tidak menghindar, maka Zeeta amat percaya diri dengan serangan itu. Tiba-tiba....
"Apa yang kaulihat?"
Alter merasakan cipratan air dan hembusan angin dari belakangnya. "Undine dan Zephyr?!" kala ia menolehkan kepala, ia semakin terkejut lagi. Tangan kanan Zeeta dilapisi oleh api yang membara besar, pun dengan tanduk di kepalanya. "Ifrit juga?!"
'KA-POWWW!'
Zeeta memukul telak pipi Alter, dimana apinya segera menyebar ke seluruh tubuh, termasuk bagian Jormungand-nya. Setelah terpelanting ke tanah, api tersebut segera padam oleh laut racun. Sambil memegangi pipinya, Alter menertawakan Zeeta. "Apa maksud seranganmu itu? Roh Kuno takkan mempan melawan kami!" luka yang diderita di pipinya segera beregenerasi.
__ADS_1
"Ya, aku tahu." Zeeta menunjuk ke arah Alter, tepatnya di salah satu sudut tubuh Jormungand.
"Ap...?!" Alter mendapati dua Rune yang berukuran besar tertanam di tubuh itu—Nauthiz dan Mannaz. Kedua Rune itu segera menyerang Alter dengan sengatan listrik. "Gyaahhh!!" erangnya kesakitan. "Tu-tubuhku... kenapa tubuhku tak bisa melawan...?!"
Zeeta mengambil Rhongomyniad-nya. "Oh? Jadi Ozy tak mengajarkanmu Mannaz, ya? Rune itu akan mengekangku bila aku bertindak hal bodoh sepertimu.
"Kau yang sudah terlanjur melakukannya, tentu itu akan memaksamu untuk memisahkan diri."
"Keparat...!"
Zeeta memejamkan matanya untuk menambah fokus selagi Alter berusaha untuk melawan. Dikala yang sama....
......................
Danny yang sudah diobati oleh para Raksasa dan tiga Levant, sudah sampai di dalam Töfrahnöttur. Ia belum sadarkan diri, tetapi berkat semuanya, lukanya dapat disembuhkan. Demikian pula dengan nasib Klutzie.
Kemudian, dari titik posisi yang berbeda-beda, terdapat suara yang dapat didengar secara bersamaan.
"Gerda...."
"Kak Azure...."
"Danny...."
Ketiga orang yang memiliki nama tersebut tersentak. Danny mendadak melotot dan terbangun—mengejutkan para Raksasa berukuran Manusia di sekitarnya ikut kaget.
"Zeeta!" seru ketiganya bersamaan, walau tak di tempat yang sama.
Ketiga Manusia tersebut mengerutkan dahi mereka. Danny yang tak sadar terus dipanggil oleh Raksasa tersebut, tak mempedulikannya dan segera pergi menuju orang yang dimaksud.
.
.
.
.
Tatkala ketiganya berkumpul pada dua orang yang disebut namanya, keduanya bertanya, "Apa yang akan kalian lakukan?"
Azure menjawab, mewakili teman-temannya. "Sebuah kartu truf." Ia tersenyum percaya diri. "Lagian, Dan, kau baik-baik saja?"
"Ya!" Danny yang telanjang dada itu menekuk tangan kanannya—menunjukkan ototnya yang besar sambil tersenyum lebar. "Entah mengapa, aku sudah lebih baikan!"
"Itu karena kami, ya ampun." Ella menggelengkan kepala sambil cemberut.
"Be-begitukah...? Hehe, terima kasih."
"Cukupkan omong kosongnya!" seru Gerda, "Zeeta sedang membutuhkan kita!"
Semuanya menjawab dengan satu anggukan mantap.
__ADS_1
"Pegang bahu kami!" seru Edward, yang berdiri beriringan dengan adiknya. Danny dan Azure memegang bahu Edward, sementara Gerda memegang bahu Ella.
Tak lama kemudian, si kembar itu meluncur seperti roket menuju Zeeta berada. Dari kejauhan, mereka bisa melihat Jormungand yang sudah menyatu dengan Alter, dan Zeeta yang melakukan sesuatu terhadap Rhongomyniad-nya. Disaat itu pula, keduanya sedang berbincang.
......................
"APA KAU SUDAH GILA, ZEETA?!" pekik Alter, yang berkeringat di sekujur tubuhnya. "Aku takkan membiarkanmu melakukan itu! Dunia ini terlalu menuntut dirimu yang hanya seorang Manusia!"
Zeeta tersenyum. "Aku tahu kau pun senang saat Danny menyatakan cintanya pada kita. Iya, 'kan?"
"Hah? Apa yang—"
"Bila tujuan akhirmu adalah untuk mengakhiriku, itu pun sejalan denganku, yang mengharuskanku menghancurkan Drékaheim dan Jötunnheim.
"Karena dirimu yang selalu mengubah arus waktu dunia ini, maka kini, tujuanku itu terpusat padamu.
"Drékaheim dan Jötunnheim tercipta karena seorang Aurora di Ragnarok kala itu muak dengan makhluk sihir yang terus merenggut nyawa yang dicintainya.
"Hal itu disebabkan olehmu yang memengaruhi mereka, termasuk Naga yang menjadi wadah kutukan Keenai-mu itu, dengan mana kegelapanmu.
"Sementara itu, sosok sebenarnya Jormungand bukanlah Raksasa. Ia adalah Hollow yang tercipta dari keinginan leluhur pertama Levant, Lynn. Makhluk itu semakin kuat semakin tuanya zaman."
"A-apa yang kaubicarakan?! Apa maksud semua itu?!"
"Sungguh disayangkan kau tak bisa melihat semua jawaban ini di duniamu, namun... aku adalah kau, dan kau adalah aku.
"Ramalan Yggdrasil tidak pernah meleset. Dunia memang akan hancur oleh kita, seorang Zeeta Aurora XXI. Kau sudah menghancurkannya di duniamu dan kini giliranku.
"Jormungand tak pernah bisa dilukai, bahkan jika dilukai pun itu tak terlalu berpengaruh. Tapi, sejak memakai Rhongomyniad, aku menyadarinya, Alter.
"Sama seperti kita yang memperkuat sihir dengan Rune, Rhongomyniad pun memperkuat Catastrophe Seal. Oleh sebab itulah, Jormungand dikatakan sebagai makhluk penanda Akhir Dunia, yang hanya bisa dikalahkan oleh Tombak Suci.
"Kau, yang terus berperan di semua alur waktu para leluhurku, mengerucutkan jawaban yang selalu kucari untuk kulakukan pada dunia ini. Dan terima kasih karenamu, aku takkan ragu.
"Dengan terbunuhnya kau dan Jormungand, maka Drékaheim dan Jötunnheim akan hancur. Sisanya, kaubisa menebaknya, bila kau benar-benar adalah aku."
Alter terdiam. Ia mencengkeram erat tangannya hingga punggung tangannya berurat. "Tentu saja aku tahu!
"Oleh karena itu aku takkan membiarkannya! Untuk apa mengorbankan dirimu untuk dunia yang tak memberikan apapun padamu?!"
Tidak seperti yang lain, Ella mendengar samar jeritan Alter. Ia terhenti sejenak dan itu menimbulkan tanda tanya bagi mereka yang sedang bergegas.
"Jangan ragu, Adikku!"
Ella terkesiap. "Ta-tapi...!"
"Ini adalah keputusanku dan hanya aku yang bisa melakukannya! Kupercayakan setelahnya pada kalian."
Ella menangis tiba-tiba, namun ia tak mengucapkan apapun.
"Ella...?" Edward memanggil.
__ADS_1
"Ma-maaf, aku tidak apa. Ayo...."