Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Jötunnheim dan Fyrriheim


__ADS_3

Disaat bencana tornado petir-api sedang menghantam Bumi, seorang gadis berambut hitam panjang berkuncir dua dengan kuncir cokelatnya, bergaun merah, bermata biru, sedang duduk meminum teh di sebuah tanah lapang yang dipenuhi dengan kristal, emas, dan kolam yang bening. Tanah itu terisolasi dari luar, hingga dia tak merasakan bahaya. "Sluuurp," ia menyeruput teh hangatnya. "Aaah.... Lihat apa yang kaulakukan, berpisah denganku tanpa memberitahuku sepatah kata pun, L'arc? Keberuntunganmu jatuh begitu saja seperti buah yang telah membusuk." Gadis itu melihat apa yang terjadi pada L'arc di sebuah bola kristal yang dipegang oleh pelayan wanitanya.


"Apa keputusan Anda, Putri?" tanya Pelayan itu.


"Karena mood-ku sedang bagus hari ini, selamatkanlah dia, Xenna. Aku masih membutuhkan pria mantan Benih Yggdrasil itu untuk melancarkan rencanaku."


"Segera, Putri." Xenna tidak mengangkat kakinya dari sana.


"Ada apa, Xennaville? Jika kauingin bertanya sesuatu, tanyakanlah. Meskipun jika pertanyaan itu tidak menyenangkanku, rasa penasaran di benakmu yang tak terjawab hanya akan membebanimu menjalankan misi dariku.


"Jika kau gagal, yang dirugikan kan aku. Apa kau benar-benar ingin melakukannya?"


Xenna segera berlutut. "Ma-maafkan saya, Putri!"


"Umu. Kumaafkan. Lalu, pertanyaannya?"


"Mengapa Anda membiarkan L'arc pergi? Saya pikir Anda sadar dia hendak bertemu dengan Marianna Aurora."


"Ah, itu?


"Aku hanya ingin memastikan saja kemampuan dua Benih Yggdrasil lain itu. Sesuai asumsiku, mereka kuat. Terlebih, mereka masih menyembunyikan kartu truf mereka.


"Benih Yggdrasil bernama Zeeta itu... seperti kata L'arc, adalah ancaman. Namun, sebuah ancaman tidak boleh segera dilenyapkan apabila tidak menimbulkan bahaya.


"Bila Zeeta menunjukkan taringnya pada L'arc, perlahan dia akan menemukanku, dan rencanaku untuk membuka gerbang Jötunnheim—dunia para Raksasa—pun akan rusak."


"A-apa Anda yakin ingin membukanya...?"


"Hmm? Bodoh. Tentu saja. Dunia manusia ini sudah usang dengan segala kesombongannya. Kesombongan itu mengakar ke hampir seluruh dunia, dan mereka melupakan ada dunia lain yang eksis. Kesombongan manusia hanya akan berakhir pada punahnya umat manusia. Mereka akan saling berperang, berlomba untuk menjadi lebih kuat tanpa sadar kelakuan mereka hanya merusak Bumi.


"Jika Jötunnheim terbuka, keputusasaan akan hadir, dan manusia akan sadar betapa kecilnya sosok mereka dari para Raksasa.


"Untuk mewujudkannya, Benih Yggdrasil harus berkumpul, dan menuju dimana Pohon Kehidupan terlihat ribuan tahun yang lalu. Di sana, aku akan memaksa mereka membukanya dengan sihirku...." Senyuman lebar dan sinis terlihat di wajahnya. "Nah, Xenna. Segeralah berangkat. Jangan buat mood-ku turun dan menghukummu."


"Baik, Putri!"

__ADS_1


......................


Sementara itu, di dunia lain yang telah disebutkan—Jötunnheimr—para Raksasa merasakan getaran sihir yang kuat. Beberapa dari mereka adalah empat Raksasa yang sedang berbincang. Keempatnya berpakaian kuno dengan rambut ikal panjang dan janggut yang lebat. Tubuh mereka berotot, disamping mereka terdapat senjata yang diletakkan di tanah seperti palu bogem, pedang, tameng, dan sarung tinju berduri. Mereka berkumpul di tengah-tengah api unggun yang jika berjalan beberapa kilometer (jarak manusia) akan menuju pantai.


Jötunnheim memiliki langit biru mendung. Cuacanya dingin, segalanya membutuhkan kehangatan agar bisa bertahan. Namun, tidak semua makhluk hidup benar-benar membutuhkan kehangatan itu, seperti hewan berbulu tebal yang tak terhitung jumlahnya.


Jötunnheim dibagi menjadi beberapa teritori, yang masing-masing diantaranya memiliki musim yang berbeda. Meskipun memiliki musim yang berbeda, semisal musimnya adalah musim panas, suasananya tetap dingin walau mentari bersinar. Para Raksasa yang sedang berbincang berada di teritori yang bermusim hujan dan kini sedang "cerah".


"Manusia-Manusia itu berulah lagi," ujar Raksasa A.


"Siapa yang menyangka di zaman ini ada Manusia yang bisa menggetarkan dua dunia seperti ini," balas Raksasa B.


"Kejadian tiga ribu tahun lalu masih belum bisa kulupakan! Rasanya masih seperti kemarin!" pekik Raksasa C.


"Yggdrasil menjadi seperti itu karena Manusia.... Jangan bilang jika getaran ini adalah pertanda...?" tanya Raksasa D.


Raksasa A hingga C melotot pada Raksasa D, lalu menjerit, "TAKKAN KUBIARKAN!" secara bersamaan, menggetarkan tanah hingga membuat ombak mengamuk.


......................


Kembali ke pertarungan Ashley dan Ifrit. Mereka yang melayang di langit terus melancarkan serangan-slash-pertahanan tanpa henti. Ashley yang kini hanya memiliki sisa waktu satu menit untuk mode super kuat dan berkecepatan tinggi itu, meluncurkan dua tombak petir dari langit langsung menuju Ifrit sebagai serangan lanjutannya dan berhasil meleceti pipi dan perut lawannya. Begitu tombaknya mendarat di tanah, petir menyambar dengan begitu ganas.


Tidak mengubah posisi meski telah terluka, Ifrit memandang ke arah lukanya, lalu menatap Ashley yang ada di seberang-atasnya. Ia membatin sesuatu di hatinya ketika melihat Ashley. "Goddess of Thunder... siapa yang menyangka dia bisa sekuat ini. Tiada manusia yang bisa menapaki tingkat ini jika tidak dikarenakan tekad, ketekunan, serta pengorbanan yang besar.


"Kekuatan ini bukan disebabkan oleh dirinya yang mampu bermana alam, tetapi kekuatan ini murni dari miliknya sendiri. Jika alam tidak menghendaki dirinya sejauh ini, dirinya hanya akan tertelan oleh sihirnya sendiri.


"Oh Naga Inferno... teman abadiku... aku bersyukur dunia ini memang layak kaulindungi dengan nyawamu!"


Ifrit kemudian tersenyum. "Mari kita akhiri ini, Goddess of Thunder!" ia menukik menuju Ashley layaknya komet melawan gravitasi.


......................


Sementara itu, Zeeta yang terakhir kali terlihat disembur api oleh Ifrit, membuka matanya perlahan. Ia merasa dibangunkan oleh banyak tawa yang begitu mengganggu telinganya. Apa yang dilihatnya pertama kali adalah langit biru sampai perlahan-lahan pandangannya mulai fokus, ia mendapati makhluk bersinar.


"Wah!" Zeeta segera terduduk. "Ka-kalian...?" Zeeta dikelilingi oleh empat makhluk bersayap yang bersinar putih—yang ia lihat beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Lihatlah!" seru salah satu dari mereka. Ia menunjuk ke langit.


"Hmm? Ada ap—"


'FWUUUUSSHHH!'


Zeeta tiba-tiba terhempas oleh angin yang sangat kencang hingga dirinya jatuh telentang.


"A-apa yang barusan itu?!" Zeeta duduk lagi. "Sesuatu yang raksasa telah melewatiku!" jeritnya. Ia kemudian melihat kemana arah sesuatu itu mengarah. "Na-Nagaaa?!" tidak hanya satu, tapi puluhan Naga terbang dengan bebas di langit, layaknya burung pada umumnya.


"A-apa aku sudah mati...? Atau aku hanya bermimpi...?"


Di bawah langit biru yang membentang luas, di atas hamparan rerumputan dan bunga, dunia sihir ini hidup ras Naga dengan bebasnya. Tidak hanya Naga, beberapa saat kemudian Zeeta merasakan dentuman di tanah—seperti langkah kaki.


"Ra... Raksasa...?" Zeeta sekali lagi dumbfounded oleh pandangan yang diterima matanya.


"GRAM! Jangan terbang terlalu jauh! Yggdrasil ada di timurmu!" teriak si Raksasa.


"Berisik! Aku tahu! Aku tak sudi berada di dekat Raksasa lengket sepertimu, Sigurd!" teriak si Naga.


"Yggdrasil?!" Zeeta terkejut dengan sebutan nama itu.


Keempat makhluk bersayap itu berbaris lalu terbang ke hadapan wajah Zeeta. Mereka kemudian berkata secara bersamaan. "Selamat datang di dunia lampau, Fyrriheim, oh pemilik kekuatan bulan, Nona Zeeta Aurora XXI!"


"Eh...?


"Du...


"Dunia lampau?!"


.


.


.

__ADS_1


.


"Me... mengapa?!"


__ADS_2