Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Menuju Babak Selanjutnya


__ADS_3

Edward bersemangat dengan misi yang telah diberikan ibunya. Bersama dengan semangat itu, disertai harapan tinggi yang telah didapatkannya dari mantel Grimmur pemberian Zeeta, membuatnya tak memikirkan konsekuensi apapun lagi. Tidak bisa dihindarkan, karena dia hanyalah anak berusia sebelas tahun. Hal ini juga berlaku pada kembarannya, Ella. Dia pun ingin menuntaskan apa yang telah dipercayakan kepadanya. Selain itu, ia pun percaya bahwa dirinya dan kembarannya memang mampu menuntaskannya. Dan sekarang, keduanya telah sampai di titik yang telah ditandai. Titik-titik tersebut jauh dari pemukiman dan tidak mudah dicapai tanpa sihir—sebuah perbukitan dengan jalan yang ekstrem.


"Aku tinggal mengeluarkan mana-ku, lalu semuanya selesai...," ujar Ella, yang semangatnya menggebu-gebu.


"Kala kami mengeluarkan mana, mama bilang semua bencana ini akan hilang. Kalau kami bisa melakukan hal sebesar itu, kak Zeeta pasti...." Edward membayangkan wajah Zeeta yang terkejut setengah mati, lalu sang kakek yang mengelus bangga kepala mereka. "Sudah pasti!"


Tepat ketika mereka hendak mengeluarkan mana, di tempat yang berbeda secara bersamaan, Agatha dan Lowèn menghentikan mereka. Agatha pada Ella, Lowèn pada Edward.


"Apa yang kaupikir kaulakukan, Edward?" tanya Lowèn.


"Hentikan tindakanmu itu, Ella, jika kau tidak mau menyesal," ujar Agatha.


"Eh?!" keduanya berbalik, terkejut dengan kedatangan mereka.


......................


"Papa, kenapa Papa bisa ada di sini? Bukankah Papa sedang dalam pertemuan penting?" tanya Edward.


"Lebih penting dari itu, menjauhlah dari lingkaran sihir itu. Papa sangat tidak menyarankan kamu mendekatinya."


"Eh, kenapa? Jika ini bisa membuat kerajaan terselamatkan, maka...."


"Oh? Jadi kauingin bilang kau dan Ella telah cukup kuat untuk melindungi kerajaan?"


"Tentu saja! Kak Zeeta pun sudah memberikan mantel ini padaku, jadi dia pasti akan mengakuiku jika—"


"Janganlah naif, Putraku!" bentak Lowèn, yang mengejutkan Edward. "Anak-anak seperti dirimu tidak seharusnya mengatasi hal semacam ini. Mereka yang telah memiliki tugas dan kewajibannya pada kerajaan ini tidak boleh kauanggap sebelah mata! Kau adalah Levant, terlebih kau adalah bangsawan kerajaan yang harus mengetahui potensi rakyatmu sendiri!


"Apa kau tidak percaya pada kemampuan rakyatmu sendiri, Edward Levant?!"


Ucapan ayahnya ini membuat Edward merasa tersetrum di suatu tempat di hatinya.


"Tapi... Mama bilang...."


"Apa boleh buat, kejadian sudah seperti ini...," gumam Lowèn, "aku memiliki tugas yang tidak kalah penting— tidak, ini adalah hal yang harus diketahui sebagai Levant. Sebuah rahasia yang tidak boleh kauucapkan pada orang lain."


"Rahasia?!"


"Ini juga tidak boleh diketahui oleh Zeeta."


"Mmh?!" Edward terpancing dengan ucapan itu. "Apa benar aku tidak harus melakukan apa yang dikatakan mama?"


"Ya. Papa sendiri yang akan menjelaskan pada mama nanti. Sekarang, mari kita pulang, Ed."


"Gnnnn.... Baiklah. Aku akan menurut, karena aku Levant yang baik!"


"Umu! Keputusan bijak!"


"Syukurlah... dengan begini dia tidak harus kehilangan sihirnya.... Sekarang, masalahnya... Ella...."

__ADS_1


......................


"Menjauhlah dari sana, Ella!" perintah Agatha.


"Tidak! Ini adalah tugas penting yang diberikan Mama padaku! Aku harus menyelesaikannya!" rengek Ella, "harus! Pokoknya!"


"Oh.... Jadi kau lebih memilih ini daripada mendengarkan Nenek, ya?" Agatha mengancang-ancangkan telapak kirinya.


"Ta-tapi... mama...." Tangis tampak di mata Ella.


"Cepatlah, sebelum ini melayang!"


Ella menggembungkan pipi sambil tetap ingin meneteskan air matanya. Mau tak mau, dia harus menuruti neneknya daripada menerima hal yang dibencinya—hukuman sang nenek.


Agatha menggeleng kepalanya. Ia kemudian berjongkok lalu mengusap air mata cucunya. Ia kemudian berkata, "Anak kecil sepertimu sebaiknya menunggu orang dewasa pulang. Andai kamu tetap melakukan apa yang ingin kamu lakukan, tanpa pengalaman darimu sendiri, apapun alasannya, kalau kamu tidak pulang dengan selamat, siapa yang akan sedih?"


"Papa...."


"Lalu?"


"Nenek, kakek... mama juga...."


"Tidak hanya mereka, tapi kakak sepupumu, juga Raja dan Ratu pun akan sedih. Mamamu tidak salah, tetapi ada tugas lain yang lebih cocok untukmu dan Edward kerjakan."


"Benarkah...?"


"Tentu saja! Jadi, mari kita pulang!"


"Haaah.... Kalau saja Lowèn tidak memberitahuku... pencegahannya pasti akan terlambat.... Syukurlah," batin Agatha. Ia kemudian memakai sihir piring terbangnya sambil menggandeng Ella.


......................


Disaat Agatha dan Lowèn menjemput Edward dan Ella, Claudia mendapati Karim yang tengah terbaring dibalik selimut. Tak ada keanehan selain Claudia yang tak bisa merasakan mana darinya, hingga membuatnya bertanya-tanya sendiri.


"Apa yang terjadi dengan Ayah...?" batin Claudia, "apa ini ada hubungannya dengan Lowèn yang marah padaku...?"


Beberapa saat kemudian, Lowèn kembali bersama anak-anaknya serta Agatha. Begitu mereka masuk ke area ruang tamu, Lowèn segera memerintah Si Kembar dengan, "Tunggulah Papa di halaman belakang. Papa ingin bicara dengan Mama dulu. Simpan mana kalian, jangan digunakan secara sembrono. Paham?"


"Uhm, baiklah, Papa." Keduanya menurut tanpa pertanyaan.


"Sayang, sebenarnya ada apa ini...?" tanya Claudia. Ia menyusul ke ruang tamu.


"Yang lebih penting, kausudah yakin akan mengatakannya pada mereka, Lowèn?" tanya Agatha.


"Ya, aku yakin. Jika dugaanku benar, Zeeta mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Grimmur, yang tak bisa dijelaskan pada kita. Oleh karena itu, kita juga tidak bisa terus tinggal diam tentang kekuatan ini dari mereka. Cukup aku dan kak Hazell yang mengemban kutukan ini, keputusan setelahnya biar mereka yang ambil."


Agatha memejamkan mata. "Baiklah. Ibu setuju."


"Ya, terima kasih, Bu.

__ADS_1


"Untukmu, Chloe...."


Lowèn kemudian menceritakan tentang apa yang terjadi pada Karim.


.


.


.


.


"Manusia biasa?! Apakah itu mungkin...?!" Claudia berbisik, tak ingin didengar anak-anaknya.


"Ya. Hal itu ada hubungannya dengan apa yang akan kuberitahu pada anak-anak."


"Itu artinya ... kau akan membuat mereka harus memilih antara terus menyusuri jalan hidup dibawah kekuatan matahari, atau bebas menjadi manusia biasa, begitu?"


"Begitu." Lowèn mengangguk.


"Apa akan ada efek yang menyusulnya...?


"....


"Tidak. Tidak perlu dijawab.... Aku menyadarinya."


"Baiklah. Aku pergi dulu." Tak menjelang lama, badai-badai petir-api yang mengacaukan kerajaan hilang begitu saja, dengan langit yang perlahan-lahan disambut oleh benderangnya bulan purnama, yang tentunya disambut gembira oleh Crescent Void, pasukan kerajaan, dan bangsawan utama beserta prajurit-prajuritnya.


......................


[Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di Nebula....]


Azure telah berbicara panjang lebar tentang bagaimana dia bisa berada di sini, juga tentang alasannya. Ia pun membocorkan tentang Asteria si Pelayan.


"Begitu...." Zeeta mengusaikan penyembuhan Rune dari Ashley dan Luna. "Kalau begitu tujuanku selanjutnya sudah dipastikan. Tapi sebelum itu... aku harus menyelesaikan urusanku dengan Lucy...."


"Tapi dia sudah tidak lagi di sini. Jejak mana-nya pun tak terasa lagi," balas Azure.


"Aku tahu. Dan itu bukanlah fokus kita saat ini. Untuk sekarang, kita harus menuntaskan bantuan pada Klutzie sampai selesai. Aku sudah mendengar situasi di sana dari rekan Elf-ku." Zeeta menjentik anting kanannya. Ia kemudian meregangkan tubuhnya.


"Oh iya, apa ini berarti kau kembali pada kami? Secara antiklimaks begini? Padahal motivasiku latihan adalah untuk menyelamatkanmu...," ujar Zeeta kala melemaskan tubuhnya itu.


"Apa boleh buat... sebelumnya dia ingin aku melakukan sesuatu padamu, tapi karena kausudah mengetahui tentang sosok yang bisa mengubah paksa makhluk sihir menjadi Hollow, aku dibebaskan begitu saja."


"Yah, karena dia tahu aku takkan mati begitu saja di tempat ini, mungkin dia sedang santai dan tertawa gila sambil menikmati tontonan hiburan baginya ini."


"Jadi... kausudah tahu...?"


"Ya. Dan aku pun sudah mendapatkan jawabanku pada ajakannya enam setengah tahun lalu.

__ADS_1


"Kak Azure, banyak yang ingin kubicarakan padamu, tapi tolonglah bawa keduanya ke tempat aman terlebih dahulu. Aku ingin kautahu, apa yang sedang kita hadapi saat ini, setelah secara kebetulan dipertemukan oleh Lucy."


Azure hanya menatap dalam diam adiknya itu. "Baiklah. Aku mengerti."


__ADS_2