
Zeeta Alter membiarkan dirinya terbaring di tanah dengan posisi telentang. Tidak sepenuhnya telentang, tetapi sedikit melengkung dengan kondisinya saat ini. Dengan langit yang terkabuti oleh asap bekas ledakan sebelumnya, entah mengapa membawanya mengingat sesuatu di dunia asalnya.
Diingatannya, Alter yang telah kehilangan kekuatannya dan berambut hitam, sedang berbicara dengan Luna. Mereka berada di tengah-tengah kuburan, di bawah langit mendung.
"Hei, Luna.... Aku pasti mengecewakanmu, bukan?"
"Meskipun begitu, kau tetap harus menuntaskan tugasmu. Aku yang percaya kaubisa melakukannya. Aku akan membiarkanmu sendirian dulu."
Alter tak menjawab apapun. Ia hanya menunduk dan tak menoleh ke arah Luna yang sedang dalam mode rubah mini-nya. Ia lebih memilih untuk menatap nama yang terpahat di depannya, Edward dan Ella Levant.
"Kami percaya Kakak pasti bisa melakukan ini! Berjuanglah!"
Alter masih bisa mengingatnya dengan jelas kala adik-adik sepupunya yang menyemangatinya dengan senyuman yang polos dan amat cerah. Karena mereka, Alter mendapatkan kekuatan dan keyakinan untuk terus bertahan walau ia sudah kehilangan kekuatan Bulannya.
Ia lalu mengingat juga bahwa dulu, saat ia berusia delapan tahun, dirinya pernah bertemu dengan leluhurnya yang bernama Clarissa. Leluhur itu menceritakan banyak hal tentang tiga ratus tahun yang lalu, tetapi hanya itu saja. Untuk apa dia menunjukkan dirinya kalau hanya ingin menceritakan masa lalu? Apa hubungannya itu dengan seorang Alter?
"SIAAAL!!" Alter memukul tanah dengan kencang hingga mengotori dirinya sendiri. Tak lama kemudian, hujan deras mengguyurnya. Tidak ada yang tahu kalau saat itu dia menangis hingga sesenggukan. Suara gemuruh petir dan derasnya air berhasil menutupi tangisnya.
......................
[POV Alter.]
Saat itu aku tersadar meskipun sudah terlambat. Cerita leluhurku dari tiga ratus tahun yang lalu adalah pesan yang menyatakan, "Kami sudah berbuat kesalahan dan karena kau adalah penerusnya, perbaikilah kesalahan itu."
Setidaknya, seperti itulah menurutku.
Tentu aku tahu seberapa nakal-nya para Peri dan lambat laun tahu bahwa Peri pun ikut campur tangan terhadap kesalahan leluhurku.
Tapi itu tak mengubah apapun.
Selama perjalananku di dunia Zeeta ini, memang benar aku mengetahui banyak hal baru tentang para leluhurku, tetapi itu sudah bisa kuduga. Mereka adalah Manusia, sama sepertiku. Mereka berbuat kesalahan dan menyesalinya.
Namun, satu perbedaan yang paling signifikan yang telah kubuat di dunia ini adalah ketika Flare dan kelompoknya tewas.
Sebelum mengubahnya, yang terjadi sebenarnya adalah hanya Ars yang mati karena ketakutan Flare dan kelompoknya ketika Naga Garm, Raksasa, dan Feline menghampiri mereka. Dengan kata lain, Gala tidak hanya membalas dendam kepada makhluk-makhluk sihir itu, tetapi juga kepada orang-orang yang seharusnya memercayainya dan melindungi sosok yang akan menjadi generasi penerus.
Aku terus berkelana di dalam waktu para leluhurku yang berkaitan langsung dengan alasan kubisa dibebani beban yang sangat berat ini. Beberapa dari mereka memiliki akhir hidup yang manis, beberapa pula ada yang tragis seperti Gala. Semua perjalanan itu membawaku ke seorang leluhur bernama Orion. Dia adalah lelaki dengan tubuh besar berotot bak beruang dan wanita yang dicintainya, Artemis. Gadis yang dicintainya itu mati di tangan rekan-rekan seperjuangannya. Mereka menusuk dari belakang dengan alasan Artemis adalah pembawa malapetaka. Semua kemalangan, bahkan Ragnarok yang akan menimpa mereka, pasti karena dirinya, sebab ia memiliki tanduk dan satu-satunya yang berbeda.
Tanduk itu adalah bukti dia memiliki kekuatan Ifrit. Wujudnya serupa kala Zeeta meminjam kekuatannya. Tetapi, di kala itu, tiada yang peduli apa itu Ifrit, apa itu Roh Kuno, atau bahkan pemilik kekuatan Bulan, yakni Orion. Alasan mereka bisa dipahami, tetapi yang tidak kupahami adalah Orion.
Setelah dikhianati, ia tetap berjuang demi mereka, menyelamatkan banyak nyawa, dan tidak berhenti menerima kecaman-kecaman pedas, yang menganggapnya adalah monster yang memiliki wujud Manusia.
Titik terendahnya adalah ketika Ragnarok itu tiba. Bukanlah Jormungand yang menjadi ancaman bagi Orion, namun Naga Nidhogg dan Sephiroth. Mereka menujukkan mimpi terburuk baginya, dimana Artemis dihidupkan kembali, dan dipaksa bertarung dengannya. Pada akhirnya, Orion membunuh Artemis dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Bila itu saja yang terjadi, mungkin ia masih bisa bertahan.
Orion dan Artemis memiliki putri, tetapi sosoknya selalu disembunyikan. Para penduduk yang selalu mengkhianatinya, berhasil merayunya dan mempersembahkannya kepada Nidhogg dan Sephiroth.
Tertelan oleh amarah yang besar dan menganggap Yggdrasil sama sekali bukanlah pohon kehidupan, ia menghancurkannya. Bulan berubah semerah darah dan ia membuat perjanjian dengan Seele.
"Dunia sihir busuk ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Namun, untuk mewujudkan itu bukanlah perkara yang mudah. Aku tahu Yggdrasil melihatku berbicara dengan kalian dan camkanlah ini.
"Penerusku di ribuan tahun ke depan akan menghancurkan kalian. Manusia, makhluk sihir, Bumi seisinya. Kelak ia akan sadar bahwa pohon kehidupan pun takkan peduli pada kehidupan Manusia yang telah mengorbankan nyawa-nyawa mereka demi keseimbangan yang menurutnya diperlukan.
"Kalian kira seberapa banyak leluhurku yang mati karena perbedaan kekuatan dan tanggung jawab yang tidak masuk akal ini?
"Kami terus berpegang teguh dengan ucapan Gala bahwa kelak kami bisa hidup berdampingan, namun nyatanya banyak leluhurku, bahkan diriku sendiri, dikhianati dan terus dikhianati.
"Aku tidak tahu dengan apa atau seperti apa penerusku akan menghancurkan dunia ini, namun aku yakin ia pasti akan dikhianati pula sama seperti kami. Oleh orang-orang yang dianggapnya sebagai rekan dan oleh orang-orang yang sebelumnya mengagung-agungkannya, serta orang yang paling dipercayanya.
"Sampai saat itu tiba, aku akan memberikan ketenangan sementara bagi kalian secara merata. Berlanjutnya dunia ada di tangan kalian. Akulah yang sekarang memerintah kalian untuk patuh, Yggdrasil."
.
.
.
.
Aku tak peduli lagi dengan mereka, sebab dunia itu sudah kuhancurkan, seperti ucapan Orion. Namun, hanya satu pertanyaan yang tersisa sebelum aku memutuskan melakukan semua ini.
"Apa arti hidupku?"
Aku hidup demi menebus kesalahan yang dibuat para leluhurku. Aku terlahir untuk membawa dunia keluar dari ujung hayatnya. Segala pengkhianatan yang kualami membawaku ke amarah yang sangat mendidih.
Kubekukan mimpiku untuk menjadi koki. Mimpiku itu tak lagi kupedulikan.
Saat tiba waktunya, kukatakan pada mereka kuingin melepas kutukan dunia ini, yakni sihir, sayangnya semua orang mencoba menghentikanku. Ini adalah satu-satunya cara agar dunia bisa diselamatkan, namun mereka tak ingin kekuatan terlepas begitu saja.
Adakah harapan memangnya di dunia ini?
Apakah cinta benar-benar nyata?
Hatiku sudah terlalu berkarat dan rusak untuk menyadari atau bahkan peduli dengan itu.
Perihal Orion pun kutahu setelah semua itu terjadi.
__ADS_1
Oleh sebab itulah....
Zeeta ... daripada menderita seperti ini, dibebankan tanggung jawab menyelamatkan dunia, gadis itu— aku— kuputuskan untuk tak terlahir di dunia ini sebagai "penyelamat" dengan mengutak-atik arus waktu.
Tetapi siapa yang menyangka....
Kalau perbuatanku ini malah menjadi bumerang bagiku dan membawaku melihat apa yang sangat ingin kulihat.
Senyuman Edward dan Ella, kekokohan hubungan pertemananku dengan Danny dan Gerda, kepercayaan Luna, para Elf yang menganggapku satu-satunya Manusia yang pantas dihormati, semua itu kulihat di dunia ini.
Namun, keputusannya itu....
Aku tak bisa terima.
Aku memang tak berhasil menggagalkannya lahir di dunia ini, tetapi aku berhasil membuat perubahan manis di sekitarnya. Kendati demikian, dunia tetap memaksa aku— seorang Zeeta— untuk menyelamatkannya. Ucapan Hugo kepada Reina benar. Mengubah arus waktu memang dapat dilakukan, tetapi arus itu takkan bisa dikendalikan tepat seperti yang diinginkan. Bisa saja itu sesuai, bisa saja lebih buruk, atau tidak ada perubahan sama sekali.
Dunia yang menginginkannya sebagai penyelamat tak berubah. Dunia yang membebani seorang Zeeta pun tak berubah. Namun, Zeeta tetap ingin menuntaskan itu semua.
Tsk.
Aku ingin dunia ini berakhir tanpa perlu melibatkan seorang Zeeta. Aku tak peduli apakah itu Aurora lain dari generasi selanjutnya atau siapa untuk bisa menuntaskan keinginan dunia, namun aku tak ingin Zeeta merasakan semua yang sudah kurasakan.
Bahkan jika itu artinya aku harus membawa kehancuran bagi dunia sekali lagi, dengan senang hati kulakukan!
......................
Alter bangun dengan mencolok. Ia menjatuhkan meteor yang jauh lebih besar dari serangan Ella sebelumnya. Itu menyebabkan Bumi bergemuruh tidak hanya dari penduduknya saja, tetapi Bumi itu sendiri juga.
Edward menggertak gigi dan mengerahkan segala kekuatannya dalam sihir yang hendak ia tembak dari kedua tangannya. "Bila aku memang adalah keturunan kekuatan Matahari yang hanya bisa membantu kekuatan Bulan diambang kehancuran dunia, maka aku tahu aku pasti bisa melakukan ini!"
Melihat tekad kakaknya yang lebih tua beberapa menit darinya itu membawa Ella berkeputusan serupa.
Keduanya berpose sama dengan jarak agak berjauhan. Kala ia hendak menembak sihirnya....
"Jangan pernah terfokus pada apa yang ada di hadapanmu saja!"
Suara Alter mengejutkan mereka, namun sesaat setelahnya mereka dipaksa ke tanah oleh sebuah tarikan di kaki. Wujudnya adalah kumpulan mayat makhluk sihir yang dihidupkan kembali oleh Alter.
Tak lama kemudian, semuanya mendengar suara pecahnya suatu kaca yang sangat nyaring— Töfrahnöttur. Itu akhirnya hancur oleh tekanan teramat kuat dari tsunami yang diciptakan Alter. Disaat semuanya kaget, menganga, bingung harus berbuat apa, Alter tersenyum lebar. Tapi....
"Kau juga, Zeeta. Jangan terpaku pada tujuanmu saja!"
Suara Azure tak diduga oleh Alter, dimana posisi mereka tiba-tiba dibalik dengan mudahnya oleh tiga orang itu. "Ba-bagaimana cara kalian—?!"
__ADS_1