
Di waktu yang bersamaan ketika Zeeta sedang bercerita dengan Dark Elf, Hugo, Aria tengah menuju air terjun sesuai perintah tetuanya. Air terjun yang ia tuju berbeda namun serupa dengan air terjun biasanya. Yang membuatnya beda, adalah airnya memantulkan sinar biru, tetapi airnya bening sehingga siapapun yang ingin melihat kehidupan di balik air tersebut, adalah hal yang tidak mustahil. Para Roh Yggdrasil juga berkumpul di atas perairannya.
Aria datang melalui salah satu sudut hutan dan tidak menemukan siapapun yang sedang menunggunya di sana. Tetapi, selama ia melihat dengan saksama air terjunnya, ia tiba-tiba merasakan mana yang sangat ia kenali. Ia segera melompat ke air dan menerjang air terjun itu dengan membuka arus air yang jatuh dengan mananya. Di sana, ia segera menganga setelah menyingkap arus airnya.
"Sejak kapan ada lubang di sini? Ukurannya pun tidak terlalu kecil... juga tidak terlalu besar, bahkan seorang Elf pun bisa masuk ke lubang ini. Tapi... kenapa aku merasakan mana Ozy di balik lubang ini?!" gumam Aria panjang. Tanpa memikirkan apapun lagi, Aria segera masuk ke dalam lubang tersebut dan terus mencari di mana sumber mana yang ia rasakan.
Lubang yang Aria masuki ternyata lebih dalam dari yang ia duga. Layaknya labirin, ia terus mengikuti kemana pun arah yang memancarkan mana Ozy. Terkadang ia harus memanjat, merangkak, dan bahkan memiringkan badan secara total hanya untuk bisa melewati ruang sempit yang luasnya hanya lima sampai tujuh meter saja.
Setelah menghabiskan waktu selama sekitaran sepuluh menit, akhirnya ia menemukan ruang luas yang memiliki sebuah pintu dan obor sebagai penerangan. Siapapun yang ada di hadapan pintu tersebut, tentunya akan berkeinginan untuk membukanya atas dasar rasa penasaran. Bersama dengan rasa penasarannya, Aria juga bisa merasakan dengan jelas dan kuat, bahwa Ozy ada di balik pintu tersebut.
'Ceklek'
Aria menarik ke bawah gagang pintunya. Ia terpatung setelah melihat seorang pria yang lebih tinggi darinya duduk di sebuah kursi. Di sebelah kursi tersebut ada kasur untuk satu orang. Pria itu berambut kelabu lurus yang menjuntai ke bawah hingga bagian tengkuknya. Poni depannya hanya dipotong sampai bagian kening, sehingga Aria dapat melihat rupa pria itu. Hidung yang mancung, telinga runcing, bermata biru serta berkulit putih—lebih ke pucat, memasang senyum pada Aria. Siapapun yang melihatnya pasti bisa tahu, jika pria ini tidak pernah tersenyum sebelumnya sehingga senyumannya tampak benar-benar mengerikan dan absurd.
"Halo ... Aria.... Maaf sudah ... membuatmu ... cemas," kata pria itu. Ia menggaruk pipi dengan telunjuknya.
"Suara ini ... cara bicara ini.... Kau? Kau Ozy...?"
"U-uhm. Ka-kau benar.... Namaku ... Ozy." Ia mengangguk.
Ozy? Kenapa Raksasa itu ada di hadapannya sekarang? Bukankah dia sudah tewas karena api Hell Hydra? Tidak. Kesampingkan masalah itu, kenapa Raksasa ada di tubuh manusia...?
"Kenapa?" tanya Aria. Ia menunduk dan mencengkeram tangannya.
"Uuuh... dulu, Ratu Clarissa ... pernah membantu Ozy. Ia membantu Ozy ... agar bisa hidup di tubuh buatannya. Ozy butuh waktu ... ratusan tahun agar benar-benar ... bisa hidup di tubuh ini." Ozy memegang dadanya.
"Clarissa? Ratu Aurora yang kesembilan itu?"
"Uhm."
"Sejak sebelum kau bertemu denganku?"
"Uhm."
Aria terdiam sesaat, kemudian berjalan mendekati Ozy. "Kenapa kau merahasiakan ini dariku?"
"Ozy ... sudah bersumpah dengannya. Ratu Clarissa ... sejak awal sudah waspada dengan Feline ... setelah Feline memberitahunya tentang ... keturunan kedua puluh satu."
"Bersumpah? Sumpah untuk apa?" Aria tepat berada di depan Ozy sambil tetap mencengkeram tangannya.
"Menjadi sekutunya. Zeeta ... butuh banyak teman ... agar tidak menghancurkan dunia. Ozy ... sudah berkeputusan.
"Waktu itu ... Ozy ingin memastikan ... apakah Zeeta benar-benar seperti ... apa yang Feline katakan pada Ozy. Jika Zeeta ... memang sama dengan apa yang Feline ramalkan ... meteor itu akan hancur ... bersama dengan kerajaan.
"Kehancuran itu bisa Ozy pastikan ... karena mana-nya tidak bisa ia kendalikan. Tapi... Ozy sangat bersyukur ... Zeeta tidak seperti itu."
"Lalu hal sepenting ini kau hanya menyembunyikannya dariku? Sebenarnya aku ini apa untukmu, dasar Raksasa yang aneh!? Jika aku ini teman bagimu, tapi kenapa kau merahasiakan ini?!" Ozy dapat melihat tangis deras air mata Aria.
"Apa kau tak tahu seberapa sedihnya aku melihatmu hancur terbakar oleh Hollow?!"
'PLAK!'
Aria akhirnya menampar Ozy hingga membuat pipinya merah.
"Maaf, Aria. Maafkan Ozy." Ozy tertunduk.
"Jangan minta maaf padaku! Jelaskan padaku kenapa kau merahasiakannya! Apa aku ini tidak bisa dipercaya? Bukankah kita ini teman?!"
Ozy mengangkat kepalanya lalu menjawab, "Baiklah. Ozy ... akan menceritakannya. Duduk dan dengarkanlah aku...."
Aria pun duduk di kasur kemudian menghapus air matanya.
"Saat itu ... ketika Ozy keluar dari Hutan Sihir Agung ... Ozy bertemu dengan Ratu Clarissa. Tubuhnya yang sudah rapuh ... membuat Ozy penasaran. Apa yang ia pikirkan ... sambil melihat sungai di depannya...?"
......................
Tubuh yang keriput, postur yang sudah sedikit membungkuk, membawa tongkat untuk membantunya berdiri, rambut yang beruban, serta anting bulan di telinga kiri, sedang menatap dalam diam arus sungai di depannya. Arus sungai tersebut mengalir dari arah Hutan Peri. Ya, ia sedang berada di desa Lazuli, desa terdekat dengan Hutan Peri. Ia adalah Ratu Clarissa Aurora IX.
"Sudah enam puluh tahun, ya, kak, sejak hari itu...," gumamnya. Ia tersenyum.
__ADS_1
Kemudian, ia mendongak dan menemukan Ozy yang sedang mengintip di balik hutan. Tubuhnya yang besar, membuatnya harus melihat dari jarak ratusan kilometer. Matanya membantunya melihat Clarissa dengan kemampuan "zoom"-nya.
Clarissa melambaikan tangan pada Ozy, kemudian berteleportasi ke hadapannya.
"Selamat siang, oh Raksasa," sapa Clarissa.
Ozy yang terkejut berniat ingin lari darinya.
"Apa yang kautakutkan dari tubuh rapuh dan tua ini? Dengan hantamanmu pun, aku mudah sekali menjadi bubur."
Mendengar Clarissa, membuat Ozy mengurungkan niatnya.
"Aku tahu waktu hidupku sudah tidak lama. Maukah kau berbaik hati padaku dan mendengarkan nenek tua ini bercerita?"
Ozy pun memposisikan dirinya untuk duduk melipat kaki dan mengangkat Clarissa ke atas lututnya.
"Ohohoh... terima kasih!" Clarissa melempar senyumnya setelah sampai di lutut Ozy.
Setelah itu Clarissa menceritakan siapa dirinya dan apa yang ia pikirkan saat melihat arus sungai itu. Ozy pun juga sudah memperkenalkan siapa namanya, lewat sihir kuno, Rune. Ia menuliskan namanya lewat matanya.
"Aku khawatir dengan masa depan keturunanku. Karena perbuatanku dan kakakku pada Feline, menyebabkannya akan berada di dunia yang sangat sulit," ujar Clarissa. Ia menatap kerajaannya dalam tatapan lirih.
"Apa kau tidak mengkhawatirkan kerajaanmu?" tanya Ozy, lewat tulisan sihir kunonya.
"Kerajaanku tidak akan hidup apabila keturunanku tidak hadir di dalamnya. Mereka adalah satu kesatuan. Tapi, sebagai leluhurnya, ini akan aneh didengar oleh makhluk penjaga Yggdrasil sepertimu, aku lebih mengkhawatirkan keturunanku.
"Ia hanyalah anak kecil.... Mengapa ia memutuskan untuk menghancurkan dunia, adalah hal yang tak bisa kuikut campur urusannya. Tetapi, satu hal yang pasti adalah ... dia perlu banyak teman untuk lebih mengenal dunia. Kau pun tahu, 'kan, keindahan dunia ini?"
Ozy mengangguk, kemudian bertanya, "Apa ada yang bisa kubantu?"
Clarissa tertawa setelah membacanya. "Kami hanyalah Manusia rendahan. Mengapa kau bertanya?"
Ozy kemudian menulis lagi, "Ozy adalah satu-satunya yang tersisa dari Raksasa. Setelah Ozy sendirian selama ini, dari semua ras yang Ozy tahu, sejak dulu Manusia adalah kehidupan yang terindah... juga terburuk. Jika ditanya kenapa, Ozy hanya lebih suka dunia ini dipenuhi keindahan. Itu saja."
"Lalu, jika kaubisa membantuku, apa yang ingin kaulakukan pada keturunanku?"
"Sekutu? Untuk apa?"
"Ozy adalah Raksasa. Raksasa tahu apa yang dirasakan Bumi. Bumi sudah bilang pada Ozy, kalau Feline ingin membangkitkan Yggdrasil.
"Tapi Ozy tidak setuju."
Clarissa memiringkan alisnya.
"Yggdrasil sudah memutuskan untuk menjadi Roh. Kalau dalam pemahaman Manusia, yang dilakukan Feline sama seperti membangkitkan manusia yang sudah mati dengan tenang, namun harus kembali dipaksa mengurus urusan dunia.
"Karena itu, Ozy ingin jadi sekutunya."
"Bukankah Raksasa seharusnya berbahagia jika Yggdrasil dibangkitkan?"
Ozy sempat terdiam sesaat.
"Kalau ... kalau Yggdrasil memang ingin bangkit dengan Benih Yggdrasil, biarlah itu terjadi. Apapun demi membuat dunia ini indah, Ozy akan melakukannya. Ozy bersumpah."
Clarissa duduk, lalu mengelus lutut batunya. Ia kemudian berkata, "Terima kasih, Ozy. Kau adalah ras yang begitu mulia, juga Raksasa yang aneh.
"Kalau begitu, inilah yang ingin kulakukan padamu. Bersedia atau tidaknya, katakanlah padaku."
Ozy mengangguk.
"Tubuh besarmu akan membuat siapapun yang bertemu denganmu lari ketakutan. Untuk itu aku memberimu saran. Aku akan membuat tubuh menyerupai manusia, serta sistem kerja tubuh yang sama dengan kami. Jika jantungmu mati, kau akan mati. Tetapi karena kau adalah Raksasa, kau pasti bisa menemukan jalan keluarnya."
Ozy mengangguk.
"Sihir itu ... adalah sihir kuno Rune, 'kan?" tanya Clarissa. Ia memastikan dugaannya.
Ozy kembali mengangguk.
"Masuklah ke tubuh buatan itu dengan sihir Rune. Hal itu mudah bagi Raksasa, bukan?"
__ADS_1
Ozy terdiam, lalu menjawab, "Tapi itu butuh waktu yang lama. Menyesuaikan tubuh baru tidak semudah mengucapkannya."
"Kau benar. Lagi pula keturunanku hadir sekitar tiga ratus tahun ke depan. Bisakah kau sempat?"
Ozy mengangguk.
Clarissa tersenyum. "Terima kasih, Ozy."
......................
"Semua demi Zeeta?" tanya Aria, "selama tiga ratus tahun kau terus menulis sihir Rune, hanya demi Zeeta?!"
Ozy mengangguk.
"Apa yang membuat dia sepenting itu? Kauingin bilang jika hal membuatnya istimewa adalah ia seorang Manusia bermana besar, dicintai alam, dan jadi Benih Yggdrasil? Konyol sekali!"
Ozy menatap tajam Aria. "Yggdrasil bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng, Aria!"
Aria tersentak. "Kenapa kau marah? Kenapa kau sangat membela Zeeta dan semua hal ini kau rahasiakan dariku sejak dulu?!"
"Karena Ozy tidak ingin Aria terluka."
Jawaban Ozy membuat Aria meledak dari dalam.
"HAH? Jadi kaupikir aku ini sebegitu lemahnya sampai kau berpikir tidak ingin aku terluka?! Asal kautahu saja, Ozy. Aku bertahan hidup dari perang Elf dan Manusia! Apa kau tidak berpikir jika ketika dua ras berperang sihir, semenakutkan apa jadinya? Aku ini adalah yang selamat!"
"Kalau Feline berhasil membangkitkan Yggdrasil, tragedi yang membuatnya memutuskan menjadi Roh hanya akan terulang lagi. Ozy tahu jika keseimbangan mana dunia ini sudah rusak, tapi membangkitkan Yggdrasil di tatanan dunia seperti ini....
"Hanya akan membuat korban dari semua ras akan bertambah, dan Ozy tidak ingin Aria terlibat dalam hal itu! Kenapa Aria tidak paham jika Aria adalah sosok berharga bagi Ozy? Kenapa Aria tidak bisa duduk diam sementara Ozy melindungi Aria?"
"Hah? Duduk diam? Kauingin aku duduk diam, setelah semua yang kauceritakan padaku?" Aria berdiri, lalu berjalan menuju pintu. "Baiklah, jika itu maumu, lakukanlah semuanya sendiri." Aria pergi meninggalkan Ozy.
Ozy tidak bergerak dari kursinya. Meskipun ia ingin bergerak, ia masih belum terbiasa hidup di dalam tubuh manusia. Semua esensi hidupnya baru masuk sempurna dalam tubuh buatan Clarissa, dengan sihir kuno Rune miliknya. Dengan kata lain, ia seperti bayi baru lahir.
"Ini untuk yang terbaik...." batin Ozy.
......................
Aria telah keluar dari air terjun tempat Ozy tinggal dan kini ia ingin menemui Zeeta. Setidaknya itu yang ingin ia lakukan sebelum ia tahu Zeeta baru saja pulang. Lantas, ia pun berbicara dengan Hugo yang masih ada di tempat.
"Tetua, apa Anda tahu jika Ratu Aurora kesembilan pernah bertemu dengan Ozy?" tanya Aria. Ia berwajah lesu.
"Ya, memangnya ada apa?" tanya Aria.
"Aku hanya ... tidak habis pikir, kenapa Ozy merahasiakan hal sepenting itu dariku...."
Hugo menepuk kepala Aria. "Asal kautahu, aku tidak diberitahu Ozy, tapi Hutan Sihir Agung inilah yang memberitahuku. Sama seperti kemampuan Ozy yang bisa mengetahui apa yang dirasakan Bumi, sebagai Tetua Elf, aku tahu apa yang sudah terjadi di hutan ini."
"Jadi, Ozy hanya merahasiakannya dariku?"
"Jika itu keinginannya, biarkanlah. Ini pertama kalinya ras Raksasa ingin melindungi orang-orang. Tidak hanya Elf, bahkan ia ingin menjadi sekutu manusia.
"Aria ... dahulu, ras Raksasa merupakan ras terkeji setelah ras Naga. Apapun demi melindungi Yggdrasil, mereka tak segan membunuh rasnya sendiri. Walau sekarang ras Naga tidak terlihat keberadaannya, tapi kita harus bernapas lega Ozy tidak menjadi musuh kita.
"Sihir Rune miliknya, adalah sihir maha kuasa. Tidakkah kaupikir mustahil untuk mengganti esensi hidup sebuah Raksasa ke tubuh ras lain yang justru lebih lemah darinya?"
Aria baru menyadari segalanya. Ozy benar-benar serius dengan sumpahnya pada Clarissa selama tiga ratus tahun, agar bisa mewujudkan dunia yang indah. Sementara dirinya, hanya memikirkan egonya sendiri yang harganya jauh lebih kecil dari tindakan Ozy.
Aria pun memantapkan keputusannya. Setelah mengingat kembali apa yang ingin ia lakukan setelah bertemu Zeeta di kediaman Rowing, ia bertekad. "Tetua, apa aku juga boleh bersekutu dengan Zeeta?" tanya Aria.
Hugo menanggapi Aria dengan senyum.
"Tetua?"
"Maaf, aku juga tidak habis pikir. Apa yang akan ada di pikiran Feline, setelah tahu Hutan Sihir Agung, Elf, dan Raksasa bersekutu dengan Zeeta, seorang anak Manusia berusia delapan tahun yang menjadi Benih Yggdrasil...." Tatapan ngeri dipasang oleh Hugo.
"Kuyakin kautahu ini, Aria, Feline itu selalu punya rencana dibalik rencananya. Tak lama lagi, ia pasti akan melakukan sesuatu pada Zeeta. Bisakah kaulindungi Zeeta?"
Aria memasang wajah penuh kebenciannya. "Saatnya balas dendam, 'kan?!"
__ADS_1