
Pagi hari, ketika mentari baru saja terbit, pasukan ekspedisi yang terdiri dari Crescent Void, Elf, dan Putri Azure Aurora, berkumpul di lapangan kediaman Alexandrita—menunggu komando lebih lanjut dari pemimpin misi kali ini, Albert dan Ashley. Saat ini, Albert membagikan barang-barang yang telah ia dan ibunya arahkan kemarin, yang diantaranya adalah tiga batu permata untuk masing-masing anggota, dan gelang komunikasi.
Gelang tersebut berwarna kuning keemasan dan memiliki tiga permata dari sumber yang sama—Emeria—yang berguna untuk mengubah mana pengguna menjadi “sinyal”. Tiga permata tersebut juga bisa digunakan untuk komunikasi suara, visual, ataupun audio-visual.
Disaat yang sama, Ashley di sisi lain lapangan, sedang berbicara empat mata dengan Zeeta. “Baiklah. Aku mengerti,” kata Ashley, dalam percakapannya.
“Terima kasih, Guru,” pungkas Zeeta, yang tersenyum.
Semuanya tampak berjalan lancar untuk misi serius yang akan segera dilaksanakan ini. Tetapi, beberapa saat kemudian, seorang prajurit Alexandrita berlari dengan tergesa-gesa dan penuh keringat. Ashley yang berada yang paling dekat dengan arah dirinya berlari, segera bertanya, “Ada apa?”
Si Prajurit mengambil napas terlebih dahulu sebelum menjawab. “Haaah.... In-ini gawat, Nyonya Ashley!”
Melihat ekspresi Si Prajurit, Ashley mengernyit. Namun, berbeda dengannya, Zeeta sudah mengernyit duluan dan langsung terbang setelah mengatakan, “Aku akan menemuinya langsung!”
Menilai dari tindakan Zeeta, baik itu Ashley atau siapapun yang ada di lapangan itu, langsung merasa ada yang tak beres.
“Katakan padaku,” ujar Ashley, “apa yang terjadi?”
“Se-se... seseorang menyusup Aurora!” jerit Si Prajurit.
“Apa?!”
Mereka yang ada di sisi lain lapangan ikut mendengar apa ucapan Si Prajurit, tetapi mereka tetap di tempat.
“Tidak mungkin," elak Ashley, "Aurora sudah memiliki pengamanan yang lebih kuat dari sebelumnya. Bagaimana bisa...?
“Tidak. Mula-mula, kenapa kautak memakai alat komunikasi yang telah kami berikan pada kalian?”
“I... itu....
“Ke-kemungkinan... orang itu telah mencurinya tanpa sepengetahuan kami....”
Jawaban tersebut membuat emosi Ashley. “JANGAN BERCANDA!” bentaknya, “kaupikir ada berapa prajurit di tembok, pintu, dan mereka yang tersebar di kerajaan?!”
“A-ak.... aku tahu ini terdengar tidak mungkin, Nyonya! Ta-tapi ini benar-benar terjadi! Jika tidak, aku tidak akan tergesa-gesa!”
“Cih... lalu? Katakan dengan singkat.”
“Di... dia hanya berdiri di alun-alun dan tujuannya adalah bertemu Tuan Putri Zeeta. Jika keinginannya tidak dituruti, di-dia mengancam akan memusnahkan segala yang di dekatnya....”
Urat kepala langsung timbul. “ALBERT!” jerit Ashley.
“Sudah kulakukan!” balas Albert dengan tanggap. Ia memberi sinyal pada prajurit yang tersebar di lokasi yang dimaksud untuk bersiaga.
“La-lalu, Nyonya!” Si Prajurit masih memiliki laporan lanjutan.
“Hah?! Masih ada lagi?!”
“Dia juga tidak ingin adanya pengganggu.”
Ashley mengepalkan tangan serta menampilkan urat kepalanya. “Jangan main-main dengan kami, dasar brengsek…!”
......................
Si Penyusup yang dilaporkan oleh Si Prajurit, menunggu dengan santainya di kursi dekat air mancur alun-alun. Dia sama sekali tak terganggu oleh tatapan-tatapan waspada dan pelototan rakyat di sekitarnya. Lalu, beberapa saat kemudian, Zeeta datang dengan kecepatan tinggi dan segera mendaratkan serangan kaki padanya.
‘BWAAAMM!’
Terpaan angin kencang menghempas, memaksa rakyat yang berada di dekatnya menyilangkan tangan ke depan mata agar bisa melindungi diri. Ketika anginnya sudah menghilang, mereka dibuat “kagum” dengan Zeeta dan Si Penyusup yang saling beradu tendangan—Zeeta dengan kaki kanan, sementara Si Penyusup dengan kaki kiri.
__ADS_1
Zeeta mengernyitkan mata ketika lawannya bisa merespon serangan cepatnya dengan tenang dan masih menyimpan tangan pada saku celananya. Apalagi, ia cukup kuat untuk menahan serangannya.
“Wah wah...,” kata Si Penyusup, “beginikah sambutan seorang Tuan Putri yang katanya Sang Penyelamat atau apalah itu? Kasar sekali, ya.”
“Cih... siapa kau? Mau apa kau ke sini?”
“Tenang saja. Aku akan kooperatif denganmu, bila kau juga kooperatif denganku. Aku juga tak berniat untuk melakukan hal gila seperti menyerang sebuah kerajaan kuat seperti ini sendirian.”
Zeeta menurunkan kakinya. Ia kemudian mengangkat telapak kanannya—yang segera disambut senyum oleh Si Penyusup. Telapak tangan tersebut memberi perintah berhenti pada prajurit yang bersiaga di sekitar dan sudah siap dengan sihir mereka masing-masing. Ada yang berada di dekat kerumunan rakyat, ada pula yang mengendap di atas genting, juga ada yang menunggu di dalam gang.
Zeeta setelah itu bicara pada Si Penyusup. “Aku mengerti kau tak memiliki niatan buruk pada kerajaan ini, tetapi aku tahu kau punya urusan denganku.”
Si Penyusup dibuat tersentak dan menyeringai. “Hahaha. Kau benar sekali, Putri,” balasnya.
“Jika kau tak mengikuti peraturan di sini, aku tak bisa menjamin keselamatanmu dari orang-orangku yang telah kauanggap remeh hanya karena bisa menahanku dengan kaki itu.”
Si Penyusup masih dalam seringainya menjawab, “Heeeh... apa maksudnya itu?”
‘BLAR!’
Sesuatu seperti sambaran—kilat biru yang amat cepat ditangkap oleh tangan kiri Zeeta dengan mudahnya. Hal tersebut membuat Si Penyusup kaget setengah mati.
“INI!”
Seorang gadis berambut pirang mendarat di dekat keduanya, lalu disusul oleh kedatangan lima lain yang berseragam sama dengannya. Mereka mengepung Si Penyusup.
Apa yang ditangkap Zeeta bukanlah kilat atau semacamnya yang sekilas tampak seperti itu. Nyatanya, itu adalah bongkahan kristal yang membekukan tangannya. Tetapi dengan mudah, Zeeta bisa melelehkannya.
“Jika dia tak menghentikannya, Tuan Tak Tahu Diri,” kata gadis yang menyerangnya, Mellynda, “kepala itu sudah terluka parah.”
Melihat kedatangan Crescent Void yang menyusul Zeeta dengan jarak waktu yang pendek, membuat rakyat yang menyaksikannya teramat senang dan dibuat berdecak kagum.
......................
Tiga puluh menit telah berlalu, saat ini, Si Penyusup, diborgol dengan pantauan Ashley dan Zeeta, di lapangan kediaman Alexandrita. Sesuai dengan rencana, Crescent Void sudah menjalankan misi bersama Elf dan Azure—menyerahkan masalah orang ini dengan Zeeta dan yang lain.
Di sana, Zeeta membuka suara terlebih dahulu di hadapan Si Penyusup yang duduk di bangku. “Sekarang, bicaralah pada kami, Putra Mahkota Kekaisaran Seiryuu, Arata Akihiro.”
Ucapan Zeeta mengejutkannya. “Sialan. Untuk apa aku melakukan ‘penyusupan’ yang mencolok ini jika kaubisa mengetahui identitasku dengan mudah....”
“Mudah? Ayolah, jangan merendah. Aku tak bisa menebak itu jika Guru di sebelahku ini tidak mengetahui tentang ki—yang tentunya bisa menembus dengan mudah pertahanan kami. Ditambah, kau terus-terusan berpikir tentang adikmu yang sendirian di kekaisaran, bersama seseorang yang berbahaya.”
Arata dibuat berkeringat. “Ba-bagaimana bisa...?”
“Anggap saja aku hanyalah monster yang bersedia mendengarkan perlumu denganku.”
Arata diam sesaat. Ia mengerti. Ia tak diizinkan untuk tahu. “Baiklah,” jawabnya, membulatkan tekad. “Aku datang ... untuk meminta bantuanmu agar menghentikan tindakan adikku.”
"Jötunnheim, bukan?” tanya Zeeta.
“Kau benar.”
Zeeta menyilangkan tangan, berpikir sejenak. Interogasi dilanjutkan oleh Ashley. “Berceritalah tanpa menyembunyikan apapun—jika kau menganggap kami adalah bantuan yang dibutuhkan,” ujarnya.
“Aku...,” ucap Arata, “tidak begitu mengerti apa yang hendak dilakukan adikku. Tetapi aku tahu dia melakukannya untukku.”
“Apa maksudmu?”
Arata diam sejenak, berpikir apakah ia akan menguak rahasianya atau tidak.
__ADS_1
Tetapi, tidak lama kemudian, kerajaan terlapisi oleh kubah yang bertuliskan Rune raksasa—yang dilanjuti oleh ledakan teramat besar pada pintu timur. Setelah itu, Ashley menerima komunikasi dari alat menyerupai earbud.
“Lapor dari pintu timur!" ucap suara yang terdengar dari alat serupa dengan earbud, “terjadi penyerangan oleh dua orang, kami sedang menghadang mereka!”
“Di sini Albert, apakah itu Phantasmal atau Hollow?”
“Bukan!
“Mereka adalah Manusia... dan... dan mereka ... memakai kekuatan aneh!
“Aku tak bisa menjelaskannya rinci, tetapi pukulan mereka teramat kuat dan sihir kami tidak mempengaruhinya!”
“Dimengerti. Kami akan mengerahkan bantuan. Bertahanlah.”
Zeeta dan Ashley langsung melirik tajam Arata.
Arata yang mengerti maksud lirikan mata itu, segera menyangkal. “Ti-tidak! Aku berangkat sendirian pada tengah malam!”
Tak lama setelah itu, bunyi-bunyi ledakan terus menggema.
Arata yang mencoba meminta bantuan pada Zeeta, memutuskan. “A-anu!
“Bisakah kalian mempercayakan ini padaku? Aku mungkin bisa meyakinkan mereka.
“Aku pun sudah sejauh ini, aku tak ingin kembali dengan tangan kosong dan membiarkan adikku dalam bahaya yang terus mengancamnya dari dekat.”
Ashley memandangi Zeeta. “Kami akan melihatmu dari belakang. Lakukanlah apa yang menurutmu benar,” kata Zeeta. Ucapan ini segera disambut senyum baik oleh Arata dan Ashley.
......................
Sejurus kemudian, Zeeta, Ashley, dan Arata tiba di tembok timur. Mereka melihat beberapa prajurit terluka, ada pula yang tewas dengan luka ledakan dan noda hitam di tubuhnya. Zeeta melihatnya mengernyit, lalu ia mendapati sosok dua manusia yang disebut oleh salah satu prajurit.
Mereka adalah dua orang laki-laki. Yang satu bertubuh kekar besar, yang satu bertubuh normal. Berbeda dengan Arata yang memakai kemeja merah panjang dan celana hitam panjang—yang sama sekali tidak mencerminkan dirinya adalah seorang bangsawan, kedua penyerang itu memakai seragam zirah, yang masing-masing memiliki hiasan-hiasan kepala atau sisik naga. Si lelaki bertubuh normal tampak tenang di tempat, sementara si lelaki kekar berdiri di belakangnya.
Lelaki bertubuh normal itu berambut kuning panjang dengan kain merah yang diikat di keningnya. Dilain sisi, pria bertubuh kekar tersebut berambut hitam panjang yang dikepang ke belakang. Banyak bekas luka sayatan atau sobekan pada tubuhnya. Ia terlihat seperti orang yang sangat dijauhi oleh orang awam.
“Mereka...?” Arata seperti mengenal kedua lelaki itu. Ia langsung menghampiri keduanya. “Asuka, Nanashi! Apa yang kalian lakukan?”
“Ya-Yang Mulia?” keduanya kaget dengan kedatangan Putra Mahkota mereka.
“Kami melaksanakan perintah Paduka Zero,” balas pria bertubuh normal, Nanashi. “Apa Anda juga diberi perintah olehnya?”
“Ayahku...?” Arata melirik ke tanah. “Aku sedang dalam misiku sendiri. Apa beliau mengizinkanku tahu apa perintahnya?”
“Tentu saja. Anda adalah putra kebanggaannya, tidak mungkin beliau menyembunyikan sesuatu dari Anda,” balas Nanashi, “kami diperintah untuk menyerbu Aurora. Beliau berkata, kerajaan ini adalah ancaman terbesar untuk kebesaran Seiryuu.”
“Menyerbu? Hanya dengan kalian berdua?” tanya Arata.
“Ya!” Nanashi menjawabnya dengan semangat. “Kami pasti bisa menembus Aurora, tapi ... kubah
pertahanan itu tidak bisa kami tembus entah seberapa kuat kami kerahkan ki. Te-tenang saja, Yang Mulia, nama Seiryuu pasti akan harum oleh kami!”
“Begitu....”
Nanashi merasa ada yang aneh. Ia mengernyit dan bolak-balik melihat ke arah darimana pangerannya datang dan ekspresi yang diberikannya. “Hei, Gendut!” panggilnya, “bersiaplah. Posisi sepuluh!”
Keduanya memberi kuda-kuda yang berbeda. Asuka, tidak hanya berkuda-kuda menyamping, ia juga mengepalkan kedua tangan dan menariknya ke belakang. Sementara itu, Nanashi kini bersembunyi dibalik Asuka dan berkuda-kuda—kaki kanan ke depan, kaki kiri ke belakang. Tangan kanan ke depan, kiri ke belakang, dengan telapak yang ditutup.
Tak lama kemudian, kedua orang Seiryuu tersebut mengeluarkan aura yang berbeda—yang juga disambut oleh ledakan besar yang datang dari Arata—hingga melontarkan bebatuan bahkan jasad-jasad prajurit yang berada di luar kubah tak tentu arah.
__ADS_1