Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Fana


__ADS_3

Malam purnama, yang dikelilingi oleh jutaan bintang.... Di bawahnya, terdapat beberapa orang, tiga diantaranya tembus pandang dan berasal dari masa depan yang jauh. Sementara ketiga orang tersebut saling berbincang, dua yang lain—penduduk pada zaman itu—sedang menghangatkan diri di hadapan api unggun dan selimut.


"Ke mana sebenarnya mereka akan pergi?" tanya Zeeta yang melihat Karim. "Di mana sebenarnya Ujung Dunia itu?"


"Semuanya akan terjawab, Zeeta. Aku tidak akan menjawab apa yang akan terjawab di sini."


Mendengarnya, justru membuat Zeeta semakin bertanya-tanya. Ia pun mengalihkan pandangan pada Gala dan Lynn yang memberi jarak satu sama lain, kemudian mengernyit. Dia memiliki kecurigaan tersendiri dalam benaknya tentang masa lalu yang sedang disaksikannya dan hubungannya dengan Ujung Dunia tersebut.


Perjalanan keduanya terus berlanjut. Gala dan Lynn selalu dihadang oleh bermacam makhluk sihir yang beberapa diantaranya diketahui eksistensinya oleh Zeeta, seperti Slime, Minotaur, dan masih banyak lagi. Keduanya—tidak—lebih tepatnya Lynn, selalu bergantung pada Gala yang memiliki kekuatan sihir. Namun, Gala juga tidak bisa mengatasi semuanya jika tanpa "ramalan" Lynn. Sepasang orang dewasa tersebut tetap menjaga jaraknya, yang satu dikarenakan enggan menerima, satu lainnya karena menghargai keputusan lawan jenisnya. Mereka terus saja seperti itu, sampai suatu malam dengan purnama lagi tiba....


"Ini akan terdengar aneh bagimu," ujar Lynn tiba-tiba, dikala ia dan Gala sedang makan malam sebelum berkemah. "Sebaiknya kita urungkan niat untuk pergi ke Ujung Dunia itu."


"Eh? Kenapa?" tanya Gala santai. "Sudah satu bulan kita berkelana, memangnya kauingin mundur karena masih terlalu jauh ... atau bagaimana?"


"Kau mungkin tidak memercayainya, tapi di sana kita akan mati oleh dua wujud kekuatan api yang sangat besar."


Gala membungkam sesaat, memandangi raut wajah Lynn yang benar-benar serius bahkan berpeluh kendati malam masih terasa dingin.


"Sebelum itu, apa aku boleh tanya kenapa kaubisa dapatkan kekuatan ramalan itu? Yah, jangan salah paham, selama ini aku juga sangat terbantu untuk mengambil keputusan karenamu. Aku hanya penasaran. Tentunya, kalau kau tidak keberatan."


Lynn mengingat-ingat lagi perjalan mereka selama satu bulan, dimana Gala selalu mengutamakan keselamatannya daripada dirinya sendiri, bahkan dalam urusan kesehatan, makanan, dan minuman.


"Baiklah." Lynn mengatur napasnya terlebih dahulu. "Kelompokku dahulu memiliki sebuah tradisi yang ... sangat mengerikan untukku pribadi. Mungkin tradisi ini terjadi karena situasi Manusia di dunia ini, tapi aku juga tidak begitu mengerti." Ia mengeluarkan sebuah kantung yang berisikan gulungan-gulungan kulit yang bertuliskan beberapa paragraf.


"Apa itu?"


"Ini adalah catatan bagiku sendiri agar tidak mengulangi kesalahan yang aku dan kelompokku lakukan dahulu.


"Dulu di kelompokku, setiap anak yang telah menginjak usia tujuh belas tahun, mereka diberikan sebuah ujian oleh Tetua. Ujian itu menurutnya, untuk memperkuat kemampuan bertahan hidup mereka kelak.


"Namun, ujian itu sangatlah mengerikan."


Gala mengerutkan dahinya saat ia mendapati Lynn yang bergemetar dan mencengkeram tangannya sendiri.


"Waktu itu, ada lima orang yang ikut ujian, termasuk diriku sendiri. Tetua menyuruh kami memasuki sebuah hutan yang dikatakannya ada sebuah batang pada salah satu pohon di sana yang memiliki aliran kekuatan Yggdrasil. Meski hanya sebuah batang, katanya, itu bisa menjadi taring pembalas bagi semua makhluk sihir yang hendak melukai kami. Kami begitu berapi-api untuk mendapatkannya, tanpa meragukan sedikitpun ucapannya.


"Kami sampai di sebuah hutan yang sangat sedikit tanda-tanda kehidupannya. Dilihat dari manapun juga, meski kami membawa persediaan makanan, kami tentu tak bisa selamat tanpa luka di tubuh.... Namun anehnya, begitu kami memasuki lebih dalam hutan tersebut, bukanlah hutan yang hadir sepanjang mata memandang, melainkan dunia dengan langit jingga dan awan yang sangat lembut!


"'Demi masa depan kita!'


"Sayangnya, rekan-rekanku kala itu terbutakan oleh tujuan luhur itu dan gagal melihat secara keseluruhan makna sebenarnya dari 'ujian' ini."


"Makna sebenarnya...?" tanya Gala, "apa maksudnya itu?"


"Tanah Ephemeral.


"Demikianlah nama tempat aneh yang kami masuki. Sebuah tanah dimana berbagai macam 'mimpi' kami terwujudkan di sana."


Gala tidak menghilangkan kerutan di keningnya. "Aku tidak mengerti...."


"Tanah itu dapat mewujudkan berbagai macam keinginan makhluk yang memasukinya. Apapun, Gala, apapun!"


"Jadi, maksudmu... Tetua kalian membuang kalian ke tanah itu?"


"Tidak... dia bukanlah orang yang sebaik itu." Lynn mencengkeram tangannya erat-erat. "Sesuai namanya, Gala, walau segala mimpi dapat diwujudkan di sana, tetapi semuanya hanyalah sementara—tidak akan pernah kekal.


"Oleh sebab itu, setelah rekan-rekanku mengetahui kalau mimpinya bisa diwujudkan, mereka menginginkan hal yang lebih. Disaat itulah, mimpi indah kami justru berubah menjadi sangat buruk.


"Pada awalnya, semua mimpi yang mereka wujudkan sangatlah ringan dan penuh akan cita-cita masing-masing. Namun, seperti yang diharapkan dari Manusia, selalu ada keinginan buruk yang muncul entah sekecil apapun itu.


"Dan itu ... berasal dariku."

__ADS_1


.


.


.


.


"'Andai mereka tidak terbutakan oleh mimpi bodohnya dan lebih menyadari kalau kita sudah dibuang oleh Tetua, maka tujuan kami ke sini akan segera cepat selesai.'


"Aku tidak berharap, namun itulah yang terlintas di benakku. Hanya sebuah perandaian, namun Tanah Ephemeral malah mewujudkannya.


"Ia mewujudkan suatu makhluk jahat yang perlahan-lahan membunuh rekan-rekanku. Makhluk jahat yang tidak memiliki emosi sama sekali dan hanya bergerak atas keinginan tuannya—aku.


"Kala itu aku tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi. Semua terjadi begitu cepat dan aku merasa ... bebanku sangat ringan. Dan ya, tujuanku ke sana tercapai.


"Aku mendapatkan tongkat emas yang tertancap di dekat danau di sana. Tetapi, begitu aku mengangkatnya dari tanah, dunia yang kupandang bak bahar awan di tengah lautan jingga, mendadak berubah dikelilingi oleh senyuman menjijikkan dari para kelompokku dan makhluk sihir bangsat yang mempermainkan kami, Peri!"


Zeeta yang sejak awal juga menjadi pendengar, memahami segala yang diucapkan Lynn. Ia mendengarnya saksama dan fokus terhadapnya.


"Mereka sengaja bekerja sama untuk mendapatkan tongkat itu dengan memperalat kami. Pihak Peri mengatakan jika tongkat itu bisa menjadi penengah antara Manusia dan penduduk Bumi yang lain, sementara kelompokku hanya menginginkan kekuatannya.


"Diselimuti oleh amarah, aku berharap. Aku tahu jika tepat saat itu aku tidak memiliki jalan keluar, sebab Peri-Peri itu sudah menghunuskan sihirnya padaku.


"Oleh sebab itulah....


"Jika memang tongkat itu memiliki sedikit saja sihir Yggdrasil, maka aku ingin melihat masa depan para pengkhianat dan pembohong terkutuk itu, sebelum akhirnya aku mematahkannya sendiri!


"Kautahu apa yang kulihat?


"Kelompokku mati ditangan Peri yang telah mereka percayai dan mengambil tongkat itu untuk pihak mereka sendiri.


"Dari masa depan yang kulihat secara sesaat itu, kelompokku membanggakan 'jerih payahnya'. Menurut mereka, tradisinya yang sudah dilakukan bertahun-tahun dan mengorbankan remaja tujuh belas tahun yang sudah tak terhitung oleh jari, akhirnya membuahkan wujud yang nyata. Mereka menantikan kedatangan makhluk sihir baru yang kelak akan membawa harapan Manusia ke cahaya yang baru.


"Sebuah makhluk yang disebut Hollow, yang tidak akan bisa dihancurkan tanpa kekuatan yang melebihinya, sebab ia tercipta oleh kebencian yang terlapisi oleh Yggdrasil sendiri."


.


.


.


.


Gala terlihat mencoba untuk tidak terbawa suasana, kemudian memberikan pertanyaan. "Jadi, makhluk sihir itu masih berada di luar sana hingga saat ini?"


Lynn mengangguk. "Sampai ada yang bisa mengalahkannya dengan kekuatan lebih besar dari Yggdrasil tiba, Hollow takkan pernah lenyap dari Bumi."


"Tapi, ia cuma sendirian, bukan?"


Lynn menggeleng. "Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu terjadi dan aku sudah berkali-kali melihat pemandangan makhluk sihir lain ikut menghasilkan Hollow hanya karena dia lewat di dekatnya.


"Asal kautahu, sejak saat itu, aku tidak lagi berpikir macam-macam. Setidaknya sampai kau tiba."


"Lalu ... bagaimana dengan mereka yang tidak dapat mewujudkan keinginan kelompokmu?"


Lynn meliriknya. "Mereka jadi makanan untuk tanah itu."


"Hah...? Makanan...?"


"Aku mengetahuinya dari Dryad, ia bilang, 'Tanah Ephemeral memang tanah yang sangat diimpikan oleh segala makhluk yang ada di Bumi, tapi tidak sedikit yang tersesat karena mimpinya sendiri.

__ADS_1


"'Mereka yang tersesat, acapkali gagal untuk keluar dan kekal di dalamnya. Hanya mereka yang dapat tersadarlah yang bisa kembali dan menghadapi dunia dari depan, tanpa melupakan mimpinya.


"Dengan kata lain, janganlah terlena oleh mimpi, namun bawalah mimpi itu dalam genggaman dan wujudkan sendiri.'


"Apa? Masih tidak mengerti? Mereka yang gagal akan mati di sana dan menjadi 'pupuk' sihir bagi Tanah Ephemeral."


"Hmmm." Gala mengangkat kepalanya, memandangi bulan dan bintang. "Mendengar seluruh ceritamu, aku juga jadi ingin berharap."


Lynn menyeringai. "Katakanlah. Siapa tahu itu bisa membuatmu lebih tenang."


Gala tersenyum kecil. "Kuharap aku bisa meneruskan kekuatanku ini hingga masa depan yang jauh dan seseorang bisa melenyapkan mimpi burukmu dan kau pun bisa membantuku di dalamnya.


"Jika Yggdrasil dan suara-suara yang kudengar saat aku pertama kali bisa menggunakan sihir dapat mendengarnya, mungkin kalian bisa menunjukkannya pada temanku Lynn ini."


Melihat senyuman dan mendengar harapan dari Gala, membuat Lynn sedikit merona. Namun, itu tidak berlangsung lama. "Gala, menjauhlah!" pekiknya tiba-tiba berlari.


"Apa?!" jerit Gala yang sudah berlari, "apa yang kaulihat?!"


"Itu!" Lynn menunjuk langit malam yang terlihat menjatuhkan sesuatu.


'DDAARR!!!'


Keduanya menutupi mata dan hidung dengan selimut yang mereka bawa di lengan karena debu yang segera melompat girang.


Begitu keduanya merasa aman karena tak ada apapun yang terjadi dan debunya sudah lenyap, mereka mendekat dan segera menemukan sesuatu yang sangat kecil berkilau di tengah lubang yang agak besar.


"Sesuatu yang kecil sepertinya mendampak sebesar ini...?" Gala tak percaya. "Hei! Apa aku boleh?" ia mengode pada Lynn untuk mengambilnya. Lynn mengangguk dan segera dijalankan olehnya.


Gala mengambil sesuatu yang kecil tersebut dan hanya berjumlah satu keping. "Apa ini?" ia mengangkatnya dengan jemarinya. "Anting...?"


Tiba-tiba Gala terbawa ke suatu dunia yang pernah ia lihat sebelumnya. Di depan pohon yang sangat besar dan di belakang pohonnya terdapat bulan yang sangat cemerlang. Ia berdiri di atas "cermin air". Empat ekor Spirit—Seele—menghampirinya. Mereka juga berbicara secara bergantian, sama seperti biasanya.


"Kekuatan Lynn berasal dari Yggdrasil."


"Kebenciannya tidak dapat terelakkan dan merupakan langkah baru dalam kehidupan kalian.


"Ingatlah, Manusia bernama Gala.


"Roda kehidupan akan terus berjalan."


.


.


.


.


"...La...!


"...Ala...!


"GALA...!"


Gala yang dibentak terkesiap. "O-oh... ada apa?"


"Jangan 'ada apa'-kan aku! Justru ADA APA denganmu!? Tahu-tahu terpatung begitu saja!"


"Maaf.... Sepertinya...." Gala menunjukkan anting bulan yang digenggamnya. "Harapanku malah terkabul, hehehe!"


Kini giliran Lynn yang terkesiap. "HAAAHHH?!"

__ADS_1


__ADS_2