
‘FWWWUUUMM!!’
Gempa dan gemerlap merah menyilaukan Bumi. Terangnya merah tersebut menyebabkan dunia yang masih dirangkul oleh cahaya matahari seakan redup. Cahaya matahari ketika itu kalah terang dengan kilauan gemerlap tersebut. Keheningan lantas datang menyusul, memandu masyarakat dilanda kecemasan. Tidak lama setelah itu, langit menunjukkan keretakan. Orang-orang fokus memandanginya. Perlahan retak itu semakin melebar, lalu disusul oleh kemunculan sesuatu darinya....
Sebuah laser yang terdapat seseorang di ujungnya. Wajah-wajah mereka yang menyaksikan itu tercengang. Mereka tahu siapa dia. Laser itu terus memanjang hingga menghancurkan gunung—melubanginya bak sebuah setengah cincin. Identitas dari penembak laser itu kemudian muncul dari arah yang sama.
Monster.
Hanya ungkapan itulah yang bisa ditangkap mereka yang melihatnya.
......................
Beberapa dari mereka yang menyaksikan laser tersebut adalah orang-orang penting kerajaan Aurora, salah satunya adalah Scarlet. Kala itu ia sedang mengawasi situasi dari balkon ruang singgasana setelah menidurkan Azure di dimensi buatannya dan Alicia. Dari posisinya berdiri, ia mampu melihat secara jelas bagaimana orang yang berada di ujung laser—tidak lain adalah cucunya sendiri, Zeeta—terkena telak hingga tak mampu melakukan apapun. Dirinya yang menembus gunung bersama dengan serangan yang mendarat di paruh depan tubuhnya itu, membuat Scarlet semakin tidak percaya, kaget, juga khawatir.
“SIAL!” seru Scarlet yang memukul pagar balkon. “Apa kami hanya bisa diam dan menunggu?!”
Alicia yang menyadarinya, menghampiri ibunya, kemudian menggenggam tangannya. “Kita punya kewajiban di sini, Ibu!
“Satu-satunya yang bisa mengatasi dia, hanyalah Zeeta! Kita harus percaya padanya!”
“Cih...." Scarlet memaljngkan pandangan. “Aku tahu itu! Tapi... Zeeta... tidakkah kaulihat bagaimana kondisi dia?!”
“Memangnya aku tidak merasakan apa yang Ibu rasakan?" Alicia balas membentak. “Aku akan mengulang apa yang Ibu ucapkan sebelumnya. Aku adalah Ratu. Apapun alasannya, aku tak boleh jatuh disaat genting seperti ini!”
Tatapan serius yang mencoba menahan tangisnya, segera membuat Scarlet paham. Lantas, ia melemaskan emosinya.
“Ada banyak hal lain yang harus kita fokuskan di sini. Jika kita membiarkan Aurora terbuka disaat seperti ini, usaha Zeeta akan sia-sia.
“Aku akan mencoba bicara dengan Azure, sepertinya Hazell sudah kembali. Lakukanlah apa yang harus Ibu lakukan. Mari percaya pada apa yang kita bisa lakukan!”
Sosok Alicia yang ketika berputar mengibaskan jubah, membuatnya teringat akan dirinya di seusia Alicia. Scarlet pun menyeringai. “Kau sudah berani memerintah Ibumu sendiri, ya, Alicia!”
Alicia terus berjalan sambil menjawab, “Tentu saja, Ibu. Jika tidak, aku tak bisa membanggakanmu.”
[Sementara itu, Rumah Sakit Guinerva....]
Saksi lain yang melihat bagaimana nasib Zeeta selain orang penting Aurora adalah Crescent Void.
“A-apa itu tadi Zeeta yang kulihat?!” tanya Gerda.
“A-aku juga melihatnya!” seru Novalius.
“Dia terkena telak... apa Putri baik-baik saja…?” tanya Colette.
__ADS_1
“Yang kita bicarakan adalah Zeeta, rivalku. Tentu saja dia baik. Tapi yang jadi masalah ... monster apa itu tadi? Apa dia benar-benar musuh yang dilawan kak Azure—leluhur dari Zeeta, Lucy?
“Tangan, wajah, apapun yang ada di tubuhnya, sangat berbeda dari sebelumnya!”
......................
[Di suatu sabana, setelah melayang jauh sampai menembus gunung....]
“Jadi inikah ... akibat dari luka yang kuterima....” Zeeta berjalan sempoyongan sambil memegangi tangan kirinya. “Guhk!” ia bahkan membatukkan darah.
Lalu, tidak lama kemudian....
“ZEETA, APA YANG KAULAKUKAN?!”
Ia mendengar suara Ozy bertelepati.
“Kenapa kau melakukan ini? Kenapa dia bisa menjadi lebih kuat lima kali lipat dari sebelumnya?!
“Kalau kau kalah, apa yang akan terjadi, kau pasti tahu, ‘kan?!”
Zeeta menyeringai. “Tenang saja, Ozy....
“Aurora ... pasti memiliki caranya sendiri untuk bertindak. Meskipun mereka ... tidak mampu melakukan apapun terhadap Mary ... mereka setidaknya bisa melindungi negeri mereka sendiri.
“....” Ozy sampai kehabisan kata-kata untuk membalas Zeeta. “Dengan keadaan seperti itu?
“....
“Dengan bahu kiri yang rusak parah seperti itu ... kau masih percaya kaubisa melakukannya?”
Darah mengucur dimana-mana—yang bersumber dari bahu kiri yang tidak berbentuk sebagaimana mestinya. Robek—mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Menyerupai luka seperti cakaran, tetapi cakaran itu melubangi hingga menembus tulangnya. Walau tampak seperti laser, serangan yang diterimanya telak itu bukanlah laser—melainkan cakaran beruntun hingga menciptakan ilusi optik.
“Untuk saat ini ... pengobatan ala Elf bisa memberiku waktu.” Zeeta mengumpulkan dedaunan dari sekitarnya kemudian menutup luka di bahunya.
“Lakukanlah dengan sihirmu sendiri! Kau yang sekarang, bisa menggunakan mana alam, bukan?!”
Terus menerus dicecar pertanyaan, tidak disenangi Zeeta. “TUTUPLAH MULUTMU AGAR AKU BISA BERKONSENTRASI, OZY!”
Ozy kaget mendengar ia dibentak.
“Sedikit-sedikit bertanya, sedikit-sedikit mencurigaiku ... aku tidak keberatan menjawab, tapi sekarang aku harus mengalahkan Mary!
“Raksasa seperti dirimu mungkin tidak mengerti, tetapi ini adalah masalah hati!
__ADS_1
"Aku, sebagai keturunannya—yang telah diperjuangkannya hingga ia mempersembahkan jiwa dan raga—tidak mungkin sanggup melihatnya dalam kondisi tertipu oleh Peri-Peri brengsek itu!
“Mary adalah manusia yang kuhormati sebagai leluhurku, dia juga melakukan hal banyak untukku, bahkan setelah dua ratus tahun hidup!
“Mary tidak akan kubiarkan mati dalam tanganku—jika ia masih dalam belenggu Peri!
“Aku sudah membulatkan tekadku sejak awal kita berlatih, Ozy! Ini bukan berarti aku menipumu, tetapi jika tidak begini—kau tidak akan menunjukkanku Rune yang bisa membuatnya seperti ini—Jera, Raidho, Wunjo, dan Laguz!”
“HAH?!
“Kau menggunakan Bind Rune?! Kau belum siap, bodoh!
“Jangan bercanda, Zeeta! Lepaskan Rune-Rune itu sekarang juga atau kau—“
“Sudah kubilang, tidak akan kulakukan jika mustahil kulakukan!
“Aku pergi dulu. Mary sudah datang.”
Zeeta bersiap dengan tongkat Catastrophe Seal di tangan kanannya, sambil berkuda-kuda.
......................
[Grandtopia....]
“Zeeta....” Reina melihat apa yang terjadi pada Zeeta melalui pohon Chronos. Ia kemudian menunjukkan titik air mata, yang disadari oleh Hugo, Lloyd, dan Elf-Elf lainnya. Ia kemudian menghapusnya. “Aku sekarang mengerti apa yang diucapkan Tetua. Baik itu tentang waskita dan hal-hal lainnya. Jadi, kumohon, semuanya... mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan!
“Saat ini Zeeta terluka parah, tetapi dia terpaksa mengabaikan luka itu untuk fokus melawan Marianna, dan mengalihkannya dengan metode pengobatan luka milik kita. Melalui perantaraku, tolong bantulah aku untuk menyalurkan sihir penyembuhan padanya!”
Lloyd dan Elf lain tidak butuh keraguan untuk mengangguk.
“Luka itu cukup parah. Sihir penyembuh saja mungkin tidak akan cukup, tetapi tiada salahnya untuk mencoba!”
Hugo tersenyum. “Jangan tinggalkan aku. Aku juga ikut!”
Lalu, beberapa saat kemudian...
“AKU. JUGA. IKUT!”
Ozy datang dengan wajah emosi yang tidak pernah ditunjukkannya.
“O-Ozy?!” semua Elf terkejut.
“Murid bodohku amat sangat nekat! Tidak bisa kubiarkan Raksasa sepertiku diam saja dan melihat! Reina, aku juga akan membantu!”
__ADS_1
“U-uhm! Baiklah!”