Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kunjungan


__ADS_3

Zeeta telah keluar dari istana setelah berbasa-basi sedikit dengan penghuni di sana, seperti para pelayan dan penjaga. Mereka menyampaikan padanya bahwa mereka sangat menghormati dan mengaguminya, hingga mereka rela melakukan apapun demi bisa membalas perbuatan heroik-nya, termasuk aksinya bertahun-tahun yang lalu.


Ketika ia keluar dari istana yang berada di tengah-tengah danau, ia melihat kediaman ber-emblem matahari—yaitu Levant, melayang di pulaunya sendiri, yang dikelilingi oleh pulau-pulau lain dengan konsep sama—yang mengindikasikan kediaman bangsawan penguasa wilayah di bawahnya; yaitu Cloxzar, Dormant, Emeria, dan Ophenlis. Kelima bangsawan itu berkediaman di atas sebuah pulau bermedan penghalang yang dapat mengurangi sengatan matahari yang tentunya bisa semakin menajam, dilengkapi dua elevator yang masing-masing bisa digunakan dengan atau tanpa sihir. Dengan begini, rakyat bisa selalu berinteraksi dengan mereka meski terpaut jarak. Rakyat juga memiliki wilayah lebih banyak untuk tempat tinggal.


"Uwah, siapa sangka melihat kerajaanku sendiri seperti sangat asing.... Padahal dilihat dari luar, pulau-pulau itu tidak kelihatan...," gumam Zeeta. Ia tidak habis pikir dan tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. "Ah, mungkin medan penghalang yang menyembunyikan pulau-pulau ini dari luar kerajaan, direncanakan oleh guru Ashley....


"Yah, siapapun orangnya, aku harus menyapa kakek dan nenekku dulu. Aku juga ingin tahu kabar dua sepupuku yang imut dan manja itu... mwehehehe~" Zeeta langsung memakai sihir teleportasinya untuk ke kediaman Levant, namun ia mendapati dirinya justru terjatuh.


"E-eehhh?!" Zeeta teriak panik. Ia tak menyangka medan penghalang yang dikiranya hanya sebagai mantel dari matahari juga memiliki kekuatan yang menghalangi sihir teleportasi. Meski ia terkejut, ia masih bisa mendarat dengan tenang dan selamat, walaupun ia menarik perhatian dua penjaga elevator yang berjaga di satu pos yang sama.


"Siapa di sana?!" pekik salah satu dari penjaga. Mereka berlari menghampiri Zeeta yang terselimuti sedikit debu.


"A-ah, maafkan aku. Aku tidak tahu ada medan penghalang yang mampu meniadakan teleportasi...."


Salah seorang penjaga menyadari pemilik suara itu. "He-hei, orang itu...," kata penjaga B sambil berkeringat.


Begitu debu yang menyelimutinya lenyap, kedua penjaga segera terkejut dan berlutut padanya. "Ma-maafkan kelancangan kami, Yang Mulia!"


Zeeta menepuk pakaiannya. "Uhmm, tidak apa, kok. Aku juga minta maaf karena lancang, hehehe...." Zeeta melihat sekelilingnya, dan segera kagum. Lantai berbatu alam yang memanjang sampai wilayah pemukiman rakyat, tumbuhan boxwood sebagai pagar hidup, dan beberapa tanaman hias.


"A-apa yang Anda katakan, Yang Mulia? Anda sama se—" ucapan penjaga A yang merasa tak berhak menerima maaf dari Zeeta diputus sang Putri itu sendiri.


"Apa Kek Karim dan Nek Agatha ada di rumah?" tanya Zeeta.


Penjaga A menjawab Zeeta. "Y-ya.... Tapi, mohon maaf Yang Mulia, ada peraturan dari Grand Duchess yang mengharuskan Anda menyebutkan keperluan An—"


"Haaah~ apa perlu bagimu sebuah alasan untukku mengunjungi kakek dan nenekku?"


"Si-siap, Yang Mulia! Ka-kalau begitu silakan pegang alat sihir ini dulu!" kedua penjaga mengarahkan Zeeta ke elevator berwarna merah.


"Hmm? Ada apa dengan bola ini?"


"Ya! Ini bagian dari sistem sihir yang dikembangkan bangsawan utama! Medan penghalang di atas itu tak bisa selamanya aktif bila tidak ada pasokan sihir. Keputusan ini sudah disetujui semua bangsawan yang ada di kerajaan, setiap bangsawan yang ingin bertemu bangsawan utama yang bersangkutan, mereka harus memegang alat sihir ini dulu untuk menyumbangkan beberapa mana-nya."


Salah satu penjaga menunjuk alat sihir berbentuk bola di atas pedestal.


"Tapi... apa mungkin medan penghalang ini bisa bertahan lama?" tanya Zeeta, "kalau hanya dari bangsawan yang ingin bertemu Levant, kalian sendiri tahu seberapa kecil interaksi antara keduanya."


"Ya, karena itulah ada dua hal lain, Yang Mulia," balas penjaga B, "satu; rakyat bisa secara sukarela menyumbangkan mana mereka, dua; Ratu Alicia...." Si penjaga berbisik.


"Eh?! Yang benar saja! Aku bahkan tak merasakan apapun!"


"Uhm!" kedua penjaga itu terlihat bersemangat. "Kami juga tidak paham bagaimana Ratu bisa melakukannya, tapi Beliau tak bisa dielakkan lagi, sangatlah hebat!"


"Ahahahaha...." Zeeta menggaruk pipinya. "Baiklah, aku hanya harus memegang ini, 'kan?" begitu Zeeta memegangnya....


'BLAARRR!'


Alat sihir itu meledak dan menyelimuti ketiganya dengan noda hitam.


"Uhuk! Uhuk uhuk....


"He-hei ... apa yang baru saja terjadi? A-apa aku merusaknya?" Zeeta memandangi alat sihir yang pecah berkeping-keping itu.


Kedua penjaga itu mengedipkan mata, menggesturkan mereka tidak pernah mengalami ini sebelumnya.


"Apa yang terjadi di sini?!" pekik suara lelaki segera membuat kedua penjaga gelagapan dan langsung berhormat.

__ADS_1


"Si-siap, Tuan Karim! Ini—" begitu salah satu penjaga ingin melapor, Karim keluar dari elevator dan mendapati tiga orang bernoda hitam di seluruh tubuh bersama kepingan-kepingan alat sihir.


"Apa yang sebenarnya...." Karim hendak meledakkan emosinya, tetapi ia melihat seorang diantara mereka melambaikan tangan.


"Hai Kakek! Apa kauingat aku?" tanya Zeeta, yang menunjukkan giginya.


"Hm?! Suara ini?!" rasa emosi yang hendak meledak itu seketika berubah jadi girang yang langsung meletup. "Cucu kesayanganku, Zeeta?!"


Zeeta membersihkan noda hitam dari ketiganya. Kedua penjaga terkejut dengan kekinclongan dadakan, sementara Karim kaget dengan warna rambut, penampilan, dan keberadaan cucunya saat ini. Girangnya melesu, tetapi ia tetap tersenyum. "Selamat datang, Zeeta. Kakek merindu—"


"Duhh, semua orang selalu saja berpikir yang sama kapanpun mereka melihat rambut ini! Tenang saja, aku ini berbeda dengan Penguasa Kelam itu!"


Karim melebarkan senyumannya, lalu segera terbahak-bahak. "Bwahahahaha! Tentu saja, tentu saja! Apa yang kupikirkan? Dasar, usiaku yang semakin landai ini merepotkan sekali!


"Ayo, kauingin mengunjungi Kakek dan nenekmu, 'kan?" Karim menyodorkan tangan kirinya.


"Tapi, alat sihirnya...."


"Gilles, Ebenezer! Kuserahkan pada kalian!"


Kedua penjaga itu tersenyum percaya diri. "Serahkan saja pada kami, Tuan!"


Karim masuk ke elevator yang membawanya turun untuk suatu tujuan yang diurungkannya, diikuti oleh Zeeta. Ketika keduanya didapati telah naik ke atas, kedua penjaga itu saling menatap. "Lalu? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Gilles dengan senyum penuh harapan.


Ebenezer segera memukul wajah-yang-entah-kenapa mengesalkannya. "Mana aku tahu!"


"Haaahh~" Gilles menghela napas seolah tak terjadi apa-apa. "Lagi pula, kalau Ratu punya itu, kenapa Beliau harus menyetujui cara merepotkan ini hanya untuk akses ke atas, ya?"


"Aku tak percaya meski baru kupukul wajah itu, kautak menggubrisnya...."


Gilles tersenyum lagi, menunjukkan gigi "kelinci"-nya. "Fufufu.... Hebat, 'kan? Begini begini aku pernah jadi lima belas besar ujian perekrutan Crescent Void, lho!"


"Mwehehe, patutlah kau terkejut karena—"


"Sudahlah, ayo. Kau tidak mau diomeli Tuan Karim, 'kan? Suasana hatinya sedang bagus, kautahu sendiri."


"Ah.... Kau benar. Uhm. Ayo kita coba pergi ke bengkel penempa. Siapa tahu, mereka tahu apa yang harus kita lakukan."


......................


"Zeeta ... apa kauyakin?" tanya Karim di elevator.


Zeeta tersenyum. "Aku mewarisi darah Levant, Kek. Apa aku harus meyakinkanmu lebih dari itu?"


Karim menepuk kepala Zeeta. "Hahaha.... Kau benar-benar sudah dewasa. Kakek jadi tidak yakin bisa memberimu lebih banyak pelajaran hidup!"


"Kalau begitu ... aku punya satu permintaan."


"Hmm? Apa itu?"


"Aku bertarung, menjadi kuat, dan bertekad keras demi kerajaan. Tapi, ada kalanya aku akan lemah. Disaat itu, bukan sebagai bangsawan, aku ingin kalian, keluargaku ada untukku.


"Kadang-kadang, aku merasa takut dengan kekuatanku sendiri."


Karim melihat mata Zeeta yang menahan air mata itu. Ia segera berlutut dan memeluk cucunya. "Tentu saja." Ia mengelus punggungnya.


.

__ADS_1


.


.


.


Ketika mereka sampai, Zeeta mendengar suara dari dua orang yang dia kenali.


"Bukan beginiii! Kak Zeeta bisa melakukannya lebih baik!"


"Apa kau serius, Ella? Aku sudah berlatih satu minggu dan ini yang kuterima? Sihir yang bisa membekukan lawan, lalu membuatnya pecah berkeping-keping.... Apa rahasianya...?"


"Jangan berkecil hati, Ed! Aku juga bahkan tidak mampu menirunya! Andai saja ada Kak Zeeta, kita bisa—"


"Haiiii, apa kalian mencariku?" Suara Zeeta membekukan dua sepupu kembarnya. "Hmm? Apa? Apa kalian melihat hantu?"


"Kak Zeetaaaaaa!" sambil berlinang air mata keduanya melompat pada Zeeta.


"Hahahaha! Dasar, apa boleh buat...." Zeeta bertekuk lutut lalu memeluk mereka sambil mengelus kepala.


"Kami rindu padamu, Kak!" seru Ella.


"A-aku, sih, tidak begitu—"


"Hah? Kenapa kamu berbohong, Ed? Padahal tadi—"


"Tidak! Aku tidak merindukannya!"


"Duh, dasar... kau memamng adik yang tidak dewasa!"


"Hah?! Siapa yang memutuskan kau kakak? AKU-lah Kakakmu!"


"Haaaahh? Kamu juga, selalu bersikap seolah-olah kakak, tapi kamu tidak pernah lebih dewasa dari aku! Bahkan kamu masih tak bisa memakai baju sendiri! Jangan sombong!"


"Apa kaubilang?!"


Zeeta mencubit pipi keduanya. "Heeeiii~? Apa kalian benar-benar ingin bertengkar di hadapanku? Kalau iya, apa lebih baik aku pergi dan—"


"JANGAN!" keduanya memeluk erat Zeeta.


Zeeta merona dan tersenyum. "Dasar.... Kalian adalah keluarga kerajaan sepertiku, lho! Jangan bertengkar, jadilah saudara yang saling menyayangi!" Zeeta menggandeng keduanya. "Oh, aku bawakan sesuatu untuk kalian dari negeri jauh tempatku berlatih!"


"Eh?! Yang benar?!" mata Si Kembar berbinar-binar.


"Uhm! Tapi, kalian harus melewati sebuah ujian dulu!"


"Eeeeehhhh?" mata berbinar itu langsung lenyap.


"Hmm?! Apa-apaan reaksi itu?! Setidaknya bersemangatlah! Kalian keluarga kerajaan!"


"Hehe...." Ella tertawa.


"Hahahaa!" Edward melanjutkan bahaknya.


"Hahahaha!" tawanya menular pada Zeeta.


Karim yang melihat interaksi antara tiga cucunya itu membuat hatinya hangat. Ia pun membatin, "Betapa kuatnya dirimu saat ini, Zeeta.... Dirimu yang terlihat memaksakan segala sesuatunya saat itu... seolah-olah bagaikan mimpi untukku.

__ADS_1


"Kuharap.... Kakek tua yang mulai rapuh ini bisa menemani kalian sampai kalian benar-benar sudah dewasa...."


__ADS_2