Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dunia yang Diramalkan


__ADS_3

Keputusan Zeeta sudah bulat, begitu juga dengan tekadnya. Apa yang selama ini menjadi ketakutannya dan terus ia hindari untuk tidak terjadi, ia memutuskan untuk melihatnya. Hal ini tidak akan mungkin bisa dicapai bila Luna sang Roh Yggdrasil tidak menjadi sekutunya. Suatu sihir membutuhkan imajinasi serta mana yang cukup untuk mewujudkannya, jadi untuk membuat Zeeta mampu melihat masa dimana ia diramalkan menjadi “Penguasa Kekelaman”, bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk Luna.


Tatkala seluruh penduduk kerajaan sedang berkabung dengan tewasnya Willmurd Louis de Dormant, Zeeta melompati waktu. Dengan Luna membuka portal yang jika dilihat dengan mata telanjang berisi ratusan bintang jatuh yang menarik apapun ke dalam lubang portal tersebut.


“Ingat, Zee, kita hanya akan melihat dan kau harus siap tentang apapun yang kaulihat di masa itu. Entah kau merasa marah, ataupun sedih, kau tidak bisa mengubah apapun,” kata Luna, mencengkeram bahu Zeeta. “Mungkin kau di masa itu sangat jauh dari yang kaubayangkan dan lebih kejam juga. Mengerti?”


Zeeta menelan liurnya. “Aku siap!”


Luna mengangguk kemudian menggandeng Zeeta. “Jangan pernah lepaskan. Sekali terlepas, kau akan menjadi penduduk di sana.”


Zeeta lekas menggenggamnya dengan sangat erat.


“Ayo!” Luna memimpin langkahnya lalu memasuki portal itu.


......................


Zeeta dan Luna menapaki kaki di tanah antah berantah bagi mereka. Segalanya terlihat mati, sangat berbeda jauh dengan masa asal mereka.


Dedaunan berwarna hitam kebiruan, tanah berwarna pucat, awan berwarna hitam yang disertai angin dingin, dan minimnya aktivitas manusia atau bahkan hewan sekalipun. Keanehan ini tentu saja membawa mereka ke pertanyaan; apa yang terjadi dan dimana tempat ini?


Luna lantas memberi saran pada Zeeta dengan berkata, “Sebaiknya kita rasakan dengan mana. Kaubisa menggunakan mana alam, seharusnya kaubisa terhubung dengan alam.”


Zeeta mengingat ia pernah merasakan sesuatu terjadi ketika si Phantasmal, Hell Hydra, mematikan alam kemana pun ia berjalan. Ia kemudian mengangguk. “Kau benar. Akan kucoba.” Selanjutnya, ia memejamkan mata untuk memfokuskan diri.


Ketika itulah, Zeeta melihat berbagai macam kejadian yang terjadi hingga membuat alam menjadi mati seperti ini. Teriakan demi teriakan, tangis demi tangis, cucuran darah dari banyaknya orang tak mampu dibendung oleh penglihatannya.


“Penguasa Kekelaman itu harus mati!”


“Kenapa Penguasa Kekelaman itu bisa sekejam ini…?”


“Dendam keluargaku, akan kubalaskan saat ini—ghaakkkh!”


“To-tolong… ja-jangan bunuh a—“


“Ayah ... ibu, kumohon ... jangan tinggalkan aku!!”


“Sialan kau, Penguasa Kekelamaaan!!”


Zeeta lantas membuka matanya dengan cepat. Ia juga terengah. Wajahnya terlihat ketakutan. “Apa yang ... terjadi...?”


Luna merasakan Zeeta berkeringat dingin. Kemudian, ia menarik Zeeta. “Kita harus cari tempat yang lebih hangat. Meski kita bukan penduduk di sini, dan keberadaan kita juga hanyalah sebagai hantu waktu, kita masih bisa merasakan banyak hal.”


Disaat mereka berjalan, Zeeta bertanya, “Hei, Luna.... Sebenarnya ... apa aku benar-benar pantas dipilih olehmu…?”


Luna mengeratkan genggaman tangannya. “Tentu saja. Kita ke sini bukan untuk memperburuk keadaan. Jangan pernah lupakan itu.”

__ADS_1


......................


Luna dan Zeeta terpaku ketika melihat sesuatu sampai membuat mereka kehabisan kata-kata. Itu adalah pohon berukuran raksasa dengan tinggi ratusan meter. Tingginya awan di langit bahkan bukan puncak tertingginya. Pohon itu berbatang-batang yang juga cukup berukuran raksasa. Ya. Pohon itu adalah pohon kehidupan dunia—Yggdrasil—yang menjadi salah satu tujuan utama Zeeta. Tetapi, meski itu adalah phon kehidupan dunia, pohon tersebut sama sekali tidak terlihat hidup. Ya, itu berukuran raksasa dan kokoh, tetapi, Luna bisa merasakannya. “Ini … bukanlah Yggdrasil—bukanlah wujud kami yang utuh. Sesuatu telah terjadi dengan Yggdrasil ini!” serunya.


“Apa maksudmu…?” tanya Zeeta.


“Yggdrasil adalah pohon kehidupan dunia. Yggdrasil menghidupi semua makhluk di dunia, tapi ini seakan-akan itu membawa kematian ke seluruh dunia….”


“Eh…?” Zeeta melihat betapa tingginya Yggdrasil di hadapannya itu. Dijarak ia berdiri saat ini pun pohon itu terlihat besar, apalagi jika dilihat dari dekat. Ketika melihat itu, Zeeta terbesit sebuah pertanyaan. “Apa ini juga … gara-gara aku…?”


“Aku tidak tahu, tapi Nak, masa ini tidaklah sama dengan masa kita. Anggap saja ini dimensi lain dari dirimu. Banyak hal terjadi padamu, bukan? Itu juga pasti terjadi pada Zeeta di masa ini. Zeeta dari masa ini tidak harus kau sama-ratakan dengan dirimu sendiri.


“Kau memiliki teman, keluarga, dan hal berharga lain yang ingin kaulindungi.


“Apa kau akan membiarkan dirimu sendiri jatuh seperti ini? Membuat dunia seperti ini?


“Ingatlah, kau sudah berkeputusan untuk membuktikan rasa percaya orang lain padamu.”


Zeeta mengalihkan pandangan ke bawah. “Uhm ... aku mengerti….”


Luna melihat dengan saksama Yggdrasil, dari batang ke batang, hingga ia menemukan sesuatu yang tak wajar. “Lihatlah,” katanya, “apa kau mengenali bangunan itu?” ia menunjuk ke salah satu batang Yggdrasil.


Zeeta lantas terbelalak setelah melihatnya. “Itu … istana Aurora…?!”


“U-uhm!”


Luna segera menuntun Zeeta menuju istana itu.


......................


Ketika mereka semakin dekat dan terus mendekati istana Aurora yang “hinggap” di batang Yggdrasil, membuat mereka melihat dengan jelas betapa megah nan dingin dan kental rasa ngeri bangunan itu. Istananya sendiri berwarna kelabu. Bagaimana bangunan itu tidak jatuh adalah itu terikat dengan akar yang menarik erat ke batangnya. Beberapa bagian istana terlapisi permata-permata raksasa yang berperan sebagai sensor. Mereka berhasil melewati sensor itu karena bersosok sebagai “hantu”.


Mereka terus menyisiri istana hingga sampai ke satu tempat, yaitu kursi takhta yang diduduki satu-satunya orang di istana itu. Ia adalah gadis berusia tujuh belas sampai dua puluhan, dengan rambut violet-putih panjang sepunggung. Ia memakai gaun panjang berwarna hitam-ungu, bersarung tangan kain hitam, dengan mata biru langit.


Gadis itu duduk di tahtanya sambil menulis sesuatu dengan jemarinya pada sebuah buku. “Perang ini sudah menuju panggung akhirnya. Entah aku mati atau hidup, dunia ini sudah pasti akan berubah. Setidaknya, kalaupun aku mati, aku bisa terlepas dari beban ini….”


Tak lama kemudian, kaca di samping kursinya pecah setelah dimasuki beberapa orang. Dua gadis berambut pirang pendek serta lelaki berambut


merah tiba dengan ekspresi penuh tekad.


“Kalian datang juga ya, orang-orang ber-mana terakhir,” kata Gadis Di Kursi Takhta. Ia kemudian berdiri. “Apa yang kukatakan sejak saat itu terbukti, ‘kan? Segala sesuatu yang ber-mana di dunia ini akan lenyap. Begitu juga kita. Aku akan membunuh kalian dan kalian akan membunuhku. Semua sesuai


rencanaku.”


“Bahkan kau tidak ingin menyebut nama teman-temanmu…?” salah seorang gadis berambut pirang mengepalkan erat-erat tangannya. “Sudah berapa banyak orang yang tewas kau bunuh dengan kedua tanganmu itu?! Aku masih tidak mengerti kenapa kau jadi seperti orang gila begini!”

__ADS_1


Zeeta yang sedang berada bersama Luna terkejut bukan main. “I-itu aku...?” batinnya, “jadi ... kalau begitu mereka....”


“Untuk apa saat ini aku harus menyebut nama kalian? Pada akhirnya kita akan mati dan dunia baru akan segera lahir.”


“Kau ... kau bahkan tega membunuh kak Azure?”


Zeeta sang Penguasa Kelam mengepalkan tangannya. “Ya.”


“Apa kau—“


‘SLASH!’


Darah bercucuran di lantai, gadis itu tergeletak seketika.


“Se-sejak kapan?!” dua rekannya membawa gadis yang tertebas itu menjauh.


“Cukupkan omong kosongmu, Gerda. Membicarakan masa lalu takkan membawaku kembali bersama kalian.


“Ya, seperti yang kaukatakan, Gerda. Aku telah membunuh jutaan orang dengan sihirku ini. Mengubah dunia butuh pengorbanan yang besar. Kau mungkin tidak mengerti apa yang telah kulakukan, tetapi kau juga tidak mengerti apa yang hendak kulakukan.


“Aku harus menghapus semua kesalahan yang leluhurku pernah lakukan, aku terlahir untuk menyelamatkan kalian dari kepunahan berkali-kali dengan taruhan nyawaku sendiri, tetapi kalian bahkan takut pada kekuatanku ini! Kalian berharap padaku tetapi kalian tidak pernah berterima kasih padaku. Bagaimana bisa amarahku tidak mendidih?!


“Mimpiku untuk menjadi gadis biasa sudah beku sejak lama, apa kau tidak tahu itu?!


“Kalian semua, bahkan seluruh dunia menentangku disaat aku mencoba menghapus kutukan yang dibuat oleh leluhurku sendiri!


“Dunia ini sendiri sudah tidak memiliki harapan!


“Sesuatu yang disebut sihir ini telah merebut segalanya dariku!”


Zeeta kecil meremas dadanya. Ia merasakan sesuatu di hatinya tetapi ia tidak mengerti mengapa bisa begitu. Tetapi ia sendiri juga bisa paham penderitaan yang “dia” alami, membuatnya perlahan-lahan menjatuhkan air mata dan meremas dadanya.


Luna yang melihat kondisi Zeeta kecil memutuskan untuk kembali.


......................


Begitu mereka kembali ke kamar Zeeta, Luna segera memeluk Zeeta dan mengelus kepala sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Maafkan aku, aku tak bisa membawamu melihat masa itu lebih lama lagi.”


Zeeta membalas pelukan Luna dan menangis sederas-derasnya. Ketika ia sudah bisa tenang, ia menepuk pipinya. “Aku ... ingin menjadi lebih kuat! Aku tidak ingin masa itu terjadi di sini. Aku memiliki banyak orang yang membantuku melindungi kerajaan—bukan, melindungi dunia ini! Luna, apa aku sudah bisa latihan di Hutan Sihir Agung?”


Luna tersenyum. “Jangan buru-buru dasar bodoh!” ia memukul pelan kepala Zeeta. “Kerajaanmu masih dalam suasana berkabung. Bersabarlah sampai situasinya membaik.


“Uhm... Aku mengerti....”


“Dia mungkin tidak menyadarinya, tetapi mana dirinya di masa itu begitu jahat, kuat dan besar. Kami juga harus mencegah agar masa itu tidak terjadi di sini!”

__ADS_1


__ADS_2