Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keroco Kuat yang Buta Tujuan


__ADS_3

Sementara Zeeta dan Luna sedang di sebuah desa di dekat lautan dimana Kraken berada, di tempat yang berlawanan dengannya—desa Rhongomyniad—ada tiga orang yang sedang berkumpul. Mereka terdiri dari dua pria dan satu gadis.


"Anda yakin bisa menghancurkannya?" tanya seorang lelaki.


"Entahlah," jawab Si Gadis.


"Kalau begitu, kenapa kau menyarankan kami ke sini?" tanya pria yang lain.


Si Gadis menatap tajam yang baru saja bertanya itu. "Dengan tangan ini kuhancurkan dunia. Kau yang sudah berusaha keras untuk menggagalkannya, justru berpihak padaku.


"Biar kutebak. Kau sangat sangat ingin menjadi sepertiku, bukan? Memiliki tanggung jawab dan kewajiban mulia. Menanggung nyawa manusia dan makhluk-makhluk lain di Bumi ini yang tak dapat terhitung jumlahnya.


"Aku akan memberimu kesempatan. Jika kau masih meragukan aku benar-benar bisa mendatangkan Ragnarok dan memperparahnya hingga DIA kewalahan, aku memberimu kesempatan untuk memegang cincin ini dan lihatlah sendiri apa yang akan menantimu."


Ya. Kelompok kecil ini adalah mereka yang pernah berseteru dengan Aurora. Keenai, Zeeta Alter, dan L'arc Darnmite. Lantas, mengapa ketiganya berada di desa Rhongomyniad?


"Kaupikir kami akan diam saja?"


Tiba-tiba, seorang lelaki dan gadis berkostum idol datang dengan santai. Ketiganya mengernyit menyambut mereka.


"Tidak pernah kusangka sedikitpun, kendati apa yang sudah kausaksikan sendiri, tidak kunjung membuatmu gentar," kata lelaki itu, Klutzie. "Seperti biasanya, ya, Zeeta."


Zeeta Alter yang sebelumnya menunjukkan cincin pada L'arc, segera mengubahnya menjadi sabitnya. Ia tidak berkuda-kuda, melainkan menancapkannya begitu saja di tanah dan menuliskan bermacam Rune padanya. Rune-Rune itu adalah Fehu, Uruz, Thurisaz, Raidho, dan Hagalaz. Tentu saja, hal itu bagaikan petir yang mengejutkan kedua "tamu"-nya. Tidak hanya keduanya, namun juga dua lelaki yang ada di kedua sisinya.


"Mengulur waktu saja takkan cukup, L'arc, aku akan menganggap pertanyaan tadi angin belaka, dan kau Keenai, ini waktu pembalasanmu. Aku akan mencoba dengan Rune yang lain untuknya."


"Baik!" Keenai bersemangat.


L'arc tidak menjawab Zeeta Alter, namun ia diam di tempat. "Tidak perlu, Keenai. Belum saatnya."


"Hah?! Kauingin membangkang ucapan No—"


"Lihatlah." L'arc menunjuk ke depan, dimana mata keduanya diperlihatkan sesuatu yang baru dilihat pertama kali.


"Me-mereka...," gumam Keenai dengan mata yang terbelalak.


Klutzie dan Siren menggunakan mode yang sudah lama "terlupakan", Spirit Warble. Mode ini merupakan sebuah teknik yang memungkinkan seorang Benih Yggdrasil dan Wadah-nya bergabung, sehingga mampu mendapatkan kekuatan yang sangat besar. Teknik ini merupakan teknik eksklusif milik Klutzie.


Rambut hitam lurusnya melawan gravitasi dan tubuhnya dilapisi aura biru dari Siren. Tangannya menjadi berkuku-kuku tajam, mata merah gelapnya pun bersinar. Tiada dari ketiga orang di depannya yang pernah melihat mode ini, kecuali Zeeta Alter. Jika di dunianya, kejadian ketika Klutzie memakai Spirit Warble untuk pertama kalinya, sama seperti di sini.


"Tidak perlu ditakutkan wujud seperti itu," ujar Zeeta Alter, yang sedang melakukan sesuatu dengan sihirnya. Tangan kanannya menunduk, sementara tangan kirinya menengadah. Posisi kanan di atas dan kiri di bawah. Ada bola putih beralirkan tulisan-tulisan Rune pula.


Tidak menjawab komentar merendahkan itu, Klutzie segera menyerang Zeeta Alter. Ia menciptakan busur petir dengan sihirnya. Tangannya yang sudah berubah tak menerima dampak dari petirnya, kemudian pedang di pinggang ia cabut dari sarungnya dan ia jadikan sebagai anak panahnya. Mata kanannya bercahaya yang kemudian memunculkan tanda pembidik. Ia membidik bola sihir itu.


Pedang itu hanyalah pedang biasa, namun itu sudah ditempa ulang oleh Axel. Itu bukanlah senjata suci, namun mampu mengejarnya. Sehingga, yang terjadi adalah....


Klutzie mengalirkan mananya ke pedang hingga membuat bilahnya bersinar biru hingga akhirnya mengubahnya secara total menjadi sebuah guntur yang ganas. Itu menghancurkan sekelilingnya, namun Klutzie seakan tidak terpengaruh dengan kilatan darinya yang destruktif tersebut.


"Kaupikir sihir semacam itu mampu menembus Rune-ku?!" Zeeta Alter merasa direndahkan.


Klutzie tetap tidak meresponnya, hingga mendidihkan emosi Zeeta Alter. Ia segera mengangkat tangan kirinya dan "memerintahkan" sabitnya untuk segera bergerak menebas lawannya. Ketika sabit itu sudah dalam jarak serangnya, Klutzie tersenyum dan mengejutkan ketiga lawannya.


'KRANNKKK!'


Sabit yang diberi beberapa Rune tersebut ditangkis oleh suatu pelindung emas yang sebelumnya tidak tampak. Usai menangkisnya, pelindung tersebut kembali tembus pandang.

__ADS_1


"Keturunan Naga Perang Orsted dan Naga Penempa Schrutz ada di pihak kami, apa kau melupakannya?"


"Tsk." Zeeta Alter sama sekali tidak senang. Ia menarik kembali sabitnya dan menggenggamnya. "Beri aku waktu."


Klutzie jadi marah mendengarnya. "Sudah kukatakan, aku takkan membiarkanmu!"


'DRRASSHH!'


Klutzie menembakkan "panah"-nya lagi. Tanah tidak seberapa mengalami kerusakan sebab kecepatan "panah"-nya tersebut. Tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, baik Keenai dan L'arc, masuk dalam jarak serang Klutzie.


'JDDUARRR!'


Bak guntur yang datang dari dua arah—atas dan bawah—, ketiganya tersambar. Tatkala "panah"-nya mengenai targetnya, langit juga menurunkan gunturnya, maka terjadilah dua serangan dalam satu waktu. Gunturnya mampu menjalar dan ikut menjadikan tebing tinggi yang kelak menjadi tujuan akhir Zeeta. Anehnya tebing tersebut tidak bergeming sama sekali.


"Sudah cukupkah?" tanya Klutzie tanpa mengubah posisi badan.


"Ya." Seseorang muncul dari bawah tanah. Ia berambut perak, berkulit pucat, bermata merah, dan bergigi tajam. Dia adalah Belle. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung bersihir untuk mengambil darah-darah milik ketiganya yang bercucuran di tanah dan membekukannya.


Asap yang menutupi pandangan akhirnya lenyap, menunjukkan seperti apa nasib ketiganya. Mereka menggertak gigi sambil tergeletak di tanah. Tak ada satupun dari mereka yang bisa menggerakkan badan. Belle lalu berjalan menghampiri ketiganya dengan gontai.


"Zeeta...," ucap Belle, "Zeeta ... Zeeta, Zeeta...." Ia menggeleng-geleng sambil tersenyum kecut. "Seterpojok itukah dirimu hingga melakukan hal nekat ini?


"Ragnarok sebentar lagi tiba dan kau hendak mencuri Rhongomyniad? Tahukah dirimu apa syarat utama agar bisa memegangnya?


"Hmmm... mungkin kalau kau ke sini berarti kau mengetahuinya, tapi ayolah. Kau sangat meremehkan kami, ya?"


Belle berjongkok di hadapan Zeeta Alter. "Andai kau tidak mampu bersihir Rune, aku pun bisa membunuhmu.


"Sebagai belas kasihan karena pengambilan keputusan bodoh darimu, Zeeta, akan kuberitahu—"


"Dasar pengecut," tutur Belle kemudian, "setelah kalah oleh kami dan melihat Aria, kau menjadi ciut seperti ini dan menggantikan dirimu yang asli dengan Rune, kah?!"


.


.


.


.


"Fufufu~" suara Zeeta Alter terdengar menggema. "Kaupikir siapa aku ini? Tentu saja aku hanya membuang-buang waktu sebelum Ragnarok-nya tiba.


"Rune Ozy sudah mulai retak, siapapun tahu itu.


"Aku juga sadar lho, bahwa dirimu selalu mengawasiku, tidak, MENGAWASI RUNE-ku, kahahaha!


"Bagaimana Klutzie...? Apa kau senang setelah berhasil mendaratkan seranganmu kepadaku?"


"CIH, ZEETAAA!" jerit L'arc yang hanya mulutnya saja yang mampu bicara.


"Oh?" Belle salut dengan kemampuannya yang bisa terlepas dari sihirnya walau hanya sedikit.


"Jelaskan padaku! Apa kau sengaja ingin menjebakku di sini?!"


"Menjebakmu?" Alter terdengar heran. "Lagi pula sejak awal, kau hanyalah beban!"

__ADS_1


"Apa?!


"Apa kau sudah lupa kalau aku yang membawamu kabur dari tempat itu dan—"


"Itu tidak akan mengubah fakta jika kau hanyalah beban untukku, Bajingan."


L'arc semakin menggertak giginya.


"Namun, aku tetap akan menghargai usahamu ketika Ragnarok tiba. Aku tak mengharapkan apapun darimu sebab cepat atau lambat kau akan mati pula, entah di tangan mereka, atau di tangan Raksasa dan Naga."


Tak ada tanda-tanda lagi dari Zeeta Alter, sehingga Belle ganti bicara. "Kau mempermainkan kartumu dengan salah. Pertarungan ini belumlah terjadi dan siapapun sudah bisa membaca kekalahanmu." Ia lalu berdiri, membalik badan. "Kaubisa kembali pulang," sambungnya pada Klutzie. Keduanya lalu hilang bersamaan, kembali ke rumahnya masing-masing.


"Jika itu yang kauinginkan...!" L'arc mengepalkam tangannya erat. "Akan kubuktikan siapa diriku ini! Kalian benar-benar sudah meremehkanku!"


......................


Beberapa waktu sebelum Zeeta Alter dan dua rekannya "menyerang" desa Rhongomyniad, terjadi sesuatu yang tidak terekspos oleh dunia di Tanah Kematian.


"Gadis sialan itu!" Belle sangat tidak senang akan sesuatu. "Tidak hanya dia mengacaukan kehidupanku, tetapi dia juga berani mengacak-acak Tanah Kematian!


"Kaupikir kaubisa lolos setelah semua ini?!"


"Fufufu...."


"HAH? Siapa yang berani-beraninya menertawaiku?!"


"Astaga, bukankah kau selalu memerhatikan apa yang terjadi di daratan? Apa kau tidak mengenaliku?"


Begitu Belle menemukan darimana suaranya berasal, ia terkejut. "Ka-kau?! Bagaimana bisa?!"


'Prok prok'


Sosok itu menepuk tangan dua kali. "Kau tidak punya cukup waktu jadi bantulah aku, oke?"


"Apa maksudmu?"


"Sihir Rune-ku menunjukkan sesuatu yang saaangat sangat buruk. Rhongomyniad dihancurkan."


Belle lantas menggertak gigi sembari mengerutkan alis. "Pasti gadis itu, bukan?! Katakan saja apa yang harus kulakukan!


"Ayah, kuserahkan beres-beresnya padamu!"


Edouard yang ada di dekatnya menjawab, "Aku juga tidak paham mengapa ini bisa terjadi, tapi baiklah!"


"Sambungkan aku dengan Myra," pinta sosok itu.


Tanpa meragukan apapun, Belle segera menjawab, "Baiklah."


[Kemudian, setelah tersambung....]


"Hai, bagaimana percintaanmu di sana, Wahai Naga Gendut?"


Mendengarnya, Myra langsung sewot, "Suara dan ejekan ini?! Bukankah kau sudah mati....


"JEANNE?!"

__ADS_1


__ADS_2