Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Arti dari Hidup, Sebuah Awal dari Aurora


__ADS_3

Pakaian di zaman ribuan tahun lalu ini dirajut oleh para wanita secara manual dengan bahan-bahan yang dikumpulkan dari alam. Mereka juga menguliti hewan supaya bisa menghangatkan diri dan melawan cuaca yang tidak pernah ramah bagi mereka. Jika cuaca terik, terkadang bisa saja dalam sekejap menjadi dingin. Tidak sedikit, dan sering terjadi, hanya karena peristiwa ini, Manusia mati begitu saja.


Makhluk sihir dan ras heran mengetahui kelemahan ini. Mereka tertawa diatas keputusasaan Manusia di dunia yang sudah dianggapnya bagaikan neraka. Bagi Manusia yang mampu bertahan hidup di dunia yang demikian, sudah cukup layak untuk disebut sebagai super human. Namun, seperti apapun super human itu, mereka tetap tak berdaya di hadapan Naga dan Raksasa. Karena bagaimana pun, dua makhluk itu adalah makhluk terkuat yang telah melindungi Yggdrasil beribu-ribu tahun lamanya, terlepas seperti apa perilaku mereka terhadap Manusia.


Tetapi mereka yang kuat, tidak akan tahu bahwa saat yang lemah tertindas secara terus-menerus, ada kalanya dimana dia akan mengacungkan taringnya yang bahkan jauh lebih tajam....


......................


Menganga dan melotot. Tangis yang ditahan dan cengkeraman tangan kuat. Inilah reaksi yang diberikan Zeeta dan Scarlet melihat pemandangan yang diperlihatkan Galkrie.


"Raksasa dan Naga... bisa sekeji ini...?" Zeeta bertanya-tanya. Ia kehabisan kata-kata.


"Ini ulah si Peri bajingan itu! Dia menghasut mereka!" timpal Scarlet.


"Meski begitu! Seharusnya mereka punya kesadaran, 'kan, yang dilakukannya adalah tindakan yang keji?!"


"Cih...." Scarlet menanggapinya dengan menguatkan cengkeramannya. "Ini gila sekali!"


......................


Pasir meresap darah yang tumpah layaknya air. Gala terpatung melotot dengan apa yang baru saja dilakukan makhluk-makhluk sihir itu pada putrinya. Tidak ada yang tersisa, yang setidaknya bisa ia kuburkan dari anak sematawayangnya itu. Matanya memerah, tangisnya tak berhenti maupun berkedip. Tawa puas dari makhluk di hadapannya membakar amarah yang selama ini tidak pernah Gala barakan.


Tidak lama kemudian, dari pasir tak jauh dari mereka, muncul lingkaran sihir hijau dan tumbuhan akar yang tidak seharusnya bisa muncul di tengah padang pasir. Dari sana, seorang wanita berambut hijau, berpakaian putih, serta bersinar hijau muncul. "Rekan-rekanku... apa yang sebenarnya telah kalian lakukan...?" tanya dia.


Para makhluk sihir melirik padanya. "Hm? Dryad? Untuk apa kaudatang sejauh ini?" tanya Garm.


"Aku melihat dengan jelas apa yang telah kalian lakukan! Feline, bagaimana bisa kautega melakukan semua ini?" tanya si Dryad.


"Apa yang kaukatakan? Aku hanya bicara jujur!" tegas Feline.


"Sialansialansialansialansialan.... Pasti 'kan kubunuhbunuhbunuhbunuhbunuhbunuh!"


Gala yang menyumpah dengan mata memerah itu membuat Garm tersenyum kecut. "Hah! Apa yang bisa kaulakukan dengan tubuh rapuh itu?! Kemarilah, biar kuberi kau hadiah untuk segera menyusul bocah tak tahu diri itu!"


"Naga Garm!" pekik Dryad. Garm kemudian melotot pada Dryad.


"Apa maumu?!'


"Hentikanlah kebodohan ini! Apa kau benar-benar berpikir Manusia akan melakukan apa yang telah Feline katakan?!


"Yggdrasil adalah Pohon Kehidupan yang menghidupi SEMUA makhluk di dunia ini! Bukankah salah jika dia meminta kalian untuk membunuh Manusia yang tidak bersalah ini?!


"Kau adalah ras Naga yang terhormat dengan kekuatan dan keadilan! Apakah yang kaulakukan ini bisa disebut sebagai keadilan, Garm!?"


"Cih... sebaiknya kusingkirkan Dryad pengganggu ini lebih dulu. Tak kusangka dia bisa melihat dari jarak sejauh ini!" batin Feline mengumpat.


"Aku takkan memaafkan kalian! Kalian adalah makhluk terkeji yang tidak pantas untuk hidup!" Gala mencengkeram pasir.


"Flare....


"Ars....


"Kelompokku....


"Kami semua hidup sambil berusaha menghormati dan tidak mengganggu kehidupan kalian, tapi beginikah kalian membalas kami?


"Yggdrasil... alam... jika kalian benar-benar menghidupi kami, maka kalian tahu mereka salah, bukan?


"Maka jika aku akan mati setelah ini, aku tidak keberatan! Tetapi, izinkan aku untuk membalas perbuatan keji ini! Mereka telah merenggut nyawa layaknya tak ada harganya!


"Buatlah Manusia agar bisa bersihir agar aku mampu membalas Makhluk sihir ini dan memberi mereka pelajaran!!"


'SWWOOOSSHH!'


Hempasan angin menerbangkan pasir, membuat para makhluk sihir yang mengitari Gala terkejut. "Apa yang terjadi?!" seru mereka. Setelah itu, mereka mendapati Gala diselimuti aura biru dan cahaya bulan yang terfokus padanya seorang layaknya lampu sorot.

__ADS_1


......................


"Keinginanmu kami kabulkan."


Gala tersadar bahwa dirinya berada di tengah-tengah "ruang" yang serba hitam, namun ia melihat Yggdrasil bercahaya biru. Ia berdiri di atas lantai air yang memantulkan bulan. Di hadapannya juga terdapat Seele, Spirit bulan berjumlah empat.


"Mulai sekarang dan seterusnya, kamu, Gala, adalah Manusia pertama yang bisa menggunakan sihir." Salah satu dari Seele mengucapkannya. Mereka berbicara bergiliran.


"Alam telah melihatnya. Apa yang diperjuangkan Manusia tidaklah tanpa arti. Kehidupan kalian memiliki arti yang tidak akan dapat dimengerti makhluk lain."


"Ingatlah bahwa kekuatan itu adalah kekuatan yang berbahaya. Ingatlah bahwa Manusia adalah makhluk paling berbahaya."


"Lalu ingatlah pula, bahwa kehidupan adalah roda yang terus berputar...."


.


.


.


.


Semua makhluk sihir yang berada di padang pasir menutupi sebagian mata dengan lengan atau sayap mereka untuk melindunginya dari terpaan pasir. Pertama kali yang memberi respon tentang Gala adalah Dryad, dia tidak percaya dengan yang ia rasakan. "Ini...?! Tidak mungkin!" serunya, "dia memiliki mana sebesar ini?!"


"APA?!" termasuk Feline, para makhluk sihir melotot ke arah Dryad. Mereka kemudian mencoba merasakannya sendiri.


"TIDAK MUNGKIN!" jerit Feline dengan begitu histeris dan mata yang melotot pula. "MANA MACAM APA INI? JANGAN BERCANDA!" ia menggertak giginya keras.


Para Raksasa dan Naga mengerutkan alis pada Feline. Selain itu, mereka sendiri juga tak percaya dengan yang dirasakannya. Hempasan angin juga tak kunjung berhenti sampai sorotan cahaya bulan lenyap dan yang disusul oleh sebuah fenomena. Suatu fenomena yang bisa disebut alami, atau bisa juga sebuah fenomena sihir. Yang pasti, aurora telah muncul di langit padang pasir. Lebarnya aurora itu mampu menerangi bumi dengan warna-warninya untuk beberapa saat dan mencuri perhatian makhluk di dalamnya, tak terkecuali hewan sekali pun.


Setelah auroranya muncul, kini rambut Gala sebagian berubah perak. Hela napasnya saat itu, mampu mendatangkan bongkahan es sekaligus membekukan pasir.


Seketika, mereka melotot melihatnya. Apa sebenarnya yang terjadi pada manusia lemah, rapuh, dan tidak bisa apa-apa selain ditindas itu?


"Fuuuuhh....


"Terima kasih banyak atas izinmu, Yggdrasil.... Kini aku percaya kau benar-benar Pohon Kehidupan...," ujar Gala.


"Ap—?!


"Yggdrasil, katamu?!"


Garm merasa telinganya salah dengar.


"TIDAK MUNGKIN!


"Yggdrasil yang Agung tidak mungkin berkeputusan gila seperti ini! Kekuatan mana semacam ini... tidak seharusnya kaumiliki! Kau seharusnya binasa oleh tangan kami!"


Garm tidak ingin percaya oleh kenyataan yang terjadi.


Tidak memedulikan ucapan Garm, Gala melangkahkan kakinya menuju resapan darah di pasir. Melihat pijakan kaki manusia di depannya yang sekarang malah menjalarkan api, makhluk-makhluk sihir itu mundur.


"Cih... berhentilah! Berhenti di sana atau akan kubuat kau menyusul bocah itu sekarang juga!" ancam Garm.


Mendengarnya, Gala melotot pada Garm. Hanya dengan pelototannya saja, membuat kaki seorang Raksasa di dekat Garm tersayat di bagian tumit—menyebabkan darahnya mengguyur tubuh. Seketika itu juga, Garm jatuh terduduk. Tubuhnya bergemetar dan tak ada tanda tremor itu akan berhenti. "Tidak mungkin...," gumamnya dengan suara yang bergetar.


Feline yang menyaksikannya juga bergemetar hebat, tak kalah dari Garm. "Kenapa ini bisa terjadi...? Apa Yggdrasil benar-benar melihat kehidupan kami...? Kenapa selama ini dia seolah benda mati yang tak pernah menjawab Peri?!"


Para Raksasa tak terima rekan sebangsanya terluka. Mereka segera menyerang Gala bersamaan dengan senjata mereka.


"Hentikan! Jangan lanjutkan pertikaian ini!" seru Dryad. Namun sayang, ucapannya tak memiliki arti.


Aurora yang melayang di langit, terserap ke dalam tubuh Gala. Sebelum senjata-senjata dengan bentuk seperti palu godam, kapak, juga morning star—sebuah senjata berbentuk bola besi berduri—Gala mengangkat tangannya untuk mementalkan semua yang menyerangnya. Tak tanggung-tanggung, bahkan Naga yang sedari tadi diam juga ikut jadi korban.


Gemuruh tanah pun terjadi sekali lagi. Jauhnya pentalan para Raksasa dan Naga menunjukkan betapa kuatnya sihir Gala. Mereka jatuh di pasir, tak berdaya dengan senjata yang sudah tidak utuh lagi.

__ADS_1


Gala kembali berjalan dengan tubuhnya yang kini beraura warna-warni aurora, sementara Garm merangkak mundur, memohon ampun. "Be-berhenti! Jangan dekati aku! Kumohon, ampunilah aku! Aku hanya mengikuti apa kata Yggdrasil!"


Tak menggubris permohonan Garm, Gala menebas mata Naga itu.


"AAAAGGHHH mataku!!" erang Garm. Ia terbanting ke tanah karena tak tahan dengan rasa sakitnya.


"Aku masih memiliki akal dan nurani, jadi aku takkan mengambil nyawa kalian. Berterima kasihlah pada Yggdrasil yang mengingatkanku....


"Bahwa kehidupan adalah roda yang berputar.


"Oh Naga biadab, apakah kau mengerti rasa sakit kehilangan sosok yang berharga bagimu?


"Tidak... kalian sama sekali tidak pernah merasakannya, bukan?


"Selain tenteram, hidup kalian seakan-akan abadi. Katakan padaku, berapa lama kalian sudah hidup? Puluhan tahun? Ratusan? Ribuan?"


Dengan sihirnya, Gala memaksa Garm ke wujud aslinya yang berukuran puluhan kali lipat dari tubuhnya, lalu naik ke atas perut Garm.


"Makhluk yang tidak mengerti arti HIDUP, tidak akan mengerti betapa Yggdrasil mencintai dunia yang telah kalian kotori dengan perilaku tak bernurani ini.


"Rasa sakit kehilangan sosok berharga, rasa sakit karena terluka.... Rasa sakit yang dirasakan Manusia membuat kami lebih bisa menghargai kehidupan.


"Kami sadar kalian hidup di atas kami. Kami tidak ingin kehilangan apa yang berharga bagi kami, maka kami tidak pernah melawan. Kami menghormati kalian meski kami membencinya.


"Berapa juta jiwa manusia yang telah remuk oleh cakar ini? Tidakkah tangis, jerit, dan minta tolong mereka mengganggu hatimu?


"Atau....


"Haruskah kukatakan kalian benar-benar bodoh sampai bisa TERHASUT oleh ucapan murahan yang tidak seharusnya kalian anggap serius oleh Manusia, yang bahkan TELINGA itu tidak mendengarnya sendiri?"


"...." Gala terbungkam sebentar, melihat ekspresi Garm yang tidak henti-hentinya ketakutan.


"Aku akan membalas tindakan bodoh kalian. Mulai saat ini, Manusia tidak akan menjadi ras paling lemah yang bisa diganggu kapanpun kalian mau." Gala mengangkat tangan kanannya, puluhan lingkaran sihir terwujud dari aura aurora-nya yang mengalir ke tangan. Lingkaran sihir itu bersinar terang sambil terputar-putar.


Gala setelah itu meninggalkan Garm begitu saja. "Aku mengambil semua mana yang ada di tubuh itu," ujarnya enteng. Ia menggali pasir yang darah anaknya, lalu mendekatkan kedua tangannya seperti memegang benda bulat.


"Ap—?!"


"Mana itu kukembalikan pada alam." Begitu mengatakannya, lingkaran sihir itu pecah—"memuntahkan" butiran mana pada alam.


"Kenapa... kenapa kau membuat hidupku seperti ini?! Lebih baik kumati daripada mengemban malu pada ras Naga! Naga macam apa yang tidak memiliki mana?!" jerit Garm.


Mengacuhi Garm kesekian kalinya, Gala berhasil mengekstrak darah Ars dari pasir lalu memadatkannya menjadi bentuk persegi. Ia pergi meninggalkan makhluk-makhluk sihir itu begitu saja, bahkan mengacuhi Feline yang tidak mampu melakukan apapun selain kelicikannya.


"Manusia!" panggil Dryad. Gala terhenti, lalu melirik. "Apa kauingin membangkitkan pemilik darah itu?"


Gala melihat ke darah padatnya, lalu tersenyum. "Tidak. Tidak ada gunanya. Aku telah membuat dunia ini akan menjadi lebih kejam pada Manusia dari sebelumnya. Aku tidak ingin Ars melaluinya.


"Aku akan mencari tempat untuk menguburkannya."


Dryad menatap Gala iba. "Bagaimana dengan yang lain?"


"Percuma, mereka sudah hancur tak tersisa di tangan Raksasa dan Naga itu. Hanya inilah yang bisa kukubur." Gala lanjut mengangkat kaki.


Dryad berkeputusan tentang sesuatu saat itu juga. "Tunggu. Daripada mencari tempat di tanah makhluk yang tidak menghargai kehidupan seperti mereka, maukah kauikut denganku? Aku juga ingin memerlihatkanmu sesuatu."


Gala melirik Garm dan Feline yang masih was-was.


"Baiklah. Kuterima tawaranmu, tapi... ingatlah bahwa aku tidak akan segan untuk membunuhmu bila—"


"Aku tahu. Aku takkan melakukannya."


Wajah yang serius dari Dryad meyakinkan Gala. Lalu, ia pun mengangguk. "Bawalah aku."


Dryad memunculkan lingkaran sihir hijau si bawah kakinya dengan ekstra akar tumbuhan. Mereka hilang seperti diserap ke dalam tanah setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2