Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pulangnya Tuan Putri ke Rumah


__ADS_3

Kabar bahwa Zeeta sudah kembali dari latihan panjangnya selama enam tahun lebih, telah sampai ke telinga Arthur yang tetap berada di kedai A n' Z, di desa Lazuli—desa terjauh dari ibu kota. Selain festival Evergreen sebagai salah satu faktor, ramainya pengunjung hingga memungkinkan Arthur untuk memperbesar kedainya, juga menjadi faktor lainnya.


Bangsawan, keluarga pedagang kaya, atau orang-orang dari desa tetangga adalah pelanggannya. Berbagai kabar burung mengenai Arthur tersebar sejak lama. Diantaranya seperti; "Tuan Putri Zeeta belajar memasak dari ayah angkatnya, Arthur! Kabarnya, dia membuka kedai makanan di desa Lazuli!" lalu ada; "aku pernah memakan masakan Putri Zeeta di kunjungan dadakannya bersama sepupunya, Tuan Edward dan Nona Ella! Ahh... betapa nikmatnya daging panggang itu! Tak kusangka ada orang sehebat itu di kerajaan ini yang mampu mengajarkan Putri memasak seenak ituuu!!" atau bahkan hingga; "hei! Kudengar Marchioness Hellenia sudah menemukan pujaan hatinya! Coba tebak! Dia adalah sang Cook Master, Arthur! Tidak heran, masakannya bisa membuat siapapun jatuh hati!", dan masih banyak lagi rumor yang tersebar tentangnya.


Saat ini, ditengah keramaian festival yang sudah resmi diperpanjang tiga hari, sejak dimulainya satu minggu yang lalu, Arthur tengah berjuang dengan medan pertempurannya sendiri—dapur—dimana segala jenis bahan masakan mentah, matang, bumbu, dan bahan lainnya ada di satu tempat dan harus segera disajikan. Seperti biasa, Arthur memasak dengan lihai, dibantu dengan sihirnya.


Bila, jika dibahas secara realistis, Arthur pasti butuh asisten setidaknya dua atau tiga orang di dapur dan dua orang lagi sebagai pramusaji. Tetapi saat ini, ia hanya dibantu oleh tetangga dan rekan dekatnya,l sekaligus sepasang suami istri, yaitu Recko dan Grilda. Grilda sebagai pramusaji dan Recko membantu Arthur.


Recko yang sama sekali tidak mengerti memasak, hanya membantu Arthur untuk memotong dan menyiapkan bahan-bahan mentah. Sementara Grilda, ia mulai terbiasa melayani jumlah pelanggan yang jauh membludak sepuluh kali lipat dari delapan tahun pertama Arthur membuka kedai.


Api yang menyembur dari kuali setelah Arthur menuangkan anggur merah, membuat banyak mata pelanggannya terpana. Mereka tidak terpana karena apinya, tetapi bagaimana Arthur masih bisa berkonsentrasi bersihir memasak untuk sekian banyaknya pelanggan. Tiap kali keringat hendak menetes dari kening atau pelipis, ada handuk yang langsung menyeka—yang tentu saja sudah disihir sebelumnya.


"BAIKLAAAAHH!" jerit Arthur tiba-tiba, yang mengejutkan seluruh pelanggannya. "Putriku sudah kembali! Demi menepati janji kami, aku akan menyelesaikan semua masakan ini dan nikmatilah! Khusus kali ini saja, semuanya gratis!


"Begitu kalian selesai makan, segeralah angkat kaki dan beri ruang untuk Putriku—Putri kalian pulang!"


Wajah cengir tidak ditunjukkan hanya oleh Recko dan Grilda, tetapi pelanggannya juga. "Yaaaaa!!" teriak mereka bersamaan.


......................


Sementara itu, orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya saat ini masih menikmati waktunya bersama sepupu-sepupunya. Setelah salam sapa dan sedikit basa-basi dengan nenek, bibi, dan pamannya, sekarang Zeeta berada di halaman belakang kediaman Levant yang amat sangat luas. Begitu Zeeta memasuki halaman ini, Zeeta sempat menganga.


"Hei, aku merasakan mana di halaman ini. Kenapa?" tanya Zeeta pada dua sepupunya.


"Uhm. Ini sihirnya Papa. Separah apapun kerusakan di sini bisa langsung pulih," balas Ella.


"Heeehh...." Zeeta menyeringai. "Hei, apa kalian ingin berlomba denganku?"


"Hmm? Lomba?" tanya Edward.


"Ya! Tadi sudah kubilang 'kan, jika aku membawa sesuatu untuk kalian dari negeri yang jauh!"


Kedua mata sepupunya langsung bersinar. "Kami pasti menang!" tegas keduanya.


"Baiklah! Katakan padaku, apa kalian selama ini juga berlatih?"


"Tentu saja!"


"Kalian sudah pernah melihat kekuatanku seperti apa 'kan? Pemenang lomba ini adalah siapapun yang bisa menghancurkan halaman ini lebih dahsyat. Tapi kali ini, berilah aku kesempatan untuk melihat seperti apa kekuatan kalian dan hasil latihan itu!"


Edward dan Ella saling bertatap lalu menyeringai. "Siapa takut!"


Edward dan Ella segera memberi jarak antar keduanya. Kemudian, mereka berkuda-kuda. Posisi berdiri tegak, kaki sedikit dilebarkan, kedua tangan ditekuk ke belakang, punggung tangan dikepal.


"Hwaaaahhh...." Asap muncul dari tubuh kedua anak kecil berusia sebelas tahun itu. Asap-asap itu perlahan berubah warna menjadi kejinggaan. Zeeta merasakan mana kuat dari mereka tiba-tiba menukik tajam. Hawa panas pun jadi semakin terasa. Ia merasa "mantel" sengatan matahari yang dilihatnya masih bekerja itu justru tidak berguna. Tidak lama setelah itu, Zeeta mengingat cerita Hellenia tentang ayahnya pernah melakukan ini ketika melawan Erigona. Ia tersadar, bahwa tantangannya adalah ide yang saaangat sangat sangat buruk. "Ah!" serunya terlambat.


"Apa yang terjadi di sini? Kenapa aku merasakan mana—


"Hnggh?!"


Karim mendobrak pintu halaman bersama Agatha, Lowèn, dan Claudia. Mereka melihat Zeeta nyengir sambil menggaruk kepalanya. Tak lama kemudian....


'BWUUUUMMMMM!!'


Ledakan amat sangat dahsyat terjadi, yang seketika menghancurkan medan pelindung, meruntuhkan pulau, dan nyaris membinasakan kediaman Levant.


Jika Zeeta tidak bertindak dengan Rune-nya, habis sudah keluarga kerajaan itu karena kecerobohan sang Tuan Putri itu sendiri. Ledakan itu bahkan bisa terlihat dari desa Lazuli, dan kedai A n' Z yang menghentikan sesaat acara makan gratis dadakan mereka. Itu juga menyebabkan alarm darurat untuk evakuasi menyala dan membuat panik seluruh rakyat.


Untungnya, dua penjaga di bawah, Ebenezer dan Gilles, masih dalam misi Karim. Meski reruntuhan pulau itu benar-benar terjatuh, mereka tetap selamat. Seperti kata Edward dan Ella, halamannya—termasuk reruntuhan yang meluncur ke bawah, naik lagi ke atas dan menjadi satu. Alarm evakuasi segera dimatikan Agatha, panggilan dari Grand Duchess langsung dilayangkan.


"Awa... awawawawawa...." Zeeta panik karena kejadian yang tidak diperhitungkannya terjadi satu demi satu.

__ADS_1


Urat kepala Karim muncul dan besarnya urat itu menunjukkan betapa kesal Si Kakek. "DASAR CUCU-CUCU BODOHHH!!"


"Kyaaa! Maafkan aku, Kek! Aku tak mengira kekuatan mereka sangat besar! Aku salah perhitungan! Aku akan terima hukumannya!" Zeeta memelas.


"Bodoh! Mereka itu adalah Levant! Tentu saja mereka kuat!


"Edward! Ella! Sudah berapa kali Kakek bilang untuk kendalikan kekuatan gila kalian itu?! Ini adalah kerajaan! Bagaimana kalau rakyat jadi korbannya?!"


Edward dan Ella menitikkan air mata. "Huwaaaaahhhh maafkan kami, Kek!"


"Lagi pula, untuk apa kalian melakukan ini?!"


Edward dan Ella tanpa bicara menunjuk Zeeta.


"Hehehe...."


Urat kepala Karim semakin membesar.


"Sayang! Kendalikan emosimu, atau penyakitmu kambuh lagi!" bentak Agatha. "Duduklah dan tenangkan emosimu. Tenang saja, Grand Duchess sudah kuberitahu, tapi dia bilang akan segera ke sini." Dengan mudahnya, Agatha membuat kursi. Karim segera menuruti istrinya. "Zee, katakan. Apa yang ingin kaulakukan?"


Zeeta bergemetar ketika dengar Ashley hendak ke sini. Ia jadi teringat betapa mengerikannya Ashley ketika marah, bahkan mungkin jauh lebih menakutkan daripada kakeknya sendiri. "A-aku akan memberitahunya, ta-tapi tolong rahasiakan ini dari bangsawan lain, yaa...." Dengan tangan yang bergemetar, Zeeta memunculkan Buku Sihir yang baru pertama kali dilihat semua orang di dekatnya. Buku itu berwarna putih bercampur biru. Ia membuka suatu halaman spesifik. "Aku tak bisa memberitahu asalnya, tapi aku ingin memberi mereka ini." Zeeta mengeluarkan sebuah mantel kulit dan cincin.


"A-apa yang kaukeluarkan ini, Zeeta?!" tanya Lowèn, "ini... ini...." Tidak hanya Lowèn, tetapi Agatha dan Karim ikut terkejut.


Claudia yang ikut heran bersama dua anaknya pun bertanya, "Memangnya ada apa dengan dua benda ini?"


Lowèn segera menjelaskan. "Ini.... Ini adalah kulit dari hewan sihir bernama Grimmur. Bentuknya seperti beruang bertanduk rusa. Hewan ini dikenal dengan ketahanannya terhadap segala macam sihir. Dia juga mampu bertahan di segala macam musim tanpa makanan sekalipun hingga lima puluh tahun lamanya!"


"Ehhh?!" Claudia terkejut. "Tapi, darimana hewan ini berasal? Kenapa kau juga bisa mengetahuinya?"


"Levant pernah sekali menangkapnya," balas Karim, "leluhur kami ratusan tahun yang lalu, lebih tepatnya. Sampai sekarang, kulit hewan itu beserta catatan leluhur kami, masih terjaga dengan baik. Sayangnya, catatan itu hanya mengatakan Grimmur berasal dari 'Hutan Pembuta Arah', hutan yang akan selalu menyesatkan siapapun yang masuk ke dalamnya."


"Kautahu? Darah Levant di tubuhku terkadang merepotkanku!"


"Me-merepotkanmu?!" Karim merasa tersambar petir.


"Uhm! Kalian tahu aku berkekuatan bulan, 'kan? Kekuatan matahari di dalam tubuhku terkadang merepotkanku untuk mengendalikan ... uhh ... sesuatu yang sangat rahasia!


"Jadi kupikir... sepupuku yang masih imut ini pantas mendapatkannya. Seperti yang Paman Lowèn bilang, mantel ini punya kekebalan pada sihir. Tergantung dari musuh, sihirnya bahkan bisa ditiadakan. Mantel ini ingin kuberikan pada Edward.


"Cincin ini... adalah cincin yang dibuat dari tanduknya. Cincin ini mampu mengebalkan tubuh dari serangan kutukan atau serangan dari senjata tajam. Aku berencana memberikannya pada Ella."


"Tidak tidak tidak tidak!" bentak Lowén, "DARI. MANA. KAU. DAPATKAN. INI....


"Zee... ta...?"


"Uhmm....


"Hutan Pembuta Arah?


"Hehe."


"Ke-kenapa kau merahasiakannya?"


"Yah, karena kita adalah Manusia." Jawaban singkat darinya membuat Lowèn terbungkam.


"Kalau begitu, tentu kaubisa dengan senang hati menjelaskan padaku, kenapa Tuan Putri sepertimu bisa sebodoh ini, hmm? Zeeta Aurora XXI?" Ashley datang dengan aura mematikan.


"GEH?! Guru Ashley?!"


'Geh' dari Zeeta membesarkan urat kepala Ashley. "Apa-apaan reaksimu pada Gurumu sendiri, dasar bocah tak tahu diri?!" Zeeta segera kabur dari genggaman Ashley dengan melompat dari pulau.

__ADS_1


"Ed, Ella! Maaf, ya, aku harus segera pergi!!"


Claudia, Lowèn, Agatha, Karim, Ashley, termasuk Edward dan Ella tak memiliki waktu untuk bereaksi atau menghentikan aksi Zeeta yang bisa dengan mudanya melompat dan terjun dari pulau langit yang tingginya mencapai sekitar tiga puluh lima meter itu.


"Sayang...," panggil Claudia. Ia masih menganga.


"Ya, Chloe?" tanya Lowèn yang sama-sama menganga.


"Dia... benar-benar Zeeta...?"


"Fu... Fufuhahahahahaha!" gelak tawa Ashley memecah suasana. "Dasar! Tiga generasi tidak ada beda jauhnya! Fufuhahahaha!


"Aah..., aku bersyukur masih jadi Grand Duchess. Karena jika tidak, aku tidak akan tahu perkembangan anak itu seperti apa, tapi...." Ashley tersenyum. "Kita harus melindungi anak ceria itu dengan semua yang kita mampu."


Seluruh Levant mengangguk. "Anda benar!" mereka juga tersenyum.


"Tapi... aku tak merasa mana darinya.... Sebenarnya latihan macam apa yang telah dia lalui, dan kenapa dia ingin menyembunyikannya....?" batin Ashley,


"Selain itu.... Sihir ledakan dari Levant, daya destruktifnya sangatlah besar, bahkan jika dua anak itu disuruh benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya, sebuah gunung pun bisa dilenyapkan begitu saja... dan dia.... menghentikannya?" Ashley melihat sekelilingnya. Gedung lima belas lantai milik Levant masih kokoh.


......................


Zeeta melihat desa Lazuli yang populasinya semakin bertambah sambil bersihir terbang. Ia turun ke depan palang nama desa dan disambut oleh suara yang begitu mengejutkannya. "Dasar ceroboh! Aku tahu kau itu kuat, tapi kendalikanlah kekuatan itu dan jangan buat kami panik!"


"Duhh, Gerda! Jangan buat aku terkejut! Aku ke sini setengah mati karena kabur dari guru Ashley dan kakekku, sekarang kamu juga yang ingin emosi padaku?


"Lagi pula, itu bukan aku! Itu sepupuku!


"Hmph! Padahal aku berniat baik, tapi justru dimarahi semua orang...."


"Sudah sudah, cuaca panas begini lebih baik didinginkan dengan cokelat dingin kesukaanmu!" suara di belakang Zeeta mengejutkannya lagi.


"A-ayah Arthur?!" Zeeta menoleh ke belakang. Ia langsung berbinar. "Ayaaaaahhh!" tanpa basa-basi lagi ia memeluk ayahnya.


"Tuan Putri—tidak—Zeeta, selamat datang kembali!" Kepala Desa ikut menyambut.


"Selamat datang, Zeeta! Kau sudah besar, ya!" lalu ia juga melihat penduduk lain yang ikut menyambutnya.


"Zeeta, Sayang! Kamu semakin cantiiikk!" pekik suara grup ibu-ibu.


"Selamat datang kembali, Zeeta!" Recko dan Grilda melempar senyumnya.


Tangis langsung membasahi pipi tanpa mendengarkan perasaan senang yang dirasakan Zeeta. "Semuanya...."


"Akhirnya kaudatang juga!" Danny orang terakhir yang menyambutnya. "Selamat datang di desa Lazuli, Zeeta!"


Pipinya semakin basah karena meluapnya perasaan yang suda tak terbendung lagi. "Uhm! Uhm! Aku pulang! Akhirnya aku pulang, semuanya!"


Sementara itu, di belakang semua penduduk desa Lazuli yang sedang menyambut Zeeta, ada Klutzie dan Siren.


"Waktunya tidak tepat, Siren. Apa yang kaupikirkan?" tanya Klutzie yang sudah tumbuh jadi remaja tampan.


"Oh, ayolah. Kautahu aku tidak bisa membaca lagi mana-nya yang sudah disembunyikan! Aku bisa membaca aliran mana alamnya, tetapi dia sudah bisa menguasainya, jadi itu menyatu dengan aliran mana alam biasa!" Siren membela diri.


"Cih, padahal aku sama-sama Benih Yggdrasil.... Mengesalkan, tahu! Apa kaubisa paham perasaanku ini?!"


"Sudah sudah, meski kaubilang begitu, alasanmu latihan keras denganku juga karena dia, 'kan? Janganlah bohongi perasaanmu sendiri, Lutz!"


Klutzie merona. "Sebaiknya kaubungkam mulut itu ketika dia bicara padaku nanti, atau kutebas kau!"


"Hahaha, aku tahu, aku tahu! Kita tunggu saja, apa hal yang diketahuinya tentang Nebula selain fakta tersembunyi Suzy...."

__ADS_1


__ADS_2