Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Peran Terakhir Crescent Void


__ADS_3

[Sebelum Ragnarok dimulai, ketika Azure, Gerda, dan Danny berkumpul di sebuah kedai saat Zeeta memiliki keperluan dengan istana....]


"Jadi sebenarnya apa yang sedang kalian persiapkan?" tanya Azure. "Aliran mana kalian pun terasa tak seperti biasanya."


"Salah satu langkah yang akan mengantarmu melawan Jormungand." Gerda menjawab.


Azure yang mendengarnya saat sedang minum, membanting gelasnya agak kuat di meja. "Aku? Kenapa?"


"Ayolah. Kau satu-satunya yang memiliki afinitas sihir kegelapan. Kita bertiga akan melemahkan Raksasa itu supaya Zeeta bisa mengalahkannya."


"Hmm... tapi, bukannya aku meragukan atau semacamnya, namun biasanya tak perlu melakukan ini, 'kan? Melemahkan, maksudku."


"Entahlah." Gerda meregangkan tangan ke atas. "Mungkin ada sesuatu yang ia lihat dengan Rune-nya."


"Baiklah, aku mengerti. Lantas, persiapannya seperti apa?"


Danny dan Gerda menatap lurus Azure. "Mungkin ini adalah yang terakhir kalinya kita akan melakukan hal sebesar ini," balas Gerda, "jadi jangan terkejut, ya." Ia lalu membisiki Azure.


Usai mendengarnya, Azure menyeringai. "Heeeh... menarik sekali...."


......................


Danny, Gerda, dan Azure melihat langsung aksi dua sepupu Zeeta itu yang mengerahkan segala yang mereka bisa untuk melawan Zeeta Alter.


"Sudah kuduga dari sepupunya! Mereka sangat kuat sekali!" seru Azure.


"Bukan waktunya untuk terkesan!" bentak Danny, "ayo lakukan ini!"


"Ya!" Azure dan Gerda menjawab. Sementara Edward dan Ella menghajar Alter, ketiganya memosisikan diri menjadi segitiga. Semuanya terselimuti oleh mana masing-masing dan rambut yang melawan gravitasi.


"Ini adalah saat-saat yang mungkin takkan lagi tiba." Gerda membatin sambil bergandeng tangan dengan Azure dan kakaknya. "Ini juga adalah sihir yang paling besar yang pernah kami lakukan. Persiapannya cukup memakan waktu dan kuharap ini akan berhasil.


"Sihirku sebelumnya, Songs of Zero, adalah salah satu dari bagian persiapanku. Mengingat dari apa yang pernah kami hadapi saat pertama kali berseteru dengan Alter, sihir Songs of Zero kuciptakan dengan tujuan menghapus segala keburukan dari alam; dengan kata lain Hollow.


"Walau tidak bisa sekuat Catastrophe Seal milik Zeeta, aku yang menjadikannya sebagai panutanku, bisa mewujudkannya.


"Aku dan kak Danny terus mengumpulkan mana alam yang disimpan di dalam alam itu sendiri. Cara ini kami sadari ketika berjalan bersama Zeeta dari desa Lazuli menuju kota Moko.


"Prinsip persiapan yang kami lakukan dipinjam dari bagaimana Vanadust memperkuat dunia dengan sihir semua ras yang ada.


"Manusia tak bisa mengemban terlalu banyak mana alam kecuali tubuhnya memang kuat, seperti Zeeta. Kami para Crescent Void memang bisa menggunakan mana alam, tapi itu sama sekali tak sebanding dengan Zeeta. Oleh sebab itu, kami menyimpan sihirnya di alam.


"Sihir dari alam, digunakan untuk alam, demi keselamatan dunia.


"Afinitas kami bertiga saling memengaruhi untuk apa yang akan kami lakukan. Aku adalah tanah, kak Danny adalah api, sementara kak Azure adalah kegelapan.


"Sihir ini kami ciptakan untuk membawakan kemenangan bagi Zeeta!"


......................


Semua yang ada di balik Töfrahnöttur menggertak gigi kala tekanan tsunami sihir Alter berubah menjadi makhluk semacam mayat— zombie— dengan berbagai macam bentuk ras. Makhluk-makhluk sihir yang ada di sana paham seberapa kuat mereka.


"Tsk! Bisa-bisanya Manusia itu mewujudkan makhluk sebahaya ini dalam jumlah besar!" gerutu Surtr, "apiku saja takkan mampu membunuh semuanya!"


"Kita memang sudah berlindung, tapi ini saja mungkin—" Æsir hendak setuju dengan Surtr.


"Tenang saja!" suara seseorang memancing semua yang mendengar untuk menoleh ke arahnya. Ia adalah seorang manusia lelaki berambut cokelat dengan seragam unik dan beremblem bulan sabit dan ditemani dua manusia yang berseragam serupa, laki-laki dan perempuan. Mereka adalah Marcus, Colette, dan Novalius.


"Manusia...?" Surtr keheranan. "Apa memangnya yang kalian bisa untuk situasi ini?!"

__ADS_1


"Mengalahkan sihir dengan sihir," jawab Marcus, "tentu saja kau menyadarinya, 'kan, Tuan Raksasa?"


"Hah?" Surtr tidak mengerti.


"Yah, pokoknya lihatlah saja."


Sementara para makhluk sihir kebingungan dengan apa yang hendak dilakukan tiga manusia itu, penduduk asli Aurora saling berbisik. "Akhirnya kita bisa melihat seperti apa sihir Marcus! Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah menunjukkan hasil latihannya dengan Luna dan bangsawan utama!"


Æsir yang mau tak mau mendengarnya, jadi tertarik. Mungkin saja ia sama dengan lelaki berambut merah yang ia tolong sebelumnya dan kini berada di tempat lain.


"Marcus McGroovey...." Novalius memandangi pemimpin dari kelompoknya itu. "Kau memang benar-benar mengerikan. Aku bersyukur kau ada di pihak kami."


Marcus tersenyum kecut. "Berterima kasihlah kepada nyonya Ashley, nyonya Scarlet, dan guru-guru sihir kita. Tanpa mereka aku pun tak bisa mencapai titik ini. Lagi pula, ini memang sudah sesuai perhitunganku, namun belum tentu sihir kita bisa mengalahkan semuanya. Paling buruknya adalah dengan kehadiran kita dan bantuan semua yang ada di sini, tetap tak mampu menghalaunya."


Ketiganya melihat Töfrahnöttur akan segera pecah oleh cakaran, gigitan, dan dorongan dari makhluk mayat di sisi lain. Marcus segera berkuda-kuda. Otot kakinya tampak benar-benar terlatih dan tangan yang begitu berotot. Ia bersiap akan mengayunkan tangan kanannya.


"Kupercayakan sihir kami padamu!" Novalius menepuk bahu kiri Marcus.


"Marcus...! Apapun yang terjadi, kembalilah selamat!" Colette memegang bahu tunangannya.


"Ya. Aku berjanji!"


'PRANGGG!!'


Begitu Töfrahnöttur pecah, makhluk-makhluk tersebut bergerak secara menggila dan bergerak lebih cepat dari angin. Itu sedikit diluar dugaan Marcus, namun ia segera bertindak. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menghempasnya dengan saat yang bersamaan kala ia menghentakkan kaki dan mengayunkan tangan kanan.


'BLASSTTT!'


Sebuah laser berwarna jingga dan putih segera berdampak. Itu keluar dari tangannya. Laser tersebut begitu besar dan kuat hingga mendorong makhluk-makhluk yang hendak masuk sebelumnya. Itu juga berhasil memusnahkan mereka yang terkena langsung.


Æsir segera tampak tidak senang dengan apa yang baru saja dilakukan. "Dasar bodoh! Manusia takkan bisa menahan sihir sekuat itu! Kau hanya mencari mati!"


"Tidak apa-apa!" balas Novalius menggantikan Marcus. "Kami dipercayakan senjata suci yang ditempa oleh Naga Myra, keturunan Naga Penempa Schrutz, Roh Yggdrasil Luna dan Siren." Novalius menunjukkan pedangnya, sementara Colette sarung tangannya.


"Pria itu...," sambung Novalius, "Marcus bisa menyalin sihir kami dan memperkuatnya berkali-kali lipat. Sihir yang baru dipakainya adalah sihir milik Colette yang telah diperkuatnya empat kali lipat.


"Sihir kami disimpan bukan di tubuhnya, melainkan senjata sucinya."


"Meskipun begitu... tubuh dan sihir adalah satu kesatuan. Kau yang sudah dipercayakan senjata seperti ini, tentu paham maksudku!"


"Tentu, Raksasa. Sihir dapat diciptakan setelah mengalirkannya di dalam tubuh pengguna. Kegagalan akan menimpanya bila imajinasinya tidak kuat, bahkan tubuhnya pun bisa hancur dalam prosesnya. Dia menjadi pemimpin kami bukan karena kami yang menginginkannya, namun Roh Yggdrasil sudah percaya padanya." Novalius memandangi Marcus kembali, dimana ia sedang menghabisi satu per satu makhluk yang lolos dari serangan sebelumnya.


"Aku...." Colette ikut bersuara. "Aku percaya Marcus bisa melakukannya!"


Æsir terdiam. Ia merasakan keyakinan yang kuat dari keduanya. Sangat yakin bahwa lelaki itu dapat mengatasinya seorang diri.


Kemudian....


"Ah, iya iya! Dia hebat, ini dan itu, tapi dengar, ya semuanya! Sekarang bukanlah waktunya untuk terkesima oleh Manusia, tapi lihatlah itu!" Nadéja, yang identitasnya dapat dirasakan oleh makhluk sihir, menunjuk ke langit.


"A-APA ITUUU?!" semuanya menjerit kaget. Mereka melihat meteor... yang bukan seperti meteor, hendak menghantam Bumi. Itu berbentuk seperti meteor yang sebelumnya dihadirkan oleh Alter, tetapi kini itu berubah semacam bongkahan lelehan. Awalnya seperti itu, tetapi lambat laun, itu mewujudkan diri menjadi sesuatu yang benar-benar lain.


"Manusia!" jerit Nadéja. "Untuk sementara ini lindungi Aurora selama yang kaubisa sampai Zeeta bisa mengangkat sihir kegelapan ini! Kami akan memperbaiki pelindungnya!"


Marcus mengangguk. "Serahkan saja padaku!"


"A-aku ikut!" seru Colette.


"Tidak boleh!" tukas Marcus.

__ADS_1


"Eh...?"


"Mereka berbahaya! Satu serangan darinya saja dapat melumpuhkan sebagian besar tubuhmu. Aku beruntung karena senjata suci ini melindungiku darinya dan efek samping sihirku sendiri...." Marcus menunjukkan cincin di jari kelingking kirinya. "Namun, tidak denganmu, Colette. Berlindunglah bersama mereka!"


"Ta-tapi...!"


Novalius memegang bahu Colette. "Turuti saja dia, Colette. Hanya dia yang mampu untuk kali ini."


Marcus tersenyum. "Kuserahkan Colette padamu, Nova!"


Novalius membalas senyuman itu sambil mengangguk.


"Baiklah, semuanya!" jerit Nadéja, "ayo ikut aku! Katalis pelindungnya ada di suatu tempat!"


Saat mereka pergi mengekori Nadéja, Marcus sudah berada di luar area Töfrahnöttur. Di sekelilingnya tak ada makhluk mati lagi, tetapi mereka yang ada di jarak lebih jauh dengan cepat kembali mengepungnya. "Hah. Tak kusangka momen bersinarku begitu singkat."


"Benar sekali. Aku pun cukup kecewa."


Marcus terkejut mendengar suara lelaki itu. "No-Novalius?!"


"Yo." Novalius mengacungkan pedang rapier-nya. "Mana mungkin kubiarkan kau sendiri. Colette adalah calon istrimu, bukan? Kau harus kembali dengan selamat untuknya."


"Tsk." Marcus menyeringai. "Mereka bukanlah lawan yang mudah, lho."


"Bah! Klutzie sudah kalah dariku sekali! Mereka pasti tak ada apa-apanya!"


Kemudian....


"Kalau begitu, aku akan tetap diam di sini sampai saatnya tiba, oke?" Mellynda terbang dengan bongkahan kristalnya. Ia sedang bertelungkup di atasnya.


"Ya," balas Marcus, "tetap bidiklah gadis itu."


"Lagi pula," sambung Mellynda, "kenapa kaubisa tahu kalau Alter akan...."


"Tidak, aku tidak tahu, namun ia pasti akan melakukannya. Alter adalah Putri Zeeta. Yang harus kulakukan hanyalah berpikir menjadi seorang Zeeta yang telah dikhianati oleh kita."


"Terkadang ucapanmu benar-benar sakit, ya. Itu artinya, aku di dunianya, tidaklah lagi menjadi rivalnya, 'kan?"


"Kalau begitu buktikanlah itu di sini."


"Hmm. Ide bagus, tapi aku lebih ingin menunjukkannya pada Zeeta."


Marcus terdiam. Wajahnya tak mendukung kepositifan.


"Dia akan kembali, Marcus. Aku yakin."


"Melly, aku—"


"Sudahi saja, kalian berdua!" bentak Novalius, "yang harus kita lakukan adalah membantu Zeeta sebisa mungkin! Berdebatnya setelah apa yang ada di hadapan kita ini selesai!"


"Nova...." Mellynda dan Marcus tak menyangka.


......................


[Sementara itu....]


"Terima kasih, Naga Oboro. Kuhargai bantuanmu." Zeeta menerima sebuah api biru yang kemudian ia selimutkan pada tombaknya.


"Aku juga berterima kasih kepadamu, Zeeta Aurora. Kuharap kau dapat beristirahat dengan nyaman dan tenang setelah ini."

__ADS_1


"Ya, aku pun mengharapkannya."


Kemudian, Oboro terbang keluar Drékaheim dan Zeeta mencengkeram erat tombaknya. "Waktunya tirai ditutup, Alter!"


__ADS_2