Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Azure dan Desa Lapis


__ADS_3

Ini adalah sebuah ruang dimensi yang dibuat dengan dua pewaris kekuatan bulan. Selain bagian internal kerajaan misalnya seperti Alicia dan bangsawan utama lainnya, sudah setuju untuk melakukan liburan di dimensi ini selama satu hari penuh—dengan waktu yang berjalan lambat di dalam dan akan terasa seperti satu minggu.


Mengapa demikian?


Alasannya, hari ini adalah malam bulan purnama, hari ketika kekuatan keturunan Aurora ada di puncak tertingginya. Bahkan si pemilik kekuatan terbesar selain keturunan Aurora, Hazell, atau bahkan Luna si Roh pun tidak ikut membantu untuk menciptakan dimensi yang sangat diluar nalar ini.


Morgan yang berada di Hutan Peri sama sekali tidak menyukai langkah yang diambil kerajaan di seberangnya. Kerajaan itu terselimuti oleh dua lapis pelindung, disertai sinar biru di dalamnya yang tidak kunjung sirna. Setelah melukainya sampai kehilangan kesadaran satu hari penuh, ia jadi sama sekali tidak bisa mengganggu Siren yang tentu saja ada di dalam dimensi buatan tersebut. "Apapun caranya, harus kusingkirkan kerajaan terkutuk itu!" umpatnya.


Selain Morgan, ada Suzy yang telah lama menyadari kembalinya Alicia dan Hazell. Ia kini bahkan sedang di depan pelindung sihir bertipe sensor milik Aurora. "Cara mereka mengantisipasi ancaman sangat berbeda dengan Nebula...," gumamnya, "sihir tidak bisa dihadapi dengan mesin buatan manusia, bahkan semodern apapun itu dibuat.


"Kerajaan ini ... memang tidak bisa diacuhkan...!"


Suzy hendak menyentuh pelindung sensornya, namun mengurungkan niatnya. "Aku hanya akan mati jika melakukannya. Sebaiknya aku pergi saja." Kemudian, ia berjalan menjauh dari Aurora dan menghilang di kedalaman hutan.


......................


Di dalam dimensi buatan ibu-anak ini, baik orang-orang usia lanjut hingga anak-anak, mengerahkan seluruh tenaganya untuk bersenang-senang di dua spot paling sering dikunjungi ketika musim panas, yaitu pantai dan gunung yang lokasinya berhadapan. Melihatnya dari kejauhan, ruang dimensi ini bak lukisan anak-anak yang menuangkan imajinasi gunung yang menyatu dengan pantai, yang ditengahnya terdapat penginapan, toko, kedai, sampai pemandian air panas. Semua fasilitas buatan ini, dikaryawani oleh makhluk sihir buatan Alicia, dengan berbagai macam bentuk. Misalnya boneka beruang, manusia, singa, dan lainnya. Mereka adalah buah latihan panjang Alicia sebelum jadi ratu.


Berbeda dengan mayoritas penduduk yang dipenuhi senyuman, Azure, memutuskan untuk seorang diri melihat ombak tenang pantai dari balik payung pantai, meskipun ia memakai baju renang dan dilapisi jaket manis berwarna hijau toska. Ia duduk meringkuk, dan memaksakan senyumnya. Ia melihat Zeeta bersama dengan Gerda dan Aria sedang bermain air di bibir pantai, lalu melambai tangan sambil berteriak, "Ayo ikut main!".


Namun, meskipun Azure ingin, kesenangan ini tak ada arti untuknya, sebab ia sudah kehilangan seluruh keluarganya. Lambat laun, ia menundukkan kepalanya yang tak lama disambut oleh tetes air mata sambil membatin, "Kamu jahat, Zee...." Ia segera menghapus tangisnya dan mengangkat kaki dari sana, tanpa ada siapapun yang menyadarinya....


Ketika Azure berjalan melewati banyaknya manusia, matanya terpaku pada pemandangan sebuah keluarga yang sedang asyik menikmati santapan di sebuah kedai sambil bercanda tawa. Ia kemudian menggigit bibirnya dan tergesa-gesa berlari meninggalkan tempat.


"Aku tidak boleh begini.... Aku tahu hal yang kuingin kembali takkan pernah bisa kudapatkan lagi!


"Sial.


"Sial....


"Si ... al....


.


.


.


.


Azure terhenti di sebuah area menanjak menuju gunung, yang sedang sepi orang berlalu-lalang. Ia lalu meringkukkan badannya lagi dan melepas semua tangisnya dalam kesunyian.


"Kak Azure...?" suara Zeeta tiba-tiba mengejutkannya dari belakang. Ia tersentak tetapi berusaha untuk tetap tenang dan menghapus air matanya. "Apa kau tidak apa...?" suara Zeeta yang dipenuhi rasa khawatir membuat Azure semakin tidak ingin Zeeta mengetahui ia menangis.


"Uhm. Aku tak apa. Kakiku ... hanya keseleo," jawab Azure.


Zeeta menyipitkan matanya. "Benarkah?"


"....


"Ya."


Ada jeda sebelum Azure menjawabnya.


"Apa kau benar-benar baik...?" Zeeta ingin meraih bahu Azure, namun....

__ADS_1


"Jangan mendekat!"


Zeeta segera membeku.


"Aku tidak apa, jadi jangan pikirkan aku." Melalui Buku Sihir-nya, Azure menghilang dengan sihir menyerupai portal hitam.


Menanggapinya, Zeeta cemberut. "Jangan main-main denganku, Kak. Aku ini sudah kauanggap adikmu sendiri!" Zeeta memejamkan mata untuk mencari keberadaan Azure. "Eh? Kenapa aku tidak bisa mendeteksinya...?"


Dikala ia kebingungan dengan alasannya, ia segera bergegas. "Aku harus menemui Luna!"


......................


Azure sampai di bekas desanya—Lapis—yang kini telah dihijaukan kembali dengan sihir milik Rey Emeria. Ia pun dapat menemukan puing-puing bangunan desa yang tidak rata dengan tanah, namun bukan itulah tujuannya. Ia segera menuju pilar bersimbol batu Lapis yang ditujukan sebagai monumen pengingat. Tepat di bagian kaki pilarnya, tertuliskan nama-nama korban kejahatan Rowing. Di sana, juga tertera nama orang tua Azure, yaitu ibunya yang bernama Anastasia dan ayahnya, Peter. Ia menciptakan sebuket bunga dengan sihirnya, kemudian mulai berkeluh kesah di depan monumen itu seorang diri.


"Ayah ... ibu ... apa kalian di sana baik-baik saja...?


"Kuharap ... begitu....


"Kalian juga, Amy, Bobby, Roland.... Aku harap kalian tenang di sana. Meski kita tidak akan bisa bermain atau belajar bersama lagi, aku tetap sayang dan akan terus mengingat kalian.


"Aku ... jika tidak bertemu dengan Zeeta, hanya akan jadi penjahat kerajaan dan mungkin akan tewas di tangannya. Sejak saat itu, sihirku berubah jadi sihir kegelapan karena dendamku yang sangat tebal.


"Aku bersyukur karena Zeeta menyelamatkanku dari penjara bawah tanah Rowing. Dia menyelamatkanku dari jalan yang salah... tapi....


"Aku tak bisa bohong jika perlahan-lahan rasa iriku padanya mulai tumbuh, padahal aku tidak boleh merasa begini.


"Dia hebat, dia adalah bangsawan yang saaangat berbeda dari Rowing. Dia mampu melakukan segalanya dengan sihir dan mana alamnya. Dia juga baru-baru ini menghabiskan banyak waktu dengan orang tuanya—Ratu dan Raja. Senyumannya pun tidak pernah sirna sejak dia bersatu kembali dengan mereka, sangat berbeda dengan sebelumnya.


"Dia selalu dipenuhi dengan kecemasan tentang tanggung jawab dan kewajibannya sebagai tuan putri. Makanya, aku selalu ada untuk mendorongnya dari belakang.


"Amy ... kau selalu memarahiku ketika aku membentak Bobby dan Roland.


"Roland ... kau tidak pernah berhenti menjahili Bobby.


"Bobby ... kau juga tidak pernah mencoba untuk melawan balik Roland.... Tapi ... aku tahu kita semua berteman.


"Ayah ... aku rindu ketegasanmu. Kau selalu menegurku ketika aku salah.


"Ibu ... ibu adalah sosok yang selalu kutangisi. Kau saaangat... sangat... sangat kurindukan, bu. Aku mencintai senyumanmu, mencintai sifat lembutmu... aku mencintai segalanya darimu, bu... tapi....


"Aku tak bisa lagi ... merasakan itu semua lagi!"


.


.


.


.


"KARENA ITULAH!"


Azure membanting buket bunganya dan membasahi buket itu dengan derasnya air mata sampai hidungnya berair.


"Aku tidak bisa lagi bersama kalian! Tapi aku ingin saat-saat itu ada lagi untukku!

__ADS_1


"Sejak saat itu, aku tinggal sendiri di Neko's Inn, dengan orang tua Gerda dan Danny yang membayar uang sewanya!


"Aku tak mau merepotkan orang seperti ini!


"Tapi ... tapi ....


"Tapi aku hanya anak kecil.... Apa yang bisa kuperbuat....?"


......................


Sepuluh menit kemudian, Azure mulai tenang meskipun pipi dan matanya sembab. Lalu, ketika ia hendak meninggalkan tempat dan kembali ke sisi Zeeta seperti biasa, ia bertemu seorang gadis berambut hitam panjang dan bermata kuning. Pakaiannya membuat Azure semakin penasaran ... siapa dia?


Gadis itu memakai pakaian minim yang sudah compang-camping, tetapi pakaian itu dilapisi oleh mantel hitam panjang. Ia juga memakai celana legging yang juga sudah robek di berbagai tempat. Meski pakaiannya seperti itu, badannya bersih. Tetapi anehnya, ia sama sekali tak terganggu dengan penampilannya.


"Hai," sapa gadis itu. "Apa aku mengganggu waktumu?"


Azure yang kehabisan kata-kata hanya menggeleng kepala.


Gadis itu kemudian berjongkok. "Syukurlah. Mataku terpaku pada anak kecil yang menangis sendirian di tempat seperti ini. Oh iya, namaku adalah Lucy. Siapa namamu?"


"A-Azure...."


"Waah, nama yang cantik, ya! Seperti warna rambutmu!"


"Te-terima kasih...."


"Bolehkah kutanya kenapa kau di sini...?"


"Kakak sendiri ... kenapa?"


"Ahahah. Kau benar. Aku harus memberitahumu dulu karena aku adalah orang asing.


"Yah, aku sebenarnya dari Wilayah Barat, dan aku tahu Ratu memerintahkan kita untuk bersenang-senang, tapi aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, desa Lapis yang dirumorkan sejak tiga tahun yang lalu.


"Aku mengisi waktuku dengan bertualang berkeliling kerajaan. Dan kebetulan desa Lapis adalah lokasi terdekat dari jalanku memulai petualangan ini. Jadi, sembari bertualang, aku ingin mengisi buku harianku. Sebagai harta karun ketika aku pulang ke rumahku nanti." Lucy tersenyum.


"Oh...." Azure mengangguk. "Aku kesepian."


"Eh? Kesepian? Tapi di sini hanya ada...


"Jangan-jangan... kamu...?"


"Uhm. Tiga tahun yang lalu, ketika Garren Rowing menyerang desaku, hanya aku yang selamat. Melihat senyum teman-temanku yang sekarang membuatku rindu keluarga."


"Hmmm...." Lucy melihat ke nama-nama di monumen. Ada sekitar seratus lebih orang yang meninggal di hari itu. "Kau mirip denganku, ya...."


"Eh... kenapa?"


"Kampung halamanku juga musnah karena bangsawan. Wilayah Barat adalah rumah baruku."


Azure diam sesaat untuk memberanikan diri bertanya. "Apa Kakak ... juga merasa ingin balas dendam?"


"Ahahah.... Tentu saja! Hanya orang tidak waras yang tidak menginginkannya!" Lucy mengelus kepala Azure. "Tapi ... balas dendam itu butuh kekuatan dan keberanian besar! Kalau kau ragu ditengah jalan, hanya jalan buntu yang akan menanti.


"Baiklah, aku sudah dapat isi untuk buku harianku, jadi sebaiknya kita berpisah. Daaah~" Lucy segera meninggalkan Azure.

__ADS_1


Azure sama sekali tidak menaruh curiga pada Lucy. Ia lantas menata kembali pakaiannya, lalu kembali ke sisi Zeeta dengan Buku Sihirnya....


__ADS_2