
Gerda mengepal tangan kirinya erat—siap untuk memukul targetnya. Kepalan itu juga bersinar hijau, layaknya menyimpan mana di dalamnya. “MAKAN INIII!” pekiknya kencang, sambil mendaratkan upper-cut keras pada dagu musuhnya—Akira—hingga membuatnya menggigit lidah sendiri dan mengalami gegar otak ringan. Seketika ia kehilangan kesadaran, serta menyebabkan serangan semacam bola di depan mulutnya yang hendak ditembakkan pada desa meledak di dekat mereka dengan arah dari bawah ke atas—meleset jauh dari target awalnya.
Walau ada ledakan besar di dekatnya, Gerda masih memiliki serangan tambahan untuk memfatalkan luka pada musuhnya. Dengan cara yang sama—mengumpulkan mana di satu titik, yaitu kaki kanannya, Gerda memutar badan sebanyak sembilan puluh derajat terlebih dahulu, kemudian menendang Akira di bagian punggung hingga menimbulkan suara retak dan membuatnya terpental keras ke tanah, juga terseret beberapa puluh meter.
Hanya dengan dua serangan sederhana nan brutal itu, membuat Gerda terengah setelahnya.“Haaahhh ... haahh ... haaahh....” Ia kemudian melihat kedua tangannya sendiri. “Gila sekali....” Tangannya juga bergemetar. “Apanya yang dampaknya jauh lebih kecil daripada latihanmu, Zee...? Ini cukup besar, tahu!
“Selain itu... aku jadi mengerti kenapa stamina cukup dipertaruhkan di sini... Hanya dengan dua pukulan tadi saja, membuatku serasa tak memiliki kekuatan lagi....”
Perlahan-lahan, Gerda kemudian turun ke tanah.
......................
Lyuu, kakak perempuan dari Akira, langsung berlari menujunya setelah mendapati dia jatuh terpental dan terseret beberapa meter di tanah. Mengabaikan penduduk desa yang seharusnya dibunuh, wajah Lyuu benar-benar pucat dan dibuat panik. Kedatangan Gerda sama sekali tidak diduganya, bahkan ki darinya tidak bisa dirasakan. Dari kejauhan, Lyuu bisa melihat lubang pada tanah yang terdapat Akira di sana dengan kondisi tak sadarkan diri.
“Celaka!” batin Lyuu, sambil berlari, “ki-nya semakin menurun! Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan tadi?”
Begitu Lyuu sampai, ia semakin yakin bahwa adiknya dalam bahaya besar. Jika ia tidak cepat, nyawanya bisa saja melayang.
“Akira!
“Akira bertahanlah!”
Mencoba menyadarkannya dengan panggilan, tidak ada yang terjadi. Ia sadar, dengan posisi telungkup Akira di depannya ini, jika ia digerakkan saja, memungkinkan terjadinya hal yang tak diinginkan. Tidak hanya langsung dibuat terpojok oleh situasi, Lyuu juga terpojok oleh apa yang harus dilakukannya.
Keringat dingin yang terus mengucur tak kunjung henti sejak ia melihat adiknya jatuh dari langit, menjadi semakin parah saja ketika ia dengar telepati dari seorang pria.
“Mundurlah. Tak ada yang bisa kaulakukan dengan situasimu itu.”
“Tu-Tuan Carl!?
“Ke-kenapa—ti-tidak... jika saya mundur, adik saya—“
“Tinggalkan dia. Tidak ada gunanya membawa sampah pulang.”
Mata yang melotot, pandangan putus asa tiba begitu Lyuu mendengarnya.
“E... eh...?”
“Kesalahan fatalmu ada tiga.
“Satu. Kau—yang merupakan prajurit terlatihku—tidak merasakan kehadiran Elf dan manusia rendahan itu. Padahal mereka berada di dalam tanah, dengan mana yang aneh terus bermunculan dari si manusia.
“Kedua. Meskipun kausadar bahwa Elf akan merepotkan rencana, kau malah TIDAK mengantisipasi kemungkinan adanya orang lain.
“Ketiga. Ini adalah kesalahan terfatalmu, Lyuu.
“Daripada mementingkan misi, kau lebih mementingkan adikmu.
“Sadarkah kau betapa harusnya desa itu dimusnahkan? Mereka adalah manusia-manusia yang dikumpulkan oleh Raksasa Jeanne. Selain itu, ada dua Peri yang menjadi saksi, dan kalian GAGAL menuntaskan misi pemusnahan mudah ini!
“Bersyukurlah nyawamu masih kuampuni.”
Badan Lyuu bergetar hebat. Begitu telepatinya berakhir, ia mencoba merasakan denyut nadi adiknya, namun....
__ADS_1
Tangis air mata langsung bercucur deras.
“Ti-tidak! Tidaak!!
“Akira!
“Jangan tinggalkan aku!
“Akiraaa!”
Tidak lama kemudian, muncul gerbang sihir di dekat Lyuu—pertanda ia harus masuk ke dalamnya. Pucat, bergetar, berkeringat dingin. Ia masuk ke dalamnya dalam kondisi seperti itu. “Maaf... maafkan aku... Akira....” Lyuu mengucapkannya dengan tatapan kosong sebelum akhirnya gerbang menutup total.
......................
Setelah itu, Gerda yang mencemaskan Serina atas lukanya, menyembuhkannya dari tempat ia berdiri sekarang. Penduduk desa yang masih bingung dengan apa yang telah terjadi, perlahan tapi pasti berkumpul mendekati Reid. Serina yang ada di dekatnya—yang punggungnya bercahaya hijau oleh sihir Gerda, juga mulai bisa bergerak. Walau tertatih, Serina bangun dan mencoba menjelaskan apa yang harus dijelaskan.
Sebelum itu, sebuah pertanyaan dilayangkan Reid. “Sebelum kau berbicara apapun, kutegaskan satu hal. Apa yang telah kalian lakukan mungkin telah menyelamatkan desa ini, dan kuucapkan terima kasih. Tapi... kenapa?”
Serina menanggapi ucapan Reid dengan anggukan dan senyum. Kemudian, matanya sedikit berubah arah ke kiri, lalu berkata, “Sudah saatnya kalian mengizinkan mereka melihat. Tolong jangan buat ini jadi semakin rumit.”
Reid dan penduduk tidak ada yang mengerti maksudnya. Tetapi kemudian, tiba-tiba dari arah pandangannya Serina, bersinarlah cahaya kuning dan ungu bersamaan—menyilaukan penglihatan mereka.
“A-apa yang?!” seru Reid, yang kaget dengan cahayanya.
Ketika itulah, Reid dan penduduk desa lainnya, pertama kali dalam hidup melihat sosok yang selalu disebut dalam kisah-kisah atau legenda mereka, Peri.
Seorang lelaki dan seorang lainnya perempuan. Ungu untuk perempuan dan kuning untuk lelaki.
Peri perempuan berambut ungu pendek sebahu dengan jumlah enam sayap dan menjatuhkan butiran mana sewarna dengan rambutnya. Matanya biru bagai permata, membuat anak-anak—terutama anak perempuan, terpukau melihatnya.
Rasa pukau itu bisa berlangsung lama jika Gerda tidak berteriak saat itu juga. “HEI!” semua mata langsung tertuju padanya. “Mau sampai kapan kalian terpatung seperti orang bodoh saja?! Mereka itu orang-orang kalian, bukan?! Lakukanlah sesuatu, kek!” Gerda menunjuk pada para lelaki yang “berserakan” di dekat tembok kayu yang jatuh.
“Aaaahh!” para penduduk desa baru teringat.
Empat urat kepala langsung timbul di kening Gerda. Ia tak habis pikir. “Cepatlah! Jika ada dari mereka atau kalian yang terluka, beritahu aku! Aku mungkin bisa menyembuhkan!”
Binar-binar mata langsung terpampang jelas. Rakyat desa langsung berjibaku membopong penjaga yang pingsan itu masuk ke dalam sebuah rumah. Sementara itu, di sana, hanya tersisa Gerda, Serina, Reid, dan dua Peri. Gerda menyusul mereka.
Begitu Gerda sampai, ia melirik mayat Akira. “Uwah,” katanya, “aku tak menyangka mana alam sangatlah kuat hingga membuatnya langsung tewas. Aku harus lebih mengendalikan kekuatanku.”
Reid yang mendengarnya, tak percaya Gerda bisa mengatakannya dengan santai.
“Tewas?” Serina bertanya.
“Hmm?” Gerda dibuat bingung. Lalu... “Ah!” ia seperti teringat sesuatu. “Licik sekali! Tidakkah kaulihat betapa putus asa kakaknya tadi?!” Gerda menunjuk Serina.
Reid dan dua Peri itu hanya bisa terdiam sementara Serina dan Gerda beradu mulut.
“Jika tidak begitu, kita tidak akan tahu seperti apa musuh sebenarnya yang kita incar. Hidup dan mati orang-orang yang berperang teramat berpengaruh pada jiwa dan mentalnya. Terlebih, jika mereka adalah orang yang saling kenal satu sama lain.
“Entah kau menyebutnya licik, busuk, atau apapun, informasi adalah hal yang kita butuhkan, dan cara yang kulakukan ini tidak merugikan siapapun.”
Gerda tampak tak puas. “Dia menyebut manusia itu rendahan. Apa kauyakin kakaknya selamat?”
__ADS_1
“Kaupikir aku tidak mendengar telepatinya dari sihirmu yang masih aktif? Aku tahu.
“Selamat atau tidak, pasti dia selamat. Tetapi, aku yakin saat dia kembali ke sini, dia akan sulit diatasi.”
Gerda mengernyit. “Sudah kuduga.”
“Anu....” Reid mencoba menyela pembicaraan mereka.
“A-ah,” kata Gerda, “maaf, kami terpaku pada pembicaraan kami sendiri.
“Kalau tidak salah ingat, gadis itu bilang ... namamu, Reid, ‘kan?”
“Y-ya, itu benar.”
Gerda kemudian tersenyum. “Begitu!
“Baiklah, Reid, terus terang saja, kami berdua bukanlah musuh desa ini! Target kami justru sama seperti kalian....” Gerda mengubah senyumnya menjadi tatapan serius. “Negeri yang menginginkan perubahan—tidak—kehancuran besar pada dunia ini—Seiryuu.”
Dua Peri itu seperti terpancing dengan ucapan Gerda dan Serina menyadarinya.
“Malam sudah semakin larut, maukah kau menerima kami sebagai tamu, Reid?” tanya Serina.
Reid berusaha memutuskannya—melihat kedua gadis di hadapannya saksama. Setelah melihatnya dengan saksama, barulah ia sadar akan sesuatu. “Lambang bulan itu...,” ujarnya, menunjuk seragam Gerda, “jangan-jangan kalian dari kerajaan Aurora?”
Gerda dan Serina, juga Perinya, dibuat kaget. Kenapa dia tahu?
Serina memandangi Gerda, yang disambut dengan sebuah angguk. “Ya. Apa itu menjadi masalah untukmu?” tanya Gerda.
“Masalah ... sih, tidak, tapi….”
“Tapi?”
“Walau bibi Jeanne bilang kerajaan lain tidak pernah memedulikan desa diluar kerajaan, bahkan Aurora sekalipun, beliau selalu percaya jika dalam bahaya yang teramat besar, Aurora akan jadi yang paling pertama mengulurkan tangan, tapi ....
“Sebesar rasa hormatku padanya, besar pula rasa marahku tiga tahun silam saat kami tidak punya apa-apa, berpisah dengan banyak jiwa, anak-anak, juga harus berpindah-pindah tempat hanya untuk menyelamatkan diri dari orang-orang dari negeri lelaki ini dan kakaknya, dan Aurora yang selalu dikisahkan dengan senyumnya, juga tak kunjung menunjukkan hidungnya.
“Kenapa baru sekarang?”
Serina menyela Gerda yang ingin menjawab. “Reid.
“Apakah dengan kami menjawab itu bisa melegakan amarahmu pada kami? Atau amarahmu pada sosok Jeanne yang kau hormati itu?
“Tidak ada waktu untuk saling salah menyalahkan—atau saling membenarkan tindakan yang tidak atau telah dilakukan.
“Kunilai dari tindakanmu pada penduduk desa, kau menjadi ‘kepala’ di sini karena situasi. Pahamilah bahwa tidak hanya desamu saja yang berada diujung tanduk dan Aurora bukanlah kerajaan yang mahabisa seperti sihir.
“Selama lebih dari delapan tahun, Aurora berhadapan dengan banyak masalah yang bahayanya jauh lebih besar dari situasi desa ini sekarang. Dua Peri di belakangmu itu juga bisa menguatkan ucapanku. Bahkan jika mereka menggelengkan kepala, aku takkan memaksamu untuk percaya.
“Yang lebih utama, Reid, maukah kau menerima kami sebagai tamu desa ini?”
Setelah menghela napas panjang, Reid memutuskan. “Alasan apa yang membuatku harus menolak kalian?
“Maaf, tadi aku hanya....”
__ADS_1
Gerda langsung menepuk bahu Reid. “Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Jangan terlalu dpikirkan!” ia juga melayangkan senyum padanya.
Kala itu, senyum Gerda, rambut pirang panjang yang terhempas angin, membuat Reid merona. “Y-ya... terima kasih....”