Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Wasiat Ratusan Tahun


__ADS_3

[Grandtopia... ketika semua yang sedang terjadi di medan pertempuran berlangsung.]


Aria, Volten Sisters, dan Reina sedang berbincang tentang keanehan yang diekspresikan Tetua mereka, Hugo, beberapa waktu yang lalu. Mereka sekarang berada di kediaman Reina.


"Kautahu, Reina...? Kau selalu menjadi Elf yang buruk ketika berbohong," celetuk Aria, "aku tahu jika dari ekspresimu itu, kau menyembunyikan sesuatu yang hanya kau dan Tetua mengetahuinya."


Reina membungkam. Ia menghindari tatapan mata yang lain dengan menatap lantai rumahnya yang terbuat dari kayu.


"Sepertinya aku juga harus membuka rahasiaku demi bisa membuatmu angkat bicara, ya.... Haaaahh~"


Volten Sisters melihat Aria bingung. Apa maksudnya?


Sementara itu, di luar kediaman, ada seorang Elf— Lloyd lebih tepatnya—menguping dari salah satu sudut pepohonan. Ia cukup tertarik untuk mendengar lebih detail dari ucapan barusan.


"Selama aku belum bertemu atau bahkan berhubungan dengan Zeeta, aku selalu penasaran... kenapa kita para Elf selalu diincar oleh dunia? Kenapa kita harus hidup dalam ketakutan selama ratusan tahun, hingga akhirnya kita menjadi 'Elf yang Pandai Bertopeng'?


"Saat itu... lima puluh tahun yang lalu... di malam bulan purnama, aku melihatnya. Seorang Elf yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dia berambut hitam panjang dan bermata kuning. Kesan pertamaku saat itu adalah ... rambut hitamnya sangat mirip dengan Tetua...."


......................


[Lima puluh tahun yang lalu, Aria yang berada di kediamannya tersenyum menikmati pemandangan super moon.]


Cahaya bulan yang menguasai seluruh Grandtopia, mampu menaklukan pencahayaan sihir di sana. "Bulan purnama malam ini sangat indah.... Andai saja dunia tidak seperti ini, aku ingin menghabisi malam ini bersama makhluk sihir yang lain dan ... dan ... jika memungkinkan bersama manusia, mengobrol tentang keseharian kami, bercanda tentang sesuatu yang sepele.... Hmm?" pandangannya mendapati seorang Elf berjalan dari arah kediaman Hugo. Ia segera mengerutkan kening dan heran, siapa gerangan Elf berambut hitam panjang itu? Ia lantas menyembunyikan mana-nya dan mengikuti Elf itu dari belakang.


"Alur kakinya tidak menandakan apapun bahwa dia penyusup. Tidak ada tanda jika dia was-was, atau merencanakan sesuatu...," batin Aria. Ia terus mengikuti targetnya selama beberapa menit memasuki kedalaman hutan, hingga akhirnya ia kehilangan sosoknya. "Tsk," gerutunya. Ia kemudian mencari kemana arah pergi targetnya dengan meraba jejak kakinya. Ia mampu melakukannya di balik kegelapan hutan, dengan bantuan matanya yang telah disihir. "Arah ini...?" Aria menyusuri perlahan kemana jejak itu membawanya.


"Sudah kuduga... ini...." Tempat yang ditujunya adalah danau yang juga menjadi rumah kunang-kunang bercahaya warna-warni. Danau itu juga tertata rapi, dan tersedia tempat duduk dari bebatangan yang tumbang. Ia tahu tempat ini, bahkan, ia dan Elf lainnya sering ke sini untuk sekadar bermain atau melatih sihir untuk menyamar. Ia mencari targetnya yang sudah tidak meninggalkan jejak ke segala sudut matanya, hingga....


"Haiii, keturunanku yang manis!"


Ia melihat Manusia yang muncul dari sebelah kanannya. Waspada dengan situasi ini, ia segera be-roll belakang dan menciptakan trisula berlapis petir dan bersiaga untuk segera men-javelin-nya.


"Tenanglah, Nak, aku ada di pihakmu! Jangan pasang wajah seram itu. Ini pertama kalinya kau bertemu denganku, seharusnya kita bicara lebih santai."


"Manusia selalu menipu dengan kata-kata manis seperti itu! Aku tidak akan menurutimu! Katakan, siapa kau sebenarnya, Manusia? Dimana Elf berambut hitam itu?!"


"Terlalu paranoid hanya memberi efek buruk pada masa depanmu, lho. Yah, meskipun aku tak berhak mengatakannya."


"Ho? Kau berani mengacuhkanku? Kalau begitu, lebih baik kau mati!" Aria melempar trisulanya tepat ke kepala Manusia di depannya. Namun, dengan satu jari, manusia itu memutar arah terbang trisula ke langit dan menghancurkannya dengan jentikkan. Kilau bulan takkan membuat siapapun menyadari cahaya ledakan sedang dari trisulanya.


"Jika kuberitahu siapa namaku, apa kau mau mendengarkanku?"


"Tergantung dari sikapmu. Bahkan jika kau menunjukkan kau ada diatasku, aku tidak akan menundukkan kepala pada Manusia!"


Aria melihat manusia di depannya tersenyum. "Harga diri, ya...," ucapnya lirih, yang tak terdengar Aria. "Kau melihatku berjalan dari rumah Hugo, bukan? Bagaimana jika kukatakan padamu kalau namaku adalah Lucy?"


"Kau?!" Aria segera membuat puluhan pedang melingkari tubuhnya. "Kauingin merendahkan—"


"Lucy, Jewel, Hugo, mereka adalah Elf pertama yang terlahir di dunia ini. Apa kautahu kenapa hanya Hugo yang hidup sampai saat ini?"


"Si-siapa kau sebenarnya...? Kenapa kau...? Seharusnya tidak ada seorang pun Manusia yang tahu dua nama itu!"


"Jadi, boleh kuanggap kau tertarik untuk mendengarkanku dan bicara dengan santai?"


Aria menghilangkan pedangnya, lalu mengangguk. "Terima kasih." Aria mendapatkan senyum darinya.


Mereka duduk berdampingan di kayu yang tertata di sekitar danau. Ada jarak diantara mereka.


"Meski aku benci menyebut nama ini, namaku adalah Marianna. Seorang Manusia yang sudah hidup selama ratusan tahun, sama sepertimu. Tapi, aku akan sangat menghargai jika kau mau memanggilku Lucy."


Dari ucapan ini, Aria segera mengerti. Ia paham siapa sosok Manusia di sebelahnya. "Begitu, ya.... Jadi kaulah ... kaulah yang selalu disebut Tetua Hugo sebagai ibu dari semua Elf. Tak kusangka jika dia adalah seorang Manusia biasa...."


"Fufu, kau cukup pandai, ya. Tapi ... aku bukanlah Manusia biasa. Manusia biasa macam apa yang hidup selama ratusan tahun, iya 'kan?"


Aria terdiam sesaat. Ia tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Aku baru saja keluar dari suatu penjara yang mengisolasiku dari waktu dan dunia selama ratusan tahun. Untuk memulai kebebasanku, aku ingin melihat wajah putraku setelah sekian lama terpisah darinya. Aku tak kuasa melihat dirinya yang seorang diri mengemban beban kalian di bahunya. Betapa sulit hari-hari yang ia alami untuk terhindar dari serangan Manusia dan makhluk sihir yang tidak pernah berhenti sejak saat itu...." Marianna mengingat wajah yang diberikan Hugo ketika ia mengunjungi kediamannya. "Ini semua salahku. Aku minta maaf, tetapi kalian tidak perlu memaafkanku. Karena ini semua ... harus kuselesaikan dengan tanganku sendiri."


Aria mengerutkan alisnya lagi. Ia tak sanggup melihat mata itu berkaca-kaca. "Siapa kau sebenarnya?"


"Bungkamlah mulutmu begitu kau mendengar seluruh kisahku. Apa yang hendak kaudengar, tidak bisa semua Elf terima. Kau adalah Elf yang pandai dan bisa membaca situasi dengan baik, jadi kuberi kau pengecualian." Meski enggan, Mariana menceritakan siapa dia, dan bagaimana asal mula para Elf.


......................


Ketika Aria telah mengetahui asal mula Elf, ia meledak-ledak tak kuasa lagi menahan emosinya. "Ti-tidak mungkin! Jadi ... secara teknis, ayah kami adalah Morgan...?! Peri bajingan, nakal, dan keji itu?! Apa kau serius?! Aku tidak menerima ini!"


"Kau bukanlah keturunannya langsung. Tidak perlu seheboh itu."


"Tapi, tetap saja! Dia selalu berskema untuk menyengsarakan setiap makhluk yang ia temui! Tak kusangka sudah sejak lama dia bersikap seperti itu! Mengetahui ini membuatku tak bisa membendung emosiku pada mereka!"


Mendengar kalimat akhir dari gerutu Aria, Marianna mengingat suatu kejadian di masa lalunya....


"JULIAA! AUDREEYY! TAKKAN KUMAAFKAN KALIAN! Aku pasti akan membalaskan dendam ini! Aku akan mengubah dunia yang sudah rusak ini dengan tanganku sendiri!


"Camkan kata-kataku ini untuk kalian juga, Feline, Morgan! Ketika aku kembali, aku pasti akan membinasakan semua Peri yang ada di sana!


"PASTI!"


.


.


.


.


"...Cy...."


"...Ucy...."


"Lucy!"


"Apa kau baik? Wajahmu jadi terlihat lebih seram dariku.... Jika aku membuatmu mengingat sesuatu yang tidak ingin kauingat, maafkan aku...."


"Tidak." Marianna menggeleng kepala. "Akulah yang harus minta maaf. Karena terlalu fokus pada masa depan keturunan kami, Zeeta, yang disampaikan oleh nenekku, aku jadi tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarku, apalagi skema dari Feline dan Morgan.


"Ketidak-dewasaanku sebagai Tuan Putri dikala itu adalah penyebab semua ini terjadi...."


"Zeeta? Memangnya ada apa dengan keturunan itu...?" tanya Aria yang semakin ingin tahu tentang apa yang terjadi yang melibatkan ibu para Elf ini, sekaligus para Elf itu sendiri.


"Zeeta adalah keturunan Aurora yang kedua puluh satu. Itu berarti, satu keturunan lagi dari Ratu saat ini. Waktunya semakin menyempit. Masa depan yang dikatakan nenekku adalah Zeeta hendak menghancurkan dunia."


"E-EH?! Menghancurkan dunia?!"


"Tidak ada yang tahu kenapa dia melakukan itu, tetapi di kehidupannya, pasti terjadi sesuatu yang mirip denganku, yang menginginkan suatu perubahan pada dunia."


Sementara Marianna masih lanjut bicara, Aria tenggelam dalam pikirannya, yang membuatnya tidak mendengarnya.


"Namun, apa yang selalu kurasakan aneh, masa depan ini diramalkan oleh Feline. Aku jadi curiga, mungkinkah dia memiliki skema tertentu agar masa depan itu terwujudkan...?"


"A-anu!"


Marianna menengokkan kepala. "Apa?"


"Jika alasan keberadaan kami hidup adalah demi mengokohkan kekuatan kerajaan Aurora, apakah kaupikir dengan kehadiranku di sisi Zeeta bisa merubah masa depan itu?


"Maksudku, aku masih ingin hidup dan menikmati dunia yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku pun memiliki tujuanku sendiri, tapi aku juga tidak ingin wasiat yang diwariskan selama ratusan tahun oleh leluhur kalian—agar mencegah keturunan itu menghancurkan dunia—jadi sia-sia."


"Tidak. Kau tidak boleh!" Marianna menjawabnya cepat. "Kau tidak harus mengorbankan nyawamu demi orang asing, apalagi jika itu adalah Manusia. Manusia itu makhluk yang selalu berbuat kejahatan dan selalu merusak! Aku tidak ingin Elf jadi seperti mereka!"


Aria tersenyum. "Tapi ... aku tahu ada Manusia yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi mewujudkan masa depan cerah untuk keturunannya yang berada jauh dari era-nya. Padahal, dia tidak pernah melihat atau bahkan kenal seperti apa orangnya—bah! bahkan orangnya saja belum lahir! Kupikir, itu sangat berlawanan dengan apa yang baru saja kaukatakan, hehe."

__ADS_1


Marianna dibuat tersenyum. "Terima kasih, keturunanku.


"Uhm. Kau benar. Kau memiliki kehidupanmu sendiri dan kaulah yang menentukannya. Tugasku sebagai yang tua, adalah mengingatkanmu.


"Namun, aku harus memberitahumu satu hal penting. Aku bebas bukan untuk bersenang-senang. Aku tidak bisa menghabiskan waktuku dengan kalian. Aku tidak punya kenangan atau ikatan keluarga dengan kalian.


"Tujuanku hidup saat ini hanya untuk tiga hal. Balas dendam, balas dendam, dan melihat keputusan yang akan dibuat Zeeta setelah melihat kebenaran yang keji ini."


......................


"Setelah itu, aku tak mampu mengucapkan apapun. Aku hanya bisa merasakan tekadnya yang sudah bulat, amarahnya yang begitu besar, dan kekuatannya yang sangat diluar nalar. Aku tahu, jika dia sangat menahan kekuatan itu agar tidak bocor dan melukaiku."


Reina dan Volten Sisters yang menyimak secara saksama, atau bahkan Lloyd yang menguping, tidak pernah menduga, ibu dari semua Elf, dan Lucy yang selalu dirindukan Tetua mereka, adalah Manusia keturunan Aurora.


"Reina, katakanlah pada kami. Apa yang sebenarnya Tetua katakan padamu? Aku tidak ingin Zeeta kehilangan jati dirinya dan membuatnya mewujudkan ramalan Feline!"


Reina mengepalkan tangan. Ia berkeputusan. "Biarkan aku melakukan sesuatu. Situasi di sana jadi sangat memilukan. Aku bisa mendengar keinginan Hutan Sihir Agung yang memintaku untuk mewujudkannya! Aku akan segera kembali!" Reina bergegas lari ke arah hutan.


"He-hei, tunggu!" Aria dan Volten Sisters membuntuti Reina. Begitu juga dengan Lloyd yang mengikutinya dari lompatan dahan ke dahan.


Kelima Elf itu kemudian mendapati Reina yang sedang menyentuh sebuah pohon. Tubuh dan pohon yang disentuhnya bercahaya hijau.


"A-apa yang terjadi?!" seru Jourgan, "kaubisa merasakannya, Serina?!"


"Mana yang sangat besar ... sedang mengalir ke satu tempat!" balas Serina.


"Di mana?!" tanya Mintia.


"Medan pertempuran!"


"Eh?!" Aria terkejut.


"Meskipun kausadar jika alur waktu yang sudah dicegah selama ratusan tahun oleh semua keturunan Aurora tidak berubah," cecar Reina yang out of character, "jika kita membiarkan ini terjadi, sama saja dengan kau membiarkan wasiat ibumu yang selalu dibawanya hingga saat ini luntur begitu saja!


"Kau mendengarku, bukan, Tetua?! Bergeraklah untuk jadi Elf yang lebih berani, sialan! Apa kau tidak malu dengan bocah yang sedang berlatih Rune demi mewujudkan apa yang ingin kautelantarkan?!"


Para Elf yang melihatnya dari belakang menganga. Tidak pernah Reina "sesemangat" ini.


"Tiada yang mengatakan arus waktu mudah untuk diubah?! Lalu kenapa jika leluhurnya gagal untuk— tidak, mereka sama sekali tidak gagal!


"Keberadaanku, Volten Sisters, Aria, dan semua yang terlibat dengan Zeeta saat ini adalah bukti!


"Bukti jika arus waktu berubah!


"Sekarang, adalah giliran Zeeta... tidak, giliran kita semua untuk memegang wasiat dan mewujudkannya!"


"Lihatlah dengan skala besarnya, Tetua bodoh! Aku benci saat kaubilang Zeeta pasti akan mati saat berlatih!


"Kau salah! Kau salah besar! Zeeta sudah menerima banyak api keberanian dari leluhur, teman, juga makhluk sihir yang beraliansi dengannya! Jangan anggap Zeeta adalah anak yang hanya akan mengecewakan orang-orang sekitarnya!


"Mereka percaya. Orang tua, guru, teman, Naga, Dwarf, juga bahkan Roh Yggdrasil percaya dengan Zeeta! Kalau begitu, aku juga akan percaya! Kalian mendengarku, 'kan? Apa kalian percaya pada Zeeta jika dia tidak akan menghancurkan dunia dengan kehadiran kita semua di sisinya?!"


Aria menyeringai. "Tentu saja, dasar bodoh!"


"Ya!" balas Jourgan tersenyum lima jari.


"Ten ditu saja." Mintia tersenyum lembut.


"Dia adalah murid kami. Tentu saja." Serina juga senada dengan kedua saudarinya.


"Bagaimana denganmu, Lloyd?!" jerit Reina.


Aria dan Volten Sisters kaget mendengar nama Lloyd. Mereka menengok ke pohon di sudut kiri belakang.


Lloyd menyeringai. "Dia adalah satu-satunya Manusia yang pernah kulawan. Meski aku adalah Elf Terkuat Nomor Dua, tidak, seharusnya Nomor Tiga... aku jadi ingin mengasah sihirku dengan banyak Manusia atau makhluk lain! Tentu saja aku percaya!"

__ADS_1


Keempat Elf di sana tersenyum.


"Kalau begitu ... terimalah jawaban dari keinginanmu, Manusia!"


__ADS_2