
[POV Mellynda.]
"Kehidupanku selama ini selalu berkilauan dengan kehadiran kristal milik ayahku. Tidak hanya rumah, sumber keuangan kami paling banyak diperoleh dari penjualan kristal. Meski bukan hanya bangsawan yang membelinya, namun merekalah yang mendominasi.
"Ada alasan khusus mengapa mereka tidak membeli kristal dari hasil penambangan. Menurut ulasan mereka, kristal milik ayah berguna tidak hanya sebagai aksesori, tetapi sebagai bahan bangunan, alat sihir, perabotan rumah tangga, bahkan pernak-pernik dalam rumah seperti lemari pun mampu diciptakannya. Kata mereka, hal ini membuat pengeluaran mereka jadi lebih hemat dibanding dengan kristal tambangan yang harus diukir terlebih dahulu—yang memerlukan uang tambahan.
"Aku sendiri belum pernah melihat bagaimana ayah menciptakan kristal seperti itu, tetapi ayah selalu mengajarkanku untuk bersihir kristal.
"Ibuku adalah orang dengan atribut sihir air. Keindahan hasil sihir kedua orang tuaku sangat memanjakan mata. Ibuku bukanlah tipe seseorang yang ingin turun langsung ke lapangan. Beliau lebuh sering mengajarkanku tentang etika seorang bangsawan, tata krama, dan hal lain yang berkaitan dengan bangsawan.
"Kendati demikian, aku bukanlah bangsawan seperti teman-temanku yang pandai bicara, berdandan cantik, dan selalu berusaha untuk tersenyum kapanpun. Mungkin, karena hal inilah aku pun tak memiliki banyak teman bangsawan. Toh, jika aku punya, mereka akan sangat merepotkan. Yang ada di kepala mereka adalah tipe yang seperti 'aku ini bangsawan, kamu harus turuti apa kataku!'
"Daripada memikirkan masalah teman, aku lebih memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa sekeren ayah. Ayahku juga seorang Count dan dia sangat dipercayai oleh rakyat Wilayah Timur. Aku sangat menghormati ayahku!
"Tetapi ... cara pandang hidupku terhadap kebangsawanan berubah sejak aku mengetahui Zeeta, Tuan Putri Kedua Puluh Satu, yang menjadi sandera oleh salah satu bangsawan utama, Rowing. Ketika aku melihat dia bersihir, untuk menyelamatkan kami rakyatnya dari serangan meteor dari Raksasa, entah kenapa aku takut padanya.
"Pada mulanya, aku takut karena kekuatannya yang sangat besar. Meteor yang bisa saja memusnahkan seluruh Aurora, bisa dia hancurkan dengan sekejap mata. Tetapi lama kelamaan, rasa takut itu perlahan berubah menjadi rasa benci ... yang disebabkan oleh salah seekor Peri, Morgan, yang berhasil mengkabuti isi kepalaku.
"Setelah itu, aku jadi lebih mengenal dan banyak belajar tidak hanya dari Zeeta, tetapi teman-temannya juga. Mereka adalah kak Azure, Danny, dan Gerda. Sementara kami berempat berusaha untuk menyusul kekuatan Zeeta dengan berlatih bersama Roh Yggdrasil, kami mengikat tali pertemanan yang erat. Aku pun merasakan keinginan kuat dari ketiganya untuk bisa berdiri sejajar dengan Zeeta dan bertarung bersama.
"*Danny jadi beratribut api, Gerda beratribut angin, dan kak Azure beratribut kegelapan. Menghabisi waktu bersama mereka membuatku sadar, pertemanan adalah sesuatu yang baik, yang dapat membuat hari-hariku terasa menyenangkan meski ada pertengkaran di dalamnya.
"Aku juga bisa memutuskan untuk menjadikan Zeeta sebagai rivalku, karena jika bukan aku yang akan menjadi teman sesama bangsawan, dia pasti akan kelagapan dan tak mampu berbuat apa-apa! Aku mengakui kekuatannya yang diluar akal sehat itu dan aku pun bertekad untuk melindungi orang-orang yang ingin melindungi Zeeta*!
"Karena ... aku tahu....
"Senyuman Zeeta terlukis, hanya jika ada orang-orang di sekitarnya tersenyum tanpa beban....
"Tetapi kenapa ... kenapa aku gagal sebelum mampu melaksanakannya....?"
......................
'BLARR!'
Guntur menggetarkan Bumi, hujan memalsukan tangis di pipi seorang anak perempuan berambut pirang, dimana kepalanya sedang menunduk. Perlahan-lahan, ia menutup mata kedua temannya yang tidak merefleksikan cahaya apapun lagi, atau bahkan menghembuskan napas. Ia tidak percaya dengan apa yang disaksikannya saat ini. Ia tidak percaya bahwa temannya yang selalu berambisi ingin segera mengejar Zeeta dan hadir bersamanya jutsru tewas terlebih dahulu.
__ADS_1
Bahkan, ia sempat berpikir bahwa ini semua adalah salahnya. Ini adalah salahnya karena tak mampu menggunakan sihir teleportasi atau sihir sejenisnya yang tidak memaksanya menunggu seseorang untuk memindahkan mereka. Ia adalah bangsawan, jadi ia memiliki tanggung jawabnya. Untuk pertama kali ... Mellynda paham bagaimana beratnya beban seorang Zeeta Aurora.
"SIALAAAN!" mata hijau gadis kecil berambut pirang itu mengeluarkan urat dan memerah. Tangis yang ditopengi oleh hujan terus mengguyur pipinya.
"APA GUNANYA!
"Apa gunanya jika aku berlatih selama ini tanpa bisa melindungi orang-orang yang dekat denganku?!
"Apa gunanya jika aku menjadi anggota Crescent Void jika aku gagal melindungi rakyat Aurora?! Apa gunanya aku terlahir sebagai bangsawan jika tak berguna seperti ini...."
Mellynda tidak bergerak setelah itu dan hanya menatap kosong kedua temannya. Tangannya yang sebelumnya tremor, mulai tak menunjukkan kekuatannya.
"Melly...," ujar Marcus lirih. Ia kemudian melihat Colette berjalan menghampiri Mellynda sambil mengepalkan tangan. "Co-Colette?!"
Colette berhenti di samping Mellynda. "Hei," panggilnya tanpa nada simpati. Mellynda tak merespon, hingga membuatnya menggertakkan gigi, lantas segera menampar pipi kiri gadis kecil itu hingga membuatnya tersungkur.
"A-apa yang kaulakukan?!" seru Mellynda, yang kesal dibuatnya.
Colette menarik kerah Mellynda dengan tangan kanannya. "Jika kaupunya waktu untuk berduka, atau menyesali dirimu yang tak berguna, gunakanlah waktu itu untuk melindungi Aurora, dan tidak menyia-nyiakan kematian mereka dengan tidak melakukan apapun!
"Kita adalah Crescent Void, yang telah dipilih oleh banyak makhluk sihir, bahkan telah diakui dan dilatih oleh Roh Yggdrasil! Memang benar kita memiliki status yang berbeda, tetapi aku tahu kau pun memiliki tujuan mulia demi tuan putri dan kedua temannya ini!
Tatapan lurus Colette pada mata Mellynda membuat si bangsawan merasakan kesungguhan dalam kalimatnya. Mellynda kemudian menyeringai. Ia sadar jika dirinya masih memiliki urusan yang harus diselesaikan—menuntaskan pertempuran ini dan pulang ke Aurora dengan selamat.
Marcus menghampiri keduanya, lalu bertanya seraya tersenyum, "Sepertinya kau sudah merasa lebih baik, bukan begitu, Dik Melly?"
"Tentu saja," jawab Mellynda, "kita tidak bisa membiarkan keduanya terus seperti ini." Ia membuat kristal cekung melayang untuk memayungi tubuh kedua temannya. "Ayo segera selesaikan ini! Apapun perintahmu, akan kujawab, Kapten!"
Marcus mengangguk. "Sesuai rencana, kita biarkan Pangeran Klutzie yang mengurus Suzy. Jika informasi yang diberikannya memang benar dipakai Suzy di pertempuran ini, maka tidak hanya dia yang patut diwaspadai.
"Ada Hollow yang masih terperangkap oleh sihir Gerda, tetapi mana-nya lemah. Dia seperti sudah hampir mati. Ada juga Eclipse yang terkubur di dalam tanah. Jika penilaianku benar, apa yang bisa membuat Gerda dan Danny seperti ini adalah Phantasmal lain yang kita rasakan datang belakangan.
"Phantasmal itu kemungkinan memiliki kemampuan melemahkan mana di sekitarnya, sehingga memaksa Eclipse, Hollow itu, juga Nyonya Grand Duchess Ashley berada dalam kondisi saat ini.
"Senjata yang kita pegang saat ini telah melindungi Danny dan Gerda untuk beberapa waktu. Mereka hebat bisa menahan kondisi seperti itu. Jejak sihir Danny yang masih terasa saat kita baru sampai di sini, berarti dialah yang berhasil mengalahkan Phantasmal itu.
__ADS_1
"Baiklah, ini adalah perintahnya. Colette, selamatkanlah Eclipse dan jatuhkanlah dia ke istana!"
"Siap!" balas Colette.
"Mellynda, bebaskan Hollow itu dan carilah inti-nya. Ada kemungkinan dia akan segera pulih, jadi waspadalah. Aku akan pergi melihat situasi Pangeran Klutzie!"
"Hollow, ya... baiklah!"
Ketiganya kemudian berpencar ke masing-masing lokasi. Begitu mereka pergi, tanah hijau dibalik tubuh Gerda dan Danny bersinar. Namun, tak ada satu pun yang menyadarinya.
......................
Tatkala Crescent Void dan Klutzie hendak menyelesaikan pertempuran, Zeeta sudah menjalani enam setengah hari latihan bersama Ozy. Saat ini, mereka tengah menghangatkan diri di dinginnya "malam" berbintang di dekat api unggun.
"Tak kusangka...," ujar Ozy, "jika kau benar-benar bisa mengurungkan niatmu untuk menjeda latihan dan menyelamatkan Gerda dan Danny."
Zeeta tersenyum. "Aku pun tak menyangka. Aku punya firasat mereka akan baik-baik saja!"
Ozy mengernyitkan alis. "Meskipun mereka sudah mati?"
"Uhm. Lagipula, ini adalah dunia sihir. Apapun bisa saja terjadi."
"Lalu ... apa yang akan kaulakukan dengan rambutmu? Kautahu kalau di masa depan itu...."
Zeeta menarik rambut di dekat telinga kiri untuk melihatnya. "Yah, aku juga tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Mungkin ini ada kaitannya dengan latihanku...?" ia kemudian mengaitkan rambutnya ke telinga. "Tapi, aku sudah tidak memaku diriku untuk tetap takut pada masa depanku. Jika kubilang aku sudah benar-benar menghilangkan rasa takut itu, akan jadi bohong ... tetapi saat ini, aku menerima siapa diriku. Aku sangat jauh berbeda dengan orang-orang di sekitarku.
"Aku anak yang bermana diluar nalar, aku bisa bersihir apapun yang kuinginkan, bahkan saat ini, aku sedang mempelajari Rune. Tidak ada Manusia sepertiku di dunia ini. Namun, disaat yang sama, aku pun sama dengan orang-orang biasa.
"Aku punya teman, keluarga, dan sesuatu untuk dilindungi. Aku juga memiliki rekan makhluk sihir yang beragam yang tidak keberatan beraliansi denganku—dengan kerajaan Aurora.
"Jika aku terpaku pada masa depan itu, aku menelantarkan apa yang ada di sekitarku. Apa yang ada di sekitarku, adalah harta karun untuk masa depanku.
"Itulah yang kusadari setelah sejauh ini!"
Zeeta mengakhiri ucapannya dengan lemparan senyum yang dipenuhi bangga. Ozypun menanggapi senyuman itu dengan senyum tipis. "Begitu, ya," katanya.
__ADS_1
"Clarissa... aku masih tidak tahu apakah mimpiku yang ingin dunia ini jadi tempat yang indah akan terwujud, tetapi aku tahu ... Hugo juga pasti tahu ... meskipun ada beberapa bagian yang tetap berjalan mengarah ke masa depan itu, ada juga bagian yang terhenti dan membentuk Zeeta yang saat ini ada di depanku.
"Jika ... jika akhirnya harus memaksanya untuk melakukan hal itu, kupikir aku tidak keberatan. Jika itu demi membuat dunia yang lebih indah bisa terwujud, aku sama sekali tidak keberatan!"