Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pertanda Ragnarok


__ADS_3

Dua Manusia utusan Penguasa Kekelaman dari Kekaisaran Seiryuu, telah binasa di tangan seorang High Elf bernama Bellaria. Menurut legenda, seorang High Elf memiliki kekuatan yang setara dengan seorang keturunan Aurora. Apapun bisa dilakukannya. Menciptakan, menghancurkan, ataupun menyembuhkan. Hanya satu yang tidak bisa dilakukan, yaitu membangkitkan.


Untuk mengenang nyawa para Elf yang menjadi korban jiwa serangan utusan Penguasa Kekelaman, yaitu Nanashi dan Asuka, maka upacara perpisahan dilaksanakan oleh mereka. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ritual untuk memulangkan jiwa para rekan sebangsanya yang tewas itu kembali ke alam. Seluruh Elf yang ada di Grandtopia membentuk barisan—dipimpin oleh Tetua mereka, Hugo.


Seakan menemani kepulangan bangsa Elf, hujan membasahi Grandtopia. Kepergian rekan-rekan sebangsa untuk selamanya juga diantar dengan sedu tangis. Tak luput juga dari Bellaria. Ia pun menangis, menyesali kenapa dia tidak bisa lebih cepat bertindak, kendati memiliki kekuatan yang besar.


Upacara perpisahan yang dipimpin oleh Hugo, seperti namanya, memulangkan mereka yang tewas kembali ke alam. Di hadapan tubuh-tubuh belasan Elf yang ditelentangkan berjejer, Hugo mengangkat kedua tangannya sambil merapal. “Mulailah. Parade yang menyambut tawa dan tangis kalian. Semua yang telah hilang hari ini, akan menjadi cahaya harapan yang bersinar esok.


“Kesepian yang sudah tidak asing bagi kami, adalah ketinggian yang menyambut esok. Perjalanan kami akan terus berlanjut hingga surga tertawa dengan bersungguh-sungguh pada kami. Keberanian ini kami dapatkan atas perjuangan bangsa kami yang tiada gentar dan lelah.


“Oh, dunia yang terbentuk oleh hal-hal yang lebih cepat berlalu daripada keabadian! Terimalah jiwa-jiwa pejuang bangsa kami ini, agar mereka tidak menangisi kepergiannya, dan menyambut kami sebagai kekuatan!”


Setelah Hugo menyelesaikan rapalannya, belasan tubuh kaku Elf itu bersinar, lalu perlahan-lahan, berubah menjadi butiran-butiran mana, yang kemudian menyatu pada rerumputan biru yang bersinar, ataupun pohon Chronos dan bagian-bagian hutan lainnya.


Para Elf yang mengikuti ritual ini, menyelesaikannya dengan sekaan tangis pada masing-masing pipi. Beberapa saat kemudian, Hugo membalik badan, lalu berkata, “Reina, Aria, aku ingin bicara dengan kalian. Datanglah ke kediamanku. Yang lainnya, beristirahatlah dahulu sebelum kuberi perintah.”


......................


Malam akan menyambut, tanpa diketahui oleh para Elf, bahwa kerajaan Aurora sedang bersiap untuk berperang melawan ribuan Hollow. Sementara itu, menuruti permintaan Tetua mereka, Aria dan Reina bertamu ke rumah Hugo.


“Tetua...? Kami sudah datang,” ujar Aria.


“Masuklah. Aku ada di dalam,” balas Hugo, yang lebih tepatnya ada di ruang terbuka terpisah dari kediamannya. Semacam halaman belakang.


Saat Reina dan Aria mengikuti sumber suaranya, keduanya sempat terpatung saat melihat apa yang ada di ruang terbuka terpisahnya. Tiga buah makam, yang bertuliskan Marianna, Lucy, dan Jewel, pada masing-masing batu nisannya.


Aria mencengkeram tangan kanannya dan menatap lantai sesaat. Wajahnya seakan bilang kalau dia tidak menyangka kalau selama ini, Hugo masihlah terbelenggu oleh kejadian kelam yang melibatkannya, yang sudah berusia nyaris tiga ratus tahun.


“Duduklah. Ada pembicaraan penting yang harus kalian ketahui.” Hugo menciptakan dua kursi yang mengapitnya.


Reina kemudian duduk di kursi sebelah kiri, dan Aria sebelah kanannya Hugo.


“Dunia ini, sedang benar-benar terancam,” tutur Hugo, sambil memandangi tiga makam di seberangnya. “Ramalan Feline meleset, tetapi malah jadi semakin buruk.


“Dunia ini ... akan mempertemukan empat orang Aurora sekaligus, dan itu bukanlah hal yang sedap untuk didengar. Adalah benar kalau Zeeta memang tidak pantas kita jadikan musuh, tetapi dengarkanlah aku.


“Aku adalah Elf yang menciptakan Grandtopia ini. Melalui akar Chronos, Grandtopia tersambung pada seisi Galdurheim—dunia ini. Reina, sudah kubilang kalau nanti, yang menjadi penerusku adalah kau, bukan?


“Aku ingin kau dengarkan aku, tanpa memutusku dulu.”


Baik itu Reina ataupun Aria, keduanya menelan liur—merasa sangat tegang.


“Zeeta dan Scarlet sedang berada di Tanah Kematian untuk menjemput jiwa Azure dan Mellynda. Itu benar, Reina?” Hugo memastikan.


“I-iya, itu benar, Tetua...,” jawab Reina, yang mencengkeram erat one piece yang dipakainya.


“Sementara keduanya di sana, seperti yang telah kita ketahui sendiri, gadis yang mengaku dirinya sebagai Penguasa Kekelaman, datang dari dunia lain.

__ADS_1


"Tujuan gadis itu hanya satu, yang persis seperti julukannya. Dia hanya ingin menghancurkan dunia ini.”


“Ke-kenapa Anda bisa tahu hal itu, Tetua…?” tanya Reina.


Sebelum menjawab Reina, Hugo menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembusnya. “Saat Aria membelah dua salah satu Manusia sebelumnya, melalui tubuhnya yang menyentuh rumput Grandtopia, aku melihat ingatannya.


“Tidak salah lagi, Penguasa Kekelaman itu, adalah Zeeta dari dunia lain.”


“Ja-jadi... musuh kita...?” Aria menebak-nebak.


“Masalah itu kita tunda dulu. Yang lebih penting, dunia ini akan bergantung pada kita semua yang terhubung dengan Zeeta.


“Aku, kalian, Ozy, Myra, Elbrecht, serta makhluk sihir dan manusia lain, akan menjadi penentu tatkala Seiryuu, Penguasa Kekelaman, Zeeta, Scarlet, dan empat keturunan Aurora lain saling berseteru. Bisa saja aku salah, karena ini hanyalah kewaspadaanku saja, tetapi tiada salahnya bila kita sudah siap sejak awal.


“Selama beberapa hari terakhir ini, aku merasakan pergerakan Drékaheim dan Jötunnheim yang semakin mengganas. Terlebih....” Hugo mencengkeram kedua tangannya, yang menjadi ketegangan tambahan tersendiri untuk dua Elf muda di sampingnya. “Di Tanah Kematian, Drékaheim sempat terbuka lebar.”


“Te-terbuka lebar...?!” dua Elf muda itu kaget berbarengan.


“Ya....” Hugo kemudian bercerita apa yang terjadi saat itu.


.


.


.


.


“Sejujurnya, para Roh Yggdrasil yang tinggal di sini, telah lama memberitahuku tentang kejadian ini. Namun, aku selalu menganggap bahwa dunia pasti akan terus berjalan tidak hanya pada satu arah saja. Meskipun yang mengatakannya langsung padaku adalah Roh Yggdrasil, aku berusaha untuk tetap percaya kalau semuanya akan baik-baik saja.


“Kejadian yang mempertemukan Drékaheim, Jötunnheim, dan Galdurheim, serta peperangan besar yang terjadi diantaranya, disebut Roh Yggdrasil sebagai.....


“Ragnarok—rentetan kejadian dan kehancuran yang akan mengantarkan kita pada Akhir Dunia.”


Reina dan Aria terbungkam.


“Aku ingin meminta maaf pada kalian semua, karena ketidakloyalanku pada Roh Yggdrasil, hingga akhirnya menyebabkan kalian semua terlibat.


“Aku juga ingin meminta maaf karena aku yang sekarang, malu bagiku untuk mengatakannya, bahwa aku sudah tidak mampu lagi berada di garis depan. Aku memang masih bisa mengalahkan satu atau tiga Naga, tetapi itulah batasanku. Jujur saja, Penguasa Kekelaman itu sudah menguras kekuatanku.


“Dia benar-benar berbahaya!”


.


.


.

__ADS_1


.


“Tetua,” panggil Aria, yang kemudian berdiri. “Kau juga, Reina, apa pandangan kalian terhadap kerajaan Aurora? Apa kita benar-benar harus meninggalkan mereka?


“Sedaritadi aku merasakan Lloyd sedang bersusah payah bertarung melawan Hollow, demi janjinya pada Luna.


“Kalau aku, aku telah memutuskan untuk bertarung bersama Zeeta yang di sini. Siapapun musuhnya, akan kuhadapi, bahkan jika nyawaku adalah taruhannya.


“Aku tidak ingat lagi sejak kapan aku merasa seperti ini pada Zeeta, tetapi yang pasti....


“Zeeta adalah temanku, yang sama berharganya seperti nyawa bangsaku sendiri!”


Reina ikut bangun dari duduknya. Ia menjawab, “A-aku juga! Sejak kedatangan Zeeta ke sini untuk berlatih, aku selalu mendambakan kegigihannya untuk mewujudkan kata-katanya sendiri! Meskipun terkadang dia bisa benar-benar sangat takut, tetapi aku tahu, Zeeta itu sangat baik!


“Demi teman-temannya yang ia rela lindungi, tak peduli jika nyawa adalah bayarannya, aku juga ingin ikut membantunya!”


Hugo tersenyum. “Zeeta itu sudah menolongku, ibu, dan kakak-kakakku. Kenapa aku tidak menolongnya?”


Reina dan Aria tersenyum lebar.


Aria kemudian beraba-aba untuk terbang. “Kalau begitu, aku ingin segera membantu Auro—“


“Tunggu dulu,” tukas Hugo, “kau masih harus dengarkan aku.


“Reina, aku ingin kau menghubungi Zeeta yang sedang berada di Tanah Kematian. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya. Beritahu dia tentang kondisi Aurora sekarang, dan suruh dia segera cepat keluar dari sana, apapun caranya!”


“Ba-baik! Aku akan cepat!” Reina segera berlari keluar, kembali ke rumahnya sendiri.


“Apa lagi yang ingin Anda bicarakan padaku, Tetua?” tanya Aria.


“Ini tentang kekuatanmu. Aku tahu cara seperti apa yang bisa kaulakukan untuk meningkatkan efektivitas dan dayanya.”


“Be-benarkah?! Selama ini kau selalu melarangku, aku sudah menduga kau menyembunyikan sesuatu dariku!”


“Ya, tentu saja aku tahu. Karena kekuatanmu itu ... sangat mirip dengan kekuatan kepunyaan kakakku, Jewel.”


“E-EH?!


.


.


.


.


“SERIUS?!”

__ADS_1


__ADS_2